Halo, Gaes. Jangan lupa tap love, komen, dan follow. Mohon dukungannya, ya!
Selamat membaca!
"Pagi, Sayang," sapa Hendra suami---Renata. Ia memeluknya dari belakang.
"Pagi, juga." Renata menggeliat manja.
Hendra bangkit dari tempat tidurnya.
"Kok, bangun sih," ucap Renata. Ia meraih tangan suaminya.
Hendra menoleh. "Mau mandi. Terus, joging. Mumpung libur."
"Ikut." Renata sengaja memanyunkan bibir mungilnya.
"J--jangan!"
"Kenapa?"
"Kamu tolong siapkan pakaian yang mau aku bawa ke luar kota. Tolong cucikan kemeja putih kesayanganku, ya."
"Ke luar kota lagi?" Renata mengerutkan keningnya.
"Iya."
"Berapa hari?"
"Ehm. Tiga hari," balasnya.
"Bukankah, kemarin sudah ke luar kota? Kok, terus-terusan?"
"Kamu nggak percaya, ya,"
Hendra mengelus rambut istrinya. Lalu, ia duduk di bibir ranjang.
"Demi kehidupan kita, Sayang. Doakan saja proyek, Mas lancar." Hendra mengecup keningnya.
"Baiklah."
"Nah, gitu dong." Hendra tersenyum lebar. Ia pun gegas ke kamar mandi.
Dengan langkah gontai Renata mencari baju kotor milik suaminya.
"Lipstik," gumam Renata. Ia melihat noda lipstik di dekat kerah kemeja. Dan ia memegang kerah kemeja putih itu penuh tanda tanya. Lalu, diendusnya kepermukaan kemeja putih tersebut.
"Aku tak memiliki wangi parfum seperti ini. Atau jangan-jangan--,"
"Kok, ngelamun, Sayang ...," Suara Hendra mengagetkannya. Rupanya ia telah selesai mandi. Rambutnya, tampak basah karena berkeramas.
"A--ada yang mau aku tanyakan, Mas." Renata gugup.
"Iya, ada apa?"
Hendra menatap Renata.
"Ini, noda lipstik siapa?" Renata memperlihatkan kemeja itu.
"Oh, itu. Kemarin teman kantor tidak sengaja menabrak, Mas dari belakang," balasnya.
"Oh."
"Ya sudah. Mas pergi dulu ya. Bye!"
Hendra sudah rapi dengan kostum olahraganya. Tubuhnya hilang dari hadapan Renata.
"Benarkah, Mas?"
Renata bertanya sendiri.
"Jangan sampai kamu macam-macam, Mas. Ingat akibatnya!" Renata meremas kemeja putih itu.
*
*
*
Ting!
Suara notif WhatsApp.
Renata mengambil benda pipih itu di atas ranjang. Perlahan ia membuka pesan itu.
Merry?
[Suamimu ada di taman, nih.]
[Iya, dia joging.] Renata singkat membalasnya.
[Tapi, dia tidak sendirian. Dia sama perempuan cantik, Ren.]
[Orang lain mungkin.]
[Tunggu. Aku foto mereka, ya.]
[Ok.]
Tak lama gambar Hendra masuk.
Mata Renata terbelalak.
"Anggun!" pekiknya. Anggun adalah sahabat SMA nya.
Di dalam foto itu Hendra menggenggam tangan Anggun. Renata merasa panas dan mendidih kepalanya.
Drrt ...
[Kamu kenal?]
[Aku selidiki. Terima kasih, ya, Mer.]
[Sip.]
Renata melempar ponselnya ke atas kasur dengan kesal. Ia menangis dan menjambak rambutnya.
"Berapa lama kau khianatiku, Mas!" Renata memukul dadanya. Ada yang nyeri tak bisa digambarkan.
Satu jam kemudian ....
Ting! Tong!
Suara bel berbunyi. Renata bergegas untuk membukakan pintu. Bekas air matanya ia seka dan dihapus. Ia tutupi dengan bedak dipoles secara perlahan.
"Hai, Rena," sapa ibu mertuanya.
"Ibu." Renata mencium punggung telapak tangan Salimah---mertuanya.
Disusul dari belakang Hendra telah pulang dari joging.
Salimah duduk di sofa sementara itu Renata membuatkan minuman.
Ketika ia hendak kembali ke ruang tamu. Renata tak sengaja mendengar pembicaraan Salimah dan Hendra.
"Kapan kamu menikahi, Anggun?"
Renata mendelik.
"Ibu sudah tahu Mas Hendra selingkuh," gumam Renata lirih.
"Belum saatnya, Bu. Lagipula, Hendra belum izin pada Renata."
"Alah, wanita mandul itu singkirkan, saja,"
Hampir saja Renata luruh. Tapi, ia berusaha kuat.
"Nanti Hendra meminta izin untuk menikahi Anggun."
"Cepat lebih bagus," kata Salimah.
Renata sengaja menghentakkan langkahnya. Agar Salimah dan Hendra tak curiga pembicaraannya didengar oleh Renata.
"Diminum, Bu." Renata meletakkan cangkir teh hangat itu pada mertuanya.
Salimah tersenyum.
"Awas kamu, Mas." Renata membatin.
*
*
*
Di dalam kamar ...
"Sayang ... Ada yang ingin Mas bicarakan," ucap Hendra. Ia meraih kedua tangan Renata.
"Iya, apa, Mas?" tanya Renata. Ia pura-pura bodoh.
"Janji jangan marah." Hendra mengangkat dagu istrinya.
"Janji. Katakanlah,"
"Mas mau menikah lagi."
Jduar!
Akhirnya, Hendra membicarakannya.
Sekuat hati dan tenaga Renata menahan sakit dan air mata. Agar tak terlihat lemah oleh Hendra.
"M--menikah lagi?" tanya Renata memastikan.
"Iya. Boleh?"
Hening sesaat hanya rintik-rintik hujan terdengar di luar sana.
"Boleh. Siapa calon maduku? Aku ingin berkenalan dulu," ucapnya datar. "Layak atau tidak dia menjadi maduku." Renata melepas genggaman suaminya.
"Benarkah?" Hendra tak percaya dengan ucapan istrinya.
"Iya." Renata berbalik ke arah Hendra. " Ajak dia ke mari. Kita akan malam bersama,"
"Kapan?"
"Lusa. Pukul 20:00 wib. Undang juga ibu, aku akan memasak masakan spesial."
"Baik. Terima kasih, Sayang." Hendra ingin memeluk Renata. Tapi, sayang Renata berlari ke luar.
Renata berlalu meninggalkan Hendra. Ia menangis menumpahkan rasa sakit hati yang tak terhingga.
*
*
*
Ting! Tong!
Ceklek!
Renata membukakan pintu. Salimah dan Hendra berdiri di depan pintu.
"Masuk, Bu." Renata menyambut dengan pelukan hangat.
Hendra mengecup kening istrinya.
"Sudah cantik. Nggak sabar, ya. Bertemu calon madu," kelakar Hendra.
"Ah, Mas. Bisa aja." Renata mencubit kecil di pinggang Hendra.
Hendra berjalan ke ruang makan. Ia takjub berbagai hidangan ada di atas meja.
"Wow! Banyak sekali!" seru Hendra.
"Iya, spesial, dong."
"Wah, rasanya nggak sabar pengen makan duluan," seloroh Salimah. Ia mendaratkan bokongnya di kursi.
Hidangan berbagai macam jenis. Sate, rendang, opor, dendeng, dan daging dalam hot pot. Serba-serbi buah pun ada.
Ketiganya duduk di kursi masing-masing. Seraya menunggu Anggun datang.
"Makan malamnya serba daging, Sayang," kata Hendra.
"Iya." Renata tersenyum.
"Lezat ...,"
"Ke mana si Anggun? Telpon gih, dianya." Salimah memerintah Hendra.
Berkali-kali Hendra menelpon tak tersambung. Hendra merasa cemas dan gelisah.
"Nyasar kali, dia!" Salimah tak kalah panik juga. "Dah, kita makan duluan. Ibu sudah lapar. Rena memang ahli dalam memasak." Puji Salimah.
Salimah mengambil lima tusuk sate beserta sambalnya. Hendra pun tergiur ia mengambil dendeng daging itu.
"Masakan mu memang enak." Hendra melahapnya.
"Kamu tidak makan?" tanya Salimah. Ia mengambil hidangan di dalam hot pot. Dan menyeruput kuah pedas, asam, manis itu.
"Lagi diet, Bu. Hehehe. Jadi, cuma makan buah-buahan," balasnya.
Waktu menunjukkan pukul 21:00. Anggun tak kunjung datang.
"Ibu boleh membawa separuh dagingnya?"
"Boleh, boleh. Masih banyak stoknya, Bu."
Setelah kenyang melahap semuanya. Hendra terus menelpon Anggun. Sayang, tak ada balasan.
"Gimana, Hend? Ada kabar?" tanya Salimah.
"Belum." Hendra frustasi.
"Di mana kamu, Nggun!" Hendra mengacak-acak rambutnya.
"Dia tak 'kan datang. Karena kalian sudah melahapnya. Enak, bukan masak kan ku?" Batin Renata. Ia tersenyum penuh kemenangan.
Esok harinya viral dan beredar berita seseorang telah hilang.
Tamat