Di Balik Kewajiban Yang Ditunda Ada Hak Yang Dituntut
Setiap orang pasti menginginkan kehidupan yang penuh tawa. Bahagia. Siapa pun tentunya ingin bahagia. Singkatnya tidak ada orang yang mau hidunpnya susah.
“Dek… mau kemana kamu?” Tanya seorang ibu rumah tangga yang sudah mempunyai anak tiga orang.
“Aku mau ke kampus kak, kenapa emang?” jawab seorang gadis mahasiswi itu yang hendak pergi ke kampus.
“Ohh, kamu ke kampus dengan apa?” Tanya ibu itu lagi.
“Aku berangkatnya dengan bemo aja kak, karena kalau aku pesan ojek online uangku ngga cukup kak”
“Oh, gitu yah. Kalau gitu kamu cepat berangkat, takutnya nanti kamu terlambat,” ujar ibu tiga anak itu.
“Iya kak, aku jalan dulu kak, bye beby,” jawab gadis itu sambil melambaikan tangan pada seorang balita perempuan, keponakan dari gadis itu yang paling bungsu.
Keponakannya tersenyum. Gadis itu pun berangkat.
“Yah ampun, kasian kamu dek,” ucap ibu anak tiga itu dengan wajah murung. Ia ingin menangis, namun tak bisa karena ada kedua anak laki-lakinya yang berumur delapan tahun dan empat tahun. Ia pun berusaha menahan perasaannya yang terus menyiksa batinnya.
***
“Shalom… selamat siang kak, dek,” suara gadis itu terdengar dari luar pintu pagar sebuah kontrakan.
“Eh titi udah pulang” ujar anak yang berumur empat tahun itu. Ia berlari menuju pintu pagar dan membuka pintu untuk tantenya. Ia manyambut tantenya dengan riang.
Gadis itu berlari dan memeluk ketiga keponakannya yang sedang berdiri menunggunya di depan pintu rumah kontrakan mereka. Keponakannya yang bungsu di pangkuan mamanya.
“Shalom kak,”
“Shalom dek, gimana kuliahnya hari ini, lancar? Tanyanya.
“Puji Tuhan, lancar kak” ungkap gadis itu sembari tersenyum
“Ya udah, masuk ganti dulu, habis makan yah dek”
“Ya kak, siap”
Gadis itu masuk ke kamarnya untuk berganti. Seusai ganti, ia pun langsung bergegas keluar kamar dan sendok untuk ia sarapan siang. Sebelum makan gadis itu tidak lupa berdoa.
***
“Ibu…. Hallo…… Ibu Aranci………” terdengar suara lantang sekali diiringi dengan bunyi gendoran pintu pagar kontrakan itu. Gadis itu keluar dan melihat siapa yang datang. Gadis itu melihat ada seorang ibu berhijab di luar pagar.
“Eh, Bi Isyah, maaf Bi, mari masuk” kata gadis itu.
“Eh Bi.. Eh Bi. Mana kakak iparmu itu. Uang kontrakan udah telat tiga hari loh. Bayar cuman nyicil-nyicil. Untuk dua bulan ini kalian baru nyicil 60% yah!!” kata ibu Isyah, pemilik kontrakan itu.
“Maaf Bi, kami belum punya uang “ kata gadis itu sambil menundukkan kepalanya, seakan ia akan menangis.
“Kenapa dek, ada apa? Kok ribut-ribut. Eh Bi Isyah, ma…” belum sempat berkata hingga selesai, ibu berhijab itu langsung membantah perkataannya.
“Ma, ma…, ma apa!? Maaf lagi kan? Bisa ngga sih kalian itu bayar sesuai waktu,…” ujar pemilik kontrakan itu dengan nada ketus, seakan ia sangat kesal.
“Saya minta waktunya sedikit lagi Bi” ibu Aranci mencoba untuk menjelaskan, namun tidak mendapatkan respon positif dari ibu itu.
“Saya ngga mau tau yah, dua hari lagi kamu harus lunasi, kalau ngga saya usir kalian dari sini, paham!!!” ucapnya, sambil meraih tasnya dan pergi tanpa pamit.
***
Siang itu ketiga anak dari ibu Aranci dan keponakan dari gadis bernama Uslin itu sedang tidur siang. Keduanya kembali terduduk dan merenung kejadian yang baru saja terjadi.
“Kak, maafin aku yah, aku ngga bisa apa-apa kak. Kakak tau sendiri kan, uang beasiswa aku hingga hari ini juga belum cair
“Iyah dek, kakak ngerti kok, kan itu bukan maunya kamu. Meskipun itu hak kamu, kamu ngga bisa ngambil sebelum pemerintah nyerahin hak itu sama kamu”
Gadis itu mengangguk.
“Kamu juga ngga seharusnya minta maaf, yng seharusnya itu kakak. Lagian kan , ini bukan hanya tanggung jawab kamu tapi kita sama-sama. Udah, jangan kepikiran. Kan kita punya Tuhan, kalau kita terus berharap kan tentunya Tuhan buka jalan dong. Kita doaian aja kakak kamu, dia di sana ada berusaha. Mudah-mudahan proyeknya cepat selesai dan kakak kamu bisa secepatnya mendapatkan honornya.” Ucap itu anak tiga itu.
Gadis itu masih termangu di atas kursi kayu sederhana bernuansa abu-abu itu. Ia perlahan meneteskan air matanya. Ia merasa bahwa ia tidak bisa membantu mengurangi beban dalam rumah tangga kakaknya, tapi ia malah menambahkan beban untuk kakaknya. Ia ingin sekali untuk mencari kerja. Namun, ia dibatasi oleh waktu. Dari pukul 7.00 pagi ia sudah harus masuk kelas. Belum lagi karena jarak dari kontrakan mereka ke kampus itu sangat jauh. Sehingga ia harus berangkat lebih awal karena takut terjebak macet. Waktunya di kampus itu kurang lebih delapan jam. Belum lagi ketika ada tugas kelompok, ia harus pergi berpartisipasi dengan teman-teman kelompoknya dan pastinya juga ada tugas individu. Maka ia perlu belajar, membaca buku dan membantu kakaknya di rumah. Ia mengharapkan kakak iparnya untuk bekerja pun tidak mungkin. Karena anak-anaknya masih belum bisa jauh dari kawasan orang dewasa. Jika ia ngampus otomatis kakaknya tidak bisa keluar rumah. Apa lagi keponakannya yang bungsu baru berusia 1,2 tahun.
***
Kring…… kring….. kring……
Bunyi alarm di hpnya pun berbunyi menunjukkan pukul 4.00 subuh. Ia terbangun dan berdoa. Di setiap doanya nama seluruh keluarganya tidak lupa ia sebut dan pokok doa utamanya saat itu adalah tentang uang kontrakan. “Aku harus beres-beres” secepat kilat ia berlari menuju dapur untuk mencuci piring, menyapu dan menyimpan semua dalam rumah terkecuali kamar kakaknya dan keponakan-keponakannnya karena mereka masih tidur. Sementara ia menyapu ruang tamu, kakak iparnya datang menghampirinya.
“Dek kamu udah bangun. Istirahat aja dulu, biar kakak yang beres-beres. Kalau udah jamnya kamu berangkat kakak bangunin.”
“Ngga apa-apa kak, aku juga bangun seduh, karena aku juga harus berangkat lebih awal hari ini kak, karena hari ini aku harus ngumpul makalah sebagai nilai UTS aku kak,”
“Kok kakak ngga ngeliat kamu ngerjain makalahnya kemarin, setau kakak kamu sepulang ngampus kamu bantuin kakak nyuci,”
“Iyah kak, kemarin aku liat kakak sibuk sekali ngurus adek yng lagi sakit, makanya aku bantuin”
“Jadi, semalam kamu pasti lembur yah? Semalam jam berapa kamu tidur”
“yaa… ya.. iyah kak. Sekitar jam setengah dua subuh mungkin kak” jawabnya ragu-ragu.
“Lain kali kalau kamu ada tugas jangan dibiarin gitu yah, jangan lembur-lembur kakak takut kamu sakit”
“Ngga apa-apa kak. Aman kok. Buktinya sekarang aku sehat kan. Kan aku punya Tuhan, hmhmh” sembari melontarkan senyum manisnya dengan tujuan agar ia terlihat konyol di depan kakaknya agar kakaknya tidak khawatir meski sebenarnya ia lelah. Jam di hpnya sudah menunjukkan pukul 5.53, artinya Uslin sudah harus berangkat. Ia berpamitan pada kakak dan keponakan-keponakannya.
Setibanya ia di kampus, ia melihat banyak kerumunan di depan papan pengumuman kampus. Ia perlahan melangkah ke sana untuk melihat apa yang terjadi.
“Uslin..” tiba-tiba ada suara memanggilnya.
“Eh Fenny,” ternyata suara itu berasal dari Fenny, sahabatnya.
“Ngapain tuh, kok teman-teman pada kerumunan gitu?”
“Oh, itu.., itu loh… eh bentar-bentar kamu dapat beasiswa kan? Yang cerita kemarin itu kamu bukan? Aku lupa soalnya”
“Iyah aku, kenapa emang?”
“Yah ampun beb, berarti hari ini aku punya kabar gembira dong buat kamu, hahaha” sambil tertawa bahgia Fenny mengucapkan kata-kata itu.
“Apaan tuh? … apa sih? Habis nanya beasiswa kok ketawa-ketawi, kenapa sih? Buruan bilang.” Uslin sangat penasaran serta bingung dengan kelakuan aneh sahabatnya.
“Gini loh, itu kan kemarin kamu cerita, kamu sedang kesusahan uang kontrakan kan. Jadi kemarin, pulang kampus aku mampir ke kantor papa aku dan menanyakan terkait uang beasiswa kalian yang belum cair dari semester lalu. Kebetulan papa aku punya kenalan namanya om Harto yang bisa membantu. Jadi papa minta dia untuk menghubungi pihak keuangan di kampus kita, untuk secepatnya mengajukan permohonan pencairan ke kemendikbud dan puji Tuhan mendapatkan respon baik. Jadi kemungkinan uang kamu udah masuk di rekening kamu” ceritanya dengan nada bahagia sambil tersenyum-senyum.
“Oh my God. Fenn kamu baik banget sih, makasih yah untuk bantuannya” Uslin pun langsung menangis haru akan kebaikan temannya, ia mendekat dan memeluk temannya.
“Maaf yah, kemarin aku ngga sempat kabarin karena aku sibuk ngerjain tugas makalah itu. Ngomong-ngomong kamu udah selesai?”
“Iyah. Ngga apa-apa, makasih yah. Aku udah selesai juga kok”
“Bagus deh. Udah ah jangan nangis muluh. Sahabat aku yang kuat masa ia sih harus cengeng ke gini. Yuk ke kelas. Pak Nico pasti udah mau masuk tuh.” Ajak fenny.
Uslin yang masih menangis, berjalan mengikuti sahabatnya sambil berkata “aku ngga cengeng kok, aku terharu, kamu sangat baik buat aku”
“Yaelah, aku siapanya kamu emang? Sahabat kan? Ya emang itu yang harusnya seorang sahabat lakukan selagi bisa bantuin” kata Fenny dan sambil berjalan dan merangkul sahabatnya dalam pelukannya. Mereka pun masuk kelas. Tak lama pak Nico meminta mereka mengumpulkan makalah mereka masing-masing ke atas meja dosen.
***
Seusai kuliah, Uslin pun pamit pada teman-temannya untuk pulang. Karena semangatnya, ketika turun dari kendaraan yang dinaikinya, ia berlari menuju pintu pagar kontrakan dan memanggil kakaknya untuk membuka pintu untuknya.
“Shalom, selamat siang kak. Kakak ada uang dua puluh ribu ngga buat bayar ojek. Kalau ada aku pinjem yah”
“Iyah dek ada, nih” jawab kakaknya dengan kebingungan sambil memberikan uangnya.
Uslin pun langsung berlari ke kamar dan mengambil kartu ATM miliknya dan menelepon seorang ojek untuk menjemputnya. Ojek pun datang dan Uslin langsung naik dan melambaikan tangan pada kakaknya.
Sesaat, ia sujud sambil berdoa dalam ruang ATM . “Tuhan, terima kasih untuk berkat-Mu. Lagi-lagi engkau tidak membiarkan hambamu berdiri di ujung tanduk. Dalam nama-Mu yang kudus aku menerima berkat ini, Amin.” Ternyata uangnya sudah cair. Tingkahnya yang aneh membuat orang-orang sekitarnya kebingungan. Banyak yang mengira bahwa dia sedikit terganggu, namun diantaranya terdapat beberapa orang yang seiman dengannya sehingga mengetahui bahwa itu merupakan sujud syukurnya. Namun tanpa pedulikan mereka, Uslin menarik uangnya dan langsung transfer sejumlah uang ke rekening Bibi Isyah. Selang itu ia keluar dan mendapati tukang ojek yang sedari tadi menunggunya. “Jalan Bu,” katanya.
***
“Shalom kak”
“shalom dek” jawab kakak iparnya
“Kak uang kontrakannya udah ak……, loh? Haaaaah..?” teriaknya terkejut. “Kakak udah pulang?” sambil berlari memeluk kakak laki-lakinya yang baru saja pulang kerja dari luar kota. Uslin merasa bahwa di samping kanannya ada seseorang yang duduk di sebuah kursi.
“Loh, kok Bibi disini? Uang kontrakan udah aku transfer ke rekening bibi, tadi.”
“Oh, gitu yah. Tadi Bibi ditelepon oleh kakakmu, untuk kesini ngambil uang kontrakannya juga, nih uangnya udah Bibi pegang. Jadi, kalau gitu uangnya Bibi kembaliin dulu, yah,”
“Eh Bi, ngga, ngga. Uang ini Bibi ambil sebagai uang kontrakan bulan depan lagi” ujar Hendrik, seorang ayah beranak tiga itu.
“Tapi masih ada sisanya kok,”
“Yah udah, itu untuk Bibi beli sayur sehari-hari yah,”
Ibu berhijab menangis merasa bersalah karena sudah menuntut mereka. Padahal mereka dalam keadaan susah. Namun, si ibu jadi sadar ketika mendapatkan perlakuan baik dari keluarga kecil itu.
“Maafin Bibi, yah!” ujar ibu berhijab itu, sembari menangis.
“Udah, Bi. Ngga apa-apa. Kita ngerti kok, itu kan memang haknya Bibi dan itu juga kewajiban kita,”
Ibu Aranci dengan adik iparnya yang bernama Uslin itu memeluk ibu berhijab itu.
selesai.