Assalamu'alaikum, halo semuanya. Perkenalkan namaku Hasya Aisyah Putriani. Aku adalah seorang anak perempuan berumur 12 tahun kelas 6 SD. Aku bersekolah di sekolah Nurul Ikhlas.
Hari itu....hari Kamis 07 Oktober 2021, Aku datang ke sekolah mengambil raport bersama ibu. Ayah ku sudah meninggal jadi aku dan ibu berdua naik mobil transportasi via online ( grab ) ke sekolah.
Kami sampai di sekolah dan langsung pergi ke kelas ku yaitu kelas 6C. menghadap guru. Kami mengobrol santai sembari membahas nilai-nilai ku yang sudah di tulis di raport.
Ibu mengatakan semua hal tentangku di hadapan guruku. Sebagian besar dari itu mengatakan kekuranganku yang terlalu professional dalam arti terlalu selalu yang terbaik juga introvert.
Guruku, Ustadzah Diyah tanya ke ibu, "Apa waktu kecil pernah dapat semacam tekanan? Soalnya sifat anak yang seperti itu cenderung karena hal yang dialaminya waktu kecil. Kayak ada orang yang bilang ke dia 'Ini salah, emang gak tau gimana caranya? Gimana sih' dan semacamnya. Hal itu bisa menanamkan di dalam hati dan diri seorang anak bahwa ia tidak pernah boleh salah sedikit pun. bisa jadi seperti itu" Tanya Ustadzah Diyah saat itu.
Tapi.. dengan entengnya ibu menjawab "Ah nggak kayaknya Bu. Hana pernah tes psikologi itu memang sifatnya yang harus menang, harus terbaik, dan gak boleh salah. Atau bisa jadi aja dulu kan bapaknya terlalu nyemangatin dia, bilang kalau 'ayo dek bisa masa gitu aja gak bisa' gitu kali Bu" Jawab ibu dari pertanyaan yang Ustadzah Diyah tanyakan tadi.
Aku hanya tersenyum, tapi sebenarnya di hatiku ada rasa sakit sekaligus rasa heran dan penolakan atas jawaban yang ibu berikan tadi.
Pertanyaannya, "Apa di jawaban tadi ibu mengatakan kejelekannya?" hah..tentu tidak! Mana mungkin seperti itu.
Aku benar-benar tidak habis pikir atas ucapan dan omongan ibu saat itu. tapi aku juga tidak bisa membantah, karena mau bagaimana pun ibu akan menetapkan dan meyakinkan jawaban nya itu.
Padahal, aslinya semua hal yang Ustadzah Diyah tanyakan dan jelaskan adalah "BENAR"
Ya...benar...aku memang dari kecil mendapat tekanan itu. Tapi.. aku tidak pernah sekalipun memberi tahu hal ini pada orang lain
Kututup semua rasa sedihku dengan senyuman.
Dalam hatiku berkata, "Ya Allah, kuatkan diri hamba-Mu ini Ya Allah. Berikan kekuatan agar hamba bisa menjalani semua cobaan ini.."
Mungkin ini sakit, tapi inilah cara terbaik agar orang lain tidak mengetahui kelemahan ku.
Aku selalu menyendiri di pojokan kamarku, menulis diary dengan tetesan air mata yang begitu banyak.
Tidak ada yang peduli, suka ataupun duka semua kujalani seorang diri.
Saat ini, aku hanya punya satu orang yang aku percayai. Yaitu Tuhanku Yang Maha Esa, Allah SWT.
Aku berdoa disela kegiatanku. Aku juga berdoa setiap aku putus asa setelah sholatku. Tak lupa aku bersyukur atas nikmat dan kebahagian yang Ia berikan padaku.
Terkadang di tangisku, aku juga mengingat sosok Almarhum ayahku yang sudah meninggal dunia karena covid 19 beberapa bulan lalu.
Ayah...dialah seorang lelaki yang sangat berarti dalam hidup ku. Tanpanya, aku tidak akan mendapat masa kecil yang bahagia.
Ibuku yang lebih sibuk mengurus urusan kakak di banding diriku membuat ku diabaikan. Karena itulah, aku hanya mempunyai seorang yang selalu ada di sisiku, ialah almarhum ayah.
Sedangkan kakakku, jarang sekali kami akur seperti kakak adik pada umumnya. Kakak bahkan selalu membandingkan ku dengan adik temannya.
*******
Beberapa menit berlalu, setelah mengambil rapot, terlihat sekali di wajah guruku ada rasa kurang suka atas sikapku yang ingin yang terbaik dan tidak pernah mau salah serta introvert. Kepribadian yang selama ini kujaga hancur. Harga diriku pun hancur seperti kaca yang ingin pecah.
"Ya Allah, kuatkan hamba! Kuatkan hamba Ya Allah!" Batinku menangis tak karuan. Namun, di luar aku seperti seorang yang bahagia dengan senyum cerah di wajahku.
Aku, ibu dan Ustadzah Diyah berfoto bertiga di handphone ibuku. Foto itu juga langsung di upload di status ibuku olehnya.
"Terima kasih Bu," Ujar ibuku pada Ustadzah Diyah.
"Iya Bu sama-sama" jawab Ustadzah Diyah.
"Oh ya Hasya, lain kali harus ubah sifatnya yah...jangan kayak gitu mulu nanti lama-lama diri kamu sendiri tertekan" Nasehat Ustadzah Diyah padaku.
"Iya Ustadzah, terima kasih" Ucapku.
Aku dan ibuku keluar gerbang sekolah. Kami menaiki angkutan umum karena ongkos nya juga lebih murah dibandingkan menaiki mobil transportasi online.
Sesampainya di rumah, ibu hanya melirikku sebentar dan merebahkan tubuhnya di kasur.
Tak berselang lama adzan Dzuhur tiba, aku mengambil air wudhu dan sholat Dzuhur di kamar pribadi ku.
Setelah selesai sholat kuberdoa pada Allah.
"Ya Allah...ampuni dosa hamba Ya Allah. Hamba tidak tahu dosa apa yang telah hamba perbuat pada-Mu. Ya Allah, kuatkan hamba dalam menghadapi segala cobaan. Beri hamba kekuatan agar dapat menjalani semua ini, dan berikan kesehatan dan hidayah bagi hamba dan seluruh keluarga hamba. Dan tempatkan lah almarhum ayah hamba di surga-Mu Ya Allah. Sesungguhnya, Engkaulah Maha pengampun lagi Maha Mengabulkan" Ucapku berdoa.
Di belakang ku, tampak ibu menangis tidak karuan dengan mukena yang masih melekat di tubuhnya. Ternyata ia mendengar semua doa yang kupanjatkan tadi.
Aku menghampiri ibu,
"Bu, ibu kenapa nangis Bu?" Tanyaku heran
"Gapapa sayang," Jawab ibu.
"Lho? Tumben ibu bilang aku sayang?" Batinku tidak percaya.
Tapi aku memilih senyum dan mensyukuri hal itu.
"Sayang, maaf ya kalau ibu punya salah sama kamu. Maafin ibu juga kalau ibu gak bisa jadi ibu dan ayah yang baik buat kamu"
Ayah disini bermaksud peran ibu yang mencari nafkah selepas kepergian ayahku.
"Iya Bu, gapapa. Lagipula aku juga punya banyak salah sama ibu. Maafin aku juga ya Bu"
"Iya sayang...terima kasih sudah hadir sebagai penyemangat hidup ibu" Ucap ibuku menangis seraya memeluk erat tubuhku.
Aku sebenarnya kurang percaya apakah ini nyata atau hanya mimpi. Tapi...jikalau ini mimpi aku berharap tidak akan pergi dari mimpi ini.
🌹🌹🌹