Jalan setapak penuh dengan kerikil menjadi pintasan utama untuk aku sampai di rumah. Setelah lelah bekerja seharian, akhirnya aku bisa segera istirahat. Rasanya tulang-tulang ini akan patah.
Angin yang berhembus dengan kencang menggoyang beberapa pohon akasia di samping jalan setapak, hawanya pun turut menerpa tubuhku yang hanya dilapisi celana training dan kaos oblong.
Semakin cepat kakiku melangkah, hingga terlihat rumah gedek yang tidak besar, di ujung sana.
"Bu." Aku masuk, lalu bergegas menghampiri ibu yang tengah memasak di dapur.
"Uda pulang Nak? Gimana kerjanya, apa terlalu melelahkan?" Pertanyaan beruntun dari ibu kutanggapi dengan kekehan, lalu menarik pelan jemari yang sudah keriput itu.
Kugelar tikar di tanah, lalu menyuruh ibu untuk duduk.
"Tidak terlalu lelah kok Bu. Tapi lihat, bos aku begitu baik. Baru kemarin bekerja sudah diberi pinjaman," kataku dengan senyum tak pernah lepas, kulihat ibu juga tersenyum, tetapi menyurut seketika. "Ada apa Bu?"
"Apa ini ikhlas bos kamu memberikannya." Kulihat tak ada rasa yakin di wajah ibu. Kugenggam jemari itu, mengecupnya berulang kali.
"In Sya Allah Bu. Alhamdulillah, uang ini bisa untuk menyambung hidup kita,"
Ibu memelukku, aku bisa merasakan bahunya berguncang. Ia menangis, karena terharu. Ibu, maaf, Afkar hanya bisa memberi sedikit.
"Maafin Afkar Bu." Air mataku juga tak bisa tertahan saat melihat ibu menangis. Rasa kecewa, lelah menjadi satu.
"Kamu tidak perlu minta maaf Nak, Ibu bangga pada kamu."
Keberuntungan memihak padaku, kemarin, saat aku dengan rasa percaya diri dan penuh harap. Pergi ke kampung yang lumayan dekat dari kota, di sana aku dapat melihat banyaknya orang yang tengah mengerjakan proyek pembangunan perumahan. Perlahan tapi pasti aku mendekat, mencoba berbicara pada seorang pria paruh baya dengan seragam lengkap. Dialah yang selalu memberikan arahan kepada orang-orang di sana.
"Permisi, Pak," ucapku, bapak itu mengalihkan pandangan. Awalnya nyali ini menciut saat melihat wajah datar yang terpampang, namun kembali membara saat senyumnya terbit.
Dengan keberanian yang sudah membara aku mengutarakan niat kedatanganku. "Pak, saya mau ngelamar kerja, apa ada? Jadi tukang ngangkatin barang juga tidak apa," ucapku dengan tenang.
Bukannya menjawab, pria paruh baya di depanku malah menatap diri ini dari atas sampai bawah. Ya, aku mengerti, mungkin aku memang tidak cocok bekerja di sini.
"Ya, kamu saya terima,"
Sungguh sebuah kebahagiaan, aku tidak menyangka, bahwa semua usaha yang dilakukan dengan doa pasti akan berakhir bahagia.
Usaha untuk terus berjuang demi ibu, akhirnya seperti ini. Aku bisa mendapatkan uang untuk membeli keperluan sehari-hari. Semoga, rezeki selalu menghampiri untuk ke depannya.