“Kau yang bernama manusia kan?” Aku memanggilnya.
“Hei! Aku tahu kau mendengarku!”
Dia tak menjawab, kemudian pergi ke luar ruangan.
Aku berputar-putar di dalam Aquarium, yang tidak seberapa bila di bandingkan dengan lautan.
Aku tahu ia mendengarku!
Saat pertama kali bertemu aku memanggilnya manusia dan Ia menatapku dengan mulut terbuka, seperti aku ketika hendak memakan hewan air di laut.
Kemudian untuk kedua kalinya, aku memanggilnya.
“Manusia!”
Dan ia menjatuhkan sesuatu yang berbentuk seperti tabung transparan berisi air di hadapanku.
“Hei! Kau kembali! Kemarilah aku ingin bercerita! Aku bosan seorang diri!”
Ia menatapku ragu, kemudian mendekatiku.
“Aku tidak tahu apa aku gila atau bagaimana, tapi aku mendengarmu memanggilku manusia!”
“Wah! Kau benar-benar berbicara denganku!”
“Sepertinya aku kelelahan karena terlalu banyak begadang!”
Manusia itu menepuk kepalanya dengan siripnya, ah! Bukan! Tangannya!
“Hei! Manusia!”
“Aku memiliki nama! Jangan panggil Aku manusia! Aku Judy!”
Ia menggelengkan kepalanya.
“Kau memiliki nama? Kenalkan aku Mano!”
“Mano?” Ia menatapku yang tengah berenang di tengah Aquarium.
“Iya aku Mano!”
“Mano? Baiklah! Mano!” Ia menganggukkan kepalanya.
“Apa kau mau mendengarkan ceritaku?”
“Ceritamu?”
“Iya tentang benda yang kami temukan di laut.”
“Benda yang kalian temukan?” ucapnya sembari menarik sesuatu yang berbentuk persegi dan meletakkan tubuhnya di atas itu.
“Iya, benda yang mengubah hidup kami!”
“Coba kau ceritakan.”
“Benda itu mengubah kami, tidak hanya kami saja tapi mereka yang hidup di sekitar laut juga.”
*****
Aku memiliki banyak teman dan mereka berubah karena benda itu.
Ada Tusi, Kura-kura dengan tempurung yang bercincin sehingga bentuknya tidak membundar dan selalu mengeluh sakit perut, apa pun makanannya.
Ada Bipe, Bintang laut yang memiliki benda putih seperti mutiara di atas badannya dan sebuah kotak di salah satu lengannya.
Ada Kajar, Kepiting yang selalu kesusahan berjalan karena baju dari tali yang ia pakai selalu menyangkut di karang.
Kajar masih tidak seberapa, tapi Kori, ikan yang tinggal di dekat karang tidak bisa bergerak sama sekali dan terjebak oleh baju tali itu sudah lama sekali. Bahkan badannya, berbentuk seperti baju itu.
Ada Penta, Penyu yang selalu pilek berwarna merah karena benda panjang berbentuk tabung yang masuk ke hidungnya.
Sampai Pak Grot, burung yang suka menyelam, mengaku kenyang tapi masih lapar setelah menelan beberapa dari benda itu.
Aku juga awalnya tidak memiliki rambut seperti ini tapi setelah aku berenang dengan ceroboh dan tidak melihat situasi, tiba-tiba saja aku memiliki rambut yang menyangkut di insangku.
Apa ya nama benda itu?
Ah! Benda itu bernama Sampah plastik!
*****
“Kenapa manusia meletakkan sampah plastik di laut? Bukannya Manusia lebih pintar dari mahluk lain?”
“Tidak semua manusia seperti itu, Mano. Ada banyak manusia lain yang meletakkan sampah di tempatnya.”
“Oh iya Judy! Terima kasih sekarang aku bisa bebas berenang!”
Selamat tinggal rambut transparanku, sekarang aku bisa bebas berenang!
“Mano bisa kau kenalkan Judy pada mereka? Judy akan membantu mereka! Judy berjanji!” Ia menatapku dengan mata penuh kesedihan.
“Boleh, tapi mereka di laut sekarang. Aku di dalam Aquarium sekarang.”
“Mano mau tinggal lagi di laut?”
“Di sini saja, bersama Judy! Lagi pula keluargaku sudah terbawa baju tali dan tidak tahu ke mana.”
“Kalau begitu Mano antar Judy ke sana ya!”
“Tentu saja! Tapi Mano ikut lagi ke sini ya!”
“Baiklah! Kalau begitu Judy bersiap-siap dulu!”
Judy pergi dan mengambil sesuatu.
“Halo! Saya Judy dari Balai Konservasi pantai!” ucap Judy.
Akhirnya Mano bisa bertemu dengan mereka!
Dan Judy akan menolong mereka seperti Mano!
Semoga Manusia tidak meletakkan sampah plastik lagi di laut, agar tidak ada lagi mereka yang seperti teman-teman Mano.
Kalian tunggu Mano datang ya!