Air, begitu arti namanya. Shui. Ia lahir di waktu bulan purnama. Seorang anak bayi laki-laki yang cantik. Tak menangis saat di lahirkan. Meski demikian, penduduk desa mencoba memaksa agar bayi laki-laki itu harus segera disingkirkan dari desa. Masyarakat percaya bahwa anak itu kelak akan mendatangkan bencana.
Sebelum bayi mungil itu mendapatkan ritual kematian suci di kuil. Ibu Shui, membawanya pergi melarikan diri dari desa sejauh mungkin.
Dua hal yang menjadikan kelahiran Shui dianggap tanda-tanda kedatangan bencana bagi masyarakat. Pertama, bahwa ibu Shui melahirkannya tanpa pernah di sentuh oleh laki-laki. Kedua, Shui tidak menangis saat baru dilahirkan. Mereka memiliki kesimpulan dari kisah-kisah yang pernah terjadi sebelumnya pada kepercayaan mereka. Bahwa semua tanda-tanda itu, mengartikan seorang anak manusia yang terlahir dengan membawa ruh penghuni dari alam bawah, datang ke dunia.
Mungkin memang benar, bahwa saat Shui dibawa melarikan diri dari ibunya. Mereka berdua terkangkap dan ibu Shui tak terselematkan. Ruh pendamping Shui dalam wujud seorang wanita cantik, menyelamatkan Shui kecil dan membawanya pergi meninggalkan desa.
Ia di taruh berbaring berselimutkan kain putih, di depan sebuah gerbang rumah besar. Pemilik rumah itu merawatnya, tidak cukup baik selama 7 tahun Shui berada disana. Pria yang merawatnya tahu bahwa Shui memiliki kemampuan dapat menyembuhkan luka fisik. Salah bagi ruh pendamping Shui menempatkannya di depan rumah pria itu, bahwa pria yang merawat Shui mengidap sadistic syndrome. ia senang menyiksa dan membuat orang lain terluka, terutama anak-anak. Baginya, Shui adalah mainan berharganya yang dapat membahagiakan dirinya. Hingga akhirnya ia bosan dan ingin membagikan kebahagiaan itu kepada orang lain seperti dirinya. Pria itu mengadakan pelelangan di rumahnya yang besar dan mewah. Shui menjadi barang lelang hidup, bagai berlian yang memiliki harga yang fantastis, terutama bagi orang-orang seperti pria tersebut.
Mereka, begitu tersembunyi dan memiliki koneksi yang tidak biasa. Hobi gila mereka, akhirnya menciptakan sebuah komunitas. Tentu mereka sangat aman, karena mereka kekal hukum karena uang mereka. Meski begitu, mereka juga memiliki perarturan bagi semua anggotannya. Untuk tetap menjaga rahasia komunitas, tidak menjadikan anggota sebagai material hobi mereka dan terutama, mereka akan saling menutup rahasia satu sama lain dengan tidak membagikan informasi personal antar anggota atau bahkan saling mencari tahu. Jika salah satu anggota melanggarnya. Pelanggar akan mendapatkan hadiah yang luar biasa, ialah hal yang mereka sukai menimpanya sendiri.
Saat pelelangan di menangkan, Shui akan berpindah tangan/pemilik dan selalu begitu. Banyak hal mengerikan terjadi pada dirinya saat usianya yang masih sangat kecil.
Salah satu anggota, ada yang mendapati diri sebagai pengkhianat, pelanggar peraturan komunitas. Ia segera membawa lari Shui, memberitahunya bahwa ia menyelamatkannya. Orang yang membawa Shui telah menjadi miskin, ia menjadi gelandangan bersama Shui. Shui senang awalnya, meski sebagai gelandangan ia tak perlu mendapati tubuhnya sebagai aset percobaan orang-orang untuk hobi gila yang mereka anggap menyenangkan.
Tak lama orang yang membawa Shui, mengumpulkan gelandangan di kota besar, tempat dimana mereka melarikan diri. Ia mengumpulkan anak-anak, karena sangat mudah di berikan sugesti dan menapatkan kepercayaan mereka. Orang itu mengajarkan para anak-anak agar dapat menghasilakan uang. Mereka di paksa mengemis. Bagi siapa yang membawa uang terbanyak. Anak itu akan di berikan hadiah berupa makanan enak. Bagi mereka yang mendapatkan uang lebih sedikit akan mendapatkan hukuman, seperti kekerasan fisik.
Shui selalu menjadi anak yang paling sedikit mendapatkan uang. Orang itu tak segan menghajar Shui hingga ia tak berdaya. Shui tidak mau menggunakan kemampuan penyembuban dirinya, karena jika ia melakukannya, orang itu akan terus menghajar Shui. Shui hanya beralasan bahwa ia sudah tidak memiliki kemampuannya lagi, kepada orang itu.
Banyak anak-anak yang melarikan diri dari orang itu. Beberapa berhasil dan beberapa tidak. Mereka akan mendapatkan hal mengerikan, jika didapati saat melarikan diri. Shui yang tumbuh bersama kemampuannya, dengan sembunyi-sembunyi menyembuhkan luka-luka fisik yang di berikan orang itu kepada mereka. Shui juga memberitahu, bahwa agar anak-anak lain menyimpan rahasia soal kemampuannya, yang sebenarnya terus berkembang.
Hingga pada suatu hari, dimana hari paling indah bagi Shui. Ia yang saat itu di hajar sampai hampir mati. Diselamatkan oleh seorang pengelana, seorang pria yang tatapannya dingin, berpakaian cukup rapih dan terurus. Meski terlihat lengan dan mungkin tubuh di balik pakaiannya memiliki banyak luka goresan benda tajam. Shui sangat yakin, bahwa pria itu di takdirkan untuk bertemu dengannya, untuk mengeluarkannya dari kegelapan yang ia alami seumur hidupnya.
Pria bernama Zen yang akan selalu Shui ikuti kemanapun ia pergi.
Selama bersamanya, Shui merasa bahwa Zen tidak pernah menyakiti dirinya. Walau tentu Zen memberikan syarat agar Shui dapat selalu bersamanya, "Buatlah dirimu berguna dan jangan banyak bertanya." Jelas Zen.
Kemampuam Shui lah, yang membuat dirinya berguna bagi Zen, menyembuhkan luka fisik Zen dalam banyak pertarungan.
Shui hanya mengetahui, bahwa Zen tidak akan menyakitinya. Tetapi, ia tidak tahu bahaya apa yang akan menantinya selama bersama dengan Zen, yang memiliki ratusan musuh di setiap belahan dunia yang akan mereka kunjungi.
...
Untuk baca full kisah mereka bisa di search atau buka profil Noveltoonku, dengan judul; Sang Pemanggil. Terima kasih, mohon komentar dan saran-saranya, agar aku dapat membuat ceritaku ini lebih baik. Mungkin ini akan menjadi tulisan orisinil pertamaku di Noveltoon, karena sebelumnya, aku menulis fanfiction tentang WizardingWorld.