Saat aku lahir, aku diberi nama Tom oleh si Mei. Kalian pasti berpikir jika dia memberikan aku nama 'Tom' karena serial anak-anak yang berjudul 'Tom & Jerry.'
Kalian salah besar!
Dia memberikan aku nama Tom, karena aku mempunyai tompel. Hadeeeeh ....
Aku kucing dengan bulu putih yang menempel di seluruh tubuhku. Dan tompel yang dimaksudkan Mei, itu adalah bulu hitam yang berbentuk lingkaran kecil yang ada di bagian samping tubuh ku.
Aku kucing satu-satunya di rumah ini. Mei adalah majikanku. Hal yang paling aku benci darinya adalah, dia itu posesif! Aku yang berusia remaja, sudah seharusnya berkelana mencari betina. Dia selalu tak membiarkan aku keluar rumah. Dia mengganggu masa pubertasku! Tapi mau bagaimana lagi, aku lebih menyayanginya dibandingkan betina lain di luar sana.
Namun hari ini berbeda, ayahnya membawa pulang dua ekor hewan yang tidak mirip denganku. Bisa aku pastikan mereka bukan sejenis denganku. Mei terlihat sangat antusias dengan kedua makhluk itu.
Aku pun berjalan perlahan-lahan mendekati Mei yang sedang sibuk bermain dengan kedua makhluk itu. “Mei ... aku belum makan camilan. Mei ... kau kan janji akan membawakan keju untukku setelah pulang sekolah,” ucapku pada Mei yang tengah sibuk dengan kedua hewan yang ada di dalam kandang itu.
“Dasar manusia! Mei ... kau dengar tidak! Mana keju yang kau janjikan!”
Aku terus memanggilnya tapi dia malah mengeluarkan seekor hewan berbulu putih itu dan memangkunya. “Sepertinya aku harus mengeluarkan jurus pamungkas nih.”
Aku pun berjalan lebih mendekat padanya. Menyandarkan kepalaku di kakinya, lalu mulai menggesek-gesekkan kepalaku pada kakinya yang tengah duduk sembari memangku makhluk itu.
“Ish ... nanti dulu Tom. Ayah membelikan kelinci ini untukku. Lucu dia ya, Tom,” ucap Mei. Manusia kesayanganku itu pun meletakkan makhluk yang disebutnya sebagai 'kelinci' itu, di lantai.
“Oiiiii makjaaaang ... melompat pulak dia. Woi ... kelinci! gak bisa kau berjalan biasa saja. Macam aku ini, hah. Kau lihat jalanku ini, hah. Begini jalan yang benar!”
Kelinci itu pun melompat mendekatiku. “Hei, makhluk aneh. Jalanku memang begini. Kenapa? Kau iri ya tidak bisa melompat. Tuh lihat manusia itu. Dia begitu senang melihatku melompat ke sana ke mari.”
Aku menatap Mei. Benar juga yang dikatakan kelinci itu. Mei terlihat bahagia. Aku pun menjauh dari Mereka dan melangkah keluar rumah. Tak lama terdengar suara teriakan Mei. Aku pikir dia akan melarangku keluar rumah seperti biasanya.
“Tom ... Tom ... jangan main jauh-jauh,” ucapnya.
Aku pun berdecak kesal. Baru sebentar kelinci itu hadir, aku sudah terabaikan. Aku pergi cukup lama. Ketika langit sudah berubah menjadi jingga, aku pun kembali ke rumah. Aku takut Mei akan mengkhawatirkan aku. Aku berlari kencang hingga tiba di rumah.
Tapi saat aku tiba di rumah, manusia kesayanganku itu masih sibuk bersama kelinci-kelinci itu. Tanpa mengeluarkan suara, aku berjalan menuju kamarnya dan terlelap di sana. Entah berapa lama aku terlelap, yang jelas aq terbangun karena ada bongkahan besar yang menindihku.
“Ahhh ... Mei ...! Sudah berapa kali aku katakan, kepalamu itu berat! Dasar manusia gak ada akhlak!”
“Main ke mana tadi Tom. Lama sekali kau baru pulang. Aku kan rindu. Dasar kucing gak ada akhlak!”
Manusia ... manusia ... Bisa-bisanya dia meniru kata-kataku. Jelas-jelas dia yang mengabaikan aku dan sibuk dengan makhluk yang melompat-lompat itu.
“Nih, keju yang kau suka itu. Pulang sekolah tadi aku sudah belikan. Kau saja yang berkelana. Ngapain sih? mencari kitab suci?”
Entah apa yang dikatakannya aku tidak peduli. Yang pasti di hadapanku sekarang, ada makanan kesukaanku. Aku pun menyantapnya sampai habis. Tak lupa aku berterimakasih dengan kembali menggesekkan kepalaku di kakinya. Mei pun memaksa ingin menggendongku.
“Haduuuh Mei ... aku mengantuk, biarkan aku istirahat!”
Mei tidak menggubris ucapanku. Dia terus memaksa dan memaksa untuk menggendongku, bahkan memelukku dengan sangat erat. Hal ini sering terjadi. Dan tentu saja drama ini selalu berakhir dengan kukuku mendarat di kulitnya. Tapi entah mengapa, hal itu tidak pernah membuatnya jera.
“Ya, ya, aku tau kau terlalu mencintaiku, Mei. Tapi aku butuh istirahat,” ocehku ketika dia mulai berteriak menyebut namaku, akibat tangannya bermotif garis hasil karyaku tentu saja.
Hari-hari berlalu. Hidupku kini tidak hanya berada di antara para manusia. Aku pun kini hidup di atara kelinci-kelinci itu. Terkadang aku mengejar mereka, hingga mereka melompat ke sana ke mari. Kotoran mereka yang berceceran membuat Mei memarahiku.
“Kenapa aku yang kau salahkan. Mereka yang buang kotoran sembarangan. Aku bahkan buang kotoran di tempat yang kau ajarkan!” ucapku kesal. Para kelinci itu tertawa dan mengejekku.
“Makanya jangan iseng mengejar kami.”
“Sekarang Mei lebih sayang dengan kami, dibandingkan kau!”
“Aku harap kalian segera hilang dari dunia ini!” ucapku sebelum pergi meninggalkan mereka. Mei pun terlihat membersihkan kotoran para kelinci itu. Namun aku masih tidak jera, setiap hari hal itu ku lakukan, walau Mei selalu memarahiku.
Suatu saat aku ada seekor kucing cantik nan molek melintas di depanku yang tengah berlarian mengejar para kelinci itu. Aku tak dapat lagi menahan diri. Sejak hari itu, aku pun sering mengikuti betina itu. Namun, ketika Mei melihatku tengah berada di luar rumah, dia langsung menggendongku dan membawaku pulang.
“Mei ... jangan membuatku malu. Lepaskan aku!” ucapku seraya meraung-raung di pelukannya. Namun Mei tak mempedulikan itu. Dia terus mendekapku erat.
“Sayang, cantik, aku pulang dulu. Nanti malam aku datang lagi. Tunggu aku ya,” ucapku pada kucing betina itu. Dia pun sepertinya menyukaiku.
“Tentu saja tampan, aku akan selalu menunggumu,” ucapnya seraya mengedipkan sebelah matanya hingga membuatku tak sabar menunggu malam.
Pada malam hari, aku tak dapat menyelinap. Mei dan keluarganya menutup rapat rumah ini hingga tak ada celah. Hingga pagi-pagi sekali, ketika pintu rumah itu dibuka, aku berlari keluar rumah. Suara teriakan Mei pun menggema, terlebih aku belum menghabiskan sarapanku pagi itu.
Aku terus berlari mencari betinaku. Mencarinya ke sana ke mari, hingga akhirnya aku menemukannya. Dua hari aku tak pulang ke rumah. Aku tau Mei pasti resah mencariku. Namun aku tak mau kehilangan kekasihku kali ini. Dua hari dua malam, kami menghabiskan waktu bersama. Namun hari ini, aku tak mendapatinya. Aku terus mencarinya walaupun perutku merasa sangat lapar.
Malam ini aku merasa sangat lapar, di tengah jalan aku melihat seekor tikus tergeletak di jalan. Aku pun menyantapnya. Baru kali ini aku memakan makanan mentah seperti ini.
“Apa enaknya tikus ini. Aku rindu Mei. Aku ingin keju,” ucapku setelah menyantap tikus kecil itu. Aku pun terlelap malam itu. Beberapa saat kemudian, perutku sangat sakit. Lambat laun tubuhku terasa sakit semua. Aku merasa lemas. Saat itu aku hanya ingat dengan Mei.
Dengan tertatih aku berjalan pulang. Kepalaku pusing sekali. Napasku mulai tersengal, aku berusaha sekuat tenaga untuk tiba di rumahnya. Jalan ini bukan jalan yang biasa dilalui oleh Mei, ketika pergi sekolah. Dia pasti tak akan melewatinya. Harapanku adalah tiba di rumah untuk bisa bertemu dengannya. Aku beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalananku.
“Ya Tuhan ... jangan cabut nyawaku sebelum aku berpamitan dengannya,” ucapku lemah. Aku kembali melanjutkan langkahku.
Akhirnya aku tiba di sana. Ku lihat matahari masih sangat cerah, Mei pasti sebentar lagi pulang dari sekolahnya. Ku putuskan untuk menunggunya di depan pintu rumahnya.
“Tom ... kucing aneh, kenapa kau?” kelinci-kelinci itu terus mengoceh, menanyakan keadaanku. Dengan napas tersengal, aku mengucapkan kata perpisahan kepada mereka. “Tolong jaga Mei,” ucapku.
Tak berselang lama Mei pun pulang dari sekolahnya. Dia begitu terkejut melihatku dalam kondisi lemas dan mulut mengeluarkan busa. Dia menangis, meratap dan meraung. Dia berlari ke dalam rumah sembari membawaku. Dia mengelap mulutku yang penuh busa. Dia memberikanku minum. Dia bahkan memberikanku keju.
“Tooom ... Ayo makan. Ini keju, makanan kesukaanmu. Ayo makan, biar cepat sehat,” ucap Mei sembari meraung. Namun aku semakin lemah, ku tatap matanya yang merah.
“Kau jelek sekali saat menangis Mei,” ucapku lemah. Dia terus menangis. Sementara aku sedang meregang nyawa.
“Aku menyanyangi mu Mei ... sangat.”
- TAMAT-
----------------
Aku harap memang itu arti meongan terakhir Tom, ketika mati dipangkuan ku .... Huaaaaa 😭😭😭
Kejadian bertahun-tahun lalu, tapi pas ditulis jadi nyesek 🤧
Minta like dan komentarnya ya 🙏