Sampai di ujung nyawaku aku akan tetap menjadi pelindung setia nona, walau seluruh dunia menentang, walau langit terbelah menjadi dua aku akan selalu menjadi Harimau pelindung untuk nona.
Ini adalah kisah ku seorang harimau yang dibesarkan oleh seorang manusia, yang mengangkat cakarnya untuk seorang manusia, yang mengorbankan hidupnya hanya untuk seorang manusia, yang mengabdi kepada seorang manusia.
aku sebagai hewan aku Sangat merasa beruntung bertemu dengan seorang manusia baik, yang membesarkan ku dan menjagaku dengan sepenuh hati nya, jujur saja kadang aku merasa malu karena Nona memperlakukan ku seperti seekor kucing yang sangat menggemaskan dimatanya, padahal aku ini adalah seekor hewan buas yang di besarkan untuk menjadi senjata perang.
Aku masih ingat awal pertemuan ku dengan Nona, saat itu adalah perburuan musim semi, banyak bangsawan yang datang ke hutan untuk berburu berbagai macam hewan, nasipku yang buruk bertemu dengan para bangsawan itu, mereka menembakkan dua anak panah yang seketika itu juga membunuh ibuku, setelah membunuh ibu mereka membawa nya pergi.
Tapi tidak dengan diriku, karna tubuhku yang masih kecil seukuran dengan kucing mereka mengganggap diriku tidaklah berharga, jadi aku ditinggalkan begitu saja dengan tubuh terluka bersimbah darah, aku pikir sampai disini saja akhir dari hidupku tapi ternyata tidak, aku masih mengingat dengan samar-samar ada sebuah tangan hangat yang membelai tubuh kecilku, tangan itu begitu lembut, apa itu tangan malaikat?.
Setelah itu aku tidak ingat apa yang terjadi, karna setelah bangun aku berada di tempat yang asing, dengan sebuah kain putih yang melingkar di perutku, kain apa ini? Aku menggigit kain asing ini tapi sebuah tangan lembut menjauhkan ku dari kain ini dia bilang " aduh harimau kecil kau ini sangat nakal ya ", siapa dia?, " Karena kamu begitu kecil, imut dan seputih salju aku akan memberimu nama Shiroi, mulai sekarang aku akan merawatmu", begitulah awal pertemuan ku dengan nona panglima.
Lima tahun berlalu kini aku menjadi harimau yang kuat dan perkasa, aku menjadi satu-satunya hewan buas kesayangan nona, setiap nona pergi berperang ia pasti akan membawaku bersama nya, kami tidak pernah pulang dengan kekalahan kami selalu memenangkan perang, dan mengharumkan nama kerajaan.
Pagi ini titah dari kaisar datang, kediaman dipenuhi dengan rasa mencekam, tertulis dalam titah kaisar peperangan akan terjadi di barat, Nona panglima terhormat akan memimpin pasukan nya, mengingat kemenangan yang telah ia raih selama ini, aku juga diperbolehkan ikut dalam peperangan.
Sebuah titah yang menyatakan peperangan akan terjadi, Nona menggambil titah tersebut dan berjalan ke arahku " Shiroi ku sayang lihat ada peperangan, kamu akan makan kenyang besok " ia berkata demikian sambil mengelus elus lembut kepala ku, " baiklah aku akan bersiap siap untuk berangkat besok, benar kan Shiroi ", aku hanya bisa mengaum menyatakan jawaban iya.
Keesokan harinya kami berangkat menuju Medan perang, sampai di kamp kami melihat banyak prajurit yang berlalu lalang menyiapkan segala persiapan peperangan, Nona hanya Duduk di tenda pribadinya sambil mengatur strategi penyerangan, saat itu yang aku pikirkan hanyalah besok aku pasti akan makan dengan kenyang.
Keesokan harinya, di waktu subuh kami telah berbaris di Medan perang, terlihat ada Banyak sekali prajurit berhiaskan armor besi yang menyilaukan mata, nona berada di samping ku sembari menunggangi seekor kuda putih yang gagah tapi tidak segagah diriku, " Shiroi apa kau sudah siap " aku hanya menjawab nya dengan sebuah Auman keras.
Pertempuran dimulai bagaikan mesin pemotong rumput nona menebas para prajurit musuh dengan sangat cepat dan mudah, aku merasa kagum dengan nona, jika di kediaman ia terlihat sangat baik dan lemah lembut, tapi saat di Medan perang ia nampak sangat gagah berani.
Setelah lima hari berperang kami kembali ke kerajaan, tentu saja dengan sebuah kemenangan, menyambut kemenangan ini raja mengirimkan banyak hadiah untukku dan nona, yang mulia Raja sangat baik mengirimkan ku banyak daging yang enak, aku memakan daging-daging itu dengan sangat lahab, lalu nona mengelusku dan dia berkata " aduh kucing kecilku ini sebentar lagi akan pasti menjadi seekor sapi ", sapi apa aku sebesar itu?.
Hari hari yang bahagia kami rasakan setelah peperangan itu, beberapa bulan berikutnya peperangan lain dimulai, kali ini berasal dari pegunungan timur, titah kaisar kembali datang, pernyataan undangan menuju Medan perang kembali diucapkan dari mulut seorang Kasim, entah mengapa aku mendapat firasat buruk akan perang kali ini.
Aku merasa kami kali ini tidak akan pulang, aku merasa sangat takut kehilangan nona kali ini, apa ini yang dinamakan insting seekor hewan, keesokan harinya kami langsung menuju ke Medan perang dengan ribuan pasukan, dari jarak 2km dari kamp aku mencium bau darah yang sangat pekat, sampai disana banyak prajurit tergeletak dengan berbagai luka, nona menanyakan apa yang terjadi disini, tapi tidak ada satupun yang menjawab.
Hari berikutnya kami semua berbaris rapi di Medan perang, jumlah pasukan musuh ternyata lebih banyak dari yang kami perkirakan, terompet berbunyi tanda peperangan akan dimulai, nona dengan sigap mengatur posisi, sayap kiri menyerang diikuti dengan sayap kanan, lalu aku dan nona maju ke Medan perang.
Kami semua tidak menyangka pasukan musuh sangatlah kuat, dalam waktu kurang dari setengah jam sayap kanan telah musnah, di ikuti juga dengan musnahnya sayap kiri, aku terus menyerang dan menerkam semua prajurit musuh yang menghalang,
Beberapa saat kemudian Medan perang telah berubah menjadi lautan darah, banyak prajurit baik musuh maupun bukan semuanya mati, hanya tersisa aku nona dan salah seorang panglima musuh, nona terluka, darah terus mengalir dari perut nya, aku hanya bisa melindungi nona, tapi aku sendiri pun terluka, serangan dari panglima itu merusak satu mataku.
" Shiroi,,, sudahlah, kita sudah kalah, pergilah kembalilah ke hutan, aku tidak ingin kau mati bersama ku ", apa maksud nona kenapa dia berkata demikian, aku tidak ingin kembali dan meninggalkan nona, " adalah kata kata terakhir yang ingin kalian ucapkan " seringai panglima musuh.
Sebuah pedang besi panglima itu ayunkan, pedang yang bertujuan untuk membunuh nona, aku tidak ingin nona mati, dengan tubuhku aku menyerang panglima itu, pedang tajamnya menembus tubuhku, " Shiroi,,,,!!!" Teriak nona dengan sangat keras, dengan tubuh lemahnya nona mengangkat senjata dan memenggal kepala panglima itu, peperangan berakhir kemenangan kembali ketangan kita.
Nona memeluk erat Tubuh ku " Shiroi kita berhasil jangan tinggalkan aku ", andai aku bisa bicara, tapi aku ini hewan, maaf nona aku tidak bisa bertahan lebih lama, hiduplah dengan baik tanpa diriku.
Tamat.