Terkadang kita tidak butuh keberuntungan, hanya perlu sedikit keberanian~
°°°°°
Air mata ku tumpah ruah di atas selembar kertas yang sudah usang. Kertas itu mulai menguning dengan bekas air mata yang membuat tulisan tangan itu buram.
Hujan di luar sana makin membuat hati ku kalut. Tangan ku bergetar hebat seperti seorang pelaku pembunuhan yang mendapat vonis hukuman mati ketika tau surat itu tertuju pada ku.
Sepuluh tahun lamanya aku berusaha melupakan cinta pertama ku. Ku kira bertekuk sebelah tangan, namun nyatanya, aku saja yang tidak memiliki keberanian.
Bukan tentang keberuntungan, tapi mengutarakan. Karena cinta yang tak di ungkapkan, sering kali malah sulit untuk di lupakan.
"Kau menyesal?"
Aku mengangguk, membuat ayah yang berdiri sambil menyesap secangkir kopi terkekeh. Ku masukan kembali surat itu ke dalam amplop berwarna biru.
Teringat sepuluh tahun lalu, hari di mana aku bertemu dengan nya. Menyisakan rasa bernama cinta yang ternyata juga ia rasa.
Pagar pembatas lapangan berwarna putih setinggi dada, langit sore yang mulai menjingga, roda sepeda yang berputar seperti waktu yang berusaha ku bekukan.
Hati ku terasa sesak ketika mengingat ia menulis (aku juga merasakan yang sama) di dalam suratnya. Dan bodohnya aku malah mati-matian melupakan pria itu.
Usia ku baru 12 tahun ketika aku benar-benar merasakan jatuh cinta. Berdiri di garis abu-abu dalam mengartikan rasa indah bahkan ketika hanya bisa mendengar suaranya.
Sore itu ku kayuh sepeda ku dengan malas. Kumandang adzan magrib menanti giliran setelah surat ar-rohman. Gemetar rangka tubuhku ketika melihat siluet bayang dua orang anak seumuran dengan ku.
Membelakangi arah terbenamnya matahari. Tak bisa ku lihat dengan jelas pahatan wajah yang sepuluh tahun ke depan akan selalu ku kenang. Aku rabun sejak masih kelas 4 sekolah dasar, dan sore itu kaca mata yang biasa bertengger manis di hidung ku tertinggal di rumah.
Beberapa bulan belakangan ini, aku memang sering gentayangan di masjid tanpa alasan yang jelas.
Maksud terselubung dari tindakan ku adalah ingin bertemu atau setidaknya berpapasan dengan seorang laki-laki yang juga akhir-akhir ini selalu ada di masjid.
Aku yang berusia 12 tahun, rajin solat asar di masjid, bahkan rela tidak jajan demi bisa memasukkan beberapa lembar uang di kotak masjid setelah pulang mengaji.
Aku tidak tau apa amal semacam ini di terima atau tidak oleh Tuhan. Yang pasti, tiap kali aku ingin bertemu, harapan ku hanya berakhir dengan harapan yang semu.
Ketika aku hampir menyerah dengan yang namanya cinta, Tuhan hadir memberikan kejutan seperti sengatan belut listrik.
12 Maret Kamis sore, aku melihat wajahnya. Wajah yang selama ini hanya bisa ku tebak bagaimana, wajah yang ternyata sangat jauh dari kata tampan, atau pun istimewa.
Keringat dingin mengalir deras di pelipis, leher hingga tangan ku yang memegang stri sepeda. Kejadian itu hanya berlangsung tidak lebih dari 5 detik. Rambut hitam yang tertiup angin, dan mata hitamnya yang tajam akan selalu terulang berjuta kali di memori ku.
Itu pertemuan pertama sekaligus terakhir kami. Karena setelah itu, ia pindah. Tak tau kemana.
Sejak itu aku selalu membenci senja. Senja yang seharusnya membawa kenangan indah cinta monyet ku, selalu di banjiri air mata.
Aku tumbuh menjadi gadis yang benci cinta. Bahkan hampir semua pria yang mengajak ku jadian ku tolak mentah-mentah. Aku tak bisa lagi merasakan cinta seperti ketika aku bertemu dengan pria yang namanya saja tak ku ketahui.
Aku mencintai tanpa pernah bertemu. Tanpa pernah berucap satu kata pun. Hanya melihat wajahnya sekali seumur hidup, lalu, secara tiba-tiba Tuhan mengambilnya tanpa aba-aba. Membuat ku menangis pilu di pojokan kamar tiap malam.
Aku tumbuh dengan kenangan pahit tentang cinta. Jarak ku dan masjid itu tak terlalu jauh, tapi tiap langkah terasa seperti di bebani batu.
Tiap kali memandang masjid yang di dominasi warna kuning dengan kaca-kaca hitam yang selalu terlihat mengkilap, selalu terbayang dirinya duduk di anak tangga masjid. Atau terkadang terduduk di samping beduk dengan wajah di tutupi peci.
Setiap hal kecil selalu bisa membuat ku teringat padanya. Aku juga menganggap diriku tidak beruntung tiap detik ketika teman-teman ku yang lain memamerkan pasangan mereka.
20 tahun usia ku ketika aku berusaha mengikhlaskan segalanya. Menerima jika aku pernah jatuh cinta, pernah menyukai satu pria yang membenamkan ku dalam luka yang paling dalam.
Aku juga berusaha menerima satu fakta, jika cinta pertama itu tak harus sempurna. Cinta kita pada orang lain tak harus di balas dengan perasaan cinta yang sama besarnya seperti yang kita berikan.
Tak apa, karena bisa merasakan cinta itu sendiri, sebenarnya ada anugrah terbesar yang pernah Tuhan berikan.
Berapa banyak orang di luar sana yang berganti-ganti pasangan? Aku lebih beruntung dari pada mereka yang sebenarnya tak pernah merasakan sensasi sebenarnya dari jatuh cinta.
Aku fokus pada tiap pekerjaan yang ku lakukan. Niat ku mengambil jurusan psikologi lenyap. Aku memilih jurusan sastra Indonesia. Lantas bagaimana dengan surat ber-amplop biru tadi?
"Tidurlah ini sudah malam" bujuk ayah sambil memegang bahuku. Membuyarkan semua lamunan yang menyatu bersama deru rintik hujan.
Aku nekad menghabiskan liburan semester ku dengan pergi ke rumah ayah. Memberanikan diri menengok masjid yang kata ayah akan di renovasi.
Aku yang telah berusia 22 tahun kaget ketika melihat semua telah berubah. Sangat berbeda dengan sepuluh tahun lalu, dengan perasaan yang sama, juga rasa cinta yang sama, aku berjalan mengelilingi tempat-tempat yang dulu sering ku gunakan untuk bermain bersama teman sebaya ku.
Aku tersenyum seiring hati ku yang terasa teriris.
Pengurus masjid tetaplah orang yang sama. Uban telah menutupi sebagai kepalanya, namun wajah ramah dengan suara serak yang khas tak pernah sedetikpun hilang.
Ia memberiku sebuah amplop berisi surat yang pria itu titipkan sebelum pergi. Pria paru baya itu bercerita di samping ku yang diam terkejut.
"Jika saja kau pernah menemuinya, mungkin akhirnya tidak akan seperti ini" matanya memandang jauh ke depan. Ke arah tukang-tukang bangunan yang memanggul kayu di bahu mereka.
Aku tidak bertanya di mana di sekarang. Karena aku tau, dia itu bagian dari masa lalu. Tidak akan ku biarkan bayangannya memasuki masa depan ku sejengkal pun.
(Aku menyukaimu, jika kita berjodoh, kita akan bertemu) kata terakhir yang indah dari surat dengan amplop biru yang ia tulis untuk ku.
Ini hanya kisah klasik tentang cinta yang tak mampu ku ucapkan. Pecundang yang menyalahkan Tuhan karena ketidak beraniannya sendiri.
Tuhan memilih ku untuk merasakan rasanya jatuh cinta, dan aku beruntung. Dan cinta, rasa itu seperti labirin yang tak memiliki ujung.
°°°°°
Pesan dari hujan; jika anda mencintai seseorang, maka ungkapkan itu dengan segera. Jangan membiarkan cinta kita usang di makan usia, dan berjanjilah pada diri sendiri, apa pun jawaban yang anda terima, anda akan tetap percaya pada cinta.
Ketika rintik hujan terdengar, kadang mereka hadir membawa cerita.
Cerita di atas hanya fiksi😊
Bunyi Hujan; 9-10-21