Hai, Nama gue Syaqila Marwati. Nama yang indah bukan? Tapi tidak dengan kelakuan, sifat dan apa pun itu tentang diri gue tidak seindah itu. Gue punya banyak teman, yah tentunya beragam sih. Tapi gue gak punya tuh yang nama nya sahabat sejati, setia untuk selamanya.
Memangnya apa sih itu Sahabat?? Jujur gue enggak tahu apa itu sahabat?? Orang bilang sahabat adalah teman yang lebih istimewa diantara teman lainnya, ada juga yang bilang sahabat itu adalah sosok teman yang selalu ada disaat duka maupun suka, berbagi semuanya bersama ,apa pun itu semuanya selalu bersama. Tapi, walaupun begitu gue tetap tidak mengerti sama sekali.
Akhir-akhir ini, banyak sekali orang-orang yang memamerkan sahabat mereka. Baik itu di sosmed ataupun dilingkungan sekitar gue. Sumpah yah, gue tuh udah muak banget, mereka terlalu lebay bukan? Apa-apa selalu bersama sahabatnya , mau makan, mau ke kamar mandi, mau ke mana pun itu selalu barengan. Biarpun alay tapi jujur gue juga iri, gimana sih rasanya tuh? Sesenang apa sih?
Dan ... akhirnya gue memutuskan untuk memperhatikan semua teman-teman gue yang mempunyai ciri-ciri seperti orang-orang bilang tentang sahabat mereka. Pertama gue coba untuk melakukan hal seperti biasa saat disekolah, yaitu ke tempat dimana semua teman gue kumpul di saat istirahat, jamkos, dan untuk kepentingan diluar sekolah maupun di dalam. yah awalnya sih itu gudang yang sudah terbengkalai, tapi kami ubah semuanya hanya untuk tempat Tongkrongan soalnya teman gue bukan hanya cewek tapi juga banyak yang cowok.
Karna sekarang sudah jam istirahat, gue langsung memulai aksi. Yaps, gue akan ke tempat biasa kami nongkrong posisinya ada di belakang kantor kepsek . Jauh? Iya, bahkan gue harus berlari kecil menuruni anak tangga yang berjumlah mungkin 80 lebih. Capek ga? Buat orang biasa, mageran pasti akan berpikir sekali, yah Cuma sekali.
Akhirnya sampai juga di depan gudang tempat nongkrong teman-teman gue, sudah gue duga pasti tempat ini akan selalu ribut seperti biasa. Jadi gimana cara nya supaya tidak ribut lagi? He he he ... caranya Cuma 1 ...
1...
2...
3...
Dan...
BRAKKK...
Prng ... png...
“ eh anjr*tt”
“Ayam m*ti dimakan tikus”
“Eh, k*mpr*ttt!”
“Eh anj*r kaget guee”
“Asstagfirullahhaladzim, Gue masih mau hidup woii!”
“ny*m*t lah!”
“Kucing makan bawang!”
Dan masih banyak lagi, umpatan yang dikeluarkan dari mulut mereka semua.
Dalam hati gue nih, Sumpah ya gue mengakak banget, setiap gue ngelakuin hal yang sama kek gini.
“Ekhem...Ekhem” gue sengaja begitu supaya mereka diam.
“ Hello gays, khusus untuk hari ini gue mau traktir kalian semua makan sepuasnya di kantin!” teriak gue. Untuk beberapa saat mereka diam, kemudian bersorak kegirangan seperti tidak pernah dikasih makan saja.
“Horeeeee” teriak mereka bersamaan.
“Oh ya ges, satu lagi jangan lupa yah buat yang merasa dirinya cowok nih pintu harus di benerin lagi kayak semula ,,, okey!” pinta gue. Lalu berjalan ke arah mereka dan melemparkan kartu Black card kesalah satu dari mereka.
“yey, makasih Bu Boss” kata Monik, gadis yang menerima kartu Black card milik gue.
Sebagai jawabannya gue hanya berdehem saja lalu berjalan melewati mereka semua. Gue berjalan menuju ke atas dimana tempat itu hanya ruangan khusus buat gue seorang, jika ada kepentingan mendesak atau hal lainnya tentunya harus ada izin dari gue.
Saat gue masih berjalan di atas anak tangga, seseorang menggenggam salah satu tangan gue. Sebenarnya gue tau siapa orang itu, tapi gue berpura-pura seolah gue tidak tahu apa pun.
“Sya ... stop!” pintanya.
Gue berbalik dan menaikkan satu alis sebagai tanda tanya.
“Lo jangan memanjakan mereka kayak gitu lagi, Sya! Jangan mentang-mentang duit lo banyak lo semena-mena!” katanya dengan raut wajah yang susah untuk gue deskripsikan.
“So...? Gue harus apa dong Er? Udah hal yang biasa bukan, jika seorang ketua memanjakan anggotanya? Lo juga bagian dari mereka kan? Jadi, udah deh lo diam dan nikmati saja semuanya.” Ucap gue ke orang tadi, ya dia adalah Erika Novitria. Dia juga termasuk ke dalam golongan mereka, jujur nih Gue gak suka sama orang yang begituan, tapi gue juga heran. Sebab, isi yang ada di kartu Black card gue ga berkurang sama sekali justru bertambah yah walaupun tidak banyak. Yah yang namanya juga gue, Syaqila Marwati yang bodo amat.
Waktu terus berjalan hingga pada akhirnya berganti menjadi jam lalu hari kemudian minggu lalu bulan dan tanpa terasa sudah hampir memasuki 1 tahun.
Semuanya sudah berubah, setelah mengamati mereka semua selama kurang lebih 2 bulan akhirnya gue sadar. Didalam benak gue muncul berbagai macam pertanyaan dan juga umpatan karna kebodohan dari kelemotan pola pikir sendiri.
Selama ini gue ke mana aja sih? Kenapa gue baru sadar sekarang? Kalau teman-teman di sekitar gue selama ini adalah teman yang lebih dari sekedar teman biasa? Gue bodoh! Kenapa sih nih otak gue lomot banget Cuma mikir gini doang?! Mereka selalu ada buat gue, selalu ada dimana pun itu, selalu menunjukkan keakraban dengan cara masing-masing, menunjukkan bahwa mereka tidak ingin gue hilang dari mereka dengan cara yang tidak biasa? Bodoh banget sumpah bodohnya gue nih kelewatan batas! Sial!. Bukan mereka yang terlalu alay atau lebay tapi gue yang terlalu menutup diri, terlalu bodoh, terlalu menjaga jarak, terlalu mengikuti alur kesenangan duniawi yang sementara!.
“...a”
“...ya”
“Syaqila?!”
Gue terkejut karna seperti ada yang memanggil nama gue.
“what?” tanya gue pada Ronald yang sedari tadi memanggil-manggil nama gue .
“Kita jalan-jalan lagi yuk, udah lama nih gak jalan-jalan bareng. Ya gak gays?” kata Ronald kepada yang lainnya.
“Iya nih Bu Boss, benar kata Tornado!” teriak salah satu dari mereka – Weigi Alexander
Mereka semua tertawa, kecuali Ronald yang sudah memasang wajah masamnya.
“Wah sekate-kate lu ya kalo manggil nama orang! Dasar biji sampah!” ucap Ronald tak ingin kalah.
Yah keributan antara Ronald dan Weigi sudah menjadi bahan lelucon sehari-hari bagi gue dan anggota lainnya.
Tanpa sadar gue tersenyum melihat ini semua dan saat itu pula ruangan yang tadinya ricuh dengan gelak tawa seketika sunyi seolah-olah tidak pernah terjadi keributan yang besar.
“woahhh, bu bos bisa senyum juga?”
“anjir, mana cakep banget lagi”
“Bu boss, ayo nikah langsung sama gue”
“Bu boss, tanggung jawab nih jantung kita jedag jedug.”
“aaah, Sya ini beneran lo kan?”
“Wah gila, sahabat kita akhirnya bisa senyum juga!”
Sahabat?? Ah, rasanya tuh senang banget bahkan sangkin senangnya gue ingin setiap waktu dibilang sahabat. Lebay bukan? Ha ha ha, gue akhirnya tau.
“ E..eeh sya lo kok nangis sih?”
“wah gawat kalian nih, bu bos nangis tuh!”
“Sya jangan nangis dong, aduhh lo ternyata juga bisa nangis ya?”
“Hiks..hiks.... hueeeeee” tangisan gue pecah, sumpah yah gue malu banget. Gue yang selalu dingin cuek bisa senyum terus nangis lagi.
“cup..cup..”
“aduh bu bos tenang yah, bu bos mau apa biar kita turutin?”
“lah-lah, kok malah tambah nangis sih bu bos?”
“aduh berasa merawat bocil lagi gue nih”
Setelah beberapa jam, akhirnya gue berhenti nangis juga. Sumpah ya gue malu pake banget ini, mau ditaruh dimana muka gue???!.
Setelah kejadian hari itu, hubungan kami semakin erat, saling melindungi satu sama lain, mulai membuka semuanya dengan leluasa tanpa ada yang dirahasiakan dan juga gue tambah manja dan kelakuan seperti bocil.
“aduh Sya, lo jangan kebiasaan dong meluk-meluk orang kalo mau tidur. Kan ada bantal guling lo sendiri”
“ga mau ih” jujur gue gak malu lagi, dan mereka udah merasa biasa dengan sifat gue yang baru. Mereka justru malah senang banget, gue aja sampe heran.
“Sya, di dengar tuh apa yang Erika bilang”
“t-tapi Sya pengen peluk Er? Masa ga boleh sih? Ron mah jaad banget!”
“nah kan Ron, mampus lo bentar lagi bayinya nangis!”
“lah kok gue sih”
“Udah-udah mending kalian keluar aja sono carik cemilan untuk bocil nih!”
“oke deh”
Mereka semua keluar kecuali Erika dan Gue.
Erika itu udah gue anggap seperti ibu ke dua disekolah dan dimanapun itu.
Sedangkan yang lainnya, gue anggap seperti abang dan kakak gue.
Jujur gue senang banget, gak menyangka punya kehidupan yang seperti ini. Tapi disisi lain gue juga takut kalau ini hanya sementara.
Beberapa hari kemudian.
Akhirnya, hari ini adalah hari yang semuanya tunggu-tunggu yaitu hari liburan bersama-sama.
Semuanya menikmatinya dengan senang dan wajah yang gembira, tidak seperti dulu yang terpaksa.
Gue hanya memperhatikan dari jauh, sungguh pemandangan yang indah untuk dilihat. Tak ingin kehilangan kesempatan yang berharga, gue mulai memotret semuanya untuk kenang-kenangan Suatu saat nanti.
“ Cil ... sini ikutan fotbar!”
“Iya, Gue ke sana” ucap gue lalu berlari menghampiri mereka.
_^_^_^_^_^
1...
2...
3...
Ckrek...
“bagus, gue harap ini akan menjadi kenang-kenangan kita semua sampai akhir hayat”
“iya, kalau bisa sampai anak cucu kita nanti yah”
“benar, kita tunjukkan kepada anak dan cucu kita tentang cerita persahabatan kita semua!”
“iyaaa!!”
“kita adalah Sahabat! SAHABAT SELAMANYA!”
“HOOOOOOO! BEST FRIEND FOREVER!”
*-*-*-*-*-**-*-
Tahun berganti tahun, tak terasa kini kami semua sudah menikah dan bahkan sudah ada yang mempunya cucu. Kami tidaklah lupa dengan kenangan yang berharga hari itu. Kenangan yang kami ceritakan kepada anak dan cucu kami dengan wajah yang antusias hingga mereka dapat melihat seperti apa kenangan itu. Cerita tentang persahabatan kami terus berlanjut secara Turun temurun, bahkan ada yang mencoba hal seperti itu. Dan juga mencari cerita versi mereka sendiri dengan memegang motivasi dari cerita kami, yah BFF selalu di hati❤.
*-*-*-*-SELESAI*-*-*-*-
Jangan lupa di klik❤ and 💬 yah🤗🤝🤭🥀🔥❄
Sekian TERIMAKASIH😙🤗