Malam yang sunyi saat gerimis sedari sore tak kunjung mereda. Rara mengurung diri di dalam kamar dan melewatkan makan malamnya. Tidak ada yang menyadarinya karena sedari sore ia hanya di rumah sendiri. Ibu dan Ayah, seusai dari menghadiri undangan di acara pernikahan langsung masuk ke dalam kamarnya.
Rara merasa hatinya hancur ketika mengetahui pacarnya telah dekat dengan wanita lain. Pacar yang sudah dari sejak SMA ia pacari telah beraninya menduakannya.
"Mulai sekarang kita putus!" dengan perasaan hancur Rara meninggalkan Bimo sendirian dan bergegas menaiki taxi.
"Ra..., Rara. Tolong buka pintunya, Ra. Aku Bisa jelasin semuanya, Ra. Aku hanya mencintaimu, Ra," dengan berlari-lari, Bimo mencoba menghentikan taxi yang di tumpangi Rara. Namun usahanya itu tak berhasil.
Rara meminta putus, namun Bimo tidak menyetujuinya. Bimo mengatakan, jika ia sangat menyesal karena dekat dengan wanita lain. Namun, ia mengaku jika mereka hanya saling curhat dan telah memiliki pacar masing-masing. Dan Bimo hanya mencintai Rara saja.
Perdebatan pun terus berlangsung beberapa hari karena Bimo terus-menerus menghubunginya, sedangkan jika ingin menonaktifkan handphone Rara tidak bisa karena sebagai admin di tempat ia bekerja harus selalu online handphonenya. Dan akhirnya perdebetan terus bergulir. Karena sejatinya masih sangat mencintai Bimo.
Berat badan Rara pun semakin berkurang karena perdebatan yang terus membebani pikirannya, membuat ia tak berselera makan.
Sedangkan di tempat berbeda Dino merasa terdesak oleh ibunya untuk segera menikah. Bahkan karena terlalu mengedepankan pengobatan ibunya, Dino rela dilangkahi oleh adiknya yang lebih dulu menikah. Dan kini ia tetap membujang hingga berumur 30 tahun. Dia bukannya tidak laku, namun ia harus menanggung biaya pengobatan ibunya. Kakak-kakaknya yang sudah menikah tak bisa membantu karena harus membiayai kebutuhan anak dan istri mereka. Hal itulah yang membuat Dino enggan untuk menikah.
Beruntung di tempat kerja ia mendapat posisi sebagai Kepala Regu di bagian Produksi. Gajinya cukup untuk kebutuhannya dan pengobatan ibunya yang dalam sebulan bisa menghabiskan satu juta rupiah. Dan sisanya untuk ia tabung, untuk masa depannya nanti.
Tak sedikit wanita yang jatuh hati padanya karena ia pintar, berpenampilan menarik, tubuhnya yang tinggi tegap, dan kepribadian yang baik hati.
Ia menceritakan kondisinya pada salah satu teman seprofesinya. Karena saat ini Dino sedang tidak dekat dengan siapa pun, kemudian Budi menyarankan salah satu nama, yaitu Rara. Rara adalah admin gudang yang baru dua bulan bekerja. Budi mengatakan Rara gadis yang manis, pintar dan santun. Jika wanita lain suka di goda, justru Rara akan menjadi jutek dengan laki-laki yang menggodanya.
Menurut Budi Rara masuk dalam kriteria yang Dino inginkan. Beberapa karyawan produksi yang mendekatinya kebanyakan, adalah wanita penggoda dan agresif, sehingga ia tidak suka.
Dino biasanya mendapat jadwal shift di malam hari sedangkan Rara masuk selalu sift pagi. Sehingga selama dua bulan di sana mereka tak pernah sekalipun bertemu. Pada kesempatan di hari itu produksi off di karenakan bahan baku sulit di datangkan tepat waktu. Sehingga Semua kepala bagian masuk di pagi hari.
Gudang Rara tempatnya di lorong paling ujung, dan bersebelahan dengan ruang kantor Kepala Regu. Di dalam gudang tidak diperbolehkan ada benda asing yang di khawatirkan dapat menyebabkan kontaminasi, sehingga jika ingin menelepon ia akan meminjam telepon kantor Kepala Regu.
Pagi itu Dino dan Budi berada di ruangan kantornya. Terlihat Rara datang dan meminta ijin untuk meminjam telepon. Budi mengisyaratkan dengan kontak matanya bahwa yang dimaksud Rara adalah gadis itu. Dan setelah beberapa minggu mengenal gadis itu Dino mulai tertarik dengan Rara. Sementara Rara dalam hatinya ia juga menyimpan rasa suka kepada Dino.
Budi beberapa kali mempertanyakan, apakah Rara mau menikah dengan Dino. Tentu saja karena bertanya dengan candaan Rara juga menjawab dengan candaan. Apalagi yang mengatakan bukan Dino sendiri melainkan Budi.
"Ra, mau tidak jadi istrinya Dino?" tentu saja Rara meragukan apakah itu sungguhan atau hanya gurauan. Apalagi yang bersangkutan hanya diam saja.
"Ishh Pak Budi nih ada-ada saja pertanyaannya. Mana mau Pak Dino dengan saya!" ujar Rara balas bercanda.
Sebenarnya rasa cintanya terhadap Bimo sedikit demi sedikit mulai memudar karena perhatian dari Dino. baru pertama kali ini ia bertemu lagi dengan Bimo.
Saat akan pulang Dino melihat Rara berdiri di depan gedung. Niat hati ia ingin memberi tumpangan, namun di saat bersamaan ada seorang pria bermotor berhenti di depan Rara. Kemudian Rara naik ke jok belakang laki-laki itu. Dino yang merasa cemburu akhirnya mendahului dengan kecepatan tinggi.
Rara kaget, karena Dino ternyata melihatnya. Padahal selama break dengan Bimo, baru kali ini ia bertemu lagi dengan Bimo.
Beberapa minggu berlalu tiba-tiba terdengar kamar jika Dino telah memiliki pacar di cabang perusahaan lain.
Saat itu juga Rara merasa kecewa untuk yang kedua kalinya. Merasa Dino selama ini hanya berpura-pura memperhatikannya. Bahkan terdengar kabar jika dalam waktu dekat Dino akan menikah dengan perempuan itu. Sungguh Rara merasa kecewa. Lantas untuk apa selama ini Dino perhatian kepadanya.
Saat atasan Rara memberi tawaran Rara untuk naik jabatan sebagai Admin Logistik, namun di cabang perusahaan lain, akhirnya Rara menyetujuinya. Dengan begitu ia tidak perlu melihat Dino lagi. Namun ia lupa, dengan ia pindah ke cabang itu artinya ia menempati unit kerja yang sama dengan calon istri Dino. Dan benar saja, si calon mempelai perempuan mengundang Rara untuk menghadiri pernikahan mereka karena memang semua karyawan kantor di undang.
Tiba menjelang hari pernikahan. Dino menghubungi Rara.
"Ra, ada yang ingin aku katakan kepadamu. Sesungguhnya saat itu aku menyukaimu. Namun aku tak berani mengatakannya kepadamu," mendengar hal itu Rara menjadi tercengang.
Batin Rara bergejolak, "Untuk apa mengatakan hal itu sekarang. Bukankah besok adalah hari pernikahanmu, Mas Dino. Kenapa malah mengatakan hal itu!"
"Mungkin memang bukan aku jodohmu mas, dan dia adalah wanita terbaik yang telah di takdirkan untukmu," ujar Rara.
"Ra, aku mohon kamu jangan datang ya, ke acara pernikahanku. Aku tidak akan sanggup jika melihatmu di sana," di balik telepon Rara meneteskan air mata. Namun tak ia ungkapkan.
"Iya, Mas. Aku tidak akan datang. Semoga acaranya lancar dan Semoga menjadi keluarga samawa ya, Mas!" ujar Rara seoalah ia baik-baik saja.
Dan saat hari itu tiba Rara benar-benar tidak datang. Ia menitipkan amplop yang berisi uang untuk di berikan kepada mempelai wanita kepada teman kerjanya.
Seminggu setelah pernikahan, saat sedang Apel pagi, Rara mendengar Ibu Mas Dino sudah meninggal. Rara saat itu juga bertemu Istri Dino yang sudah masuk kerja. Namun ada yang berbeda, Istri Dino memakai hijab dan merubah penampilan menyerupai Rara yang memakai rok panjang.
"Mbak, saya turut berduka cita ya atas meninggalnya Ibu mertua mbak Tia, " ujar Rara.
"Iya, Mbak terimakasih. Oh ya mbak, cara memakai hijabnya bagaimana? Melihat penampilan mbak Rara memakai hijab saya jadi terinspirasi memakai hijab. Oh ya, Kata mas Dino, mbak Rara dulu satu unit ya kerjanya dengan mas Dino?" tanya istri Dino. Rara menjadi khawatir apa saja yang di katakan Dino mengenai dirinya kepada istrinya.
"Emm, iya, Mbak. Cara mbak memakai hijab juga sudah bagus kok, semoga istiqomah ya, Mbak!" ujar Rara ramah.
Dalam hati Rara menduga, apa suaminya yang menyuruhnya memakai hijab juga? Entahlah dia tidak ambil pusing.
Sebulan setelahnya teman Rara sewaktu di unit pusat datang. Kemudian mereka mengobrol di sela-sela jam istirahat.
"Ra, aku jadi bersalah telah menjodohkan Dino dengan Tia!" ujar Teman Rara.
"Lhoh, Mbak yang menjodohkan mereka?" tanya Rara kaget.
"Iya, Dino bilang, dia lah yang setiap hari mengerjakan pekerjaan rumah. Dulu saat awal penjajakan, Dino main ke rumah Tia, niatan Dino hanya ingin bertemu dan mengenal orang tua dari Tia, tapi malah sama Bapaknya di minta untuk segera menikahi anaknya,"
"Begitu juga atas desakan Ibunya, yang sudah sakit-sakitan, beliau menginginkan sebelum ia di panggil oleh Allah. Beliau ingin melihat Dino menikah. Akhirnya Dino bersedia menikah dengan Tia."
Seketika Rara segera menutup mulutnya yang menganga. Ia tidak menyangka jika ternyata posisinya waktu itu sedang sulit. Ia merasa iba mendengar hal itu.
"Mungkinkah saat itu mas Dino benar-benar menyukaiku, dan terpaksa menikah atas permintaan orang-orang. Maafkan aku, Mas. telah berprasangka buruk padamu. Mungkin aku memang bukan untukmu, Mas!
🍁🍁🍁