“Apa yang salah dengan cinta ini Tuhan?” itu kata–kata yang selalu terngiang di pikiranku. Kisah ini selalu jadi penghangat memoriku. Ricki, begitu aku memanggilnya. Dia cowok yang sudah hampir 4 tahun ini mondar–mandir mengisi hatiku. Dia sosok yang nyaris sempurna seperti yang kuinginkan. Tapi, yang sangat kurang darinya adalah… yup sikap acuh tak acuhnya dia sekarang. Dulu, dia pribadi yang penyayang, sampai akhirnya dia berubah 360 derajat kepadaku.
“Pagi…”
“Hmm pagi juga” jawab Ricki sinis.
“Kamu gini banget sih?”
“Apa to? Pagi–pagi udah ngajak debat sih? Udahlah, aku mau siap–siap dulu..” Tuutttt. Begitu di setiap pagi. Aku berusaha jadi penyemangat di paginya, justru mendapat tamparan petir sebagai balasannya.
“Kamu kenapa sih, akhir–akhir ini sinis banget sama aku? Aku ada salah ya? Ngomong dong, kan jadinya aku tahu, kalau kamu diem gini kan aku tambah bingung.”
“Udah ceramahnya?”
“Maksud kamu apa sih?”
“Kamu nyadar gak sih, yang bikin aku bosen, ya kamu. Sikap kamu kayak gini yang gak aku suka.” aku terdiam. Kata–katanya sangat melukai hatiku. Betapa tidak, dia yang selama ini aku sayangi, aku cintai, berbalik arah menjadi orang yang nyaris aku benci.
“Sikap aku yang bagaimana lagi sih Rick? Aku harus ngertiin kamu kayak gimana lagi coba?”
“Aku gak butuh pengertian macem–macem dari kamu, aku cuma butuh napas lega tanpa harus diberondong dengan sms dan miscall dari kamu yang hampir tiap detik itu. Tolong ngertiin posisi aku, aku gak ada di dekat kamu lagi, aku punya hidup baru, bukan hidup yang dulu” air mataku mulai menetes.
“Baik, aku yang salah, aku yang gak pernah bisa ngertiin kamu, aku yang ngebuat hubungan ini makin runyam.”
“Nah, itu kamu tahu. Ayo sih, rubah sikap ke kanak–kanakan kamu itu, kalau kamu masih mau kita tetep sama–sama terus. Udahlah, aku cape. Tolong jangan hubungi aku, sampai kamu bisa janji untuk gak kayak gini lagi.” Tuutt..
“Kenapa sih Rick? Kenapa kamu gak kasih aku kesempatan untuk bilang ke kamu. Aku cuma pengen bilang, aku mulai benci dengan sikap kamu” begitu gerutuku dalam hati. Bodohnya aku, air mata ini terus saja mengalir tanpa henti.
“Bodoh banget sih aku? Kenapa cowok kayak gini aja aku tangisin. Dia aja nyaris gak nganggep aku lagi, kenapa aku mesti mikirin dia?” itu yang aku pikirkan seketika itu juga.
Semenjak percakapan via telepon malam itu, aku tak pernah sms atau telepon dia lagi. Hampir satu minggu ini aku tak menghubunginya. Dalam hati ini, ingin sekali aku memberontak, aku ingin pergi dari kisah kusut ini. Aku ingin sekali berhenti mencintainya. Tapi, aku selalu saja kembali untuk memaafkan semua sikap buruknya, aku kembali merengkuh kasih bersamanya. Dia adalah cinta pertamaku, dia yang mengajariku arti cinta yang sesungguhnya. Tentang rasa saling percaya, saling mengerti, saling memahami. Dia yang membawa aku dalam buaian kasih di tengah penat hidupku.
“La, hey La…” teriakan Yudha sontak mengagetkanku, membangunkanku dari lamunan tentang orang tak penting itu.
“Apa sih Dha, gak usah pake teriak kan bisa?”
“Bisa apanya? Kamu dipanggil–panggil dari tadi gak nyahut. Ayo, mau pulang apa terus bengong di sini?”
“Hmm.. iya iya, ayo pulang. Lagian siapa yang bengong, orang aku lagi mikir kok.”
“Mikir apa? Mikirin Ricki lagi? Mau sampai kapan sih kamu dibodohin perasaan kamu kayak gini?”
“Elo jahat banget sih ngomongnya Dha? Gak sampai segitunya juga dong! Kamu gak ngerasain yang aku rasain Dha, kamu gak ngerti”
“Ya gimana aku mau ngerti, kamu cerita aja gak. Ayolah La, cowok di dunia ini gak cuma Ricki. Banyak yang diam–diam perhatian sama kamu, nunggu tanggepan cinta kamu. Tapi kamu apa? Masih aja rela jadi korban cintanya Ricki!!”
“Salahku apa sih Dha? Kenapa aku harus cinta, harus sayang, sama orang yang jelas–jelas sekarang gak ada pedulinya sama sekali sama aku.”
“Lah itu kamu tahu. Udahlah, lepasin Ricki, mungkin dia bukan yang terbaik buat kamu.”
“Tapi dia nyaris sempurna buat aku Dha.. dia itu cinta pertama aku.”
“Baru juga nyaris, bukan seutuhnya. Udahlah, mau cinta pertama kek, cinta kedua, atau cinta kesekian, yang namanya cinta ya cinta, gak ada hitungannya, gak ada batasannya.” “Hmm.. okelah Dha. thanks” Aku berlalu pergi mendahului langkah Yudha yang tergeleng–geleng dengan sikapku.
Yudha adalah teman perempuanku satu kampus, satu prodi, satu kos. Lengkap deh kalau di tiap harinya aku selalu dapat petuah–petuah manis darinya. Meskipun begitu, dia pribadi yang care banget sama temen. Dia ngertiin aku, dia ngingetin aku, apalagi masalah Ricki, dia maju nomor satu untuk dukung kita bubaran.
“La, ni hp kamu getar terus, ada yang telepon nih” Yudha menyodorkan hp-ku yang sengaja aku tinggal di kamar.
“Oke Dha, thanks”
“yup.”
“Halo, siapa ni?”
“Aku La,”
“Siapa? Sory, nomor baru,”
“Ya emang nomor baru. Aku Ricki La, kamu apa kabar?” aku tertegun sejenak.
“Aku pikir kamu udah gak mau lagi ngubungin aku. Aku baik kok, kamu sendiri gimana?”
“Enggak lah. Maafin aku ya, aku udah kelewatan sama kamu kemarin.”
“Hmm.. udahlah, gak sepenuhnya salah kamu kok.”
“Aku masih sayang sama kamu La. Jangan kamu pikir, aku udah gak sayang and cinta lagi sama kamu. Kita ini udah hampir 4 tahun putus nyambung, gak mudah buat ku beranjak dari kisah kita”
“Iya Rick, aku juga sayang sama kamu, tapi akhir–akhir ini mugkin aku berlebih. Aku takut jarak kita yang makin jauh, makin ngebuat cinta kita jauh juga.”
“Ah, lebay kamu Cy..” kata–kata itu, rasanya udah lama banget setelah kita selalu bertengkar, Ricki tak pernah memanggilku dengan panggilan “sayang” itu lagi. Aku tertegun sejenak sampai suara Ricki memecah heningku.
“Cy. Cy… kamu gak ketiduran kan?”
“Upz.. iya Cy. Gak kok..” . Obrolan kami berlanjut.
Tak seperti yang kemarin, kali ini kami berbicara dengan nada lembut, saling berbagi cerita, saling berbagi rindu, semakin memperindah percakapan kami waktu itu. Tak sadar, waktu sudah mulai larut, aku izin tidur lebih dulu, karena besok aku ada kuliah pagi. “Udah dulu ya Cy.. besok aku ada kuliah pagi, aku takut kesiangan.”
“Oke Cy, aku juga mau tidur. Besok aku masih masuk pagi juga.”
“Oke Cy, sweet dream..”
“Met malem sayang, mimpi indah….”
“Siapa yang telepon La? Kok kamu senyum–senyum gitu?”
“Kepo Lo.. hahaha”
“Eh, awas kamu La.. Awas aja kalau nyampe galau lagi.. gak aku gubris dah..”
“Wuih, jahat banget ancamannya Dha.. hehe”
“Haha.. udahlah, kalau harus ngurusin kamu aja gak ada habisnya..” Yudha berlalu pergi ke kamar, sementara aku masih saja tertegun bahagia, aku nyaris tak terpikir Ricki akan kembali baik terhadapku.
Hubungan kami berangsur–angsur membaik sejak saat itu. Bedanya, intensitas smsan, telepon, tak sesering dulu lagi, tapi itu tak mempengaruhi kedekatan kami. Sampai suatu hari, ada kejutan kecil yang dibuat Ricki untukku.
“La, kamu di mana?”
“Lagi di kos aja, emang kenapa?”
“Hehe, enggak apa-apa. Eh keluar bentar deh..”
“Emangnya kenapa sih? Jangan bilang kamu udah di depan kosku.”
“Udahlah, cepet .. keburu kering aku.”
“Iya iya…” aku ke luar dari kamar dan bergegas menuju halaman depan.
Aku terkejut melihat Ricki sudah duduk di kursi depan kosku. “Ricki, ada acara apa? Tumben banget kamu mau jauh–jauh ke sini?”
“Assalammualaikum dulu, atau gimana gitu, belum–belum udah diberondong pertanyaan.”
“Hehe, iya. Habisnya aku kaget banget kamu nyampe sini, aku kirain cuma bohongan.”
“Kangen aja, pengen ketemu kamu.”
“Hehe, bentar ya, aku ambil minum dulu, kamu mau apa?”
“Apa aja deh, yang penting itu handmade kamu Cy,”
“Oke Cy.. bentar ya..” Aku masuk ke dalam dan membuatkan minuman untuk Ricki, saat itu juga Yudha juga baru pulang dari belanja.
“Siapa di depan La? Kamu kenal?” suara Yudha mengagetkanku.
“Hehe, itu yang namanya Ricki Dha,”
“Haaaa… beneran La? Ngapain dia jauh–jauh ke sini? Kamu bilang dia lagi di Solo.”
“Aku juga kaget, dia gak ngasih kabar apa–apa, tiba–tiba udah di depan kos. Ya udah, aku mau ke depan dulu Dha, bye… hehe”
“Huw,”
Aku bergegas menuju depan. Kami ngobrol banyak tentang kegiatan masing–masing. Dalam hati, aku merasa bahagia sekali. Orang yang selama ini hanya bisa aku dengar suaranya hanya di hp, ada nyata di depanku. Setelah lama ngobrol, Ricki memintaku untuk ikut pergi ke luar bersamanya. Itung–itung dating katanya.
“Eh La, ke luar yuk, maen ke mana gitu.”
“Emangnya ke mana?”
“Ya ke mana aja. Kamu gak pengen ya ke luar bentar sama aku?”
“Ya mau lah. Kapan lagi kita mau keluar? hehe” Aku pergi ke dalam untuk berpamitan pada Yudha dan kemudian pergi dengan Ricki.
“Jangan malem–malem pulangnya La!!”
“Oke Dha, bentar doang kok. Bye…”
Hari itu bisa dikatakan sebagai hari terindah, terbahagia selama hubungan kami yang putus nyambung ini. Aku menepati janjiku ke Yudha, untuk pulang tak larut malam. Tepat pukul 19.00, aku sudah tiba di kos lagi, dan Ricki langsung pamit pulang ke Solo, karena besok dia ada kerja. Dan aku langsung masuk kamar, dan tidur karena telah lelah seharian bersama Ricki. Hubungan kami berjalan lancar selama 3 bulan, sampai suatu hari ada sms masuk dengan isi, “La, jangan hubungi aku dulu, kita jalan masing–masing aja. Maaf aku gak bisa jadi yang terbaik buat kamu.”
Aku bak tersambar petir di siang bolong. Betapa tidak, aku pikir, dengan pertemuan kemarin, kita tak akan terpisah lagi. Aku tak membalas sms itu, aku hanya tertangis dan menonaktifkan hp hari itu. Aku kembali menjadi pemurung, aku merasa tak seceria dulu lagi. Dalam benakku semakin tertanam rasa menyesal. Kenapa aku masih saja memberi dia kesempatan, setelah dia selalu menyakiti dan menyakitiku? Mulai hari itu juga, aku menghapus nama Ricki dari semua kenanganku. Fotonya, kontaknya, Fb-nya, aku tak mau lagi berhubungan dengannya. Aku terlalu sakit untuk mengingatnya, namun aku juga tak yakin untuk mampu melupakannya.
Tuhan.. apa yang salah dengan cinta ini? Apa aku terlalu berani menyebut ini dengan Cinta? Kini hari–hariku aku sibukkan dengan kegiatan kampus dan hobi menulisku. Aku lebih memilih sendiri untuk membuat karya–karya tulis, daripada sibuk mikirin kenapa aku dulu sebodoh itu. Aku sadar, cinta tak akan selamanya abadi. Sampai aku membaca postingan dari novelis terkenal Darwis Tere Liye yang berbunyi begini, “Cinta sejati itu melepaskan.” Kini aku mengerti, jika dia benar cinta sejatiku, pasti nantinya dia juga akan kembali padaku. Tanpa aku harus berpikir pusing dengan menyalahkan dan menganggap bodoh diriku sendiri yang terlanjur sayang padanya.
Aku memulai membuka lembar baru hidupku. Aku semakin tertarik untuk membuat cerpen ataupun puisi dari pengalamanku. Memang sih, kalau mau benar–benar jujur, pacaran itu gak ada gunanya. Toh, itu juga bagian dari takrobul zina, yang jelas dilarang agama. Apapun bentuknya, pacaran tetap saja pacaran, tetap saja larangan, dan tetap saja jadi dosa. Kalau emang sudah siap dan serius, ya ta’arufan aja, terus nikah deh.. selesai dah perkaranya. Gak perlu pusing–pusing meng-galau enggak jelas gara–gara pacar. So, aku berharap, suatu hari akan ada penerbit yang mau menerbitkan kumpulan ceritaku ini. Agar setiap orang yang membaca karyaku minimal tak akan merasakan pahit getirnya rasa cinta sepertiku.
“Kamu hebat La. Kamu udah bisa bangkit dari cinta konyol kamu itu. Aku suka kamu yang sekarang. Kamu yang aktif, bisa ngehasilin karya–karya hebat kamu lewat cerpen inspiratif mu ini.” ujar Yudha menyemangatiku.
“Thanks Dha. Ini berkat kamu juga. Kamu selalu ada saat aku terpuruk, dan gagal. Thanks Dha.”
“Oke La, no problem buatku. Kita kan friend…” Yudha juga sebagian dari pengisi inspirasi buat cerpenku.
Mulai dari sini, aku tumbuh jadi pribadi baru, jadi Laila yang baru, yang ceria, kuat dan…