"Pagi!" Kataku pada bibiku.
"Pagi juga si kecil kesayanganku!" Katanya dan mencubit pipiku.
"Wepaskan akwu..." kataku berusaha membenarkan suara.
"Haha!" Lalu dia berbalik kembali untuk melihat masakan nya apa sudah matang atau belum.
Pagi mendung seperti biasanya. Aku memang suka hujan, tapi aku lebih suka bermain di luar tanpa kehujanan.
"Calista kecilku... kau mau makan telur dengan daging sapi lagi, kan?" Katanya. Bibiku memang tahu apa yang aku suka.
Baru saja aku ingin pesan telur daging sapi. Bibiku memang pembaca pikiran. Atau tidak? Hihi.
"Ya!" Kataku riang.
"Kalau begitu..." dia mencari sesuatu di lemari atas. "Ah, ketemu." Katanya lalu melanjutkan kegiatannya.
Aku menatap jendela lagi. Kulihat banyak hal yang sudah terkena air hujan. Rintik-rintik pun mengiringi kepergian sang hujan. Kini matahari menampakkan dirinya sedikit demi sedikit.
"Calista kecilku... kau selalu memandang hujan. Kau ingin hujan-hujanan lagi ya?" Katanya. "Jangan lagi. Kau bisa sakit kalau terlalu sering. Kalau kau sakit nanti malah tidak bisa makan es krim, kan?" Tegasnya.
"Aku tidak ingin. Takut dimarahi bibi lagi. Tapi, kan, apa salahnya kalau makan es krim jahe hangat buatan bibi?" Tanyaku nakal.
"Si kecil ini...!" Lalu dia mendekatiku dan sedikit menggelitikiku.
"Hahaha...! Hentikan! Haha!" Lalu dia menghentikannya. "Jangan panggil aku kecil!" Kataku sedikit cemberut padanya.
"Maka dari itu cepatlah besar! Kau baru 8 tahun. Hari ulang tahun juga sebentar lagi! Kejutan apa ya, yang nanti bibi kasih~" Katanya sambil meletakkan piring yang berisi telur kesukaanku.
Aku hanya tersenyum riang. 3 hari lagi aku ulang tahun yang ke sembilan. Tak sabar seperti hari lainnya.
Ding, dong.
Suara bel berbunyi. Bibi jarang mengundang seseorang. Ditambah memanggil seseorang datang ke rumahnya. Jadi, siapakah dia? Aku penasaran.
"Tunggu sebentar!" Teriaknya. "Calista kecil, bagaimana kalau kita menyambut tamu kita?" Tanyanya padaku dengan tatapan berbinar.
"...Ya!" Jawabku walau masih ragu.
Kenapa bibi senang sekali?
Aku mengikutinya dan secepatnya mendahului untuk melihat di balik kaca. Aku tidak bisa melihat dengan jelas karena embun hujan yang belum turun. Bibi pun membuka pintu.
"Hai! Sudah lama sekali." Katanya lalu pintu kembali ditutup. Bibi memeluknya ramah untuk sambutan yang hangat.
"Apa dia ada?" Tanya seorang tamu.
"Ah! Calista kecil, kemari!" Aku menurutinya. "Dia adalah ibumu!" Katanya.
"Ibuku?" Aku keheranan. Aku tidak percaya kalau aku akan bertemu ibu setelah sekian lamanya aku menunggu.
"Aku tahu kejutan ini mendadak. Tapi, kurasa inilah hadiah terbaikku." Kata bibi.
Lalu tamu itu yang sekarang disebut ibuku berjongkok agar sejajar dengan kepalaku.
"Apa kau merindukan ku?" Tanyanya.
Ramah, baik dan entahlah. Sosok yang sangat aku butuhkan? Tapi bibi sudah ada di sisiku. Dan aku tidak menginginkan yang lain.
"Ya!" Kataku berusaha seceria mungkin. Dia melebarkan tangannya agar aku bisa memeluknya. Aku menghampirinya dan membalas pelukannya.
Hangat. Tapi, apakah dia suruhan bibi agar aku bisa memiliki sosok ibu? Anak kecil tidak seharusnya berpikir seperti ini!
"Ayo, kita sarapan bersama." Kata bibi.
"Ya!" Kataku.
"Tentu." Katanya.
Lalu kami sarapan bersama. Walau agak sedikit canggung, aku menjawab beberapa pertanyaan dengan sebisa mungkin tidak terlihat kaku atau tidak senang. Karena pertanyaan itu dari tamu, bukan bibi!
"Kamu cukup cerdas ya!" Katanya dan mengelus rambutku.
"Yah, dia bisa menghafal beberapa kosakata bahasa asing. Katanya cita-citanya menjadi ahli bahasa! Anak yang unik." Kata bibiku sambil menyeduh teh setelah makan.
Itu hanya hobi, bukan berarti aku bisa melakukan itu semua dengan baik.
"Hihi!" Kataku.
Aku berlari ke kamar untuk membiarkan mereka berbincang lebih lama. Setelah aku mandi, seseorang menungguku. Tamu yang tadi. Maksudku ibuku.
"Hm! Kau sudah mandi rupanya. Kata bibimu dia ada urusan tadi. Jadi aku akan mengantarmu ke sekolah." Katanya.
"Aku bisa naik bus sendiri kok, hihi!" Kataku riang.
"Tidak lagi. Sekarang bahaya ada dimana-mana. Kau... tidak keberatan, bukan?" Tanyanya.
"Oh. Eumm... tidak!" Kataku. "Kalau begitu ayo kita berangkat!" Sambungku.
Aku menaiki mobil pribadinya. Tak ada percakapan sama sekali di dalam mobil. Aku meminta duduk di belakang karena aku merasa canggung sendiri.
Saat aku melihat punggungnya, terlihat dia cukup kesepian. Tapi, aku tidak familiar dengan wajahnya. Hanya dari punggung saja yang membuatku aneh. Aku seperti mengenalnya di suatu tempat.
Sampai disekolah, aku turun dan dia mencium keningku. Aku tersenyum ramah walau itu terlalu mendadak. Aku pergi ke kelas sambil melambaikan tanganku.
Hari disekolah cukup membosankan. Tak ada yang menarik karena aku sudah tahu jawabannya akan jadi apa.
"Calista, bisa kau berikan contoh pada teman-temanmu?" Kata seorang guru.
Setelah itu banyak pasang mata yang menatapku. Aku mulai mengisi papan kosong itu. Ada yang berbisik dan ada yang tidak peduli. Atau mungkin ada yang takjub dengan tulisanku?
"Bagus Calista. Kau boleh duduk." Katanya. Aku berbalik dan kaget melihat wajahnya yang terkena sinar matahari.
Wajah itu cantik bila tersenyum. Dia menatap bangga padaku. Aku langsung duduk memalingkan wajah.
Setelah pulang sekolah aku melihat lagi punggung miliknya. Seperti ada sesuatu yang membuatku teringat padanya. Dia berbalik dan mengambil tasku. Aku hanya bisa tersenyum.
Dia menungguku? Tanyaku.
Saat malam hari, dia membacakan dongeng untukku. Dia menggantikan bibi untuk mendongeng. Padahal aku sudah cukup besar untuk dibacakan dongeng pengantar tidur. Tapi, mereka bersikeras akan hal itu.
Setelah pura-pura tidur, aku melihat dia menutup pintu. Lagi, lagi. Punggung itu terasa tak asing. Dimana? Dimana aku pernah melihatnya? Apa benar dia ibuku?
Aku kabur lewat jendela untuk melihat kunang-kunang di halaman depan. Dengan perasaan sedikit takut kalau aku ketahuan.
Wanita itu ada di sana sebelum aku. Dia memegang secangkir minuman.
"Tidak bisa tidur?" Tanyanya setelah melihatku mengendap-endap kembali ke jendela.
"I-iya..." kataku sambil menggaruk kepala.
"Kemarilah. Duduk disini." Lalu aku menghampirinya dan mengangkatku agar aku duduk dipangkuannya.
Dia memberiku syal yang melilit lehernya. Dia memakaikannya padaku. Aku tak menolak. Tapi, aku masih canggung.
"Malam yang indah. Apa kau sering mengendap-endap keluar dari jendela?" Tanyanya.
"Itu... maaf." Kataku. Aku sudah ketahuan. Untuk apa aku berbohong?
"Tak apa. Kau pasti ingin melihat kunang-kunang." Katanya.
"Iya!" Kataku. "Benarkah tak apa?" Tanyaku.
"Tentu." Lalu dia meminum lagi secangkir kopi itu. Aromanya terendus oleh hidung kecilku. "Apa kau masih canggung padaku?" Tanyanya.
"Itu... iya..." kataku. Aku sudah agak mengantuk.
"Bagimu, apa aku seperti kunang-kunang? Menunggu tiap malam dan berhati-hati agar kau tidak ketahuan berbicara padaku." Katanya.
"Mungkin... hoam... kau lebih dari sekedar kunang-kunang... kunang-kunang bercahaya pada malam hari. Tapi, ibu bercahaya setiap saat..." kataku tanpa sadar dan tertidur lelap.
"Tidurlah yang nyenyak." Katanya berbisik di telingaku. Dan aku tidak ingat apapun lagi.
Paginya.
Aku bangun dengan perasaan malu. Mengingat apa yang terjadi semalam. Aku merasa wajahku panas.
"Calista kecil! Jangan pergi dari kasurmu!" Kata bibiku kaget melihatku berjalan menghampirinya.
"Dimana ibu?" Tanyaku.
"Ibu? Kau... ingin mengatakan aku ibu lagi setelah tiga tahun lalu?" Tanyanya. Dengan tatapan prihatin. "Mungkin kau bermimpi. Kemarin kau sakit demam parah. Hari ini jangan pergi ke sekolah dulu. Oke?" Katanya.
Sepertinya semua itu memang mimpi. Aku lupa ibuku pergi lama sekali. Kata bibi dia sedang berada di atas. Lalu yang kemarin itu siapa?
"Tapi... kau tidak berbohongkan?" Tanyaku. Mataku berair namun, belum tumpah. Aku menundukkan kepalaku.
"Ah... tidak Calista... aku tak akan berbohong padamu..." katanya berjongkok sejajar denganku. Itu sama sekali tidak membuatku tenang.
"Bohong! Lalu yang kemarin itu siapa?" Kataku menahan tangis. Bibiku tak menjawab, dia hanya memelukku dan menunggu sampai aku berhenti menangis.
Malamnya,
"Kau ingin sesuatu?" Tanya bibi.
"Tidak. Aku bilang aku sudah baik-baik saja. Aku ingin main keluar." Kataku.
"Calista kecil, ini sudah malam. Hari ini kau manja sekali. Yakin tidak ingin sesuatu?" Tanya nya lagi.
"Aku ingin... tidur." Kataku. Walau sedikit berbohong.
"Baiklah..." lalu dia pergi ke pintu. "Tidur yang nyenyak ya." Katanya dengan senyuman termanis yang bisa ia buat hari ini.
Aku membalas senyumnya dengan wajah terkantuk-kantuk. Aku harus berjaga! Lampu telah padam. Pintu tertutup dengan rapat. Tapi, aku tak bisa menahan kantukku.
Aku pun tertidur.
Aku melihat ibuku sedang mengenggam erat tanganku. Aku memegangnya dengan erat. Jalan-jalan bersama ibu adalah hari terbaik yang bisa ia berikan padaku. Walau aku hampir lupa seperti apa wajahnya.
Tunggu.
Ada mobil yang tak tentu arah jalannya. Katanya, itu tidak baik dilakukan. Dan mobil itu mengarah pada kami.
Ibu mendorongku sejauh mungkin dan berbalik membelakangiku.
Punggung itu adalah hal terakhir yang aku lihat.
Brak...!
"Ibu!" Kataku. Aku terbangun dari mimpi. Semoga bibi tidak mendengarnya.
Aku terjaga karena mimpi itu. Aku berniat untuk keluar diam-diam seperti biasa. Disana aku tak hanya melihat kunang-kunang. Tapi, disana ada sosok dengan punggung yang aku kenal.
"Ibu!" Kataku. Aku hampir lupa kalau bibi bisa saja mendengar teriakkan ku.
"Calista..." katanya. Aku berlari dan memeluknya. Kunang-kunang kini berterbangan bersamaan aku berlari kearahnya.
Tapi, semakin lama, semakin pudar juga tubuh ibuku. Kenapa?
"Ibu harus pergi." Katanya. Aku tak terima.
"Tersenyumlah. Ibu akan ada disini." Lalu dia menunjuk dadaku dan mengecup keningku. Kini ibu telah pergi.
"Ibu..." kataku.
"Hadiah terbaik yang pernah aku dapatkan adalah melihat kunang-kunang..." pandanganku mengabur.
"Bersama ibu..." kataku dan jatuh diatas rumput.