Kukira kita sedang bermain. Apakah permainan kita sudah selesai? Siapa yang menang? Siapa yang kalah?
"Pakai sepeda saja aku ceroboh. Menemui ajal saja aku di permainkan. Apa salah ku kalau aku sedikit berbahagia?"
Apakah kata-kata itu yang akan menjadi kata-kata terakhir?
Sebelum itu,
Pagi yang cerah.
Tak kusangka hari ini akan cerah. Padahal aku terlanjur percaya pada ramalan cuaca. Maksudku, perkiraan cuaca. Apa kau terlanjur memercayainya?
Aku menaiki sepedaku. Udaranya cukup sejuk karena hujan lebat sore kemarin. Walau malam harinya masih hujan rintik. Karena hujan kemarinlah aku hampir tertabrak mobil. Aku ceroboh memang. Masalahnya aku tidak membawa payung.
Hari libur seperti ini memang cukup menyegarkan. Jika saja setiap hari seperti ini, maka akan ada wajah yang bahagia. Aku berhenti dan menghirup udara segar. Memarkirkan sepedaku hanya untuk merasakan sepoi-sepoi dari sang angin. Hari yang indah lainnya.
Mungkinkah?
Satu jejak aneh membuatku penasaran. Kenapa aku bisa sepenasaran ini? Akupun tidak tahu. Dan di sana ada lebih banyak lagi jejak.
Kira-kira kalau aku mengikutinya apakah akan ada kejutan? Atau harta karun? Tak ada pikiran negatif sekalipun. Dan tidak pernah terpikirkan kalau ternyata jejak itulah yang menjadi perangkap abadi.
Ada yang mendekapku!
Apa aku diserang? Aku mencoba melawan namun, tubuh yang sedang mendekapku sangat besar. Setelah berkali-kali aku memberontak dengan akhiran aku menendang kakinya berkali-kali sekuat tenaga.
Aku berlari sejauh mungkin dari pria bermasker itu. Namun seperti kebiasaanku, aku ceroboh.
Tang!
Aku menabrak tiang ketika melihat kebelakang.
Haha. Harusnya tadi aku pakai sepeda. Aku memang aneh.
Lalu, malamnya.
Selama inikah aku tertidur? Aku melihat bintang-bintang pada malam hari. Tubuhku masih dalam kondisi tidur atau posisi setelah aku pingsan tadi. Mungkin juga tidak. Aku mengosok mataku karena tak percaya dengan kejdaian ini. Aku masih di taman.
Hanya karena menabrak tiang lampu taman aku pingsan. Hanya karena itu! Astaga...
Krieek...
Aku berhenti melihat bintang dan menatap sosok tubuh tanpa kepala. Takut? Tentu saja! Aku ingin berlari sejauh mungkin darinya tapi, tubuhku tak ada yang mau menurut. Bagaimana ini...?
"Temukan aku. Temukan kepalaku. Temukan aku." Katanya. Suram sekali suaranya. Padahal dia tanpa kepala! Bagaimana dia bisa bicara? Yang pasti suara itu bukan dari kepalaku.
"Aku tak jauh. Aku disini."
Atau suara itu mungkin... tidak pasti ah!
Dia berbalik menjauh dan semakin jauh. Katanya aku harus mencarinya? Mencari makhluk mengerikan itu? Bercanda, ya? Lupakan saja! Aku akan pulang.
Aku lama mencari sepedaku tapi, aku tak bisa menemukannya. Kenapa? Apa ada yang mencurinya? Apa aku salah ingat menyimpannya? Ahh... terlalu banyak pertanyaan.
Aku memutuskan jalan kaki dan pergi menjauh dari taman itu. Padahal aku hanya menemukan jejak dan itu membuatku tertarik dari bentuknya saja. Terbentur karena melarikan diri dari orang aneh. Dan sekarang?
Mimpi apa aku semalam?
Kaki ku sudah sangat jauh dari tiang lampu taman pembawa sial itu. Tapi anehnya, semakin aku berjalan semakin gelap. Bukankah ada banyak lampu taman? Yang aku lihat sepanjang malam ini hanya ada satu.
Dan hanya ada di tempat itu. Tubuhku masih bergidik.
Seseorang memanggil namaku. Tapi, suara itu agak samar dan sangat menyeramkan. Aku menutup telinga ku sekuat mungkin agar aku tak mendengarnya lagi. Suaranya menyeramkan.
Aku kembali berjalan setelah memastikan tak mendengarnya lagi.
Aku berhenti berbalik ke belakang. Pandangan ku kini lurus ke depan melihat cahaya remang-remang. Aku berlari ke sana untuk keluar dari kegelapan ini.
Tempat ini cukup familiar. Cuma sedikit redup saja dari yang tadi. Yah, bukankah sebagian taman memang luas dan cukup mirip? Aku menepis pikiran negatif yang ada. Namun, semua itu kembali lagi setelah aku melihat jejak itu.
Jejak aneh atau... mungkin--
"Kau kabur. Permainan belum selesai. Cahaya semakin redup, semakin habis waktunya. Cari aku. Temukan aku." Suara itu menghilang lagi.
"Aku tak jauh. Aku disini." Lalu suara itu muncul dan menghilang kembali.
Kini aku ketakutan total. Artinya rasa takut ku sudah dipuncaknya! Ingin aku berteriak. Kenapa? Kenapa mulutku terkunci?
Takut. Berurai air mata. Diam. Bergetar ketakutan! Aku harus keluar dari sini!
Untuk waktu yang cukup lama aku mencoba menenangkan diriku. Yang terkumpul hanyalah kegilaan dan omong kosong.
Bagaimana ini? Bagaimana? Bagaimana?! Siapapun! Keluarkan aku dari sini!
Aku tahu mulutku masih tertutup rapat. Tak bisa dibuka. Bahkan kurasa suaraku menghilang tanpa aku sadari. Aku hanya bisa bersandar pada tiang lampu yang kian meredup.
Cukup sudah! Aku muak. Aku lelah.
Aku mencoba memberanikan diri untuk menyeret tubuhku. Kemana tujuanku? Hanya ada satu cara kenapa jejak itu yang membawaku kemari, terpenjara.
Setelah aku bisa sedikit berdiri, aku berjalan perlahan mengikuti jejak. Jejak yang hampir sama seperti jejak menyeret tubuh. Dan itu dilakukan oleh diri sendiri.
Tunggu, apa?
Aku mencoba membandingkan jejak ketakutan yang aku buat tadi dengan jejak yang aku ikuti.
Sama.
Dengan hati-hati aku mendekati tujuan akhir dari jejak misterius itu. Jantungku berdebar lebih cepat. Angin berhembus cukup kencang.
Dan tujuan akhirnya... adalah tubuhku tanpa kepala.
"Mirna!"
Sebuah suara memanggilku. Tubuhku lemas.
"Mirna!"
Dia mendekat. Aku tidak bisa menanggapi suara itu.
"Mirna...! Aaahhhkk...!"
Suara itu berteriak lagi dan lagi. Sahabatku melihat tubuhku tanpa kepala. Atau... dia tak mengenalnya?
"Astaga!" Suara lain menyusul.
"Itu... itu baju yang Mirna pakai! Aku yakin itu baju Mirna! Hiks..." dia menangis melihat hal yang mengerikan ini.
Aku masih melamun. Apa yang terjadi? Sebuah prank? Siapa? Kenapa? Apa ini asli? Katakan padaku bahwa ini mimpi.
Jangan bercanda!
"Hei... Selly. Kau bisa melihatku bukan? Selly, katakan padaku kau bisa melihatku." Ucapku menghampirinya.
Tanganku menggapai kedua manusia yang menangisiku itu. Satu kata. Tembus. Tanganku menembus tubuh mereka.
"Tidak mungkin." Kataku melihat tanganku bergetar tak menerima kenyataan ini. "Ini tidak mungkin!" Teriakku.
Tak ada yang mendengar.
"Ayo kita laporkan ini, ya?" Katanya menenangkan sahabatku itu.
"Huhuhu... i-iya... hiks..." jawabnya.
"Aku... aku disini..." kataku.
Walau aku bicara pun, walau aku berteriak pun bahkan mulutku tertutup, tetap tidak ada yang mendengar.
"Pakai sepeda saja aku ceroboh. Menemui ajal saja aku di permainkan. Apa salah ku kalau aku sedikit berbahagia?" Kataku.
Makhluk itu datang padaku. Masih tanpa kepala.
"Kau menemukanku. Kau menang, tapi kau tidak bisa pulang." Katanya. "Kau menemukanku. Aku kalah, tapi aku menang." Samar-samar suara itu menjadi suara yang ditakdirkan menjadi suaraku sejak lahir.
Itu memang suaraku.
"Jadi siapa yang menang?" Sosoknya memudar bagaikan partikel berterbangan.
Aku tak menjawabnya karena aku juga tak tahu.
Mereka pergi. Walau tak jauh aku masih berteriak.
"Aku disini!"
Tapi mereka tak mendengarnya. Jejak seretan tubuhku sendiri tanpa kepala. Dari awal itu adalah pertanda ajal ku datang.
Fajar tiba dengan duka.