Jalanan terlalu ramai oleh lalu lalang kendaraan, tak pernah ada kata istirahat untuk jalanan. Begitupun denganku dan pekerjaan. Aku tak ingin sekalipun lengah demi menuju suksesku. Aku Dinda Maharani, seorang mahasiswi fakultas sastra dan juga seorang pekerja paruh waktu di sebuah Cafe di dekat kampus.
Ya ... begitulah aku, aku tak mau bermalas-malasan, aku harus bekerja keras meraih mimpiku. Aku tahu orang tuaku adalah orang tua yang berada, tak pernah kekurangan. Tapi aku tak mau selalu bergantung pada mereka. Aku kuliah dengan biaya yang aku keluarkan sendiri, dari hasil aku siaran radio dan juga bekerja paruh waktu di cafe.
Orang tuaku tau watakku, mereka hanya bertanya padaku apakah aku butuh bantuan, dan sampai saat ini aku katakan tidak. Bukan sombong, tapi aku memang mau memulai perjuanganku dengan kakiku sendiri.
Aku tak pernah punya pacar yang tahan dengan sifatku lebih dari 3 bulan. Rata-rata sebelum 3 bulan pacaran, mereka meninggalkanku dengan berbagai alasan. Meskipun aku tahu, alasan mereka karena aku tak pernah ada waktu untuk mereka, untuk sekedar nonton, nongkrong di cafe, jalan-jalan, bahkan melakukan ritual malam minggu. Sepertinya itu bukan duniaku, saat ini aku memilih untuk sendiri, tanpa pasangan. Hal itu cukup membuatku nyaman, karena tak ada gangguan ketika aku melakukan semua pekerjaan dan kuliahku.
Tapi, ada seorang cowok yang tiba-tiba meruntuhkan hatiku. Dia anak fakultas teknik, bisa dibilang keren dan sangat fasionable. Berbeda dengan aku yang semauku sendiri berpenampilan. Aku bukanlah cewek yang gila belanja, seperti teman-temanku yang lain. Ketika masih ada baju lama yang bisa dipakai kenapa tidak.
Kembali ke cowok tadi yang kukenalkan, namanya Bryan Aditya, sepertinya dia lebih tua setahun dariku. Aku mendengar percakapannya dengan teman-temannya mereka lagi sibuk mengurus skripsi. Dan dia juga seorang pengusaha muda, yang mendirikan sebuah perusahaan advertishing. Keren kan, makanya aku suka dengan laki-laki yang tidak bergantung pada orang tuanya, membanggakan harta orang tuanya. Jika kita bisa berdiri dengan kaki kita sendiri, kenapa tidak kita lakukan.
Dia pelanggan cafe tempat aku bekerja, malam ini dia sendiri tidak bersama teman-temannya. Hanya memesan kopi dan desert saja. Aku bahkan hafal kopi kesukaannya dan desert apa yang dia suka.
Aku melihatnya begitu serius memandangi laptop di depannya, jari-jarinya disibukkan dengan huruf-huruf yang ingin dia tulis pada setiap halaman. Hingga aku melihatnya beranjak dari tempat duduknya, aku melihatnya pergi, rasa hatiku ingin menariknya tetap tinggal di sini. Aku melihat Hp-nya tertinggal di meja. Aku segera mengambilnya, dan mengejar Bryan.
“Maaf kak ...” Kataku sambil menyentuh pundak Bryan, dan Bryan pun menoleh.
“Iya ...” Katanya.
“Ini Hp-nya ketinggalan.” Kataku sambil memberikan padanya.
“Ohh.... makasih ya, kenapa bisa jadi lupa gini ya.” Katanya.”Oya, kamu Dinda kan, anak fakultas sastra?” Tanyanya.
Kenapa dia bisa tahu namaku, bahkan aku bukan mahasiswi hits di kampus. Aku hanya mengangguk ketika dia bertanya.
“Aku Bryan...” Katanya sambil mengulurkan tangan, dan aku menyambutnya. Senang sekali rasanya bisa kenalan langsung dengan orang yang dikagumi.
“Dinda ... oya, kamu kenal aku?” Tanyaku penasaran.
“Aku sering liat foto kamu di mading sastra, aku suka karya-karya kamu.” Katanya.
Yaa... aku memang sering mengirim artikel, bahkan memenangkan lomba sastra di fakultasku. Bahkan aku pernah menang lomba menulis esay di kampus lain. Pemenang lomba pasti akan ditampilkan fotonya di mading fakultas. Dan ya, fotoku sering menghiasi mading fakultas kami.
Dia kemudian pamit pergi, aku pun termenung dengan kepergiannya. Aku seperti berharap lebih dari pertemuan ini. Tapi aku ingin berusaha tidak untuk dipikirkan, tapi rasanya sulit.
Keesokannya, ketika aku menempel sebuah puisi di mading sastra, Bryan ternyata ada di sana. Aku baru tahu kalau dia ternyata penyuka sastra. Bryan melihatku,dan dia tersenyum.
“Hei Dinda....” Sapanya padaku, aku tersenyum dan mengangguk padanya.
“Kamu menempel karya terbarumu?” Tanyanya.
“Iya ... kalau ada waktu senggang, aku suka menulis puisi. Kamu suka sastra?” tanyaku.
“Iya...aku suka, membaca sastra itu bagiku seperti kita berada di dunia yang berbeda, di dunia yang penuh dengan sanjungan, penuh teka-teki, karena kata-kata sastra kadang sulit untuk diartikan.” Katanya.
“Kenapa dulu nggak masuk fakultas sastra saja?” Tanyaku.
“Mmmm..... suka sastra bukan berarti kita harus terjun langsung kan?” tanyanya dan aku mengangguk.
“Oya Dinda,... kenapa kamu tidak membukukan semua karyamu ini?” tanyanya.
“Sebenernya pengen banget, tapi aku belum menemukan cerita yang pas untuk itu. Dan aku juga harus rajin mengirim pada penerbit mana yang mau menerima karyaku.” Aku menjelaskan sebenarnya.
“Aku punya teman yang bekerja di penerbit, kalau kamu mau nanti aku bakal kenalin kamu sama dia.” Katanya.
“Serius?” Tanyaku.
Dia mengangguk, kemudian dia meminta nomor telponku. Dan akhirnya kami saling bertukar nomor telpon. Ya... obrolan kami memang baru sekedar tentang karya dan sastra, belum ada obrolan yang mengenai pribadi kami. Tapi aku sangat nyaman ngobrol dengannya.
Di tengah-tengah kami mengobrol, tiba-tiba ada seorang cewek yang datang memanggil Bryan.
“Bryan sayang .... kamu kemana aja sih, akhir-akhir ini susah banget dihubungi. Kamu menghindari aku ya?” tanyanya.
Cewek itu adalah Laura, pacar Bryan dari fakultas yang sama. Aku pikir seperti itu dari caranya berbicara dan memanggil Bryan dengan sebutan sayang.Tapi kenapa sikap Bryan seperti itu, sangat dingin dan sepertinya dia tidak ingin bertemu dengan Laura.
“Aku mau pulang.” Kata Bryan sepertinya dia kesal dan aku hanya terdiam di dekat mading menyaksikan pertunjukan dua sejoli ini.
“Kok pulang, aku tuh nyariin kamu Bryan. Aku cari ke rumah bilang nggak ada, di kampus habis kuliah ngilang gitu aja, aku kan kangen sama kamu.”Kata Laura manja.
“Hah kangen? Laura, kita sekarang nggak ada hubungan apa-apa lagi, kita udah putus. Kenapa sikap kamu masih kayak gitu seolah-olah masih nganggep aku sebagai pacar kamu. Bukannya kamu sudah jalan sama Juan?”Kata Bryan tegas.
“Aku sama Bryan tuh cuma temenan nggak lebih, lagian dulu itu aku Cuma ngerjain tugas aja. Ahhhh ... jangan-jangan kamu cemburu ya?” ucap Laura.
“Cemburu? Jangan mimpi di siang bolong ya Laura, denger ya aku bilang sekali lagi sama kamu, kita udah putus. Nggak usah kamu bertingkah aneh lagi kayak gini ke aku, oke.” Kata Bryan kemudian dia pergi begitu saja. Mungkin dia sudah males menghadapi cewek seperti Laura, yang udah diputusin tapi masih menganggapnya pacar saja.
Laura sepertinya sangat kesal dengan perlakuan Bryan padanya.Dia menggaruk kepala-kepalanya dan membuat rambutnya berantakan kemudian dia melihatku,”Apa Lu liat-liat.” Aku pun hanya tersenyum sengit padanya. Apa mungkin dia sudah gila, aku Cuma diam di pojokan aja pake dibentak gitu, kepedean banget dia. Aku pun akhirnya pergi, daripada nanti diterkam singa ngamuk.
“Ehhhh ...tunggu.” Teriaknya.
Aku pun berhenti kemudian berbalik arah pada Laura, si cewek aneh yang menurutku kurang kerjaan banget. Cewek yang nggak tau malu, udah ditolak cewek masih ngejar-ngejar terus. Dia melihatku dengan tatapan mengerikan, mungkin kalau aku umpan dia bakal melahapku dengan buas.
“Lu siapanya Bryan? Gue liat, Lu akrab sama dia.” Tanyanta dengan tatapan menghardir.
“Bukan siapa-siapa.” Kataku singkat.
“Nggak usah boong deh Lu, gue tau Bryan kayak apa. Dia nggak bakal pernah ngobrol sama cewek kalau dia nggak akrab sama tuh cewek, atau cewek itu spesial buat dia. Sekarang Lu jawab, Lu siapanya Bryan?” Tanyanya seperti mengintrogasi.
“Punya telinga tuh dibuka lebar-lebar mbak, tadi udah dibilangin kan bukan siapa-siapanya bryan. Oke!”Kataku menegaskan.
“Awas aja kalau sampai Lu ada apa-apa sama Bryan.” Katanya lalu pergi.
Dasar cewek aneh, udah dibilangin aku bukan siapa-siapanya Bryan kenapa nekat gitu nanyanya. Tapi, tadi dia bilang kalau Bryan nggak bakal ngobrol sama cewek kalau dia nggak akrab sama Bryan atau spesial buat Bryan. Aku pun tersenyum sendiri mengingat itu.
Keesokan harinya, mantan Bryan datang ke cafe tempatku bekerja. Sepertinya dia mencari Bryan ke sini. Liat aja matanya celingak-celinguk nggak jelas gitu. Tapi sebagai karyawan yang profesional aku berusaha seprofesional mungkin melayaninya, meskipun rasanya malas sekali melihat nih cewek. Apalagi sekarang dia nggak sendiri, dia datang sama dua teman ceweknya yang kelihatannya juga nyebelin banget. Heran, kenapa cowok seperti Bryan bisa punya pacar kayak gitu.
‘Eh... Lu kerja di sini. Tapi pantes kok, cowok kayak Lu kerja kayak gini, beda sama gue bakal jadi direktur utama perusahaan bokap gue...hahahahhaa.” katanya menyobongkan kekayaan orang tuanya. Aku pun tak berusaha terpancing dengan omongannya.
“Oya .... Bryan sering ke sini kan, menurut Lu nanti dia ke sini nggak?”Tanyanya penasaran.
“Maaf saya nggak tahu mbak.” Kataku singkat sambil menulis pesanan.
“Masa nggak tahu sih, orang Lu kerja di sini.” Katanya sedikit emosi.
“Kalau sudah, biar saya siapkan pesanannya ya.” Kataku lalu pergi.
Sepertinya dia sangat emosi dengan sikapku yang mengacuhkannya,lagian jadi cewek gitu banget. Kalau udah diputusin udah cari kek yang lain, malah ngejar-ngejar cowok mulu. Temanku pun penasaran dengan pelanggan yang kali ini agak nyebelin itu.
Setelah selesai, aku pun mengantarkan pesanan pada Laura dan teman-temannya. Aku pun meletakan pesanan mereka dengan sangat hati-hati di meja dan seprofesional mungkin. Saat akan melayani tamu yang lain, tiba-tiba Laura memanggilku.
“Heh...pelayan, sini dulu.” Teriaknya padaku aku pun kembali ke meja Laura.
“Minuman apaan nih, asem banget, gue tuh pesen Lemon tea, tapi nggak asem banget kayak gini. Lu sengaja ngasih minuman asem kek gini biar asam lambung gue naik ya,...huh?” bentaknya.
“Maaf mbak, cafe ini sudah sesuai dengan standar yang ada. Mbaknya pesan lemon tea kami juga menyediakan lemon tea yang sesuai standar.”Jawabku mencoba sabar.
“Sesuai standar pale Lu, liat nih mana ada lemon tea asem gini.”Katanya.
“Maaf ya mbak, jika mbaknya mau ganti biar kami ganti sesuai dengan pesanan mbaknya maunya yang seperti apa. Tapi, tadi saya mendengar dengan jelas mbak hanya menyebutkan lemon tea tanpa embel-embel apapun.” Kataku membela diri.
“Jadi, Lu pikir gue yang bego mau ngracunin diri gue sendiri ... huh, nih ..(menyiramkan lemon tea ke badanku) cobain tuh rasanya gimana.” Katanya yang membuat ujung kepalaku sampai badan basan semua. Ingin sekali aku marah dan menjambak rambutnya, tapi rasanya percuma mengotori tanganku dengan dosa.
“Laura ....” Bryan datang bak pahlawan yang berusaha menyelamatkanku.
“Lu gila ya, kenapa Lu nglakuin kayak gini sih. Kelakuan Lu udah keterlaluan.” Katanya.
“Bryan .... ini bukan salah gue, dia yang ngasih minuman nggak jelas sama gue.” Bela Laura.
“Gue tau cafe ini, gue tau gimana pelayanan cafe ini.Lu harus minta maaf sama Dinda.” Kata Bryan tegas dan aku masih terdiam dengan basah disekujur tubuhku.
“Bryan Lu .... ah...nyebelin.” Laura pun pergi tak mau minta maaf sama aku.
Bryan kemudian mendatangiku, menuntunku ke belakang dan menyuruhku ganti baju. Manajerku memintaku untuk istirahat saja, dia mengerti bahwa aku bakal terpukul degan keadaan ini.
Bryan mengantarku pulang dengan motornya.
“Ini rumah kamu?” tanyanya sepertinya dia kaget dengan rumahku. Mungkin karena rumhaku di kalangan perumahan elit dan melihatku bekerja di paruh waktu di sebuah cafe. Aku mengangguk.
“”Kamu anaknya om Irwan?” Tanyanhya.
“Kamu kenal papaku?” tanyaku balik, kenapa dia bisa kenal dengan papaku.
“Iya ... om Irwan teman papaku. Ohhhh .... kenapa dunia sempit sekali, kenapa aku nggak pernah ketemu kamu kalau aku main ke sini sama papa.” Tanyanya.
“Kamu sering ke sini?” kataku pada Bryan dan Bryan mengangguk.
“Aku memang jarang di rumah, lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja di luar rumah dan aku hampir jarang banget ikut pertemuan dengan teman-teman papa atau mama.” Jawabku.
‘Orang tuamu tau kamu kerja part time?” tanya Bryan penasaran.
“Iya, mereka tau, mereka mendukung pekerjaanku, apapun itu.” Kataku.
Bryan tersenyum sangat manis,”kamu keren.” Aku pun tersenyum menanggapi pertanyaan Bryan tadi. Aku pun masuk ke rumah dan Bryan pulang.
Keesokan harinya saat akan berangkat ke galeri, aku melihat ada orang yang ngobrol sama papa di depan. Betapa terjutnya aku, dia adalah Bryan. Ternyata sedekat itu Bryan sama papa, kenapa aku sampai nggak tau, nyesel banget rasanya.
“Dinda... kenapa kamu nggak cerita sama papa kalau kamu kenal sama Bryan?” tanya papa.
“Dinda juga nggak tau pa kalau Bryan juga kenal papa, baru semalem Dinda tau.” Jawabku.
“Iya om,... oya om, sekalin ijin ya mau ngajak bareng Dinda ke galeri.” Kata Bryan dan papa mengijinkan.
Aku pun pergi dengan Bryan langsung berpamitan dengan papa dan langsung pergi dengan motor Bryan. Kami pun tiba di galeri seni lukis yang indah. Kami menyukai karya-karya seperti ini. Karya-karya yang dibuat dengan sepenuh hati. Setelah selesai melihat lukisan-lukisan, akhirnya kami memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitaran galeri.
“Laura masih gangguin kamu?” tanya Bryan.
“Iya, tadi malem aja dia ngirim dm aku, ya kayak gitu.” Kataku.
“Laura emang keterlaluan...” katanya.
“Kalau emang kamu belum selesai sama Laura, selesein dulu kasian tau anak orang.” Kataku.
“Aku tuh udah lama putus sama dia, Cuma dia nggak pernah mau terima dan selalu ngejar-ngejar kayak gitu, aku sampai bingung aku harus gimana ngadepin cewek itu. Nyesel rasanya pernah pacaran sama dia.” Katanya memang seperti menyesal.
“jangan gitu, dulu kamu kan juga pernah cinta sama dia.... hhaahaha” aku mencoba mencairkan suasana.
“Hmmmm ...tapi sekarang aku cintanya sama kamu, gimana dong?” katanya membuatku menghentikan langkahku.
“Nggak usah becanda,.... ntar kalau aku baper gimana.” Kataku berusaha menyembunyikan betapa senangnya aku mendengar kata-kata itu.
“Serius ... aku serius Dinda, aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu, aku suka pribadimu, aku suka semua tentangmu.” Katanya membuatku terdiam.
“Dinda, aku ingin kita lebih dari sekedar teman, aku ingin menjalani hubungan serius sama kamu, aku ingin mengejar mimpi-mimpiku sama kamu.” Katanya dengan menggenggam tanganku.
Aku terdiam cukup lama, dia pun tetap dengan posisinya menggenggam tanganku menunggu jawabanku. Aku mengidolakan dia, mengaguminya, bahkan dia sangat akrab dengan orang tuaku. Rasanya rugi kalau aku nolak dia, aku yang sudah jatuh hati pada pandangan pertama dengannya. Aku mengangguk, menyanggupi permintaannya. Bryan pun begitu senang, dia memelukku lalu mencium keningku.