Malam terakhir aku tidur di kamar ini. Aku mungkin saja merindukan ruangan di setiap sudutnya. Terutama perpustakaan mini dan tentu saja jendela kamar. Menjadi tempat menikmati sepotong senja yang menyapa sebelum malam tiba. Persiapan meninggalkan kota kelahiran sudah ku lakukan sejak dua minggu terakhir. Koper, tas ransel dan beberapa perlengkapan aku kumpulkan di samping pintu. Semua lengkap dan besok sudah siap.
Besok...
Sebelum tidur, aku sempatkan membuka Instagram, kemudian beralih ke aplikasi yang populer saat ini. Notifikasi menujukkan pesan dari aplikasi WhatsApp. Begitu banyak chat masuk. Aku buka satu persatu. Mereka, teman-teman ku yang mengirimkan pesan untuk mengungkapkan rasa sedih karena berpisah. Ada yang menyampaikan kata selamat jalan, semoga sampai tujuan. Ku balas dengan kata terimakasih. Senyum ku terukir ketika salah satu menulis "Don't forget me Zi. Kalau pulang, oleh-olehnya jangan lupa. Aih, diriku LDR denganmu (emotikon sedih). Kalau aku nikah, kamu pulang ya." Gaya tulisannya aku kenal betul, dari Nai dan dia sahabat ku. Kami menjadi akrab ketika pertama kali bertemu sejak 2 tahun lalu, kemudian memutuskan menjadi lebih dekat. Kami satu sekolah, beda jurusan dan tergabung di dalam satu komunitas. Pesan teks mereka aku balas satu per satu, hingga aku terhenti pada sebuah kontak dengan nama kak Arinda. Seketika rasa sesak yang aku rasakan di dada, tanpa sadar aku menarik nafas panjang. Lima menit aku menatap layar smartphone ini. Berdebat dengan hati dan pikiran, mengambil sebuah keputusan. Ku baca chat itu, air mata ku tiba-tiba turun perlahan. Tanpa sadar, mengatakan sesuatu di sela isak tangis "Maafkan aku kak Ari."
***
Kejadian satu bulan yang lalu
"Zi, kak Ari itu sudah punya pacar atau belum?" Naira merapatkan tubuhnya ke arah ku. Antusias mendengar jawabannya, berharap sesuai dengan prasangka dia selama ini. Aku hanya tersenyum, tangan ku sibuk bermain dengan tanah. Menimbun akar tanaman agar tumbuh maksimal. Aku berdiri, menyeka peluh yang keluar dari pori-pori dahi. "Kenapa memangnya? pertanyaan itu hampir sepuluh kali meluncur dari mulut mu. Pentingkah jawaban dari ku?." Zi pura-pura menyibukkan diri, menghindari pertanyaan Nai. Memutuskan untuk membawa gembor (penyiram tanaman) yang ada di sampingnya.
Kemudian memutar badan dan mengambil air tawar yang telah di sediakan untuk menyiram tanaman. Tapi, dasar Nai yang tidak menyerah, dia mengikuti langkah sahabatnya itu. Berusaha untuk membuat Zi membuka suara. Tapi Zi tetap fokus dengan kegiatannya saat ini. Menyiram tanaman, suara gemercikan air menjadi melodi yang membuat hati Zi senang. "Ayolah Zi, kamu hanya bilang kak Ari belum atau sudah punya pacar. Itu saja" wajah Nai cemberut, rasa kesal dan penasaran bercampur di dalam hatinya. Tangan Zi berhenti menuangkan air ke tanaman yang ia tanam kurang lebih lima belas menit. Bukan karena mendengar pertanyaan dari sahabatnya, tapi air di dalam gembor itu habis. "Aku tidak tahu Nai." Zi menggelengkan kepalanya. Nai menarik nafas panjang, memegang pundak Zi. Dengan tatapan, penuh harapan. Pembahasan mereka terlihat begitu serius, padahal topiknya sederhana. Tentang kak Ari, ketua komunitas mereka.
Nai beragumentasi. "Kamu sering diskusi sama kak Ari, pernah mengerjakan proyek kerja bersama. Kalian sudah kenal dekat selama dua tahun. Kamu pasti tahu kan, status dia. "
Zi setengah terkejut mendengar hal itu, tentu saja pernyantaan itu dia bantah. Sebelum Nai membangun opini lebih luas dan menjalar entah kemana. "Jangan salah paham dulu Nai, aku sama kak Ari cuma bahas tentang komunitas. Tidak ada sangkut pautnya dengan masalah pribadi, apalagi yang kamu tanyakan itu." Aku menatap mata Nai. Sedetik kemudian dia menggelengkan kepala, tidak menerima sepenuhnya. Dari jarak empat meter, kak Ari berteriak. Mengajak para anggotanya untuk beristirahat sejenak. Zi membaca jam yang melingkar di tangan kanan, menunjukkan pukul 10.00 WIB. Nai dan Zi kemudian berjalan menuju ke arah kak Ari.
Entah ada angin apa, Nai mengajak adu lari ke arah kak Ari.
"Zi, aku ingin membuat sebuah tantangan. Biar lebih seru dan semangat menuju ke arah kak Ari." Nai mengajukan hal itu sambil tersenyum. Langkah mereka terhenti.
"Boleh." Zi tersenyum.
"Kita hitung bersama sampai tiga, kemudian berlari." Nai memberi arahan.
"Satu..dua...tiga..."
Aku dan Nai berlari sekuat tenaga, saling ejek satu sama lain. Selang lima menit, akhirnya mereka sampai. Tertawa bersama, meski nafas tersenggal. Kak Ari dan lainnya tertawa melihat tingkah kami.
Aroma ikan panggang menggelitik hidung, ditambah semilir angin dan suara debur ombak yang menghantam batu karang. Menambah spesial makan siang ini. Sambal dan lalapan menjadi menu andalan, selera makan bertambah. Keberasamaan akan terasa pada saat-saat seperti ini. Walaupun ikan panggang rasanya pahit karena gosong, tetap terasa nikmat. Kami duduk melingkar, mata Nai curi-curi pandang menatap kak Ari yang sedang makan. Beberapa detik kemudian tersenyum, kepalanya mengarah ke bawah. Menyembunyikan rasa senangnya. Tentu saja itu yang membuat pertanyaan tadi muncul "apa kak Ari sudah punya pacar?"
***
Flashback dua tahun lalu
Wajah-wajah baru itu...
Hari pertama dan kegiatannya Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah di salah satu SMA Negeri. Aku sendirian duduk di bangku koridor sekolah. Jam istirahat saat ini, perut-perut lapar membuat langkah kaki ramai-ramai ke kantin. Beberapa siswa bahkan sengaja menemui ketua Organisasi, Komunitas, dan Ekstrakulikuler. Menanyakan program kerja untuk jangka pendek dan jangka panjang. Merupakan langkah awal dan jitu, agar lebih di kenal oleh mereka yang punya jabatan sebagai ketua. Ada juga yang diam-diam naksir teman perempuan satu angkatan dan riuhlah teman-temannya menggoda saat kabar burung itu menyebar luas. Begitulah. Aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka.
Sebuah pengumuman dari wakil kepala sekolah terdengar hingga pelosok-pelosok gedung. Memberitahukan bahwa para pelajar tentang acara selanjutnya. Dengan tema pengenalan lingkungan dan pemanfaatan plastik untuk menjadi produk daur ulang. Tamu istimewa itu dari sebuah universitas negeri di kota ini. Seorang mahasiswa berprestasi dan juga founder dari komunitas lingkungan. Kami pun beramai-ramai menuju aula pertemuan untuk mengikuti kegiatan, atau kalau tidak, siap-siap mendengar ledakan bom di telinga. Kakak kelas akan berubah menjadi singa yang siap menerkam domba. Sebetulnya, ketika mendengar pengumuman itu aku senang. Kejutan yang tidak pernah terbayangkan.
Dua menit, acara ini dimulai dengan khusyuk dan khidmat. Hingga...
Tok, tok, tok pintu aula di ketuk seseorang. Kak Arinda dengan sigap menuju pintu hampir bersamaan dengan kakak wakil ketua Osis. Tapi kak Ari, begitulah beliau di sapa memberi intruksi "biar aku saja yang membukanya" dengan wajah tersenyum. Ketika pintu dibuka, berdiri seorang siswi dengan suara nafas masih tersenggal.
Dia masuk begitu saja dan berkata "maaf saya telat" dengan santainya, masih sempat membentuk sebuah senyuman. Kak Ari tidak menyuruhnya langsung duduk, tapi menjadi peserta untuk game yang akan berlangsung. "Kita butuh satu orang pemain lagi" lima detik mencari. "Nah, kamu" dia menuju ke arah ku, dan langsung memegang tangan, menuntun ke depan. Aku terkejut dan bingung. Permainan di mulai, kami bekerja sama memilih sampah untuk di masukan ke beberapa jenis kotak sampah yang sesuai. Waktunya hanya satu menit. Ruangan tempat acara, kini menjadi ramai. Mendukung tim jagoan mereka, saling memberi semangat. Kami berpacu dengan waktu dan jarak sampah dengan tempat yang harus dituju berjarak satu meter. Permainan selesai, para peserta game dipersilahkan untuk duduk kembali. Siswi yang telat itu, duduk di samping ku. Dia memperkenalkan diri "Nama ku Naira Putri, biasa dipanggil Naira dan nama mu?" aku menyambut tangannya, kami berjabat tangan "Aqilla Zifanny, panggil Zi saja biar simpel."
Satu minggu setelah acara. Kami semakin dekat, memutuskan untuk menjadi sahabat. Hingga pada hari rabu sekitar satu bulan setelah Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah, ada sebuah pengumuman tertempel di mading. Komunitas kak Ari ternyata membuka penerimaan anggota baru. Kegiatan itu hanya dilakukan hari sabtu dan minggu, tidak rutin. Hanya satu atau dua kali dalam sebulan. Selebihnya komunikasi via chat. Memang benar apa yang dikatakan Nai, aku pernah mengerjakan sebuah proyek bersama kak Ari. Ya, hanya berdua. Merealisasikan program kerja yang telah dibuat. Waktu itu, kami mengikuti lomba katagori umum tentang pemanfaatan sampah organik dan anorganik. Aku juga heran, masih banyak teman mahasiswa yang lebih baik untuk mengikuti lomba tingkat provinsi. Aku hanya siswa kelas XI, sementara dia mahasiswa semester delapan. Entah kenapa harus aku. Pertanyaan itu hingga saat ini belum ku temukan jawabannya. Padahal, banyak anggota lainnya lebih layak. Terutama Nai, dia yang pertama dan paling antusias ketika pengumuman lomba itu dibacakan kak Ari. Bahkan, dia bersedia menjadi asisten atau apapun supaya bisa menjadi tim kak Ari. Keputusan memilih ku oleh kak Ari dan juga teman-teman pengurus komunitas. Nai kecewa, satu minggu dia tidak berbicara dengan ku, hingga sebuah awal pembicaraan yang mengejutkan!. Nai rupanya jatuh cinta dengan kak Ari sejak pertemuan di aula sekolah. Dibalik sikap Nai yang suka berbicara, ceria, santai dan aku yang sering diam, sendirian, serius. Perbedaan yang signifikan justru menyatukan. Kami pernah berselilsih satu kali dan itu karena Nai beranggapan kalau aku pacarnya kak Ari. Terkadang, cinta bisa menyatukan dan memisahkan secara bersamaan.
***
Aku masih sempat menikmati fajar terakhir di kota ini. Mata ibu sembab, walaupun ditutupi aku masih bisa melihat sisa air mata ketika menyiapkan sarapan. Tapi adik terlihat baik-baik saja, dia belum mengerti dan hanya tahu kalau aku pergi ke sekolah, pasti akan pulang esok harinya. Seminggu yang lalu, ibu menangis dan kaget pada saat menerima pengumuman melalui sambungan telpon seluler dari pihak yang menyelenggarakan. Aku lolos tes beasiswa prestasi dan akan pergi melanjutkan studi di kota pelajar, Yogyakarta. Semua itu memang aku rahasiakan dari orang-orang terdekat. Mereka tidak mengetahui apa yang ku lakukan sampai harus tidur jam satu dan bangun jam setengah empat. Tentang apa yang aku kerjakan hingga lupa makan. Jika teman-teman ku setelah pengumuman kelulusan mencoret-coret baju seragam dan konvoi di jalan. Aku memilih untuk berteman dengan buku-buku serta latihan soal. Keyakinan dalam diri ku begitu kuat, usaha dan doa tidak pernah mengkhianati hasil.
Ibu, langsung memeluk ku setelah mendengar pengumuman itu. Kebahagiaan terpancar dari sinar mata dan raut wajahnya.
Taksi yang ibu pesan untuk menghantarkan aku ke bandara sudah tiba. Setelah berpamitan, aku masuk ke mobil yang meluncur menuju tujuan. Tekad serta keyakinan itu sudah bulat, melanjutkan apa yang aku mulai. Sesekali melihat lalu-lalang kendaraan yang melintas. Aku kembali membaca pesan dari kak Ari.
Assalammualaikum warrahmatullahi wabarrakahtuh. Selamat malam Zi.
Ada sesuatu yang harusnya kakak ungkapkan sejak kita mengikuti lomba itu. Jujur, kakak memang jatuh cinta padamu. Berbagai cara kakak lakukan agar kita sering bertemu. Mulai dari mengajakmu untuk mengikuti lomba, mengamanahkan sesuatu yang seharusnya belum saatnya. Jika rindu kakak menelpon dengan alasan diskusi. Kamu begitu antusias hingga lupa dibalik semua itu, ada rasa yang kian hari menyiksa diri kakak. Hingga sampai di titik ketika pembahasan tentang Nai. Ketika tahu hal itu, aku pura-pura tertawa, hati pun bertanya. Kenapa tidak kamu saja yang jatuh cinta dengan ku, Zi. Tidak sadarkah kamu Zi, apa yang aku lakukan selama ini?. Semoga cinta ku tidak bertepuk sebelah tangan.
Kakak senang mendengar kabar ini, meskipun kita berpisah. Raihlah masa depan dan wujudkan cita-cita mu. Sejauh manapun kamu melangkah dan pergi, ingatlah untuk pulang. Ada hati yang menunggu di sini.
Wassalammualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.