Waktu berjalan sangat lambat disini. Tak terasa aku jadi terbiasa sendirian. Tapi... benarkah?
"Tidak bisakah kau bangun dan bantu kami?" Tanya Setgal. Orang yang paling menyebalkan yang aku kenal. Atau... setidaknya begitulah.
"Hoam... hah..." aku tak menjawab pertanyaan basi itu.
"Mengehela nafas setelah menguap kau memang sesuatu." Katanya menahan tawa. "Oh! Hei! Cepat bangun dan bantu kami!" Sambungnya dengan bentakkan.
"Hem..." kataku mengiyakan walau kesadaranku belum terkumpul semua.
"Cepatlah!" Katanya.
"Bantu apa?!" Kataku kesal. Aku yang masih mengumpulkan kesadaranku malah dipaksa berpikir untuk sedikit peka.
"Lihatlah kesana!" Dia pun menunjuk pada sebuah langit hitam pekat. Yang agak jauh juga.
"Ya ampun. Sepertinya aku harus bersiap." Kataku melihat tajam pada awan itu.
"Tunggu. Biasanya kau tidak seperti ini. Bersiap untuk apa?" Tanyanya.
"Bersiap untuk berlindung. Dan tidur." Kataku sambil berbaring.
"Hei! Cornelia!" Teriaknya.
Padahal badai masih jauh dari sini. Mungkin lebih dari 500 kilometer dari sini? Aku tidak perlu tahu. Awak kapal disini cukup untuk membelikkan kapal kuno ini. Walau kuno dia 'kapal' masih berfungsi sesuai jaman sekarang.
Itulah yang aku khawatirkan.
Khawatir kalau tidurku terganggu.
"Astaga lihat!" Seseorang berteriak. Setgal dan aku berbalik melihat awan hitam pekat itu.
Awan itu datang dengan sangat cepat.
"Aku... tak menyangka akan secepat ini." Kataku.
Semua sudah di pos masing-masing untuk membalikkan kapal ini. Aku hanya memperhatikan dan waspada pada gulungan ombak yang bertambah banyak. Juga bertambah besar. Awan yang mempengaruhinya adalah awan terkutuk. Cumolonimbus.
Aku dan Setgal hanya awak kapal tambahan. Kalau terjadi sesuatu atau hal yang diperlukan diluar kendali, kami bergerak sebisa kami. Kami hanya bisa melihat kapten kami memberi perintah.
Awalnya semua berjalan lancar. Kami bergerak menjauh secepat mungkin dari bencana itu. Hampir saja kami bernafas lega. Tapi, sayangnya takdir tak akan berubah.
Awan itu bergerak lebih cepat. Badai di tengah laut mengejar kami yang mulai panik. Walaupun kami berusaha dengan keras menghindar, pada akhirnya kami masuk dalam kekuasaan badai.
Dan tergulung ombak begitu saja. Pecah dan rusak.
Di pantai,
Kalau mengingat kejadian itu sangat aneh kurasa. Anehnya aku tak bisa membantu banyak. Mungkin ini karma. Tapi, yang lain juga kena imbasnya.
Aku terdampar.
"Haha. Woah... aku seperti satu-satunya orang yang selamat dari badai itu." Kataku. "Bukankah ini seperti liburan? Dari dulu aku ingin tinggal sendiri. Tapi... benarkah?" Aku hanya duduk dan memiringkan kepalaku.
Berita buruk? Yang buruk adalah bahwa aku seperti bukan diriku. Aku merasa selama hidupku, aku ada di kehidupan orang lain. Dan semua ingatan ini seperti bukan milikku.
Mungkin sekarang adalah pagi. Aku hanya menemukan sampah seperti jaring yang rusak, botol, beberapa bagian dari kapal itu. Dan jangan lupa tali.
Aku harus memilih yang mana? Gantung diri atau mati kelaparan?
Aku masih menimbang-nimbang mana yang tidak terlalu menyakitkan.
"Lupakan itu. Aku hanya tahu cara menangkap undur-undur laut." Kataku.
Aku mengambil beberapa ranting yang panjang, kuat dan tidak berat saat aku mengangkatnya.
Silang saja ranting, lalu ikat yang kuat ditengah. Ujung dari ranting aku ikat dengan ujung jaring. Maka perangkap undur-undur siap dipakai sekali. Mengapa sekali? Jaring yang aku buat cukup buruk.
Baiklah. Mari kita mulai.
Aku meletakkan jaring didepan bibir pantai dengan ombak yang menyapu undur-undur ke dalam perangkapku. Aku hanya perlu berhati-hati agar tak terbawa arus. Karena tubuhku kurus dan kecil.
Waktu dulu, aku ingat bahwa ada yang meledek ku karena aku seorang wanita. Seorang wanita tak mungkin bisa bertahan di tengah laut. Aku mencoba menyangkal. Tapi, sekarang ejekan mereka harusnya diubah menjadi 'yang terlemah di pantai' saja.
Setelah aku mengangkat jaringku, aku tersenyum bahagia. Tangkapan memang sedikit tapi, ini cukup. Aku memang tak pandai.
"Yah, lumayan." Kataku.
Kenapa aku bersyukur? Aku malah tidak tahu bagaimana caranya bertahan hidup. Apalagi yang di dekat pantai. Rasa khawatir selalu datang ketika ada ombak yang meskipun ukurannya kecil.
Aku mengikat satu persatu makhluk laut itu. Kesulitan membuat api adalah kelemahanku. Bagaimana caranya?
Aku sudah menggosok batu kering. Lalu mencoba memutar kayu diatas kayu untuk membuat api. Dan semua itu sulit! Aku menghela nafas lalu melihat air di laut ini.
"Pasang dan surut... aku akan ingat kau." Kataku.
Lalu karena aku kesal, aku berdiri dan menggosok batu secepat dan sekuat yang aku kesalkan. Terciptalah percikan api di atas daun kering itu. Sebisa mungkin aku menjaga dan mencoba membesarkan apinya.
Aku berhasil.
Kemudian,
Aku hanya bisa menatap matahari terbenam. Sementara perutku masih keroncongan. Tangkapan tadi sedikit. Sebentar lagi pasang. Apa aku tangkap saja ya?
Aku berpikir terlalu lama. Tanpa basa-basi, aku mengambil jaring itu dan melakukan hal yang sama berkali-kali. Hasilnya kosong.
"Mungkin aku bisa menahannya." Aku kembali dan tidur diatas tumpukan pasir juga gundukan sampah.
Aku tidak bisa tidur.
Aku mengorek gundukan sampah dan menemukan benda tajam yang bisa memotong leherku. Aku menggunakannya untuk bahan membuat rakit.
Sepanjang malam aku tidak tidur. Aku berhasil membuat rakit walau daya tahannya lemah. Tapi, ini cukup. Aku menggunakan tali untuk menarikku kembali kalau-kalau percobaanku gagal.
Aku berlayar. Pasang masih belum naik. Ini kesempatan yang bagus untukku.
Memulai rencana dengan was-was. Trauma itu tak bisa di hindarkan. Aku ingin cepat-cepat kembali rasanya.
Tapi, talinya terputus.
Dasar tali murahan. Umpatku.
Pasang naik secara drastis. Berakhir sudah aku terombang-ambing disisi yang salah. Ombaknya meninggi seiring waktu. Aku tak bisa apa-apa dan diam disini. Hal yang tak kuinginkan pun terjadi.
Rakit ini menabrak salah satu batu yang mencuat saat surut. Kaki ku terkena gesekan yang cukup parah. Aku hanya bisa berpegangan pada batu dan terbawa sedikit oleh arus.
Aku mencoba berpegangan dengan sangat kuat. Dingin. Air dingin menghantam wajahku.
"Uhuk. Uhuk. Aku ceroboh lagi." Kataku mencoba mengambil nafas. Mencoba memanjat batu dan berbaring kesakitan karena kaki ku.
"Hah... dewi fortuna, kau dimana sekarang? Aku akan mati lho! Haha!" Kurasa aku sudah gila.
Pasang kini telah menyentuh kaki ku. Aku meringis kesakitan. Tak ada yang bisa aku lakukan lagi selain menikmati rasa sakit yang luar biasa. Dan rasanya seperti tersayat-sayat.
Malam penuh bintang kini berganti menjadi badai kembali.
"Kurasa tenggelam adalah cara terbaik untuk mati perlahan tanpa rasa sakit, benar?"
Aku kalah.
Prok. Prok. Prok.
Suara bergemuruh terdengar oleh telinga. Apa yang terjadi? Aku membuka mataku dan melihat sekumpulan manusia menyorakiku seperti sebuah kemenangan.
Pakaian mereka aneh. Lalu salah satu dari mereka menyuntikkan sesuatu padaku. Sakit rasanya tapi, sekarang aku ingat. Bukankah ini tahun 2037?
"Selamat kau menang!" Kata host yang sekarang menepuk pundak ku.
"Apa... aku menang?" Kataku tersipu malu. Aku menatap tajam pada robot penjaga. Pistol kuno yang masih berguna.
"Tentu saja! Orang terakhir yang menang adalah orang terakhir yang mati!" Jawabnya.
"Tapi, aku masih merasa ini mimpi. Atau sesuatu yang tak nyata." Kini tepukan tangan berhenti.
"Apa yang bisa membuktikan kalau ini bukan mimpi? Coba kau tanya padaku." Aku memperhatikan berapa penjaga disana. Hanya dua?!
"Yah... mungkin sesuatu yang biasa aku pegang?" Kataku menggoda pria itu.
"Ah! Tentu saja. Nona yang ganas ini tahu bagaimana cara mengoprasikan pistol kuno!" Katanya sembari memberikan pistol yang sudah tersedia dihadapanku.
"Silakan." Katanya sembari menyerahkannya padaku.
Dor! Dor!
Dengan cepat aku menembaki dua robot penjaga itu. Tak lupa darah di sampingku juga masih segar. Itu darah dari sang host. Orang-orang berlarian tak tentu arah.
Dor!
"Ya, terasa sangat nyata." Aku memegang perutku yang sudah di lubangi oleh peluru.
Yup. That's end of story.
Kalo mau tahu, undur undur yang dimaksud itu...
Undur undur laut, yutuk atau ketam pasir. Ya, hampir seperti kepiting. Jadi jangan salah paham kalau undur undur itu serangga, ya? Kasian tau. Ada kok yang jualan makanan undur undur laut juga. Enak katanya!
Ehk! Kok malah promosi?!