Yang Tak Akan Pernah Kau Dengar Lagi
Untuk setiap doa yang kulangitkan saban malam memohon keselamatanmu. Untuk setiap air mata yang jatuh karena terlalu mencemaskan keadaanmu. Untuk setiap sesak dalam dada karena begitu merindukanmu. Untuk setiap ketakutan dalam diri karena tak ingin kehilangamu. Maafkanlah...
Sekarang, aku sudah sampai pada titik berhenti. Selamanya, dihatimu, aku hanyalah seseorang yang tak pernah memiliki tempat. Aku kau persilahkan masuk, namun sebagai orang asing yang kau letakkan di ruang paling usang. Lalu kau kembali cari setelah semua memilih pergi. Aku kau biarkan datang untuk melihatmu hilang. Aku kaubiarkan tinggal untuk kautinggalkan.
Sungguh, sulit rasanya mencintai seseorang yang hatinya bersemi untuk orang lain. Menyayangi seseorang yang sayangnya tumbuh pada orang lain. Seberusaha apapun menjadi ada, tetap ditiadakan. Sekuat apapun memperjuangkan, tetap berujung pengabaian. Setabah apapun bertahan, tetap dipaksa melepaskan. Dekat namun seperti jauh. Erat namun seperti renggang. Dan sekali lagi maaf, aku tidak sanggup.
Dari hati yang terdalam, aku undur diri. Mungkin kepergianku tak membuatmu merasa kehilangan sedikit pun. Tak membuatmu berpikir bahwa kau telah menyia-nyiakan seseorang. Tak membuatmu sadar bahwa ada sosok yang selalu berkeinginan melihatmu senang meski kau buang.
Tapi tersenyumlah. Setidaknya apa yang anggap mengganggu kini sudah lenyap dari hidupmu. Apa yang kau paksa menjauh, kini sudah tau caranya berjalan mundur. Kaupun tahu, yang paling sabar mencintai akan sanggup memilih pergi. Yang paling merasa cemas akan sanggup untuk ikhlas. Yang paling takut kehilangan akan sanggup mengucapkan selamat tinggal jika segala pengorbanannya tidak dihargai seseorang.
Semoga kau bahagia, ini doa terakhir untukmu. Yang tak akan pernah terlantun lagi dalam sujudku. Ia telah terhapus paksa bersama seseorang yang kau hapus perasaannya. Ia telah terkikis habis bersama seseorang yang telah kau habiskan harapannya.
Selamat tidur. Ini ucapan terakhir untukmu yang tak akan pernah kau dengar lagi pada malam – malam sunyimu. Ia telah hilang bersama seseorang yang selalu mengucapkannya dulu. Ia telah lengyap, bersama seseorang yang selalu merindukanmu sebelum lelapnya dulu. Bermimpilah tentang semua hal yang kau impi-impikan. Esok, bila kau terjaga, aku pastikan dihidupmu aku sudah tak lagi ada.
Karya : Pthn.Ranting
Sumber : https://youtu.be/fXHECogGE-c
Pada Bagian Ini, Izinkan Aku Membencimu
Andai tanpa sengaja aku membaca bagian ini, semoga kau akan kembali teringat bahwa dulu ada seseorang yang begitu dalam menyayangimu. Tentang dirinya yang pernah memilih, tapi tak terpilih. Yang pernah menginginkan, tapi tak diinginkan. Dan perlahan kau akan sadar, betapa kau sudah meninggalkannya begitu jauh.
Kau, apa kabar? Mungkin kau bukan seseorang yang dulu lagi. Setelah kau memutuskan hilang. Memilih pamit tanpa bilang. Aku jadi manusia hampa yang tak lagi punya tujuan apa-apa bahkan harapan. Aku layaknya ruang kosong yang menanti diisi oleh kepulanganmu.
Disana, apa kau bahagia? Aku harap, iya. Karena tak sekali pun ada doaku yang aku lewatkan tanpa menyebut namamu. Dan semua yang menjadi aminmu, selalu menjadi aminku.
Kau tau? Semenjak kepergianmu, aku tak punya lagi rasa percaya untuk menjatuhkan hati. Aku terlalu takut, jika aku dilukai lagi meski telah kucoba, meski telah kupaksa. Namun, menggantikan peranmu ternyata tak sederhana yang kukira. Kau terbaik hingga saat ini walau kau juga yang paling membuatku terpuruk dan tersakiti.
Apa kau merindukanku? Di sini aku selalu. Maaf bila kenyataan kau tidak diperuntukkan Tuhan mendampingiku; belum ikhlas kuterima. Waktu terlalu cepat memisahkan kita. Di saat aku benar – benar membutuhkanmu, di saat kamu satu – satunya yang aku mau. Tapi aku sadar, aku tak berhak kecewa, aku tak berhak marah. Karena aku tahu yang mencintai di kisah ini hanya aku. Sedang kau tidak. Pada bagian ini, izinkan aku membencimu. Biar melupakanmu, aku mampu.
Karya: : Pthn.Ranting
Sumber: https://youtu.be/yHS4SjG9SBQ