Hari ini tanggal 16 Agustus 2021. Sehari sebelum kemerdekaan Indonesia yang ke-76.
Aku melihat nenekku termenung di serambi belakang, matanya menatap kosong ke lapangan bola yang biasanya digunakan untuk acara tahunan, entah itu festival tahunan antar desa, HUT PGRI, bahkan acara tujuh belasan seperti hari ini. Namun tahun lalu dan tahun ini, jangankan untuk untuk acara gebyar dan lomba-lomba meriah seperti dulu. Corona membuat ramai menjadi mencekam, tak terlihat namun bisa memusnahkan.
Netranya yang sudah memutih karena katarak yang sudah dideritanya selama setahun terakhir terus menatap kosong, lurus, hampa, seperti kehilangan jiwanya.
"Nek," panggilku namun ia bergeming.
Semakin dekat langkahku mengarah padanya, kelihatan olehku tubuhnya yang sudah ringkik, samar-samar mengeluarkan isakan. Ia menangis.
Apakah dirinya merindukan keramaian yang ada di lapangan itu?
Ada banyak pertanyaan berkecamuk di kepalaku, memenuhi rongga dadaku, membuat semua sesak bersatu hingga kaki ini jadi tidak bisa bergerak. Seperti tubuh ini mati rasa, padahal sedikit lagi aku bisa menjangkau punggung ringkik yang telah membesarkanku sedari dulu.
Lolos air mata ini dari telaganya, tubuhku bergetar, aku tahu dirinya pasti merindukan suasana ramai, dimana dirinya bisa karaokean bersama nenek-nenek yang lain, tertawa riang, melepas segala beban dan melupakan usianya untuk bersenang-senang. Sahabatnya yang biasa menemaninya pun ... t'lah pergi dijemput Tuhan. Sebab apa? Sebab corona yang menjangkiti.
"Nek ...," lirihku banjir air mata.
Wajahnya yang sembab ia arahkan padaku. Dia tersenyum sembari mengusap bulir-bulir bening di pelupuk matanya. Tangannya menepuk daerah di samping kirinya, mengisyaratkan aku untuk duduk menemaninya.
"Kenapa kamu menangis?" Nenek bertanya.
Aku menyebrit hidung. "Nenek kenapa nangis, aku jadi ikut sedih, apa nenek lagi nostalgia?"
Dirinya tersenyum tipis. Mengusap lagi air matanya. "Neng ...," panggilnya.
"Iya, Nek?"
"Nenek lagi terharu, sedih, sampai nangis gara-gara ...." Nenek menjeda kalimatnya, membuat aku sedikit penasaran. Bukan, bukan sedikit, namun sangat, sangat, dan sangat penasaran.
"Nenek nangis ... gara-gara."
"Kenapa, Nek, cerita aja, aku ada disini."
"Video nenek masuk fyp tik tok."