Sekitar pukul sebelas malam, para penumpang sebuah kapal Feri terlihat tenang dengan kegiatan mereka masing-masing. Ada beberapa orang yang karena sudah lelah mereka memilih memejamkan mata mereka sambil bersandar di sandaran kursi mereka.
Kapal Feri berwarna hit bergaris biru itu akan membawa para penumpang menyebrang dari pulau intan ke pulau cinta. Perjalanan yang harus mereka lalui sekitar 4 jam.
Safar dan ketiga temannya, Alisa, Dian dan Diki sedang juga menumpang kapal itu untuk pergi ke pulau cinta dia akan menghadiri pernikahan mantan kekasihnya yang seminggu lalu datang ke rumahnya dan mengirim kan undangan.
Awalnya Safar tidak ingin datang, tapi karena dukungan dari ketiga sahabatnya itu dia memutuskan untuk datang.
"Hei, masih bingung mau bilang apa saat bertemu dia nanti?" tanya Dian yang sebelum bertanya terlebih dahulu menepuk bahu Safar.
"Tidak juga, hanya melihat pemandangan. Kenapa langit sangat gelap ya?" tanya Safar memperhatikan langit malam ini yang sangat kelam dan gelap.
"Wajar saja Safar, ini tengah malam!" jawab Dian santai.
Melihat safar yang terus memperhatikan sekeliling, mau tak mau membuat Dian ikut memperhatikan suasana malam ini.
Tiba-tiba mereka mendengar suara deru yang kencang.
"Kamu dengar tidak?" tanya Safar lagi.
Mata Dian membulat ketika melihat apa yang ada di belakang Safar. Dari jauh dia melihat angin sedang bergerumul membentuk sebuah putaran besar yang menimbulkan suara sangat kencang.
"Safar, itu....!" ucap Dian ketakutan sambil menunjuk ke arah belakang Safar.
Safar berbalik, dan dia mengeluarkan ekspresi yang sama dengan Dian.
"Dian, mana Alisa dan Diki?" tanya Safar.
Safar menarik tangan Dian ke dalam dan mencari kedua temannya yang lain. "Ambil jaket pelampung, cepat!" seru Safar setelah menemukan kedua teman yang lain.
Setelah mereka berempat mengambil jaket pelampung mereka berteriak memperingatkan para penumpang yang lain. Suasana tenang berubah panik, benar saja tak lama kapal Feri itu berguncang...
***
Mata Safar perlahan membuka matanya ketika dia merasakan sinar matahari menyapanya...
Safar bangun dari posisinya yang tengkurap dan memperhatikan sekeliling nya, tak jauh darinya dia melihat Dian dan Alisa.
Safar segera menghampiri mereka dan membangunkan Dian dan Alisa bergantian.
"Dimana Diki?" tanya Alisa setelah tidak bisa menemukan keberadaan Diki dimana pun dia melihat.
"Kita dimana?" Dian pun ikut bersuara.
Mereka akhirnya menyadari mereka telah terdampar di sebuah pulau kecil yang di kelilingi lautan luas.
Alisa kembali terduduk lemas.
"Diki!" lirihnya sambil menangis.
Dian pun segera menghampiri Alisa dan menenangkannya.
Hal yang sama juga dirasakan Dian, takut dan cemas tapi dia berusaha untuk tenang.
Sementara Safar sedang mengumpulkan beberapa ranting pohon dan pelepah daun pisang yang ada di tengah pulau tak jauh dari Dian dan Alisa.
Dian memperhatikan apa yang dilakukan oleh Safar. Safar menyeret berbagai ranting dan pelepah itu ke area luas di dekat pesisir pantai.
Dian berdiri, dia mulai tahu apa yang sedang dilakukan oleh Safar.
"Alisa, ayo kita bantu Safar!" ajak Dian.
Alisa menghapus air mata nya dan berdiri. Lebih baik dia membantu kedua sahabatnya itu terlebih dahulu.
Mereka pun membuat sebuah kata dengan apapun yang bisa mereka kumpulkan dari pulau kecil itu.
'HELP' kata itulah yang mereka buat.
Setelah selesai Safar yang terlihat penuh dengan peluh membanting dirinya diatas tumpukan pasir.
"Kita hanya bisa menunggu!" serunya.