Aku mengenal arti ketulusan dari sepasang mata polos dengan badan dan segala yang di sandang terlihat kumuh.
Dari seorang anak miskin yang tinggal di pinggir rel kereta api aku belajar bahwa tak semua orang bisa tulus pada kita, mungkin kita juga terkadang tidak bisa bersikap tulus.
Aku baru sadar, ketika ketulusan yang sebenarnya datang dari seorang anak kecil yang sangat gembira ketika ia menapaki lantai bersih sebuah Indomaret tanpa alas kaki. Menawariku yang hanya diam termangu.
Aku tidak menyesal karena selama ini ternyata aku pernah benar-benar merasakan ketulusan. Tapi aku bersyukur pernah merasakan satu saja rasa tulus dari anak yang tak ku kenal sama sekali.
Siang itu amat terik hingga membuat bedak di wajahku meleleh. Tak ku temukan satu pun warung yang buka di daerah yang tak ku kenal ini. Jadwal keberangkatan kereta ku masih beberapa jam lagi. Aku berjalan di atas jalan paving berbentuk persegi panjang yang di susun secara simetris. Jalan berlubang dengan beberapa polisi tidur.
Di samping kanan tampak berbagai kendaraan berat yang tak lagi berfungsi. Gundukan tanah terlihat di beberapa tempat. Aku berjalan ke sana, ke arah beberapa anak yang berbicara dengan bahasa daerah.
Di balik pagar-pagar rel kereta api yang mulai berkarat di makan usia, beberapa papan kayu doyong di jadikan rumah. Sempat ku dengar anak-anak itu membicarakan soal Indomaret yang baru saja di buka di kampung mereka.
Aku memang tak mengerti secara detail apa yang mereka bahas, tapi secara keseluruhan ku kira mereka mengajak seorang anak laki-laki dengan rambut yang tipis hampir bodak. Wajahnya bulat dengan pipi sebelah kanan terkena panu. Mereka melambaikan uang sepuluh ribu ke udara.
Yang di ajak bicara hanya memandang dengan takjub uang tersebut. Benda tipis yang seumur hidup belum pernah ia pegang. Tangan hitam kecilnya memegang layangan yang sudah sobek sana sini.
"Adek, di sini ada toko yang jual minum?" Tanya ku sembari menoleh ke sekeliling kami.
Sebenarnya tidak akan ku temukan warung sejauh mata memandang, tapi aku tak sampai hati melihat anak kecil di depan ku itu. Ia hanya bisa memandang teman-temannya yang pergi satu persatu.
"Ada Indomaret yang baru buka mbk. Mbk mau di antar ke sana?"
Aku memandang langit biru yang menyilaukan. Rasanya sangat malas sekedar berjalan. Tapi aku juga tidak berharap secara ajaib ada minuman di depan ku.
"Ini buat kamu" ku sodorkan selembar uang sepuluh ribu padanya.
Matanya memandang takut ke arahku. Mungkin bukan ke arah ku, tapi arah salah satu rumah di pinggir pagar rel kereta api. Seorang wanita paru baya duduk di depannya.
"Nama kamu siapa?" Aku berjongkok.
"Panu"
Sungguh seketika itu aku ingin tertawa. Menurut ku, nama itu sangat lucu. Pantas saja ia memiliki panu di pipinya, namanya saja panu. Tapi aku masih punya hati sekedar untuk tidak tertawa di depannya.
Atau karena ia memiliki panu karena itu di panggil panu? Bisa jadi juga, namanya Fano tapi karena orang Jawa seringkali mengganti huruf (F) menjadi (P) karena itu namanya Panu?
Ia meraih uang tersebut dan berteriak pada teman-temannya. Maka kini, dengan riang aku berada di antara gerombolan anak kecil kumal yang menurut ku lucu.
Mereka dengan lincah berjalan menyebrangi rel kereta api tanpa alas kaki. Jika ada yang menggunakan alas kaki, itu pun hanya sandal yang ukurannya kebesaran. Berbeda dengan ku yang terus menoleh ke kiri kanan berharap tidak ada kereta yang menambrak ku ketika aku lewat. Terseok-seok meskipun menggunakan sepatu.
Kami melewati kebun-kebun penduduk dengan rumah-rumah yang terbuat dari bambu yang di anyam. Jika ada rumah yang terbuat dari beton, pasti dindingnya ada yang retak.
Tak ku lihat tanda-tanda ada Indomaret setelah 50 meter aku berjalan. Apa mereka membohongi ku? Mata ku memicing ketika melihat sebuah tulisan di pinggir jalan (Indomaret 50 M lagi).
Mau tak mau aku berjalan 50 meter lagi ke depan.
Aku bermain ponsel sambil berjalan. Tiba-tiba Panu menarik ujung kerudung biru yang ku gunakan. Menunjuk sebuah rumah dengan pagar besi berwarna hitam tinggi. Tiga orang dengan pakaian putih juga celana panjang hitam berdiri di depannya.
Itulah rumah seorang pendeta Kristen. Panu mengatakan banyak, tapi aku menyesal tidak mau belajar bahasa daerah. Aku tak paham apa yang berusaha ia jelaskan.
Jalan aspal kelabu siang ini sepi. Beberapa becak motor melintas dengan seorang ibu-ibu yang membawa karung belanjaan. Tiga anak yang berjalan di depan ku menyanyikan lagu Happy Birthday, pada pengendara sepeda motor yang lewat.
Jujur, aku sangat malu. Ku tutup daun telinga ku dengan kedua telapak tangan. Mau menegur tidak bisa, mereka hanya anak-anak.
"Happy bedes nguyu"
Jika ku artikan artinya adalah (monyet tersenyum), wajahku memerah di tempat. Ada secuil rasa sesal karena bersama dengan mereka.
Ketika sampai di Indomaret, aku tak langsung masuk seperti ke empat anak tersebut. Aku masih malu hingga hanya memutuskan untuk duduk di kuris kayu dengan meja bundar di depan Indomaret.
Rasa haus ku hilang menguap di antara tatapan aneh pengendara sepeda motor yang menatap ku dengan aneh tadi.
Saat itulah takdir memberiku pelajaran.
"Mbk mau fruit tea rasa apa?"
Aku tidak menoleh. Terucap kata terserah dari mulutku. Panu berlalu dan masuk lagi ke dalam Indomaret. Keluar dengan sekantong kresek berwarna putih dengan logo Indomaret berwarna biru.
"Ini mbk rasa apel" ia mengambil sebotol fruit tea berwarna merah pada ku.
Saat itu lah benang-benang halus di dalam benak ku bergetar hebat. Ia menggunakan uang yang ku beri dengan hanya menyisakan kembalian 3.000 untuknya.
Tangan ku bergetar ketika ia menyerahkan kembalian itu pada ku. Dengan sedikit terenyah, aku bangkit dan berjalan pulang bersama mereka.
Ia meneguk habis semua isi di botol itu hanya dalam beberapa detik.
"Kenapa nggak beli minum di warung aja? Kan bisa dapet banyak? Kalo beli di Indomaret harganya lebih mahal" tanya ku.
"Biar kelihatan kayak orang kaya aja mbk" polosnya. Ia cengengesan sembari menatap temannya yang memakan kripik kentang rasa rumput laut.
Terlihat seperti orang kaya? Menurut ku, itu bukan sebuah pencitraan. Lihat saja bajunya, memangnya ada orang kaya menggunakan baju yang warna nya telah pudar? Kerah baju yang sobek tanpa alas kaki?
Ku simpulkan bahwa; kemiskinan tidak bisa dihindari, tapi tetap saja miskin itu membosankan.
Mungkin Panu merasa bosan menjadi miskin, dan ingin terlihat kaya untuk dirinya sendiri.
Lebih dari semua itu, detik itu pun aku merasakan ketulusan. Setiap perbuatannya pada ku, terasa sangat tulus. Ketika botol minum ku sama sekali tak ku sentuh, ia menawari ku untuk membawakannya.
Ternyata tulus tidak bisa kita tebak dari mana asalnya. Mungkin orang-orang miskin lebih bisa bersikap tulus dari pada orang-orang kaya yang memakai berbagai topeng untuk menutupi sifat mereka yang sebenarnya.
Singkat cerita, aku mengajak mereka berbelanja kembali. Mereka riang mengambil apa saja yang mereka inginkan. Aku beruntung bertemu mereka, dari kaca kereta yang mulai berjalan, ku lihat mereka melambaikan tangan di pinggir-pinggir rel kereta api.
Bersorak sorai gembira sambil mengibarkan kresek yang sudah kosong isinya.
°°°°°
Ketika rintik hujan terdengar, kadang mereka hadir membawa cerita.
Cerita di atas hanya fiksi😊
Bunyi Hujan; 8-10-21