DADA Seno kembang-kempis. Sorot matanya merah padam sambil mengepalkan jari tangannya. Ia geram terhadap Savitri, gadis desa yang dikenalnya tiga tahun lalu di persimpangan jalan. Padahal, selama ini Seno telah menyintai gadis itu segenap jiwa dan raganya. Hingga mengorbankan perasaan istrinya demi membahagiakan Savitri seorang.
Seno mondar-mandir, berpikir—hukuman apa yang pantas untuk perempuan yang sudah berani memutuskan jalinan kasih secara sepihak. Seno merogoh ponsel di saku celananya. Ia menyuruh tiga orang untuk membutakan dua mata Savitri. Ya, Seno tak ingin Savitri melirik laki-laki lain.
“Jangan telepon saya sebelum dua mata Savitri benar-benar buta total!” pekiknya lewat handphone pada orang suruhannya. Giginya gemelutukan.
Esok harinya, seharusnya Seno bahagia mendengar kabar dari orang suruhannya: dua mata Savitri buta total. Tapi kenyataan itu malah membuatnya merasa serba salah.
“Ini perbuatan jalang. Ini perbuatan tidak benar. Tak seharusnya aku menyakiti perempuan yang kucintai. Bodoh! Apa aku gila? Tidak, tidak, tidak!” Pikirannya terombang-ambing. “Tapi ia sudah mencampakkan aku! Ia pantas mendapatkan itu!”
Sesaat kemudian, bel rumahnya berbunyi nyaring. Istri Seno, Laela, membukakan pintu dan kaget. Ada tiga orang polisi menyambangi rumahnya siang itu.
“Kami ingin bertemu dengan Saudara Seno,” kata salah satu polisi itu.
“Ada perlu apa bapak-bapak polisi mencari suami saya?” Laela gagap. Ia merasa keluarganya tak melakukan kejahatan. Lantas, ia pun memanggil suaminya yang berada di kamar lantai dua.
Seno turun dan menghadap polisi itu. Ada suatu perdebatan yang belum dimengerti Laela. Ia sungguh tak paham maksud dari perdebatan itu. Pada polisi itu Seno menyangkal tidak tahu menahu perihal perempuan buta yang dimaksud. “Sungguh, saya tak mengenalnya,” ulangnya meyakinkan para polisi itu.
“Perbuatan Saudara menyakiti Savitri dan membuat dua matanya buta itu harus diselesaikan secara hukum.”
Mendengar nama Savitri, tubuh Seno seketika panas dingin. Ia gontai. Ia mengutuki orang suruhannya yang bersikap ceroboh—seharusnya mereka tutup mulut. Ekspresi wajahnya berubah layu tak menentu. Para polisi itu juga menguatkan bukti lain. Mereka sudah menangkap dua orang bayaran Seno.
“Ah, sialan!” gumam Seno.
Tangan Seno lantas diborgol tanpa melawan sedikit pun. Polisi membawa Seno ke mobil. Antara percaya dan tidak, Laela tercengang menyaksikan adegan di rumahnya sendiri, di depan matanya. Selama ini suamiku selingkuh?
***
Seno selalu berdalih kepada hakim kalau penyiksaan yang dilakukannya pada Savitri itu atas nama cinta. Begitu terus jawabannya. Seperti tak ada alasan lain. Karena jawaban itu kurang masuk akal—penyiksaan yang dilakukannya atas nama cinta, sudah barang tentu membuat sebagian orang memicingkan alis, termasuk sang hakim. Akhirnya, Seno dijatuhi hukuman 15 tahun penjara tanpa syarat.
“Hukuman itu pantas buat bajingan seperti kau!” seru Laela setelah sidang usai pada suaminya.
Sebelum Laela meninggalkan ruang persidangan, tamparan keras meluncur di pipi Seno.
“Istri mana pun tak ingin diduakan dan dikhianati oleh suaminya sendiri!”
***
Seno sangat kesepian di dalam bui. Sebagai duda, dua tahun di penjara berjalan sangat lamban. Hari-hari terasa membosankan. Selera makan berkurang. Masa-masa kelam dilaluinya tanpa dukungan orang-orang tercinta. Penampilan Seno kian hari makin memburuk tak terurus. Meski sesekali ada kerabat jauh menjenguk, entah mengapa ada satu ruang kosong dalam hatinya yang harus diisi dan dilengkapi.
Sebagai musisi yang belum terkenal, di penjara itu, Seno minta selembar kertas dan pulpen kepada sipir. Ia ingin menumpahkan kesepiannya melalui larik lagu. Ya, ia suka mengarang lagu.
Sebelum menulis kata-kata puitis, tiba-tiba di benaknya terlintas nama Savitri.
“Bagaimana kabarmu, Vit? Apa kau baik-baik saja? Pasti kau tersiksa dengan mata butamu. Aku memang bodoh. Maafkan diriku yang sudah membuatmu menderita.”
Seno rindu bercakap-cakap dengan gadis yang sudah disiksanya itu. Ia menginginkan Savitri-lah yang mengisi kekosongan jiwanya sekarang. Akhirnya, ia urung mengarang lagu. Malah menulis surat untuk Savitri. Sebuah surat permintaan maaf. Sebuah surat rindu yang meluap.
Seno senang suratnya dibalas tanpa menunggu lama. Seno seperti menjadi remaja kembali, senyum-senyum tak jelas hampir tiap hari. Seno dan Savitri pun saling berkirim surat. Tiap akhir pekan Seno selalu mendapat balasan. Bahkan, kerap mendapat dua balasan dari Savitri.
“Seharusnya aku yang meminta maaf karena sudah mencampakkanmu,” kata Savitri pada Seno dalam surat balasannya yang ke sekian. “Dulu, aku bersikap seperti itu karena kau sudah beristri, Mas. Aku tak ingin menyandang status selingkuhan orang. Aku menyayangimu, Mas.”
Seno lama tak merespon surat Savitri selama sebulan. Ia kebingungan mau menjawab apa. Seno sudah setengah jalan menjalani hukuman penjara.
“Aku mencintaimu, Mas. Sungguh,” kata Savitri lagi dalam suratnya, meyakinkan hatinya pada Seno.
Satu minggu kemudian. Seno akhirnya berani menjawabnya, “Begitu pula aku, Vit. Mas masih ada rasa padamu. Mas juga menyintaimu. Sekiranya kau sabar, kita pasti akan menjalin rumah tangga dengan bahagia. Membesarkan anak-anak kita dengan canda dan tawa.”
“Vitri senang mendengar kabar baik ini. Mas, aku siap menunggu kebebasanmu. Aku berjanji.”
Mata Seno berair, tersentuh.
“Tapi, aku buta, Mas.”
“Bagi Mas, itu tak masalah. Kan kuterima kau apa adanya.”
Kesepiannya perlahan pudar dari hari ke hari. Savitri membuatnya bergairah memandang hidup. Savitri menjadi kekuatan dalam mengarungi kehidupan pahit di dalam bui. Savitri pun seperti sudah lupa terhadap perlakuan Seno 15 tahun lalu. Ia terjangkit penyakit psikologis yang aneh, yang orang kerap menyebutnya sindrom Stockholm, suatu kelainan psikologis, ketika seseorang malah menyintai orang yang sudah menyiksanya.
Tak lama setelah Seno dibebaskan, keduanya bertemu dalam linangan air mata. Mereka berpelukan lama. Rindu yang terpendam kini sudah terobati. Mereka akhirnya melangsungkan pernikahan dan tinggal di sebuah desa.yang dikelilingi pohon-pohon jati yang rimbun. Hidup mereka bahagia
Ratusan surat-surat cinta milik Seno dan Savitri itu bagai bukti bahwa tak ada yang salah dalam urusan percintaan. (*)