Ningrum. Ya, itu namaku, aku adalah gadis berusia 15 tahun, yang tengah mengenyam pendidikan di jenjang SMK kelas 2.
"Minggat sana!"
Entahlah. Telingaku selalu saja mendengar kalimat itu secara berulang ulang yang dilontarkan dari sosok yang kuanggap sebagai `Ayah`.
Simplenya. Dia depresi. Berbicara dan bertindak melantur.
Jujur aku sangat tertekan.
Awalnya. Aku mempunyai alasan kuat untuk bertahan dengan derita keluarga. Bagas. Dia adalah kakak kandungku yang sekaligus menjadi alasan terkuat untukku tetap tegar. Namun, siapa sangka. Seorang Bagas yang menguatkanku tapi dirinya juga yang semakin menghancurkanku.
Dulunya... Ayah pergi entah kemana tanpa meninggalkan sepeserpun nafkah untukku, ibu dan kakak ku. Kemudian dia kembali kepada Ibu dengan keadaan seperti itu (depresi). Parah bukan?. Sungguh mengenaskan.
Awalnya aku menolak ayah untuk tinggal lagi bersama kami. Tapi... Entahlah, aku tak tau jalan pikiran ibuku sehingga semua terjadi begitu saja tanpa pertimbangan pihak manapun. Tanpa keputusan yang matang.
Akhirnya ayah tinggal bersama kami.
Sampai pada saat ketika...
(Flashback)
Tanggal 14 September..
Ibu, di benci oleh sanak saudara karena menerima orang (gila) seperti ayahku.
Akhirnya itu semua membuatku dihadapkan dengan sebuah `pilihan` dan juga akhir dari hal yang kusebut sebagai `bahagia`
"Bagas!? Ningrum?! Kalian memilih tinggal bersama ibu kalian atau sama kakek dan nenek?? Kalau kalian tinggal serumah dengan ibu kalian. Hanya sengsara doank yang kalian dapat. Menahan malu yang tiada ujungnya!" ucap Bulek Darti (adik dari ibuku)
"Sama Ibu!" ucapku
"Sama Kakek nenek" ucap Mas Bagas
Keputusan konyol macam apa yang sudah diambil Mas Bagas?! Dia setega itu meninggalkan ibu?!
"Mas Bagas bercanda kan?! Ga bisa begitu donk mas! Kenapa mas Bagas milih tinggal sama kakek nenek?!" tanyaku dengan nafas yang berderu.
"Maaf dik. Tapi mas ga mau menanggung ayah yang gila sepertinya. Dan mas ga mau menanggung malu akibat keputusan ceroboh dari ibu! Mas kecewa aja!" ucapnya membuat emosiku meluap.
"Begitu?! Begitu caramu membalas budi terhadap sosok i-"
"Sudah Ningrum! Biarkan mas mu bahagia dengan pilihannya" sergah ibu memotong perkataanku.
"Oh tentu aku akan bahagia Bu! Bahagiaku ketika tidak bersama kalian yang punya pemikiran minim dan terlalu iba pada orang gila! Pamit dulu!" ujarnya lalu melenggang begitu saja bersama bulek Darti.
Meninggalkanku dan ibu.
"Sial!" umpatku spontan.
Hanya umpatan itu yang kubisa.
Aku menatap datar kearah ibu, lalu ngeloyor kedalam kamar.
Bugh!
Ku pukul kepalaku dengan kepalan tanganku.
"Hancur!" pekikku dalam hati
Disaat itu juga... Sesaat kemudian setelah itu aku menghubungi laki laki yang aku suka. Namanya Anton. Aku curhat padanya.. Aku sedikit lega.
(Flashback Off)
Plak!!
Gamparan keras menghantam pipiku. Pagi ini. Hari Jum'at 8 Oktober. Pukul 12 dini hari.
"Salah ya kalau seorang adik meminta bantuan pada kakaknya??" ucapku getir.
"Tentu salah! Buat apa kau meminta bantuanku. Kalau sudah jelas kau memilih tinggal bersama orang gila itu?!" bentak Mas Bagas.
"Kalau kamu mau bekerja! Cari lowongan sendiri saja aku sibuk!" lanjutnya dingin.
"Salahku sefatal itukah? Hingga tak pantas mendapat sedikit saja sebuah bantuan. Kau janji akan tetap menjadi rumahku untuk berpulang! Menjadi obat untukku dikala aku terluka! Kau janji menjadi tabibku.. Hiks.. Semudah itu kau lupa?! Jika kau tak peduli padaku tak apa. Tapi pedulilah dengan ibu. Itu saja yang ku mau!" ucapku parau menahan sesak.
Ku cengkram dadaku yang kian sakit.
"Kau pikir aku akan menepati janjiku untuk orang yang tidak tepat sepertimu? Pergilah. Kehadiranmu disini tak dibutuhkan. Atau harus berapa kali aku menggamparmu supaya kau sadar bahwa kita itu sekarang •BERBEDA•" tukasnya.
Aku memilih diam. Harus bagaimana aku meluapkan marah?! Haruskah aku melayangkan tinju pada wajah seorang kakak?? Wajah teduh yang dulunya menenangkan diriku.
"Aku tak akan pernah berharap dengan (Laki laki) maaf mengganggumu"
"Bodoh! Kau pikir kau tak butuh seorang laki laki?!" cibirnya.
"Buat apa laki laki? Jika ia hanya menghancurkan perasaan, mental, seorang perempuan. Bagiku laki laki seperti itu hanyalah •BANCI• dan mungkin dirimu termasuk. Makasih atas gamparannya hari ini" ucapku lalu melenggang menuju rumahku.
Rumah nenek dan kakek. Adalah pantangan untukku! Aku sudah dilarang kesana! Aku tersisihkan! Begitu!...
Bolehkah aku mati sekarang?! Untuk apa aku ada bila tak ada yang mau menganggap ku ada!
Buat apa aku lanjut jika tidak ada yang mengiringi langkahku untuk bertahan.
Menjadi yang tersisihkan itu tidaklah menyenangkan. Aku sadar. Aku tak harus berharap pada laki laki. Hancur sudah perasaanku. Mentalku tak lagi sekuat dulu. Bahkan aku kehilangan emosi. Tak pandai mengungkap rasa marah?! Bagaimana aku harus marah? Dengan cara apa? Aku diam. Dan hanya diam yang bisa kulakukan.
Kadang pikiranku suka blank! Setiap malam aku hanya duduk termenung. Bahkan ketika memegang handphone, chattingan dengan teman, dengan Anton, hatiku serasa hampa. Aku lebih banyak •Melamun• || •Diam• || Berpikir.. Apa besok aku masih hidup?! :)
Mataku memerah. Setiap kali aku berhadapan dengan cermin bisa ku lihat dengan jelas ukiran luka yang membekas di pipiku.
Author : AndriPrbngrm.