Hei, kamu. Yang tengah beristirahat selagi menatap layar kaca. Selagi kamu masih disini, maukah kamu mendengarkan serpihan ceritaku? Aku harap, rangkaian kata ini dapat menghiburmu.
Seperti surat tanpa nama, aku akan mengisahkan sebuah cerita yang bukan milikku. Sebuah cerita yang seharusnya dikisahkan olehnya, namun ia telah pergi terlalu jauh dari pandanganku. Sebuah cerita yang tidak akan berakhir, karena ia tidak ingin mengakhirinya.
Aku hanya disini, tak lain untuk menunjukkan sudut pandangku, dari sang gadis yang begitu kukenal baik namanya dan sifatnya. Untuk merajut kata demi kata, demi harapan bohong yakni agar sang gadis dapat membacanya. Akan aku tuliskan ratusan kata yang hanya bertahan diujung bibirku. Dengan ini, aku ingin kamu membacanya. Agar ratusan kata itu bisa sampai pada hatinya.
Didalam sebuah ruangan yang begitu luas, setiap sudutnya tidak terbatas. Namun tangan yang meraung-raung tidak akan pernah menyentuh dunia luar. Seperti lautan tanpa akhir, namun ada sebuah garis yang tidak boleh dilewati. Begitulah dunia kecilku, dimana semua hal tertulis, tetapi tidak untuk dibaca.
Ketika matahari terbangun, burung-burung akan berkicau. Harmoni-nya akan membangunkan mereka dari bunga tidur. Saat aku berlari untuk meraih kehampaan, disitulah duniaku berakhir. Menit berikutnya, aku hanya dapat tertidur. Realita begitu menyeramkan, jadi aku hanya dapat mematung. Mengusahakan segala cara agar tidak kehilangan diriku sendiri.
Lalu, bagaimana caranya dapat meraihku? Ujung jarinya yang melukiskan harapan, kemudian menyentuh hatiku yang terdalam. Secepat itu, walau aku belum mengenalnya.
Chia, aku sedang bercerita tentangmu. Apakah kamu mengingatnya?
Diakhir duniaku, disitulah duniamu. Luas, dan begitu indah. Namun kenyataanya, hanyalah mimpi sementara. Terimakasih sudah menerimaku dengan semua kecacatan yang tertulis dalam karakterku. Aku dapat berkicau dan bernyanyi berkat cahaya darimu.
Aku yakin, kamu tidak akan pernah pergi terlalu jauh. Jika iya, mungkin mataku belum terbuka sepenuhnya. Di dalam lautan tanpa dasar itu, terimakasih telah menarik tanganku. Terimakasih telah merajut kata-kata semangat di dalam hatiku. Semua ini belum berakhir, bukan? Maka seperti kalimatmu yang terakhir,
"Jangan pergi setelah pulang sekolah, ya."
Aku mengerti. Jika saja kamu dapat mengatakan kalimat ini lagi, aku tidak akan menangis dengan rasa berat hati kembali. Aku akan merelakannya dan berkata,
"Ayo bermain lagi. Kali ini, di dunia yang sebenarnya."
Chiara, kamu telah menemukan diriku. Sekarang, aku yang akan mencarimu. Tidak peduli apa yang harus aku tinggalkan. Karena aku tahu, di ujung dunia, kamu pasti telah menungguku.
____