Miranti namanya, saat ini usianya baru menginjak 26 tahun tidak terlalu cantik atau pun seksi, namun selalu istimewa di mata bu Tini dan pak Deni, kedua orang tua Miranti.
Bagaimana tidak, orang tua Miranti sudah lama menanti kehadiran nya. Lima tahun lamanya setelah orang tua Miranti menjalani biduk rumah tangga, akhirnya penantian panjang kedua orang tuanya di anugerahi seorang anak perempuan yang di beri nama Miranti.
Meski pernikahan kedua orang tua Miranti tidak di dasari atas sama-sama cinta, tapi keduanya mampu bertahan dalam menghadapi setiap cobaan dalam rumah tangga.
Flashback 31 tahun sebelumnya.
Sore hari di rumah orang tua Tini 💔
" Po'konya kamu harus mau nikah sama Deni." ucap bu Dini dengan nada tinggi pada sang anak gadisnya.
" Tapi bu... aku belum mau nikah. Aku belum bisa menyenangkan ibu dan bapak." dengan berurai air mata, Tini berusaha membujuk sang ibu untuk tidak menikahkannya dengan Deni.
Saat ini usianya baru menginjak 15 tahun, sedangkan Deni yang ia dengar dari sang ibu Dini, usianya sudah 25 tahun.
Tini adalah anak yang terlahir dari pasangan bu Dini dan pak Nadi, bukan dari kalangan orang kaya namun cukup terpandang di lingkungan mereka tinggal.
Karena sikap, tingkah laku dan tutur bahasa Tini lah membuat Deni jatuh hati pada pandangan pertama. Di tambah dengan latar belakang keluarga Tini, sangat memungkinkan untuk menjadikan Tini sebagai menantu di keluarga Deni.
Bu Dini menarik tangan kanan Tini dengan kasar dan membawanya ke kamar sang ibu.
"Coba lihat itu Tini, bapak mu lagi sakit. Bapak mu lagi sekarat, mungkin saat kamu memilih buat gak nikah dengan Deni. Kamu akan menyesal karena bapak mu tidak lagi bisa menjadi wali nikah mu." bentak bu Dini.
"Jangan bicara begitu bu... bapak pasti akan sembuh." ucap Tini.
Tini menghapus air matanya yang membasahi pipinya, Tini berjalan menghampiri sang bapak yang tengah terbaring lemah di kasur kapuk. Tini duduk di pinggiran kasur, lalu menggenggam telapak tangan sang bapak.
"Bapak gak apa-apa, Tini. Jika kamu gak mau nikah sama Deni." ucap bapak dengan pelan.
"Gak bisa gitu pak, kita ini butuh uang buat bapak berobat." sanggah bu Dini.
"Pokonya, kamu harus dengerin kata ibu." kata bu Dini.
Bu Dini menghampiri Tini yang masih terisak di pinggir kasur dengan tangan setia menggenggam jemari sang bapak.
Tini memang lebih dekat kepada bapaknya, hal sekecil apapun akan ia ceritakan pada bapak. Tapi tidak dengan sang ibu, yang lebih bersikap tegas dan suka mengempos paha Tini jika Tini di nilai tidak menurut.
"Uang mahar yang kita dapat dari keluarga Deni, bisa kita gunakan buat bapak berobat." ujar bu Dini sembari tangan kanannya mengelus-elus punggung Tini. Berharap Tini mau menerima pernikahannya dengan Deni.
"Tini akan kerja bu, biar bapak bisa berobat." kata Tini.
"Kapan terkumpulnya uang itu, Tini? Kamu mau tunggu bapak kamu mati dulu, baru kamu bisa bawa bapak berobat??? iya gitu???" ucap bu Dini dengan berapi-api.
"Jangan paksa Tini lagi, bu.... Biarkan Tini memilih jalan hidupnya, biarkan Tini memilih teman hidupnya. Uhuk uhuk uhuk." kata pak Nadi.
"Tapi pak..."
"Kita hanya perlu mendukungnya, bu. Jangan jadikan sakit bapak ini sebagai alasan untuk ibu memaksanya menikah dengan orang yang gak di cintainya." ujar pak Nadi.
"Orang kalo udah nikah yang dibutuhin bukan cinta pak, tapi butuh uang. Orang makan cinta, mati pak!!! Emang dengan makan cinta bisa kenyang???" ucap bu Dini, yang tidak sejalan dengan pemikiran suaminya.
"Jika memang usia bapak sampai disini, itu sudah suratan takdir, nak. Bukan karena kamu yang gak mau nikah sama Deni." ucap pak Nadi.
"Kalo sampe bapak kamu kenapa napa, itu semua salah kamu Tini." ucap bu Dini, dan pergi meninggalkan Tini dan pak Nadi di kamar.
Tinggal lah Tini dan bapak di kamar.
"Menikah lah dengan orang yang mencintai kamu dengan tulus, Tini. Maka orang itu akan melakukan apapun demi kebahagiaan kamu. Tapi jika kamu menikah dengan laki-laki yang kamu cintai, kamu lah yang lebih banyak berusaha untuk membuatnya bahagia." nasehat bapak.
Akhirnya keputusan besar di buat Tini, ia menyetujui untuk menikah dengan Deni, laki-laki yang tidak ia cintai, karena di hati Tini sudah terpatri nama Joko. Laki-laki yang sangat ia cintai, namun harus ia pendam dan lupakan.
"Aku lakukan ini untuk kesembuhan bapak, biar bapak bisa berobat, biar aku bisa nyenengin bapak. Mungkin ini satu-satunya cara yang bisa ku lakukan untuk orang tua ku." batin Tini.
Tini pun akhirnya menikah dengan Deni. Meski Tini tidak mencintai Deni, dengan sabar dan dengan perhatian yang di berikan Deni kepada Tini akhirnya bisa meluluhkan hati Tini. Meski di awal pernikahan, hati Tini masih belum bisa menerima kenyataan namun sebagai istri, Tini menjalankan perannya dengan baik. Itu semua berkat didikan dari pak Nadi.
"Jika sudah menikah, menurut lah sama suami. Tapi jika suami melakukan kesalahan, kamu sebagai istri wajib mengingatkan. Istri itu ibarat pakaian suami, istri itu ibarat bayangan suami. Jelek nya istri, ya jeleknya suami. Kalian harus saling mendukung, harus saling percaya. Kalo ada masalay sama suami, jangan sampe kamu ninggalin rumah. Itu gak baik buat rumah tangga kalian." ucap pak Nadi pada putrinya yang kini sudah berstatus istri.
"Iya, bapak. Tini akan ingat itu. Dan kelak, jika Tini punya anak. Tini gak mau memaksanya buat nikah, biar dia nanti pilih jodohnya sendiri." kata Tini.
Singkatnya pernikahan Deni dan Tini sudah berjalan selama 5 tahun. Selama itu pula Deni harus mendengar perkataan yang sebenarnya tidak ingin ia dengar, baginya itu menyakitkan. Saat di luar rumah, Deni akan bersikap tegar dan biasa saja. Tapi jika sudah di dalam rumah, di hadapan Tini, Deni menjatuhkan air matanya yang sakit saat mendengar cercaan yang di limpahkan hanya karena Deni dan Tini belum memiliki seorang anak.
"Lu mandul kali, Den. Makanya bini lu gak hamil- hamil."
"Barang lu lapuk, Den."
"Mandul lu."
Hingga akhirnya Tini di nyatakan hamil oleh seorang bidan. Bukan kepayang senengnya hati Deni. Bisa membuktikan jika ia tidak lah mandul atau pun lapuk. Cinta yang Deni miliki untuk Tini bertambah besar dengan kehadiran cabang bayi dalam rahim Tini.
Saat kehamilan Tini 🌹🌹🌹
"Ini aku bawakan jambu air dan pepaya buat kamu, Tini." ucap Deni.
"Ini buah kecapi buat kamu, Tini."
"Aku sengaja pulang di siang bolong gini, dan berjalan kaki dari tempat kerja hanya ingin kamu makan ini. Tadi ibu bos memberikan ini untuk makan siang ku. Aku rasa kamu dan calon anak kita lebih butuh ini." ucap Deni pada Tini, dengan membawa sepotong ayam goreng.
***
Flashback off
Berbeda dengan sang ibu yang awalnya menikah karena perjodohan namun membuahkan hasil cinta di akhir.
Miranti menikah dengan laki-laki yang sudah ia pacari selama 3 tahun yaitu Wisnu. Usia Miranti dan Wisnu hanya selisih 1 tahun. Dari awal pacaran, Wisnu memang sudah posesif terhadap Miranti, Wisnu tipe orang yang sangat pencemburu tapi Wisnu tidak pernah bersikap kasar pada Miranti.
Hingga akhirnya Miranti dan Wisnu menikah saat usia Miranti 20 tahun, dan Wisnu 19 tahun. Berbeda dengan sang ibu yang harus menunggu 5 tahun lamanya untuk kedatangan buah hati dalam rumah tangga, Wisnu dan Miranti dalam setahun pernikahan sudah mendapatkan momongan.
Rumah tangga Miranti dan Wisnu tidak berjalan mulus layaknya jalan tol, melainkan jalan kerikil dan berbatu harus ia lewati. Di tambah dengan Wisnu yang jika sedang cemburu buta, tidak segan untuk mengabaikan keberadaan Miranti.
Meski tinggal satu atap dengan Miranti, dan sudah lama mengenal Miranti, terkadang hati Wisnu di tutupi rasa cemburu dan tidak melihat ketulusan hati Miranti.
Miranti rela bekerja sambil membawa serta buah hatinya yang belum bisa apa-apa kecuali menangis, karena usia bayinya baru berusia 4 bulan, saat itu Wisnu baru saja di PHK dan untuk menyambung hidup, Miranti bekerja di toko baju dengan membawa serta si ganteng buah hatinya dengan Wisnu, karena tidak mungkin jika bayi mungil itu di tinggal sedangkan ia masih perlu asi, dan untuk susu formula, tidak ada uang untuk membelinya, maka jalan satu-satunya adalah membawa serta si ganteng baby Reno ke toko tempat Miranti bekerja dan untungnya Miranti mendapatkan bos yang baik dan mengizinkan Miranti untuk membawa baby Reno ke toko.
Selama Wisnu belum mendapatkan pekerjaan, Wisnu lah yang mengantarkan dan menjemput Miranti dan baby Reno di toko.
Di saat lelah Miranti memandang dan mengecup pipi tembem Reno. Lelah terbayarkan saat melihat baby Reno tertawa senang. Lelah yang tiada akhir jika datang di mana saat baby Reno sakit, baby Reno menangis, di tambah lagi Wisnu yang bersikap abai dan cuek serta tidak percaya pada setiap perkataan Miranti.
"Aku lelah." batin Miranti.