"Hana ... Mulai besok kamu pindah ke desa," ucap ayah Hana.
"Desa? Ayah dipindahkan ke desa?" Hana hanya berpikir kalau orang tuanya akan dinas di desa.
"Ayah dan ibu tetap di sini. Cuma kamu yang pindah."
"Kenapa, Yah?" Hana tidak mengerti.
Ayah Hana menjelaskan semuanya ke Hana kalau ia dan temannya pernah berjanji akan menjodohkan anak mereka.
"Tapi ini jaman modern, Yah. Bukan jaman Siti Nurbaya."
"Nggak ada tapi tapi. Kemasi barangmu sekarang."
"Ibu ..." Hana meminta ibunya membujuk ayahnya.
Tapi ibu Hana tidak bisa berbuat apa-apa.
Hana menangis karena ia harus berpisah dengan teman-temannya di kota.
Keesokan harinya Hana berangkat menuju ke desa. Di stasiun ia bertemu seorang lelaki yang seumuran dengannya memegang kertas karton bertuliskan "Hana".
Hana menuju ke arah pria itu.
Sepanjang perjalanan Hana sesekali melihat pria itu.
Apa ia calon suamiku?
Wajahnya lumayan tampan.
"Aku Tae Hyung. Kim Tae Hyung. Kau bisa memanggilku Tae Tae."
"Aku Park Hana. Kau bisa memanggilku Hana."
Sesampainya di rumah Tae Tae ...
Tae Tae menaruh koper Hana di kamar yang sudah disiapkan untuk Hana. Tae Tae lalu memberi Hana celana kerja dan topi.
Ini untuk dipakai?
Sekarang?
Hana mengganti pakaiannya dengan pakaian kerja. Ia mengikuti Tae Tae.
Di rumah kaca berisi pohon strawberry ...
"Omo ... Anak appa yeppo. Semua yeppo." Tae Tae berbicara dengan tanaman strawberry.
Hana bingung~ Tanaman, kan nggak punya telinga. Apa bisa denger? Dasar orang aneh.
Tae Tae lalu mengajari Hana cara memetik strawberry yang benar.
Seharian itu sampai sore Hana memetik strawberry.
Pulangnya Hana bertemu ibu Tae Tae.
"Imo ..." Hana menyapa ibu Tae Tae.
"Ayo makan. Kau pasti lapar. Tae Tae juga dasar. Orang baru datang sudah disuruh kerja."
Hana memakan masakan ibu Tae Tae "Enak, Imo. Rasanya luar biasa."
Saat Hana selesai membersihkan diri, ia masuk ke kamarnya. Ia terkejut melihat Tae Tae di sana.
"Ini kamarku, kan?" Hana mengira ia salah masuk kamar.
"Ini kamarku juga," ucap Tae Tae.
"Kita tidur satu kamar!?"
Tae Tae menganggukkan kepalanya.
Saat orang tua Hana menelpon Hana "Ayah ... Tae Tae itu laki-laki. Kalau Hana satu kamar dengan Tae Tae nanti Hana ..."
"Malah lebih bagus. Ayah jadi cepat punya cucu."
"Ayah ..."
Ayah Hana lalu memutus panggilan teleponnya.
Hana terpaksa tidur satu kamar dengan Tae Tae.
Kenapa kasurnya cuma satu?
Semalaman itu Tae Tae memeluk Hana. Sudah kebiasaan Tae Tae harus memeluk sesuatu saat tidur. Hana jadi tidak bisa tidur. Ia takut kalau Tae Tae ...
Keesokkan harinya Hana dan Tae Tae pergi ke sekolah. Semua murid heboh melihat Tae Tae membonceng seorang perempuan.
"Hana ... Apa kau calon istri Tae Tae?"
"Kok tahu?"
"Tae Tae selalu menolak jika ada yang menyatakan cinta kepadanya. Katanya ia sudah punya calon istri."
Begitulah setiap hari Hana dan Tae Tae pergi sekolah bersama dan tidur bersama. Hanya tidur, ya. Bukan yang lain.
Sampai akhirnya setelah kelulusan Hana dan Tae Tae menikah.
Tae Tae tak pernah menyentuh Hana. Ia menunggu sampai Hana siap.
"Tae ... Kenapa kau mau menikah denganku? Jika kita sama-sama menolaknya mungkin orang tua kita akan mengerti."
"Aku sudah menyukaimu sejak dulu."
"Tapi kita tak pernah bertemu sebelumnya."
Tae Tae mengeluarkan satu kotak dari lemarinya dan membukanya. Di dalamnya berisi foto-foto Hana dari bayi sampai besar.
"Ayahku bilang kalau anak perempuan di foto ini calon istriku. Jadi aku tumbuh besar, belajar banyak hal agar aku layak untuk menjadi suamimu."
"Tae ..."
"Hana ... Apa aku boleh menciummu?"
Hana menganggukkan kepalanya.
Tae Tae mendekat ke arah Hana dan menciumnya.
Ciuman pertama mereka dan bukan yang terakhir tentunya.