Hana dan Joshua memasuki rumah mereka setelah pulang dari bulan madu.
Aku udah nikah sekarang aku pasti dilayani istri. ~ pikir Joshua.
Tapi saat Joshua pulang dari tempat kerja.
Kenapa masih banyak piring kotor di tempat cuci piring?
Kenapa pakaian kotor masih menumpuk?
"Hana ... Ini kenapa?" Joshua menunjuk tempat cuci piring dan tempat baju kotor.
Hana bingung karena tidak paham arah pembicaraan Joshua.
"Kau masih nggak ngerti?"
"Aku nggak ngerti."
"Kau itu harusnya cuci piring, cuci baju, bersih-bersih rumah. Itu kan tugas seorang istri."
"Tapi aku juga bekerja. Aku capek. Aku baru aja pulang. Apa kau bisa membantuku?"
"Tugas rumah itu tugas istri."
"Tapi suami temanku mau aja tuh bantu kerjaan rumah."
"Jadi, sekarang kamu bandingin aku dengan suami temanmu?" Joshua mulai naik darah.
"Aku nggak bandingin. Tapi ..."
"Sudahlah. Percuma bicara sama kamu. Istri nggak becus ngatur rumah." Joshua masuk ke dalam kamar sambil menutup pintu dengan keras.
Hana kaget mendengar suara bantingan pintu.
Apa aku harus berhenti kerja?
Tapi bukannya tugas rumah adalah tugas kami berdua.
Apa ia tidak mau mengerti kalau aku juga capek setelah seharian bekerja?
Aku iri sama temanku.
Suaminya tak pernah malu kerjain tugas rumah tangga.
Katanya suaminya yang masak, lipat baju, nyapu.
Hana mulai mencuci baju, mencuci piring, menjemur pakaian dan juga bersih-bersih.
Setiap pulang kerja Hana terus bekerja di rumah. Sampai akhirnya ia jatuh sakit.
Joshua jadi kawatir.
Dokter bilang kalau Hana kecapaian.
Aku sudah salah menyuruhnya melakukan pekerjaan rumah.
Padahal Hana juga bekerja.
Sesampainya di rumah ...
Hana mulai mengambil sapu.
"Jangan ... Biar aku aja. Kau istirahat aja." Joshua mengambil sapu dari tangan Hana.
Hana mulai berjalan ke tempat cuci piring untuk mencuci piring.
Joshua mencegahnya "Jangan ... Biar aku aja."
Hana menyentuh dahi Joshua. Ia pikir Joshua juga sakit karena perubahan sikapnya.
Hana akhirnya menuju kamar untuk beristirahat. Joshua ikut berebah di samping Hana saat ia sudah selesai mengerjakan pekerjaan rumah.
"Maafkan aku ... Mulai sekarang aku akan membantumu melakukan pekerjaan rumah."