Seorang gadis cantik berusia 16 tahun sedang sangat bahagia, karena dia akan berlibur ke rumah neneknya yang berada di desa.
Sambil membereskan semua barang-barangnya dia bersenandung.
"Sasa, jangan lupa untuk mengabari nenekmu dulu setelah kamu sampai di stasiun!" ucap sang ibu yang sudah entah keberapa kalinya mengingatkan Sasa untuk melakukan hal itu.
Mau bagaimana lagi sang Ibu pun sebenarnya Tak tega melepas putrinya itu pergi sendirian ke rumah neneknya yang terakhir kali mereka kunjungi 3 tahun yang lalu.
"Kamu yakin akan pergi sendirian ke rumah nenek?" tanya sang ibu yang duduk di sebelah Sasa yang sedang membereskan pakaian dan segala peralatan yang ke dalam sebuah koper.
"Iya Bu, sangat yakin. Setelah sampai di stasiun bukankah aku hanya harus menghubungi nenek untuk menjemputku, oh bukan nenek tapi Paman Rio benarkan?" tanya Sasa yang masih saja sangat bersemangat.
Sebenarnya mereka memang sudah akan merencanakan liburan ke rumah neneknya Sasa. Tapi mendadak sang ayah harus berdinas ke luar kota dan Ibu Sasha juga harus ikut karena ada pertemuan gathering juga disana.
Rasa cemas tak bisa hilang dari hati ibu Selasa yang bernama Ningrum.
"Bagaimana kalau liburanmu ditunda saja sampai tugas dinas ayah selesai?" tanya Ningrum sekali lagi Yang benar-benar merasa cemas untuk melepaskan anaknya pergi sendirian walaupun itu ke rumah ibunya sendiri.
Masalahnya daerah yang ditinggali nenek Sasa menek Anti adalah tempat yang sangat terpencil. Mau bagaimana lagi, sebenarnya Ningrum sudah beberapa kali meminta ibunya anti untuk tinggal bersamanya tapi beliau selalu menolak dengan alasan tidak ingin meninggalkan rumah kediaman peninggalan sang kakek.
Sang ayah pun masuk ke dalam kamar bahasa dan meyakinkan Ningrum agar tidak mencemarkan anaknya itu bagaimanapun juga Sasa sekarang sudah besar, itulah yang membuat ayah Sasa Dahlan tega melepaskan pergi sendirian.
Keesokan harinya, Sasa berangkat ke stasiun bersama dengan Ayah dan Ibunya. Sasa begitu sangat bersemangat. Dia menaiki kereta yang akan menuju ke desa nenek nya.
Beberapa jam perjalanan tidak Sasa rasakan karena dia hanya sibuk mendengarkan lagu lewat earphone yang sudah menempel di telinganya sejak berangkat dari stasiun.
Sampai di stasiun pemberhentian, Sasa turun dari kereta api dengan membawa koper nya yang memang tidak terlalu besar.
Sasa meraih ponselnya dan sialnya baterainya habis. Dia lalu meminta pertolongan kepada salah satu pemilik warung yang ada di stasiun untuk mencharger HP nya.
Si pemilik warung yang baik hati pun memberikan pertolongan kepada Sasa. Sudah petang dan ponselnya baru bisa di hidupkan.
Sasa segera menghubungi Paman Rio, pamannya yang sudah berjanji akan menjemputnya. Dan setelah menghubungi pamannya, pamanya berkata akan datang sekitar satu jam lagi karena rumah nenek dari stasiun cukup jauh.
Sasa pun memutuskan untuk menunggu di salah satu kursi panjang di dekat toko yang sudah akan tutup.
Beberapa orang melihat Sasa dengan tatapan bertanya-tanya. Sasa bingung kenapa mereka melihat Sasa begitu.
Sasa kembali memasang earphone di telinganya dan menyalakan musik tapi anehnya musiknya tidak terdengar, malah dia mendengar sebuah suara seperti suara isakan tangis seseorang.
Sasa melihat ke sekeliling nya tapi tidak menemukan siapapun, dan ketika dia melepas earphone dari telinganya suara itu semakin kencang. Sasa refleks berdiri dan mengeratkan jaketnya.
Sasa memilih untuk menjauhi suara itu tapi semakin dijauhi suaranya semakin dekat, suara tangis yang sangat memilukan hati. Sasa sampai meneteskan air mata sambil berlari karena ketakutan.
"Sasa!" panggil Paman Rio dari kejauhan.
Sasa menoleh lalu segera menghampiri pamannya itu, dan segera mengajaknya pergi dari stasiun.
Sampai di rumah nenek, sang nenek baru menceritakan agar Lain kali saja tidak sampai malam berada di stasiun karena di saat malam pasti akan terdengar suara tangisan sang ratu penunggu stasiun itu.