Kondisi Red yang semakin gawat membuat George tak mampu menahan rasa khawatirnya. Bukan karena takut ditinggal semata, namun ada tugas yang belum selesai ia tunaikan ke sahabatnya itu.
Red yang dulu dijuluki KERBAU BERBAHAYA karena keperkasaannya dalam menaklukkan dunia hitam sehingga memiliki nama yang disegani hingga saat ini. Sekarang sang KERBAU BERBAHAYA tersebut terbaring lemah tak berdaya di atas tempat tidur.
"Kamu...kamu masih...disini?." Red melirik ke arah George yang duduk disamping tempat tidurnya.
"Apa kamu menginginkan aku pergi?." George hanya bertanya balik.
Denga perlahan Red menggelengkan kepalanya, matanya yang semakin sayu hanya menatap langit-langit kamar rumah sakit.
"Kerbau berbahaya sekarang...tak lagi punya bahaya." Kata Red dengan mata berkaca-kaca.
"Sudahlah jangan dipikirkan, semua orang pasti akan ada masa jayanya." George memandang sahabatnya itu dengan iba. Dalam setahun terakhir kondisi sahabatnya ini semakin jauh dari kata sehat.
"Jika aku pergi...tolong kuburkan aku di tempat yang sepi." Pinta Red.
George sedikit mengernyitkan kening mendengar permintaan tersebut, ia berusaha memahami apa maksud dari permintaan sahabatnya itu. Tempat yang sepi? Bukankah semua pemakaman adalah tempat yang sepi?.
"Kamu istirahat saja, jangan berpikir macam-macam." George berusaha menenangkan Red. Ia hanya mengusap-usap lengan Red dengan lembut.
Pukul satu dinihari.
George dikejutkan oleh panggilan dari salah satu perawat rumah sakit yang ia amanahkan untuk mengawasi kondisi Red jika ia tak berada di rumah sakit.
"Ada apa?." Tanya George setelah mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Mohon maaf Tuan George, saya mau menginfokan kalau Tuan Red meninggal."
"Hah?." George tak mampu melanjutkan perkataannya, berita ini sungguh membuatnya sejenak kehilangan konsentrasi.
"Baru saja saya mau mengecek kondisi beliau, namun saat saya periksa Tuan Red sudah dalam keadaan meninggal dunia."
"Baiklah...saya segera kesana!." George kemudian memutuskan panggilan telepon tersebut lalu segera bersiap-siap menuju ke rumah sakit untuk mengurus jenazah Red.
Pukul sebelas siang.
Kini George berdiri sendirian di samping gundukan kuburan, dimana Red dimakamkan. George menafsirkan pesan terakhir Red dengan memakamkannya di sebuah bukit kecil di ujung batas kota. Bukit yang dibeli Red beberapa tahun lalu untuk dijadikan kawasan peternakan, namun rencana itu tak pernah terwujud hingga Red meninggal. George menganggap bukit kecil ini cukup sepi karena jauh dari hiruk pikuk kota sehingga bisa memenuhi permintaan terakhir Red.
Saat ini tinggal satu tugas dari Red yang harus ia tunaikan dan menurut George tugas itu sangat berat. Namun bagaimanapun tugas itu harus ia tunaikan.
Pukul delapan belas malam.
George berdiri sejenak di depan sebuah rumah. Kedua tangannya memegang dua buah tas besar berisi uang ratusan juta hasil dari penjualan semua aset pribadi Red.
"Semoga kamu bisa tenang sekarang, Red."
Uang tersebut akan ia serahkan ke seorang wanita tua yang tinggal sendirian di rumah tersebut. Wanita yang pernah punya hubungan istimewa denga George, sekaligus mantan istri Red.