Bukk…
Suatu benda terjatuh dari meja belajarku. Sebuah buku yang tidak terlalu tebal namun mampu menghasilkan suara yang sedikit keras hingga membuat kedua mataku terbuka. Sedikit usapan tertuju pada kedua mataku untuk memperjelas penglihatanku yang sedikit buram akibat tidur yang kurasa begitu singkat. Kutelusuri setiap sudut ruangan berukuran sedang ini, ada cahaya terang di balik tirai jendela. Betul saja, saat kulihat jam di dinding ruangan ini ternyata jarumnya sudah menunjuk di angka 9.
Dengan tubuh sedikit gontai, aku berjalan menuju ruang tengah. Tak seorang pun kudapati di ruangan ini. Tidak ada niat sedikit pun memanggil nama mereka untuk mengetahui di mana keberadaannya. Lantas aku berjalan menuju dapur, kering rasanya kerongkonganku ini. Kudapati bibi sedang mencuci tumpukan piring di wastafel.
“Bi, kok rumah sepi banget, pada ke mana?” Tanyaku dengan suara khas orang baru bangkit dari tidurnya
“Tadi sih mas Pandu lagi nganterin ibu ke pasar, kalau bapak kayaknya lagi nyari tukang servis kulkas mba Renia” Jelas bi Ceslyn
Aku hanya mengangguk sambil meneguk segelas air putih.
Tiba-tiba terdengar suara bel rumah, aku bergegas menuju pintu utama untuk mengetahui siapa gerangan yang hendak berkunjung ke rumahku ini. Sesampainya di pintu utama, tak lantas aku membuka pintu. Aku sedikit mengintip dari tirai jendela, dan aku merasa sedikit aneh dengan orang yang sekarang berada di balik pintu rumahku ini. Dengan ragu, kubuka pintu di hadapanku ini.
“Hai Reina, jadi gak kita mainnya?” Tanya orang yang sekarang bertatapan langsung denganku ini.
“Hah, main?” Jawabku kebingungan.
“Iya Rei, parah ih gua udah jauh-jauh ke sini malah gitu jawabannya” Jawabnya sedikit kesal.
“Duh, eh, gini maaf dong. Gua lupa kalo ada janji sama lu Ta” Jawabku sekenanya.
“Oh gitu, yaudah ayu. gua mau nunjukin sesuatu sama lu”
“Oh iya deh, masuk dulu gua mau siap-siap”
Kupersilakan orang yang tak asing bagiku ini untuk duduk di ruang tamu sambil menungguku untuk bersiap-siap. Sambil menuju kamar mandi, aku meminta bi Parmi untuk membuatkan minum sebagai teman menunggu untuk tamuku itu. Aku bergegas mandi dan mempersiapkan diri untuk mengikuti kemana gerangan tamuku itu hendak mengajakku pergi. Ada rasa bingung yang menyelimuti diriku yang aku tak tahu apa itu, wajah itu tak asing bagiku, suaranya pun begitu. Ah sudahlah.
“Eh udah rapi. Ayo let’s go!” Dengan senyum sumringah ia menyambutku.
“Oke let’s go!” Sedikit kupaksakan wajahku untuk memberi kesan semangat.
Langkah kakiku terasa berat, ada keraguan besar yang menyelimutiku. Aku tak tahu ke mana ia mengajakku pergi. Berbeda denganku, ia begitu semangat berjalan di depanku, seperti baru kali pertama ia berada di tempat seperti ini. Padahal yang aku tahu ia lumayan sering berkunjung ke rumahku. Namun sudah hampir sebulan ini memang sedikit jarang, karena yang aku tahu ia sudah pindah tempat tinggal. Sedikit aneh, karena bagiku kabar yang seharusnya aku ketahui belum pernah diceritakan langsung oleh orang yang bersangkutan.
“Eh tunggu, ini kita ada di mana lia?” Tanyaku keheranan.
“Udah tenang aja, pokoknya lo gak bakal nyesel kok Rei” Jawabnya dengan santai.
“Eh tapi gue gak pernah ke tempat ini. Kayak taman-taman gini ya”
“Iya, udah yuk duduk di sana”
Kami pun duduk di salah satu bangku yang telah disediakan di taman yang tak pernah kuketahui ini. Aku masih tak mengerti apa maksud semua ini, seperti mimpi tapi aku merasa detak jantungku masih teraba di urat nadiku.
“Lo ini Pricillia kan?”
“Iya Reina. Kenapa? Ngerasa aneh?”
“Ya, iya udah lama gue gak ketemu lo, sekitar sebulanan lah, eh tiba-tiba lo ada di sini. Gue udah coba ke rumah lo, tapi kosong. Tetangga bilang lo lagi ke Bali, apa lo pindah rumah?”
“Haha gak Rei, iya gue ke Bali. Tapi gak mungkin balik lagi ke rumah itu”
“Loh, kenapa? Lu pindah gak bilang-bilang, ortu lu juga gak ngasih kabar”
“Hehe sorry, gue gak pindah kok cuma….”
Braaakkkk…
Aku sangat terkejut. Disaat obrolan kami berlangsung, sebuah mobil sedan mengalami kecelakaan tepat di jalan besar yang berada di depan kami. Segera aku menghampiri mobil tersebut tanpa mengajak Pricillia yang tengah duduk di kursi taman itu. Aku berusaha berteriak meminta pertolongan, namun sepertinya hanya ada aku, Pricillia, dan orang-orang yang berada di mobil yang tengah mengalami kecelakaan ini. Karena tidak ada satu orang pun yang menghampiriku, akhirnya aku memutuskan untuk melihat siapa yang berada di dalam mobil naas itu..
Betapa terkejutnya aku saat melihat kenyataan bahwa penumpang yang berada di dalam mobil tersebut adalah Pricillia dan kedua orangtuanya. Seketika aku berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Aku baru sadar bahwa tadi aku sedang duduk bersama Pricillia, dengan sisa keberanian yang aku punya, aku menoleh ke arah kursi taman tadi. Aku tak menemui siapa pun yang sedang duduk di sana, aku justru melihat sekumpulan orang sedang lalu lalang di taman yang tidak kuketahui ini. Aku merasa aneh dan terasingkan. Saat kulihat kembali ke arah dimana mobil tadi mengalami kecelakaan, tidak ada satu pun yang kutemukan. Hanya jalan aspal yang sedang dilalui beberapa orang pejalan kaki.
Peluhku mulai menetes, jantungku berdegup kencang. Aku bingung, di mana sebenarnya aku? Mataku terus mengitari ke seluruh arah di tempat ini, berharap ada seseorang yang kukenal agar bisa menunjukiku jalan pulang.
Bukk…
Suatu benda terjatuh dari meja belajarku.
Sebuah buku yang tidak terlalu tebal tetapi cukup menghasilkan suara yang sedikit keras hingga mampu membuat kedua mataku terbuka. Sedikit usapan tertuju pada kedua mataku untuk memperjelas penglihatanku yang sedikit buram akibat tidur yang kurasa begitu panjang dan membingungkan. Kutelusuri setiap sudut ruangan berukuran sedang ini, apa aku sudah kembali ke rumah?. Aku menyeka peluh yang masih menetes di dahiku, jantungku masih berdegup, aku masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
“Mba Reina… (tok tok tok), mba ada surat dari pos…”
Teriak bi Celyn dari balik pintu kamarku. Dengan sedikit gugup aku berdiri, mencoba bersikap seperti orang layaknya baru bangun tidur.
“Iya bi, sebentar”
“Ada surat dari pos mba. Tukang antar suratnya minta maaf, soalnya pengirimannya lama. Ada yang bermasalah, hambatan-hambatan gitu” Jelas bi Celyn sambil memberikan surat tersebut kepadaku.
“Iya bi, makasih” Ucapku dengan nada dibuat-buat.
“Mba Resti belum mandi to? Sudah jam 9 lho mba ” Tanya bi Celyn.
“Eh iya nih bi, ini baru mau hehe” Jawabku dengan sedikit kebingungan.
Kembali aku dibuat bingung oleh keadaan, aku rasa perjalanan anehku tadi bisa memakan waktu 1-2 jam. Tapi kenyataannya, saat kulihat jam yang menggantung di dinding kamarku masih menunjukkan pukul 9, sama persis seperti saat aku terbangun dalam mimpi di balik mimpiku. Aku coba memastikan dengan bertanya satu hal kepada bi Celyn.
“Eh iya bi, ibu, bapak sama mas Ken ke mana?” Tanyaku dengan nada berharap suatu jawaban.
“Oh itu tadi mas Ken nganterin ibu ke pasar. Nah kalau bapak kayaknya lagi nyari tukang servis kulkas mba” Jawab bi Celyn yang membuat ekspresi wajahku sedikit terkejut. “Lha kenapa to mba?” Tanya bi Celyn.
“Eh gak papa bi, ya udah deh bibi lanjutin aja kegiatannya”
“Iya mba, ini bibi juga lagi nyuci piring. Permisi dulu ya”
Dan ini dia, semuanya sama. Kembali aku bertanya, apakah semua ini nyata?. Kubuka surat yang bi Celyn berikan, tertulis…
Untuk Reinaku sayang
Hai Reina, apa kabar? Kangen gak sama gue? Langsung aja nih ya, gue mau cerita. Gue lagi bete banget nih, HP gue ilang. Semua kontak temen-temen, dosen, kakak kelas, gebetan (hahaha), termasuk kontak lu juga ilang bareng sama HPnya. Jadi sorry nih gak bisa ngabarin atau bales chat/pesan dari lu(ya itu juga kalau lu ngirim haha). So, gue ngirim surat ini via pos, habis di sini masih jadul banget, harus pake pos itu pun jaraknya jauh.
Oh iya sekarang gue lagi di Bali, sorry ya ga ngabarin (lagi) haha. Gue libur dadakan banget, bareng ortu juga sih, mungkin beberapa hari lagi gue balik ke rumah. Oh iya kemarin tuh gue liat ada taman kota bagus banget, gue pengen ngajak lu ke sana. Pokoknya kalau gue udah balik lagi gue bakal ngajak lu main ke sana, biar pasti gue kasih tau tanggalnya deh, tanggal 30 ya. Eh tapi itu pun kalau kita sama-sama bisa, maksudnya biar lu yakin kalau gue pasti ngajak lu ke sana.
Oke deh, udah dulu ya, nulis-nulis gini bikin tangan gue pegel. Lu gak perlu bales ini surat, yang penting lu udah baca, dan kalau gue ajak ke tempat itu lu harus mau. Oke sayang byee
Pricillia
Sejenak aku terdiam, kulihat kalender di handphoneku. Tertanggal, 31 Desember 2019.
THE END