Kukku...Kukku... kukku....kukku...
Seorang gadis kecil berlari ke pelukan ibunya ketika mendengar suara burung hantu yang bertengger di atas pohon di samping rumahnya.
"Ibu, ibu aku takut... kenapa setiap malam burung itu bersuara seram begitu?" tanya si gadis kecil yang masih berusia lima tahun itu sambil memeluk erat ibunya.
Sang ibu lalu tersenyum dan mengusap kepala gadis itu.
"Terdengar seram ya? padahal si putih itu sedang bersenandung lho!" ucap si ibu.
"Namanya si putih?" tanya gadis kecil itu mendongakkan kepalanya ke atas melihat wajah sang ibu.
Sang ibu lalu mengangguk sekali dan tersenyum.
"Siapa yang memberinya nama Bu?" tanya gadis kecil itu lagi.
Si ibu berdiri sambil menggendong putrinya, dan berjalan mendekati jendela. Si ibu perlahan membuka jendela dan menunjuk ke arah seekor burung hantu yang terlihat sedang memandang ke arah bulan.
"Lihat, warna bulunya putih. Jadi ibu memanggilnya si putih!" jawab si ibu.
"Kenapa setiap malam dia selalu bersenandung di atas pohon itu Bu?" tanya Si gadis kecil lagi.
"Dia sedang menunggu seekor burung hantu yang sangat dia cintai!" jelas si ibu.
Sang anak tidak mengerti, dia malah memiringkan kepalanya merasa bingung dengan jawaban ibunya.
"Tidak mengerti ya?" tanya si ibu.
Si anak menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Baiklah, tidak usah dipikirkan sekarang, nanti saat kamu dewasa kamu akan mengerti dengan sendirinya. Yang jelas si putih sedang bersenandung untuk menghibur hatinya. Seperti kita yang bersenandung untuk menghibur hati kita!" ucap si ibu lalu menidurkan anaknya di ranjang.
Si ibu pun bersenandung, sahut menyahut dengan suara burung hantu yang di namai si putih olehnya.
Setelah anaknya tidur, si ibu pergi ke jendela dan berniat menutupnya. Sebelum menutup jendela si Ibu mendongakkan kepalanya melihat ke arah si putih.
"Dia belum datang ya! kamu sungguh setia sekali menunggunya!" seru si ibu lalu menutup jendela.
Sementara si butung hantu berwarna putih itu masih terus memandang ke arah bulan, ke arah dimana belahan jiwanya biasanya datang menemuinya.
Satu bulan yang lalu di atas sana biasanya ada dua ekor burung yang bertemu setiap malam dan bersenandung bersama.
Selepas bersenandung dan saling mencurahkan kasih sayang, kedua burung itu akan berpisah kala pagi menjelang. Dan akan bertemu lagi di waktu malam datang.
Namun sudah beberapa hari ini si Burung hantu coklat tidak datang, alih-alih berpaling dan mencari pasangan bersenandung baru. Si putih memilih untuk tetap setia dan selalu datang ke atas pohon Pinus yang menjadi tempat pertemuannya pertama kali dengan si burung hantu coklat.
Si putih tetap berharap si burung hantu coklat bisa mendengar panggilannya, senandungnya untuk belahan jiwanya itu.
Kukku...kukku... kukku...kukku...
Tanpa lelah si putih selalu bersenandung dan menghabiskan malam sendirian diatas pohon pinus, terkadang ada burung lain yang mendekat. Tapi seolah tidak sudi berbagi peraduan dengan burung lain, si putih tak segan mengepakkan sayap dengan kuat sebagai cara untuk mengusir burung lain itu pergi.
Si putih hanya akan membagi peraduan bersama si burung hantu coklat yang sampai sekarang bahkan tidak kunjung datang.
Mata si putih terkadang terlihat seperti sedang berkaca-kaca karena rasa rindu yang begitu besar dalam hatinya.