Sarah mematung di tempat melihat pemandangan yang berada tepat di depan kedua mata kepalanya sendiri. Bola matanya membulat sempurna dengan bibir ranum terbuka lebar. Dengan cepat wanita berparas ayu itu pun mendekap bibirnya menggunakan kedua telapak tangannya sendiri.
Hujan tengah menguyur kota malam itu. Guntur saling bersahutan menambah kesan mendebarkan. Sarah yang kali itu baru saja pulang dari tempatnya bekerja dikejutkan dengan siluet seseorang. Ia terdiam bak bongkahan es. Gedung rumah sakit tempatnya bekerja sudah sepi. Orang-orang terlelap dalam buaian tidurnya.
Sarah, seorang wanita berusia 24 tahun berprofesi sebagai seorang suster tidak menyangka apa yang dilihatnya ini. Ia seperti tengah berada dalam dunia lain. Seseorang yang paling dikenalnya melakukan hal tidak pantas.
Kejadian itu berlangsung cukup lama. Hingga tidak lama berselang seseorang yang tengah berada tidak jauh dari keberadan Sarah mengakhiri kegiatannya. Seorang pria berperawakan tinggi, tegap, menghempaskan korbannya. Ia yang tengah mengusap darah disekitar bibirnya menoleh ke arah Sarah. Tatapan mereka bertemu, wanita itu menegang seketika.
"Sa......sarah." Cicitnya parau.
"A.....apa yang kamu lakukan, Dimas? Ke...kenapa kamu menghisap darah dari lelaki itu?" Gugup Sarah tidak menyangka jika orang yang dilihatnya sedari tadi adalah tunangannya, Dimas.
Sudah hampir dua tahun mereka menjalani hubungan. Dan baru beberapa bulan lalu keduanya memutuskan untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
"A....aku tidak melakukan apa-apa. Apa yang kamu bicarakan?" Tanya balik Dimas.
"Hah? Apa kamu sedang bercanda? Lalu apa yang kamu lakukan dengan dia?" Tunjuk Sarah pada seorang pria yang tergeletak di samping kanan Dimas.
Pria itu pun menunduk melihat ada orang lain di sampingnya. Seketika bau amis, dan anyir terasa kental ia rasakan. Dimas merasa mual seolah perutnya diaduk-aduk. Beberapa kali ia mencoba untuk memuntahkan kembali apa yang tersangkut dalam tenggorokannya, tapi tidak ada apapun.
"Dimas, kamu baik-baik saja?" Tanya Sarah khawatir seraya mendekati sang kekasih.
Dengan wajah ketakutan Dimas menoleh menatap kembali manik wanita paling dicintainya. Tanpa bsia dicegah air mata mengalir begitu saja. Sarah tersentak melihat betapa rapuh dan terpukul kekasihnya ini.
"Lebih baik kita bawa pria ini masuk ke dalam. Dan setelah itu ceritakan semuanya padaku." Dimas mengangguk setuju lalu segera membawa pria tidak bersalah itu masuk ke dalam gedung.
Setelah mengobati leher sang korban, Sarah pun bergegas mendekati Dimas yang berada dalam ruangannya. Pria itu sedari tadi terus menunduk menyembunyikan wajah berairnya. Ada perasaan sakit melihat sang terkasih seperti itu. Sarah mengerti ada sesuatu yang tengah terjadi padanya.
Dengan hati-hati ia duduk di sampingnya lalu menggenggam hangat tangan pria itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanyanya pelan.
Dimas tidak langsung menjawab dan masih enggan untuk melihat Sarah. Ia terus menunduk menangisi apa yang sudah terjadi pada dirinya.
"Aku aneh. Aku bukan Dimas yang dulu lagi. Lebih baik kita akhiri hubungan ini. Karena aku takut menyerangmu." Itu ucapan Dimas setelah sekitan lama bungkam. Sarah terperangah tidak percaya.
Ia pun semakin mengeratkan genggamannya. Ia berusaha menyakinkan prianya untuk mempercayainya. "Aku kekasihmu dan sebentar lagi kita akan menikah. Apa maksudmu berbicara seperti itu? Aku tidak bisa menerimanya. Aku tidak akan pernah berpisah denganmu."
"Tapi Sarah aku aneh."
"Apanya yang aneh? Apa yang aneh darimu, Dimas? Apa karena tadi yang ku lihat? Kamu tiba-tiba saja menghisap darah seseorang seperti vampire?"
Dimas tidak menjawab. Mulutnya kembali bungkam seperti dilem rapat tidak bisa mengatakan sepatah kata pun. Lidahnya kelu dan tenggorokannya terasa terbakar. Hanya lelehan air mata yang bisa menggambarkan keadaannya sekarang.
"Apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Karena kamu tahu, aku sangat mencintaimu. Dari dulu, sekarang dan hingga nanti, aku akan selalu bersamamu." Kata-kata manis nan lembut yang keluar dari mulut ranum Sarah membuat Dimas terkejut.
Ia tidak menyangka bisa mendapatkan wanita sebaik Sarah.
"Sejak setahun yang lalu aku mengalami hal ini. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Seolah-olah ada dua jiwa yang menempati ragaku. Aku sering terbangun dengan seseorang tergeletak tidak sadarkan diri di sampingku. Dan juga selalu ada bau anyir dan amis setelahnya. Aku sadar jika kemungkinan, aku sudah menghisap darah korban tanpa sadar." Dimas terlihat putus asa. Ia melepaskan tangan yang berada dalam genggaman sang kekasih. Ia mengusap wajahnya gusar dan terus menangis hingga bahu tegapnya bergetar.
Sarah tidak kuasa membendung kesedihan. Ia tidak menyangka tunangannya ini mengalami hal sulit. Kedua tangan lentik itu terulur lalu mendarat nyaman di pipi hangat Dimas. Ibu jarinya mengusap lembut jejak air mata yang teringgal di sana.
"Aku tidak peduli, dalam ragamu ada jiwa lain. Aku akan tetap mencintai Dimas seorang. Siapapun kamu, aku akan menjadikan Dimas milikku seutuhnya. Tidak peduli apa yang terjadi, karena aku sangat mencintaimu." Ungkapnya lagi.
Dimas termenung melihat kedua tangannya yang tengah digenggam erat lagi oleh Sarah. Perasaannya menghangat dan tanpa disadari air mata mengalir begitu saja.
Sarah memeluknya erat mengusap punggungnya pelan. "Aku akan tetap bersamamu, apapun yang terjadi." Lirih wanita itu.
Dimas tidak bisa berkata-kata dan membalas pelukannya. Ia menenggelamkan wajah berairnya dibahu sang tunangan. Ia menumpahkan semua keresahannya selama ini di sana.
***
Setelah melakukan beberapa prosedur akhirnya Dimas melakukan terapi. Ia menjadi seorang pasien di rumah sakit tempat Sarah bekerja. Dokter Ricard seorang psikiater menanganinya dalam penyembuhan. Tiap kali "sosok lainnya" datang, sang dokter akan mengajaknya berbicara. Jika ternyata sosok itu.........
"Aku tidak akan membairkan siapapun menyakitinya. Karena itulah aku meminum darah mereka yang sudah menorehkan luka padanya."
"Jonatan, itu namamu benar? Kamu sosok kedua yang berada dalam alam bawah sadar Dimas. Apa kamu bisa pergi setelah Dimas mendapatkan kebahagiaan dan tidak disakiti lagi?" Tanya sang dokter.
"Aku tidak akan pernah pergi."
"Bagaimana dengan Sarah? Apa kamu tahu sebesar apa cintanya untuk Dimas? Dia sangat mencintainya."
Jonatan yang berada dalam raga Dimas terdiam. Keperibadian kedua pria itu menundukan kepalanya dalam. Ia memperhatikan kedua tangan yang berada dalam pangkuan. Ada banyak bekas luka yang sering dilakukannya di sana. Beberapa sayatan masih basah dan baru ia lakukan tiga hari lalu.
"Sarah selalu menemani Dimas dalam suka dan duka. Ia juga rela melakukan apapun untuk bisa bersamanya. Kamu pasti merasakan seberapa tulus wanita itu dalam mencintai Dimas. Di_"
"Aku ingin bertemu dengannya." Potong suara dalam itu cepat.
"Baiklah aku akan memanggilnya."
Tidak lama berselang Sarah pun datang. Ia duduk tepat di hadapan Jonatan atau Dimas yang terhalang oleh kaca. Tanpa ragu Sarah melebarkan senyum melihat sosok asing yang tengah menempati raga sang kekasih.
"Aku tidak peduli kamu ada di dalam sana. Aku akan tetap bersama Dimas. Jangan harap kamu bisa memisahkan kami." Tegas Sarah.
"Aku sudah melihat ketulusanmu, Sarah. Sudah empat bulan kita terkurung di sini dan kamu tidak pernah meninggalkan Dimas. Bahkan kamu sering menemaninya. Untuk itu, aku titip dia padamu."
"Tanpa kamu suruh pun aku akan melakukannya. Karena aku sangat mencintainya."
"Terima kasih dan maaf."
***
Di bawah langit biru siang ini sepasang suami istri tengah saling mendekap. Sarah mendaratkan dagunya di bahu tegap sang suami. Ia tersenyum lalu menutup kedua matanya rapat. Ia senang akhirnya Dimas sudah menjadi miliknya seutuhnya.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Apapun yang terjadi, kamu hanya milikku." Jelas Sarah kemudian.
"Aku juga sangat mencintaimu, terima kasih sudah menerimaku apa adanya. Terima kasih juga karena menerima kehadiran Jonatan." Jawab Dimas.
"Aku akan menerimamu apa adanya." Sarah semakin mengeratkan pelukannya. Begitu pula dengan Dimas.
Kini hanya ada cincin yang melingkar dijari manis keduanya sebagai tanda keseriusan. Cinta adalah sebuah perasaan suci yang menempati setiap insan. Perasaan itu akan hadir untuk seseorang yang berharga. Tidak peduli siapapun dia. Tidak peduli bagaimana dia. Tidak peduli seperti apa dia. Cinta akan mengikatnya dalam keseriusan.