Di hutan Kalimantan tinggal sepasang kekasih rubah sungguh mereka sangat bahagia karena telah di karuniai seorang anak rubah jantan tetapi semua kebahagiaan itu langsung lenyap saat tempat tinggal tuan dan nyonya rubah di temukan oleh segerombol raja hutan yaitu si singa buas.
“tolong makan kami saja raja jangan anak kami?” pinta tuan rubah sehingga mata si singa itu menatap rubah kecil yang tampak ketakutan “baik lah nak berlari lah sekuat tenaga mu! Karena aku gak ingin kau melihat ayah dan ibumu menjadi santapan kami?” rubah kecil itu langsung berlari sangat kencang sambil menangis karena mendengar suara ayah dan ibu menjerit saat di terkam oleh segerombolan raja dan ratu hutan.
“bruakkk…” si rubah kecil ini akhrinya tersenungkur saat kehabisan tenaga dan kakinya terkilir karena telah menabrak sebuah pohon. Pagi pun akhirnya tiba matahari begitu cerah menyinari hutan yang lembap ini, sepasang suami istri pak kijang dan ibu kijang hendak pergi untuk bertani menanam rumput dan buah buahan tidak sengaja melihat anak rubah ini tergletak di tanah dalam keadaan sekarat.
“ah kasihan sekali, pak kita rawat saja ya jadi anak angkat kita?” pinta ibu kijang yang langsung di setujui oleh pak kijang sehingga mereka pun membawa anak rubah itu dan merawatnya hingga si rubah kini menjadi remaja.
Si rubah sangat berbakti pada ibu dan ayah angkatnya, dirinya selalu membantu dan melayani pak kijang dan ibu kijang dengan baik dan tulus dan kebahagiaan si rubah bertambah banyak saat dirinya di karuniai seorang adik angkat yaitu anak kandung dari pak kijang dan ibu kijang.
“nak rubah tolong jaga adik mu ya? Bapak dan ibu mau berkebun dulu..” si rubah langsung menganggukan kepalanya sehingga pak kijang dan ibu kijang pun berangkat kekebun dan si rubah menjaga adiknya itu. Jika ada nyamuk tangannya langsung menepuk nyamuk itu supaya adiknya tetap bisa tidur dengan nyenyak tetapi tiba tiba si rubah di kagetkan oleh kemunculan sosok king kobra.
“ya pergi lah tuan kobra jangan ganggu adikku dan aku atau aku akan membunuh mu?”
“ahahaha kau pikir bisa menang melawan ku anak muda? Sini kau maju biar jadi santapan pembuka ku sebelum aku memakan adikmu!” tentu si rubah tidak gentar dan semangatnya bertambah saat mendengar perkataan king kobra akhirnya si rubah pun bertarung dengan sengit dengan king kobra.
“krees..” si rubah berhasil menggigit tubuh king kobra sehingga king kobra tidak kuat lagi melilit tubuh si rubah “tell..” karena sangat kuatnya gigitan si rubah sampai membuat king kobra kepalanya terputus dari tubuhnya sehingga darah king kobra itu muncrat mengenai baju dan membekas di mulut si rubah “aku harus segera panggil bapak dan ibu..” saat si rubah sudah memastikan king kobra benar benar mati dirinya langsung berlari kekebun.
“bapak, ibu cepat pulang.. adikkk..”
“ya kenapa kau berlumuran darah kau makan adik mu?” teriak pak kijang sehingga si rubah langsung menggelengkan kepalanya dan hendak menjelaskan tetapi pak kijang sudah lebih dulu terhasut oleh pikiran jahatnya saat melihat si rubah berlumuran darah.
“buak buak buakk..” akhrinya pak kijang memukuli si rubah itu dengan cangkul hingga baba belur lalu melemparkan si rubah ke kali yang arusnya sangat deras “dasar rubah gak tahu diri” kata pak kijang saat melihat si rubah sudah terbawa arus.
“pak ayo kita pulang lihat bayi kita?” ajak ibu kijang sehingga dirinya dan suaminya langsung pulang “haaa..” pak kijang dan ibu kijang langsung tersentak kaget saat melihat di samping tempat tidur anaknya ada bangkai king kobra yang kepalanya putus.
“kita harus cari si rubah pak! Kita telah kegabah bertindak tanpa meminta kejelasan kepadanya..” kata ibu kijang yang membuat dirinya dan suaminya pergi mencari si rubah malang itu tetapi na as saat di temukan si rubah sudah tidak bernyawa lagi.
“maafkan kami..” kata sepasang suami istri kijang itu pada si rubah yang sudah mereka kubur sungguh mereka berdua sangat menyesal karena telah menuduh tanpa bukti.
“Selesai”