Bertahan Hidup di Pulau Terpencil
"Haha! Kenapa aku berada disini," teriakku saat melihat hamparan laut dan pasir.
Aku berjalan mengelilingi daratan dan benar saja sekarang aku sudah berada sebuah pulau Aku ingat bahwa keluargaku akan liburan dengan kapal pribadi kami. Karena sangat lelah aku memutuskan untuk tidur. Saat terbangun aku sudah berada di pulau kecil ini.
Aku sangat penasaran dan memutuskan untuk mensurvei pulau untuk tahu bagaimana bertahan hidup. "Yah, sudah sore. Padahal aku belum mensurvei semua lokasinya," sahutku kesal. Karena aku tahu kalau kita tidur di bibir pulau tidak disarankan, aku memutuskan ke arah hutan untuk mempersiapkan tenda.
Aku mengambil daun, ranting, batang pohon, buah, dan batu. Setelah itu membuat tendang dan alat pertahanan Didi berupa tombak dari kayu lancip dan kapak dari kayu dan batu. Setelah malam hari tiba suhu di pulau sangat tinggi aku memutuskan untuk menyalakan api unggun dari ranting-ranting yang sempat di jemur tadi.
"Papa, Mama, Kakak, semoga kalian baik-baik saja".
Matahari bersinar terang membuatku terbangun dari tidurku yang tak nyaman. "Huah, untung gak ada binatang buas," sahutku sambil menghirup udara yang masih segar.
"Aku sangat lapar," pekikku saat mendengar perutku berbunyi. Karena kemarin aku menemukan buah yang ku yakin tidak berbahaya aku langsung memakannya dengan lahap.
"Untuk makan malam nanti apa yah? Ah, bagaimana kalau ikan," sahutku saat teringat ada sungai kecil di sekitar tenda.
Aku membuat jebakan ikan dari kayu-kayu kecil yang aku rangkai setelah itu aku isi pemberat untuk memastikan jebakan ikan tengelam. Setelah selesai aku menuju laut dan berenang untuk mencari kerang, rumput laut, moluska, ataupun tiram. Saat aku berenang ternyata banyak tiram.
"Akhirnya aku bisa makan dengan puas," ucapku saat melihat bahan makanan yang banyak.
Setelah menuju arah tenda aku membuka tiram dan mengecek apakah baik untuk tubuh. Jika tiram mudah untuk di buka berarti tiram itu memiliki penyakit yang sangat besar. Jika tiram sulit di buka itu boleh kita makan. Setelah itu aku mengosok kan tiram di tanganku untuk mengecek reaksi alergi.
"Hore, aku tidak alergi tiram," sahutku senang.
Sore hari berlalu aku memutuskan untuk membakar beberapa tiram dan meminum air kelapa yang segar. Kadang aku berpikir negatif dengan berandai-andai jika aku ada di sini kemana semua keluargaku. Apakah mereka masih hidup dan akan menyelamatkan diriku.
Setelah lelah aku memutuskan untuk tidur. Rasanya begitu sunyi walaupun banyak suara yang berbunyi. Rasa dingin dan ingin pulang ke rumah membuatku frustasi. Aku menangis dalam diam.