Byeolcheoreom ssodajineun unmyeonge
Takdirku datang seperti bintang jatuh
Geudaeraneun sarameul mannago
Membiarkanku bertemu seseorang sepertimu
_Gummy_
***
"Aku sangat menyukai MC wanita. Aku hanya ingin menikahinya! Andai langit mendengar, aku ingin terjebak bersamanya!"
Fu Heng seorang komikus yang menggunakan pena untuk menggambar setiap ide yang terjebak dalam otaknya. Dia sedang menyelesaikan karyanya berjudul, Selir pembunuh.
Penanya baru saja akan menggambar cerita bagian terakhir. Tiba-tiba cairan merah menetes di atas kertas gambarnya. Fu Heng mengernyitkan hidungnya, dia mengalami mimisan. Kepalanya mendadak sakit, dan pandangannya berangsur gelap.
Brak!
Kepala Fu Heng jatuh di atas meja gambar. Napasnya mendadak tersedot bersama jiwa yang tiba-tiba merangkak keluar dari raga dan masuk ke dalam komik yang merupakan karya miliknya, yang akhir cerita belum dia selesaikan.
"Hah!" Fu Heng meratakan napasnya yang berat. Dia mengangkat pandangan perlahan, dan dia di kejutkan dengan sosok MC wanita yang terlihat hidup di depan matanya, Selir Wu Zetian, Selir pembunuh yang meletakkan racun dalam arak Raja Fu Heng.
"Yang Mulia, apa kau tidak apa-apa?"
Fu Heng masih terpana akan sosok wanita yang terlihat mampu membekukan seluruh atensinya saat ini. Tatapan Fu Heng kosong.
"Yang Mulia!" panggil Wu Zetian kembali.
Fu Heng bangun dari pikirannya. Dia menatap dirinya sendiri. Kini, dia bukanlah seorang komikus. Melainkan seorang raja kejam yang terjebak dalam karyanya sendiri.
'Komik ini belum selesai. Di saat dia memberikan racun. Aku belum menggambar apapun lagi,' batin Fu Heng yang kemudian mengambil secangkir arak, dan menatap pantulan wajah pucatnya pada air dalam cangkir.
"Zetian, Kau yang melukaiku. Kau pula yang mengobatiku," ujar Fu Heng menghela napas kemudian.
Wu Zetian tersenyum datar, "Jika aku tidak mencintai Yang Mulia. Mungkin, aku akan lebih memilih menyalakan dupa di depan papan nama Yang Mulia!"
"Kau?" Fu Heng bersiap akan marah. Namun, pengakuan cinta Zetian, bagai menurunkan air langit untuk memadamkan api, dan menghapus kesalahan wanita itu. Fu Heng mengulurkan tangannya, meminta wanita bergaun hijau itu untuk naik ke altar miliknya.
"Kemarilah, Zetian!"
Wu Zetian menganggukkan kepala sebagai hormatnya. Dia pun menaiki tangga dan melangkahi setiap mayat yang tergeletak, dan dia tidak perduli sepatunya menginjak setiap cairan merah yang menggenang.
"Kau tidak takut akan ulahmu sendiri? Kau membunuh banyak orang," ujar Fu Heng kala sepatu wanita bernoda darah merah itu telah mencapai atar miliknya.
Wu Zetian tersenyum dingin, dia memutar raganya, hanya sekedar melihat apa yang telah dia perbuat, begitu banyak mayat yang bergelimpangan di halaman istana. Lalu, wanita itu berkata, "Aku hanya membayar apa yang pernah mereka perbuat padaku. Aku hanya mengembalikan dengan caraku kepada mereka."
"Dengan melibatkanku dengan sengaja! Rubah!"
Wu Zetian terbahak dan terus tertawa akan amarah pria berjubah merah di belakangnya.
Fu Heng berdiri dari kursi singgasananya. Tawa Wu Zetian, melenyapkan seluruh amarahnya, dia berdiri dan berjalan mendekati wanita yang dia puja , dan dia pun merangkul pinggang wanita itu. Sekejap tawa Wu Zetian hilang. Wajah wanita itu tersipu merah, dan tatapan sayunya tunduk pada tangan emas melingkar pada perutnya, dan suara napas pria itu menggetarkan seluruh darah dalam nadinya.
"Katakan alasannya?" bisik Fu Heng, dengan dagu yang bertumpu pada pundak Wu Zetian. Memeluk seorang selir pembunuh, bukanlah suatu kesesakan bagai menelan racun. Namun, kerinduan mutlak yang telah lama dia tumpuk.
Wu Zetian menghela napas. Rasa sedih menyelinap ke dalam rongga dadanya.
"Aku tidak pernah berniat melibatkan Yang Mulia. Namun, langitlah yang berkehendak membuat kesalahpahaman itu terjadi. Kau dan aku di pertemukan dalam satu cerita yang sama. Sakit yang sama. Tanpa sadar, hamba ini telah lancang membawa Yang Mulia jatuh bersama ke dalam neraka. Hanya untuk melihat bagaimana rupa mereka!"
"Hmm! Apa kau tau bagaimana api neraka menghanguskan diriku? Aku tidak dapat memelukmu, hanya memeluk janji manis-mu, membuatku bertahan dan percaya kau tidak akan pernah mengkhianatiku!"
"Bagaimana aku mampu mengkhianati Yang Mulia yang telah jatuh bersamaku? Aku bahkan menyadari, tidak akan pernah ada pria bertangan emas seperti dirimu lagi. Setulus ini. Membuatku diriku ingin ikut lenyap, jika kau tidak pernah muncul lagi."
Fu Heng memejamkan matanya. Sakitnya seakan terobati akan setiap kata wanita yang kini mampu dia peluk secara nyata. Bukan sekedar janji cintanya lagi.
"Yang Mulia, apakah kau membenci setiap tindakanku? Aku telah banyak membunuh tanpa sedikitpun berkedip untuk mengampuni."
"Walau dunia membencimu. Aku tidak akan pernah membencimu sedikitpun. Tidak akan pernah. Karena, rasa cintaku melampaui segala apa yang telah kau perbuat. Karena, aku tau kau menusukku untuk menyadarkan aku bagaimana sakitnya menjadi dirimu."
Wu Zetian melepaskan tangan Fu Heng, dan berpaling memeluk pria berjubah merah itu, dan dia berbisik di dalam pelukan pria itu, "Hanya kau yang mengerti lukaku, cara merawatnya, dan menyembuhkannya tanpa meninggalkan bekas sedikitpun. Yang Mulia adalah pria yang aku puja untuk sisa-sisa hidupku, aku akan setia padamu."
Fu Heng menelan ludahnya. Isaknya turun ke dasar perutnya, dan dia berbisik di atas ufuk kepala wanita itu, "Kesetianku pula akan ku persembahkan untukmu dalam sisa-sisa hidupku. Hanya untuk mengangumi seumur hidupku."
***
Tamat!