Ada lelaki tampan yang baru pindah kerja di kantor ini, perawakannya mirip dengan aktor terkenal Varel Bramasta, siapapun yang melihat pasti mengira itu artis yang beralih profesi jadi karyawan di perusahaan swasta. Aroma tubuhnya ketika lewat membuat orang-orang menoleh dan menarik nafas panjang, lumayan lama mereka akan mengalihkan pandangan kembali ke layar komputer.
“ Lulu,,, terlambat lagi.” Kalimat itu mengalihkan pandangan karyawan lain saat bu Risma menegur Lulu, dari penampilanya dia gadis biasa tidak terlalu cantik, tingginya juga setandar dengan gadis lain. Dia hanya tertunduk menatapi ujung sepatu yang kotor, tadi gadis itu terjatuh karena lalai saat berjalan.
“ Maaf bu.” Perkataan yang singkat namun terdengar tulus dan penuh penyesalan, harusnya dia lebih pintar mengatur waktu agar tidak selalu terlambat masuk kantor. Untung saja bu Risma baik, tidak langsung memecatnya karena sudah beberapa kali terlambat nilai plusnya karena Lulu rajin dan Fokus saat bekerja itu saja.
“ Ini terakhir kali Lu kamu terlambat, kalau kejadian lagi kamu bisa saya pecat.” Bu Risma hari ini berbeda dia sudah semakin tegas dan tidak lagi mentolerir karyawan seperti Lulu, bunyi sepatunya menandakan kegusaran. Gadis polos itu menarik nafas panjang, berlalu dan duduk di meja kerjanya yang bersebelahan dengan Yuna.
“ Ada karyawan baru, ganteng banget Lu.” Yuna bicara kembali membayangkan wajah lelaki itu pulpen yang ada digenggamanya ia gigit sangking gemeshnya, ia berhayal bisa berkenalan dengannya dan jadian.
“ Fokus kerja dulu Yun, urusan lelaki nanti dibahas.” Lulu sengaja menepiskan tangan Yuna dari ujung pulpen membuat wanita itu menghentikan lamunan.
“ Hey, kau gadis yang tadi dijalan kan? Karyawan baru itu menatap Lulu tajam, seperti elang yang akan menyambar seekor anak ayam, tatapanya belum juga berpaling sampai bunyi ponsel mengalihkan perhatianya, Yuna merasa temanya itu beruntung karena sudah mengenal Roy lebih dulu.
“Makanya jalan pakai mata dong.” Katanya kasar menunjuk wanita polos itu, ia memang buru-buru karena takut terlambat.
Semenjak kejadian pertama itu, takdir seperti berkata lain ada saja kejadian yang mengantarkan mereka untuk bertemu kembali.
“ Kamu lagi, kamu lagi, rasanya muak bila terus melihat wajahmu, mimpi apa aku semalam bisa berdua denganmu.” Kata Roy sedikit menghardik, ia juga heran mengapa waktu terus mempertemukanya dengan Lulu gadis culun itu, Lulu hanya terdiam dan menatap bola matanya seakan ada sinar yang terpancar dari indra penglihatan itu, jantungnya berdebar bila dekat dengan Roy sekretaris bu Risma.
Diperjalanan menuju kantor tiba-tiba mobil Roy mogok, bahan bakarnya habis, tak ingin buang-buang waktu Roy memutuskan menaiki angkot saat melirik ia sudah melihat teman satu kantornya itu duduk sembari melemparkan senyum tipis membuat Roy bergidik geli.
“ Roy, ada yang ingin saya bicarakan.” Ucap wanita itu semakin mendekat, kini di dalam ruangan kerja bu Risma hanya mereka berdua, waktu menujukan pukul 18:15. Bu Risma sedikit mengoda, ia berpose sensual untuk menarik perhatian Roy.
“ Apa bu?”. Tanyanya tak ada perasaan curiga dengan kelakuan bu Risma.
“ Jangan panggil ibu, panggil nama saja hanya kita berdua disini.” Ucapan itu syarat akan makna, lelaki dewasa akan mengerti apa maksud ucapan wanita berkepala empat itu, hanya saja perawakanya lebih muda sepuluh tahun dari usianya. Bu Risma semakin berani, ia kini mendorong tubuhnya lebih dekat dengan Roy membuat darah mantan playboy itu mengalir tak normal. Lelaki itu berusaha menghindar sebuah pelukan mendarat pada tubuhnya, aroma parfum tercium saat wajah Roy hampir menyentuh leher bu Risma. Perasaan Roy semakin tak menentu, ia terus berusaha menjauhi Risma dan melepaskan pelukan itu.
“ Hanya kita berdua Roy, tak ada yang akan tahu. Awal aku mengenalmu aku sudah jatuh cinta, aku tidak memilik suami. Sudah lama aku ingin belaian hangat dari lelaki yang aku cinta.” Risma memang seorang janda yang banyak digilai lelaki diluar sana, sudah cantik, kaya, mandiri pula. Suaminya meninggal saat terjadi kecelakaan beberapa tahun lalu, semenjak kejadian itu Risma menutup hati dari lelaki yang datang tapi dengan Roy ia seperti menemukan cinta lagi.
“ Ini tidak pantas untuk kita lakukan.” Tiba-tiba saja sebuah ciuman mendarat dibibir Roy, Risma tak peduli ia hanya menuruti hasratnya, kedudukanya sebagai bos membuat ia lebih berkuasa. Roy sama sekali tidak merespon perlakuan itu, walau jiwanya terus meronta ia masih bisa berpikir jernih, Risma semakin berani.
Saat suara pintu terbuka saat itu pula Risma menghentikan seranganya pada Roy, keduanya menoleh ke arah asal suara. Di mulut pintu Lulu berdiri dengan beberapa berkas, ia menyaksikan semua dan hanya bisa terpaku.
“ Maaf bu, ini laporan tadi siang.” Lulu berlalu pergi setelah meletakan laporan itu di atas meja yang dekat dengan pintu ruangan Risma.
Setelah kepergian Lulu keduanya hanya terdiam, Roy lebih awal meninggalkan Risma dan berusaha menyusul Lulu. Dia seperti takut kalau Lulu akan membeberakan semua di group WA kantor, bukankah selama ini Roy sering bertindak kasar padanya dan bisa saja kejadian itu dijadikan sebagai bentuk balas dendam.
“Tidak usah panik, aku akan mengurus semuanya.” Sebuah chat di WA menghentikan langkah Roy, pesan dari Risma. Lelaki berhidung mancung itu hanya mengabaikan pesan WA dari atasanya, Risma masih memantau Roy dari lantai dua, sebelum itu ia sempat menonfungsikan CCTV kantor.
Malam itu tepat pukul 21.00, mobil yang dibawa Roy sedikit melaju kencang, ia memperhatikan dari kaca spion seseorang yang tak asing lagi baginya. Memundurkan mobil, dan membuka kaca. Gadis yang tadi ia cari-cari akhirnya ditemukan juga, Roy baru kali ini melemparkan senyum, Lulu seperti tersihir dengan pesona itu.
“ Ayo saya antar pulang.” Tawar Roy membuka pintu mobil seakan mempersilahkan seorang pacar.
“ Sebelumnya terima kasih, sudah membuat repot.”
“ Tidak apa, arah kita sama.” Tidak lagi menolak tawaran Roy Lulu memasuki mobil dan duduk sejajar dengannya. Sudah lama ia ingin dekat dengan pria yang menurutnya bersifat arogant itu, mengetahui lebih dalam seperti apa aslinya.
“ Sudah lama pacaran dengan bu Risma.?” Tanya Lulu kembali mengawali pembicaraan, Roy hanya terpaku saat melihat Lulu merapikan rambutnya, ia ternyata tak culun, kaca mata yang selalu melekat diwajahnya ia buka, Roy seperti mengagumi sosok itu.
“ Kami tida....”. Belum sempat Roy melengkapi kalimatnya.
“ Aku tidak akan bercerita pada siapapun tentang apa yang aku lihat tadi di kantor, kita sudah sama-sama dewasa, jadi lain kali tak perlu bersikap manis padaku hanya karena semua takut terbongkar.” Roy seperti terperanjat mendengar ucapan Lulu, gadis itu seperti paranormal yang bisa membaca pikiran orang lain, kali ini Roy Pratama hanya mengalah tanpa mau memperpanjang lagi masalahnya.
Mobil berhenti dihalaman rumah yang tampak sederhana, seorang anak kecil sudah menunggu ke datangan Lulu. Hujan deras menguyur tubuhnya ada bayangan dari baju yang ia kenakan, tanktop berwarna hitam. Tak lupa mengucapkan terima kasih, Lulu melambaikan tangan ke arah Roy.
Dua hari berlalu semenjak peristiwa itu Lulu tak pernah lagi masuk kantor, beberapa kali Yuna menanyakan kabarnya jawabnya selalu baik. Yuna menawarkan diri untuk mengunjunginya ia selalu menolak. Tak hanya Yuna, ternyata Roy juga merasa kehilangan sosok Lulu, biasanya gadis itu selalu mencul secara tiba-tiba dihadapanya.
“ Yuna, Lulu kemana.?” Roy duduk dihadapan Yuna saat jam istirahat di kantin, meneguk minuman dingin digenggamanya.
“ Harusnya kamu seneng dong Lulu ngak masuk kantor, biasanya kan kamu selalu marah-marah kalau ketemu dia, ada apa ini kok seperti kehilangan.” Ternyata Lulu dan Yuna sama saja pikirnya, ditanya baik-baik jawabnya nge gas. Kehadiran Lulu seperti dirindukan oleh Roy, apalagi saat mereka berbica Lulu tampak seperti wanita dewasa berbeda jauh dari penampilanya.
Roy memberanikan diri untuk datang kembali ke rumah Lulu, saat sampai disana hanya ada anak kecil itu.
“ Ibu tidak ada om, ibu kerja.” Kata gadis kecil itu singkat, Roy terperanjat kenapa belakangan ia selalu berurusan dengan janda keluhnya, tapi itu tak membuat sulut niatnya, bertemu Lulu adalah tujuan utamanya.
“ Sudah menunggu lama.?” Roy melihat asal suara itu, ternyata Lulu baru pulang dengan sebuah kresek ditanganya. Gadis kecil itu berlari memeluk Lulu dan mengintip ke dalam kresek, tahu ibunya membawa makanan ia loncat kegirangan.
“ Baru setengah jam, aku sengaja datang kemari mau melihatmu. Beberapa hari ini kamu tidak masuk kantor aku khawatir terjadi sesuatu.” Jelas Roy, Lulu mempersilahkanya masuk dan duduk di ruang tamu.
“ Setelah malam itu kamu pulang, tidak lama berselang bu Risma datang. Ia memecatku dan memberi sejumlah uang sebagai tutup mulut. Orang memang banyak yang egois, demi kepentinganya rela mengorbankan orang lain.” Lulu bicara lantang, suaranya terdengar perau.
“ Terus kenapa kamu mau, apa karena ditawari uang.?”
“ Aku butuh uang untuknya, saat aku diberi pilihan itu aku tak bisa menolak.” Lulu menunjuk Kirana, gadis kecil yang saat ini bermain sendirian. Air matanya tumpah, tak dapat membayangkan penderitaan anak kecil itu bila uang dengan jumlah banyak tak ia dapatkan dalam waktu singkat.
“ Dia kenapa?” Tanya roy penasaran, wajar baginya seorang ibu berkorban lebih untuk sang buah hati.
“ Aku tak bisa menceritaknya sekarang, besok Kirana akan di oprasi doakan saja semoga semua berjalan lancar.” Sore itu diakhiri pembicaraan yang cukup menyayat hati bagi Lulu, wanita hebat untuk Kirana.
Selang beberapa hari sebuah pesan masuk, Roy mengirim Lulu pesan memberikan sebuah alamat untuk bertemu agar leluasa bisa bercerita, Kirana di jaga oleh Yuna di rumah sakit, oprasinya berjalan lancar gadis itu tampak masih lemas.
“ Maaf menunggu lama.” Lulu menghampiri Roy makanan yang dipesan sudah terhidang di atas meja.
“ Tidak apa.” Roy nampak lebih berkharisma dari biasanya, Lulu sedikit gugup ini pertama kalinya ia makan diluar bersama seorang lelaki, biasanya Kirana dan Yuna yang menemaninya.
“ Bagaimana dengan Kirana, oprasinya berjalan lancar kan.?”
“ Ia, dia sudah semakin membaik beberapa hari lagi bisa pulang.”
“ Maaf bila lancang, suamimu kemana. Kenapa tega meninggalkanmu dan anakmu tanpa tanggung jawab.” Roy bertanya dengan antusias.
“ Sebenarnya aku medapati Kirana 4 tahun lalu di tempat pembuangan sampah, aku mendengar suara tangis anak bayi, saat aku menemukanya aku seperti mendapat harta berharga. Aku memutuskan untuk merawatnya sampai sekarang, yang dia tahu akulah ibunya, ayahnya pergi meninggalkanya. Menggurusnya dipagi hari membuatku sering terlambat ke kantor, aku harus lebih dulu mengantarnya ke PAUD beruntung tetangga juga sering menjaganya.” Lulu kembali membayangkan awal pertemuanya dengan Kirana, Roy yang mendengar cerita itu ikut terharu. Tak menyangka bila wanita di hadapanya saat ini berhati malaikat, penampilan bukan segalanya hatilah yang utama.
Semenjak itu hubungan Roy dan Lulu kian akrab, meski mereka tak satu kantor lagi tapi pertemuan mereka semakin sering terjadi, hampir setiap hari pula mereka berkirim pesan menanyakan kabar satu sama lain.
Risma melihat perubahan Roy yang berusaha semakin menjauhinya, mulai curiga dan ingin menjebak lelaki itu, mengupayakan sebuah cara agar Roy jatuh kepangkuanya.
“ Malam ini tolong datang kerumahku, banyak tugas menumpuk yang harus kita selesaikan.” Langkah Roy terhenti dan mengalihkan pandangan pada Risma, ia sedikit mengangguk.
Tepat jam 19:00 Roy sudah berada dirumah Risma, menunggu atasanya itu beberapa menit diruang tamu yang di dominasi warna lilac. Risma duduk menempel disamping Roy, mata Roy tertuju pada bagian dada Risma yang terbuka setengah, godaan apa lagi ini keluhnya. Roy sama sekali tak goyah meski kini posisi Risma berada dihadapanya, bosnya itu sama sekali tidak mamakai pakaian sopan ia seperti sedang jual diri untuk dicumbui, benar-benar wanita butuh belaian.
“Tunggu saya buatkan minum dulu.” Risma berlalu pergi, sadar bahwa semua tidak baik-baik saja Roy membereskan semua berkas-berkas dihadapanya dan pergi membawa mobil melaju kencang. Risma yang melihat kepergian Roy merasa kecewa dan sangat marah, padahal air itu sudah ia tambah obat perangsang berharap malam ini semua jadi kenyataan. Gelas itu dilempar dengan keras sampai beling berhamburan dimana-mana, kau akan kupecat, ucapnya geram.
“ Lu,,, buka pintunya.” Suara Roy diluar rumah mengagetkan Lulu yang hampir ketiduran. Roy memutuskan menuju rumah Lulu saat kabur dari kediaman Risma ia tidak akan menceritakan apapun pada Lulu, takut kalau gadis incaranya itu berpikir aneh dan akan menjauhinya. Tidak dicap sebagai pencinta tante-tante saja membuat Roy sedikit lega.
“ Jam tengah sepuluh Roy, tumben datang berkunjung apa lagi malam kelam. Sebentar lagi seperti turun hujan.” Lulu menatap langit, bintang-bintang tak terlihat sudah ditutup awan tebal.
“ Boleh aku masuk.?” Lulu mempersilahkannya duduk dan membawakan segelas teh hangat. Perlakuan Lulu yang sopan dan memiliki jiwa keibuanlah yang membuat Roy nyaman didekatnya. Setengah jam berlalu keduanya hanya membahas hal-hal ringan seputar pekerjaan, sesekali keduanya tertawa mengenang cerita awal mereka berjumpa, Lulu tersipu malu wajahnya memerah saat Roy berusaha membuka ikat rambutnya, lelaki itu lebih suka melihat Lulu mengeraikan rambutnya yang panjang sebahu. Tiba-tiba Roy mendekatkan wajahnya pada Lulu, berusaha semakin dekat dengan membelai rambut gadis itu, sebuah ciuman melayang dibibir Lulu lumayan lama itu terjadi, sampai Lulu berusaha melepaskannya, di luar hujan mulai turun.
“Maaf.” Ucap Roy tak berani lagi memandang Lulu, nyalinya menciut dihadapan gadis yang benar-benar ia sukai kini. Sebelum pulang ia masih memberanikan diri mencium kening Lulu sebagai ungkapan bahwa ia tulus.
Lulu tak berani bertanya tentang kejelasan hubunganya dengan Roy, ia tak mau kalau Roy mengiranya terlalu kegeeran meski sebuah ciuman diberikan Roy pada malam itu, sebuah pesan masuk.
“ Aku tunggu di tempat biasa kita jumpa jangan lupa bawa Kirana.”
Pesan itu seperti akan menjelaskan sesuatu setelah beberapa hari ia dan Roy los kontak. Lulu berdandan tidak biasa, kacamata dengan berani ia ganti dengan soflens, rambut sengaja di blow bagian ujung, bedak dan lipstik dipakai tipis saja.
“ Hati-hati dijalan.” Ucap Yuna melambaikan tangan, sedari tadi sahabatnya itu ikut membantunya memilihkan baju dan mendandaninya, malam ini Yuna memutuskan untuk menginap di rumah Lulu.
Sepasang mata menatap tajam kearah Lulu, tak menyangka bila gadis dihadapanya kini nyaris sempurna, Kirana senyum tipis melihat Roy memandangi ibunya dengan kagum.
“ Kamu ulang tahun.?” Tanya Lulu mengagetkan Roy setelah melihat tempat itu disulap dengan indah, Roy hanya tersenyum. Lelaki itu masih saja terpukau dengan penampilan Lulu matanya belum bisa berpaling ke arah lain.
“ Tidak, hanya saja aku ingin moment malam ini sedikit berbeda dengan pertemuan kita.” Dengan alunan biola mereka menikmati makan malam, Roy melihat begitu tulusnya Lulu pada Kirana. Sesekali ia menyuapi gadis kecil itu, mengelap mulutnya dengan tissu. Roy tersenyum, mereka seperti keluarga kecil yang bahagia.
“ Lu...” Roy berusaha memberanikan diri untuk bicara setelah makan malam itu usai.
“ Iya.” Jawab Lulu singkat sembari membereskan rambut Kirana karena tertiup angin malam.
“ Aku mau kita sama-sama membesarkan Kirana.” Lulu hanya terdiam tak begitu mengerti maksud Roy.
“ Maksudnya Roy.?”
“ Kamu mau ngak sama aku, kita nikah kita urus Kirana bareng-bareng. Kita bentuk keluarga kecil seperti ini.” Lulu hanya terpaku, ia tak menduga jika Roy akan mengutarakan isi hatinya sedalam itu, pernyataan Roy seperti mimpi baginya.
“ Bagaimana dengan bu Risma, sepertinya dia mencintai kamu.”
“ Aku tidak mencintainya, lagi pula aku sudah dipecat.” Lulu hanya terdiam, dia tak menyangka jika bu Risma begitu egois bila tak mendapatkan apa yang dia inginkan bisa bertindak sesuka hatinya.
“ Kamu ngak usah khawatir, aku bisa bekerja di perusahaan papa setelah menikahimu.” Lulu semakin tak mengerti, Roy harus menjelaskan semuanya.
Sebenarnya Roy anak dari pengusaha ternama di kota itu, karena perilakunya yang tak berubah dari zaman masa kuliah hingga sekarang pak Surya mengambil langkah tegas, walau terdengar sedikit aneh.
“ Kamu akan papa izinkan bekerja diperusahaan kalau kamu sudah mendapat calon istri, saat kamu meminta untuk menikah disaat itu pula papa berpikir kamu mulai dewasa, papa tidak peduli calon istrimu dari kalangan mana terpenting pilihan hatimu. Papa stres melihat kamu setiap malam hanya keluyuran, mabuk-mabukan ngak jelas.”
Seperti mendapat tamparan dari pak Surya Roy berusaha membuktikan bahwa ia bisa berubah lebih baik, dan memutuskan untuk minggat dari rumah dan memulai hidup mandiri. Awalnya sulit melewati semua dan pada akhirnya ia berhasil.
“ Aku menikahimu bukan karena tergiur untuk bekerja diperusahaan papa, tapi aku menikahimu karena aku yakin kau bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kita nanti. Aku mencintaimu Lulu Saputri dengan tulus.” Roy mengecup kening Lulu, mata gadis itu terpejam, seperti mimpi ucapnya dalam hati, sebuah cincin melingkar dijari manisnya.
MALAM YANG INDAH