Singa setengah elang, begitulah para manusia-manusia itu memberi sebutan untukku.
Aku seperti ini akibat ulah mereka. Mereka melakukan eksperimen dengan gen singa dan gen elang, keduanya disatukan dan jadilah diriku.
Aku menjadi hewan yang aneh. Sangat aneh. Entah jadi golongan mamalia atau aves? Aku tidak tau. Tubuhku seperti singa, kaki belakangku juga masih sama seperti singa. Namun tidak dengan kaki bagian depan. Kaki depanku digantikan dengan sepasang kaki elang.
Kepalaku pun sama, seperti kepala elang, berbulu, mata yang sangat tajam untuk melihat, dan juga paruh yang kuat.
Ada sepasang sayap elang di tubuhku. Membingungkan, itulah yang aku pikirkan. Aku perlu adaptasi supaya dapat bertahan di dunia yang kejam ini.
Hingga saat ini, saat usiaku baru delapan bulan. Aku dilepasliarkan di hutan, untuk mereka mengetahui berapa lama aku dapat bertahan.
Aku harus bertahan! Aku akan membuktikan kalau aku bukanlah hewan hasil eksperimen yang lemah!
Saat ini, masih pagi. Saat matahari masih belum menampakkan dirinya. Aku berjalan di padang rumput sendiri. Mencari beberapa singa-singa lain untuk bergabung dengan mereka.
Dan tidak memerlukan waktu lama, aku dapat menemukan mereka. Aku menghampiri mereka.
"Selamat pagi semuanya," sapaku sambil berjalan mendekat mereka. Namun, menatapku dengan tatapan aneh. Aku tau, mereka memandangku yang aneh ini.
"Siapa kau? Kenapa ada di kawasan kami?" tanya salah satu singa jantan sambil berjalan maju mendekatiku, bersiap untuk menerkamku. Aku melangkahkan mundur perlahan.
"M.. maaf. Ini kawasan kalian ya? Tapi, apakah aku boleh bergabung?" tanyaku dengan ragu.
"Kau ingin bergabung? Cih! Kau lihat dirimu, sama sekali bukan singa seperti kami." balasnya disertai dengan bentakkan.
"Ehm.. baiklah. Aku akan-" belum sempat menyelesaikan kalimatku, mereka sudah menyela.
"Sebaiknya kau mati saja! Tidak akan ada yang mau menerima dirimu! Pergilah sebelum kau menjadi menu sarapan kami!" usirnya. Dengan terpaksa dan perasaan kecewa dengan sesama ras singa, aku pun pergi meninggalkan kawasan itu.
Aku mengepakkan sayapku pelan. Jika pelan, memang tubuhku tak akan terangkat. Namun, aku sengaja melakukannya untuk mengusir rasa bosan selama perjalanan ini. Sudah sekitar dua jam aku berjalan di padang rumput itu.
Hingga aku sampai di sebuah danau. Danau yang jernih dan bersih. Aku berdiri tepat di pinggirannya. Menatap pantulan diriku di permukaan air danau.
"Aku ini memang sangat aneh ya? Nasibku kenapa seperti ini? Kenapa manusia-manusia itu menjadikanku sebagai bahan percobaan?" ucapku dalam hati, meratapi nasibku yang begitu tak kuinginkan. Jika belum terlambat, aku ingin memilih menjadi singa saja atau elang saja. Kenapa malah keduanya?
Aku terus memandangi bayangan wajahku melalui pantulan di permukaan air danau. Hingga tak lama kemudian, muncul seekor ikan dari dalam air.
"Hai, kelihatan kau sedang sedih ya?" tanya ikan tersebut yang merupakan ikan koi.
"Hah.. iya." balasku sambil menghela napas.
"Ada apa? Coba cerita denganku. Siapa tau aku bisa membantumu." ucapnya menawarkan.
"Aku tidak apa-apa kok. Hanya istirahat sebentar saja." aku berusaha menyangkal sambil menunjukkan senyuman yang dibuat-buat. Aku tidak mau kalau nanti ujung-ujungnya dia malah akan mengejekku.
"Kau tidak perlu berbohong. Aku ini ikan yang baik lho," ucapnya sambil sedikit melompat dari permukaan. Aku bingung, harus cerita yang sebenarnya atau tidak.
"Hmm sebenarnya, aku tidak punya teman di hutan ini. Mungkin karena penampilanku ini, mereka mengucilkan aku dan menjauhiku." ucapku dengan nada sendu. Sambil sedikit memalingkan wajahku darinya.
"Ooh kau tidak punya teman. Ehmm.. bagaimana kalau kau pergi ke pulau di tengah sana?" si Ikan Koi tadi memberi saran. Aku memandang ke tengah-tengah danau tersebut. Memang ada pulau. Tapi, sangat jauh. Aku tidak tau apakah aku akan kuat kalau terbang sampai ke sana?
"Tunggu, kenapa aku harus pergi ke sana?" tanyaku pada Ikan Koi tersebut.
"Karena ku dengan di sana dunianya sangat indah. Ada banyak hewan-hewan aneh sepertimu," jawabnya, aku kembali memasang wajah sendu, namun aku sedikit menundukkan kepalaku supaya dia tidak melihatnya.
"Jadi, aku ini memang aneh ya?" tanyaku dalam hati, kemudian aku lanjut mendengarkan ocehan si Ikan Koi.
"Di sana penduduknya baik-baik. Jika kau tinggal di sana, pasti akan sangat bahagia. Di sana juga sangat mudah mencari makanan lho. Daerahnya juga belum pernah terjamah oleh manusia." ucap si Ikan Koi. Aku mulai tertarik dengannya. Tapi, apakah aku dapat langsung mempercayainya?
"Apakah yang kau katakan itu benar?" tanyaku sedikit ragu dengan perkataannya.
"Hmm iya," jawabnya, bagiku terdengar sedikit mencurigakan. Baiklah, untuk mengetahuinya, lebih baik aku langsung ke sana saja kan? Baiklah!
"Terima kasih atas saranmu, Ikan Koi. Aku akan coba pergi ke sana sekarang." ucapku, dia mengangguk pelan. Setelah itu, aku pun mengambil ancang-ancang untuk terbang, dan..
Wush! Wush! Wush!
Aku mengepakkan kedua sayapku di udara. Aku sudah terbang sekarang. Aku melihat ke bawah, hanya ada air danau yang memisahkan daratan dengan pulau di tengahnya.
Aku memang tak terbang terlalu tinggi. Kalau terbang tinggi, nanti anginnya akan semakin kencang, dan bisa saja aku akan kesulitan mengendalikan sayap. Aku berusaha pelan-pelan saja supaya tidak kelelahan.
Namun, saat aku hampir sampai, aku merasa sangat lelah. Sayapku rasanya seperti mau patah. Mau tidak mau, aku pun harus segera turun, dan melanjutkan dengan perjalanan air.
Ketika tubuhku menyentuh air, aku hampir tenggelam! Aku sangat kesulitan berenang dengan tubuh ini. Kaki depan elang tak bisa kugunakan untuk mendayung, karena tidak ada selaput. Tapi, beruntungnya aku mewarisi akal singa dan elang secara bersamaan. Jadi, bisa dibilang aku cukup pintar. Aku memanfaatkan kedua sayapku untuk tetap terapung di permukaan.
Aku menggerakkan kaki belakangku supaya dapat berpindah tempat. Hingga dengan susah payah, akhirnya aku sampai di pulau itu.
Aku menapakkan kakiku di sana. Sepi sekali. Aku melihat-lihat sekeliling. Perasaanku tidak enak. Hingga tidak lama kemudian, terdengar suara gemuruh. Bukan dari langit, tapi dari tempat ini. Beberapa hewan besar seperti gajah, badak, kuda, dan juga jerapah datang menghampiriku.
"Ooh, jadi kau hewan aneh pembawa sial itu? Kenapa kau datang ke pulau ini?!" tanya si badak. Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang mereka pikirkan terhadapku. Aku hewan pembawa sial?
"A.. apa maksud kalian?" tanyaku sambil perlahan melangkah mundur.
"Jangan pura-pura tidak tau! Peramal Tokek bilang, pulau ini akan hancur setelah kedatangan hewan aneh sepertimu! Kau harus pergi dari pulau ini sekarang juga!" lanjut si jerapah. Aku semakin dibuat bingung. Bagaimana bisa aku membawa sial?
"Ma.. af.. aku benar-benar tidak mengerti apa yang kalian bicarakan. Aku baru saja sampai." ucapku dengan sedikit nada ketakutan. Pasalnya, mereka semua mulai mendekatiku, bersiap untuk menyerangku habis-habisan.
"Nah itu dia! Kau baru sampai. Seharusnya pulau ini sudah terisolasi. Dan bagaimana bisa kau ke sini? Dan kau adalah hewan yang aneh. Kau pembawa sial! Lihatlah ke sana!" lanjut si gajah sambil mengarahkan belalainya ke arah gunung berapi yang tak jauh dari sana. Tunggu, gunung berapi yang mengeluarkan asap. Sebentar lagi akan meletus?!
"Sebaiknya kalian semua segera evakuasi, gunung itu akan meletus," ucapku memperingatkan pada mereka. Ya, memang sebelum-sebelumnya, aku pernah mendengar tentang bencana gunung meletus. Tentu saja dari para manusia-manusia itu.
"Kenapa kau malah mengusir kami hah?! Kau pikir kau siapa?! Cepat kau pergi dari sini sebelum pulau ini jadi hancur akibat ulahmu!" si kuda menanggapi.
"Cepat pergi atau bersiap untuk kutanduk!" lanjut si badak sambil mempersiapkan culanya untuk menanduk diriku.
"Kenapa.. kenapa kalian sangat kejam padaku?! Aku tidak tau apa-apa tentang pulau ini.. Aku.. aku hanya ingin mencari teman.. Aku pergi!" pada akhirnya, aku memutuskan untuk pergi saja. Berlari secepat mungkin ke pinggir pulau itu. Tak lama kemudian..
DUARRR!
Gunung api tadi meletus. Memuntahkan lava panas beserta awan panas dari kawahnya. Mereka semua harus segera mengevakuasi diri mereka. Tapi, sudah terlambat.
Awan panas dan abu vulkanik sudah hampir menutupi seluruh pulau ini. Dengan segera, aku pun terbang untuk kembali ke tempatku semula.
Tapi, sesuatu yang tak kuinginkan pun terjadi. Aku lupa kalau sayapku masih belum kering, jadi sangat berat jika kugunakan untuk terbang. Alhasil, aku pun menceburkan diri ke dalam danau, mencoba bergerak secepat mungkin ke daratan di seberang sana.
Sekitar dua puluh menit aku bersusah payah menggerakkan tubuhku, tapi lelehan lava sudah mencemari air danau. Aku seperti sedang dikejar maut. Tak jauh di belakangku, air danau sudah bercampur dengan lava. Lava nya sangat banyak, jadi tidak padam meskipun masuk ke danau ini.
Aku mempercepat gerak tubuhku. Akhirnya setelah bersusah payah, aku hampir sampai di daratan seberang. Ada si ikan koi di sana.
"Eh, kau sudah kembali? Kenapa cepat sekali?" tanyanya padaku. Aku segera naik ke daratan.
"Kau bilang mereka hewan baik-baik, tapi mereka semua kasar sekali. Mereka langsung mengusirku begitu saja. Dan sekarang pulaunya sudah hancur akibat gunung yang meletus." ucapku memberi penjelasan.
"Ah begitu, tapi ini sangat tidak biasa. Yang ku kenal mereka itu baik-baik semua. Ehm, tunggu. Kenapa airnya jadi hangat ya?"
"Ah Koi! Aku hampir lupa memberi tahumu, air danau ini sudah tercemar oleh lava! Kau harus segera pergi!" ucapku dengan suara agak keras.
"Apa?! Lava? Hah ... aku tidak bisa kemana-mana lagi, aku sudah ditakdirkan untuk hidup di sini saja." balasnya yang terdengar putus asa. Aku segera berpikir.
"Ah aku ada ide! Tadi dalam perjalanan ke sini, aku menemukan sungai. Ayo ikut aku,"
"Tapi.. bagaimana?"
"Sudahlah, ayo kau naik saja." ajakku bersikeras. Kemudian, si ikan pun meloncat dan naik ke punggungku. Setelah kejadian itu, air danau sudah sepenuhnya tercemar lava panas. Jadi seperti danau lava.
"Fiuh.. aku tepat waktu. Terima kasih sudah memberi tau aku, ehmm.. singa." ucapnya berterima kasih padaku.
"Aku.. aku bukan singa.." jawabku sambil mulai melangkahkan kakiku cepat mencari sungai yang tadi aku temui.
"Kalau begitu, elang?"
"Aku juga bukan elang."
"Lalu apa?"
"Entahlah. Aku juga tidak tau. Koi, pegangan! Aku akan terbang supaya lebih cepat." ucapku memperingatkannya. Setelah itu, aku mulai mengepakkan sayap. Ya, meskipun berat, aku masih kuat. Keempat kakiku sudah cukup lelah untuk berenang tadi.
=•=•=•=•=
"Nah kita sudah sampai." ucapku, dan kemudian Koi segera meloncat ke dalam sungai.
"Terima kasih ya. Aku berhutang padamu." ucapnya berterima kasih. Aku mengangguk.
"Ehmm, aku.. aku ingin meminta maaf padamu." ucap Koi dengan nada yang menyesal. Tunggu, kenapa dia ingin minta maaf?
"Kenapa kau ingin minta maaf, Koi?" tanyaku tak mengerti.
"Iya, sebenarnya.. sebenarnya aku menipumu. Hewan-hewan di sana beberapa memang kasar dan ganas, ya meskipun mereka kebanyakan adalah herbivora (pemakan tumbuhan). Aku benar-benar minta maaf ya. Aku hanya melihatmu dari luar," ucapnya menyesal dan terdengar tulus.
"Baiklah Koi, lagipula aku juga tak terlalu mempermasalahkannya kok. Tak usah terlalu dipikirkan." balasku.
"Terima kasih. Mulai sekarang, kita bersahabat ya."
"Iya, tentu saja. Sekarang aku tidak sendirian lagi."
Ya, begitulah akhir kisahku. Aku tak sendirian lagi. Intinya, jika kau bertemu orang baru, jangan langsung menilainya dari fisik saja, ya! Sampai jumpa!
-Tamat-
=•=•=•=•=•=•
Terima kasih sudah membaca cerpen Nino^^
Jangan lupa tinggalkan like dan komen yaps~