*Kejadian dalam cerita hanya fiktif belaka*
"Sebuah bus tujuan Jakarta-Bogor-Ciawi mengalami kecelakaan beruntun di tol Jagorawi pada km 40. Kecelakaan tersebut merenggut sebelas korban jiwa, diantaranya seorang pemuda bernama Ali Sentoso, bapak Hendra Mahewan, ibu Nita Anggraeni, dan seorang kakek serta anak kecil bernama Nirwan dan Nana. Sedangkan korban yang lain mengalami patah tulang dan luka ringan. Alasan terjadinya kecelakaan tersebut masih ditelusuri oleh pihak kepolisian. Tri beserta tim melaporkan dari lokasi kejadian, tol Jagorawi" ucap seorang reporter di lokasi kejadian kecelakaan seraya menunjukkan foto korban, dibelakangnya juga nampak bangkai kendaraan yang menjadi korban kecelakaan serta beberapa pihak kepolisian yang masih di lokasi.
Prang..
Seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun yang mendengar sesuatu dari ruang tv segera berlari mencari sumber suara, ia menemukan Kakaknya sedang duduk di atas lantai dengan kaki tertekuk ke belakang, Kakaknya itu menatap tv dengan air mata yang sudah membanjiri wajah cantiknya. Anak laki-laki tersebut bergegas membawa Kakaknya menuju sofa dengan hati-hati karena pecahan gelas di lantai, anak tersebut juga nampak berusaha menanyai kondisi Kakaknya.
"Kakak kenapa? Kok nangis?" tanya anak tersebut, dia Indra, adik dari Indira, Kakaknya yang kini sedang menangis.
"Bus.. Yang Kak Ali tumpangi kecelakaan di tol Jagorawi, dia.. Salah satu korban jiwa-nya" setelah mengucapkan itu Kakaknya tiba-tiba pingsan.
"Innalillahi wa innalillahi roji'un" gumam Indra, ia pun bergegas menelpon ibu dan ayahnya untuk segera pulang.
•••••
"Pasien hanya mengalami syok, sebentar lagi dia akan sadar, tapi usahakan jangan terlalu banyak bertanya. Saya pamit dulu" ujar seorang Dokter laki-laki yang mengecek kondisi Indira tadi.
"Baik, terima kasih, Dok" sahut ibu Indira dan Indra, namanya Hesti.
"Sama-sama" Dokter tersebut kemudian pergi, sedangkan ibu Hesti beserta suami dan Indra masuk ke dalam ruangan menemui Indira.
"Mas Ali, Buuuu... Dia meninggal... Bus yang ia tumpangi kecelakaan.... Huhuhuhuhu... Hiks" tangis Indira kembali pecah.
"Sabar, 'ya, Nak..." hanya sepenggal kalimat itu yang bisa ibu Hesti ucapkan.
"Ibu dan Ayah sudah mendatangi lokasi kejadian, kami sudah mengurus jenazah Ali dan besok akan dibawa ke sini" timpal ayah.
•••••
Pagi-pagi pukul sembilan, rumah ibu Hesti mulai dipadati orang yang datang melayat. Indira kembali menangis sesegukan seraya memeluk jasad suaminya yang sudah terbungkus kain kafan.
"Masss... Jangan tinggalin aku, Mass... Kamu nggak mau lihat anak kita, Mas? Sebentar lagi dia lahir, Mas... Dia mau di adzan-in sama kamu.. Kamu kenapa pergi, Mass? Kamu... Kamu... Hikss..." tak lama setelah itu Indira pun jatuh pingsan, ia segera dibawa ke kamarnya, sedangkan jasad suaminya segera dibawa ke masjid untuk di sholatkan dan dimakamkan di pemakaman setempat.
Selesai acara pemakaman, ibu Hesti dan suaminya kembali ke rumah beserta orang yang melayat. Beberapa ibu-ibu masih berada di rumah ibu Hesti untuk membantunya menyiapkan camilan untuk nanti malam.
7 Hari berlalu...
Di sebuah rumah sakit.
"Aaaaaaaaa..." selang beberapa detik setelah teriakan panjang dari Indira, suara tangis bayi terdengar menarik sudut bibir Indira, ibu Hesti dan suaminya serta Indra ke atas, mereka tersenyum senang, haru, dan sedikit sedih karena tidak adanya kehadiran Ali.
Bayi mungil Indira segera dibersihkan dan diberikan ke sisi ibunya.
"Selamat, Bu.. Bayinya perempuan, dia cantik kaya Ibu" ujar seorang suster kemudian memberikan anak Indira pada Indira. Indira menangis kembali mengingat perjuangannya melahirkan bayi-nya tanpa didampingi suami. Ia pun menyetel adzan di hp-nya lalu didekatkan ke telinga bayi-nya.
Enam Bulan berlalu setelah lahirnya bayi Indira yang diberi nama Rali Mawar Sentoso.
Saat ia duduk di tepi kasurnya menemani Rali tidur, tanpa sengaja matanya melihat sebuah buku di atas meja, ia pun menghampirinya dan membukanya. Ia membaca lembar demi lembar halaman, hingga akhirnya menemukan sebuah kalimat yang membuatnya kembali menangis.
"Aku menyayangimu.
Aku mencintaimu, dan
Harapku bisa selalu bahagia bersamamu,
Namun.. Yang hidup pasti akan mati, akulah salah satunya.
Maafkan aku atas semua kesalahanku padamu
Maafkan aku bila anak kita lahir.. Aku sudah tidak ada lagi disisimu, menemanimu berjuang mempertaruhkan nyawa.
Kamu... Akan selalu ada disini, dihatiku, yang paling dalam. Aku disini. Jika kamu akan menikah lagi, menikahlah, aku mengizinkannya, kamu berhak bahagia, walau bukan denganku".
Lalu sebuah tulisan besar muncul di lembar terakhir.
"AKU CINTA SECINTA-CINTANYA SAMA KAMU, INDIRA MAWAR!!"
-Jangan lupa like
-Jangan lupa komentar
Dadah..