"Hahaha,jangan melempariku dengan pasir seperti itu!" Seorang perempuan remaja berambut coklat sedikit pirang itu tertawa sambil melindungi tubuhnya dari pasir-pasir yang dilemparkan oleh teman perempuannya itu.
Keduanya bermain di sebuah pesisir pantai yang agak sepi karena mulai menjelang malam,atau lebih tepatnya saat ini adalah sore hari.Mereka bermain bersama sampai benar-benar lupa akan waktu.Walau usia mereka sudah menginjak 20 tahun,hal itu tak menjadi halangan bagi mereka untuk bersenang-senang layaknya anak-anak kecil pada umumnya.
"Sudah jam 7 malam rupanya,kalau begitu sampai jumpa besok,Mary!" Teman perempuan dari Mary tersebut melambaikan tangannya lalu berjalan menuju rumahnya yang letaknya bersebelahan dengan Mary langsung.
Mary hanya membalas ucapannya itu dengan lambaian tangannya saja kemudian masuk ke dalam rumahnya menuju kamarnya.Di rumah itu,ia hanya tinggal sendirian karena kedua orangtuanya sedang pergi keluar kota untuk mengantarkan adiknya ke kampus yang akan didatanginya setiap harinya dan juga sekalian membantunya membereskan barang-barang yang dibawanya di asrama.
Ketika Mary sedang membersihkan tubuhnya di kamar mandi,telinganya terasa agak sakit dan perlahan meneteskan darah sedikit.Ia tak ambil pusing dan hanya mengira kalau di dalamnya ada sebuah luka kecil saja dan langsung mengoleskan bagian luar telinganya dengan cairan antiseptik kemudian membersihkan noda darah yang menetes.Mary pun pergi ke kamarnya kembali dan tidur karena keesokan harinya ia harus pergi kuliah sama seperti adiknya.
"Ella!" Panggil Mary kepada Ella yang merupakan teman yang juga menemaninya kemarin di pantai.
"Kenapa dengan telingamu?Apakah terluka?" tanya Ella sambil menunjuk telinga Mary yang terlihat ditaruh dengan kapas pada bagian luarnya.
"Ah tidak apa-apa kok.Hanya luka kecil saja,kau tidak perlu khawatir" jawab Mary sembari tersenyum kemudian menarik Ella masuk ke dalam kampus.
Berhubung keduanya masuk ke jurusan yang sama,jadi mereka tak perlu lagi untuk berpisah.Bahkan,jadwal keduanya sama.Hal inilah yang menjadi faktor keduanya menjadi sahabat hingga kini.Setelah jadwal mereka di hari itu berakhir,Mary dan Ella pulang kembali ke rumah mereka dan berpisah disaat itu juga.
"Apa-apaan..ini?" gumam Mary ketika melihat bahwa telinganya mengeluarkan darah lagi tapi kali ini jauh lebih banyak dari kemarin.Mary mulai panik tapi ia tak berani untuk keluar meminta bantuan Ella untuk mengantarkannya ke klinik karena ia merasa tak enak membangunkannya di tengah malam.
Mary akhirnya memilih untuk melakukan hal yang sama seperti kemarin,mengoleskan telinganya dengan cairan antiseptik lalu membersihkan noda darahnya.Ia tidur kembali dan di esok harinya...
Saat menatap pantulan dirinya di cermin,betapa terkejutnya ia ketika melihat kalau sebuah akar perlahan tumbuh di telinganya.Mary spontan langsung terjatuh dan memegangi telinganya.Benar saja,sebuah akar tumbuh disana.Karena panik,ia langsung menarik akar itu dan tentu saja akar tersebut putus dan tak menempel lagi di telinganya.Untuk sesaat,Mary merasa agak tenang melihat sudah tak ada lagi akar di dalam telinganya.
Akan tetapi,dalam waktu yang begitu singkat,akar lainnya mulai tumbuh dari lubang telinga yang sama dan kemudian muncul rasa sakit yang sampai membuat gendang telinganya rasanya mau pecah saking sakitnya.Mary berteriak dengan sangat keras sambil memegangi telinganya.Seiring berjalannya waktu,akar itu mulai memanjang dan juga mulai keluar dari telinganya.Ia tak dapat lagi menahan rasa sakitnya dan langsung Mary menarik akar tersebut dengan sangat keras sampai pada akhirnya bukan hanya akarnya yang tercabut tapi juga seluruh bagian dalam telinganya.
Darah mengucur dari dalam kepalanya dengan sangat deras sampai tubuh Mary yang sudah tak bernyawa tergenang dalam genangan darah.
~THE END~