di suatu rumah yang besar hiduplah keluarga mafia yang terdiri dari ayah, dan anak pertama, istri dari seorang ayah mafia itu meninggal karena kecelakaan dan anak pertama itu bernama Laskara dan adik dari Arthur yang bernama Alex, mereka adalah keluarga mafia yang kaya, di suatu saat.. "Alex jaga kara" kata Arthur Alex mengangguk karena Arthur akan membantai sebuah keluarga yang mencuri uang dari rumah mafia tersebut.
bertahun tahun kemudian..
Alissa dia adalah wanita yang cantik, dengan bibir merah merona, dan badan yang sangat ideal dia adalah seorang maha siswi dari suatu SMA swasta yang banyak sekali skandal di SMA itu.
"KRIIIINGGGG"
bunyi bell sekolah
Alissa pun berlari menuju ruang musik di sekolah itu lalu duduk di sebuah kursi dan memainkan gitarnya, senar yang mulai ia petik dengan ditambah kombinasi chord gitar yang ia mainkan
"warna yang indah"
ucap Alissa.
Alissa mempunyai suatu kelainan yang bernama synesthesia, ya, dia bisa melihat warna suara. Dia sangat menyukai musik karena banyak sekali warna warna yang bisa dihasilkan oleh suatu suara alat musik tersebut, gitar yang paling dia sukai, dia banyak melihat warna dari suara gitar dari mulai petikan, genjrengan, dan chord, lalu ditambah suara nya yang merdu dan lembut itu.
Dan tanpa disadari waktu sudah menunjukan pukul 15:00
Alissa lalu meletakan gitar itu dan pulang menuju kerumahnya
"Aduuh aku takut mama khawatir nih, aku harus cepat pulang"
ucap nya sambil berlari menuju gerbang sekolah yang belum ditutup.
setiba nya dirumah, Alissa menguping pembicaraan ibunya dengan ayahnya yang merencanakan perpindahan ke jakarta, dia sedih karena harus meninggalkan teman dan sekolah, terutama ruangan musik, lalu ibu Alissa pun keluar dari kamarnya dan melihat Alissa yang telah menguping pembicaraan ibunya tersebut
"Ibu kenapa kita harus pindah? Aku gak mau meninggalkan teman ku, dan sekolah, juga rumah ini Bu"
Dengan nada lemas yang warna suara nya menjadi gelap yang Alissa sendiri bisa melihatnya
"Pekerjaan ayahmu yang membuat kita harus pindah sayang, dan teknologi sekarang juga semakin canggih kamu bisa menelepon temanmu" dengan tersenyum lebar ibu Alissa pun mengelus pipinya
"Benar kata ibu mu Alissa, ayah harus bekerja ke Jakarta dan kita harus meninggalkan tempat ini" senyum lebar ayahnya, Alissa tidak tahu apa pekerjaan ayahnya tersebut karena ibunya tak ingin Alissa tak merestui pekerjaan ayahnya tersebut, tetapi Alissa tak peduli soal itu.
Keesokan harinya Alissa dan keluarga nya menggunakan mobil ayahnya untuk perjalanan menuju Jakarta.
Sesampainya di Jakarta Alissa melihat rumah yang cukup sederhana tetapi minimalis dengan pemandangan taman yang indah walau tidak terlalu besar, "ini tempat kita tinggal Alissa" senyum lebar ayahnya dengan warna suara orange yang dicampur dengan warna kuning "bagus rumahnya yah" senyum lebar dari bibirnya, dan lalu dia dan keluarganya pun berkemas kemas dibantu dengan beberapa tukang yang akan membantu mereka mendekor juga membereskan sela rumah yang retak.
Malam pun tiba dan mereka berkumpul di ruang tamu, "Alissa besok kamu akan sekolah di sekolah baru mu, jadi kamu sudah ibu dan ayah belikan persiapan untuk sekolah mu esok" senyum lebar ibunya, Alissa sangat antusias "siap ibu ku" dia pun ikut tersenyum dan tertawa kecil disusul ayah dan ibu nya yang ikut tertawa.
Keesokan paginya Alissa terbangun karena alarm yang berbunyi "heyy warna kuning yang mengagetkan" segera dia mematikan alarm itu dan dia pun bersiap siap karena ada sekolah baru yang ingin menanti "Alissa sarapan dulu yok, nanti keburu dingin nih" teriak sang ibu yang tak terlalu keras "iya ma" ucap Alisa sambil sedikit berlari ke arah meja makan dia sudah melihat ayahnya yang sudah siap sedari tadi menunggu Alissa, Alissa pun secepatnya menghabiskan sarapan, dan berpamitan kepada sang ibu "pamit ya Bu" dia bersalaman sambil mencium pipi sang ibu dan dia berangkat bersama sang ayah.
Sesampainya di sekolah dia merasa cemas "aduh gimana ini" sambil memainkan jari nya, "ibu guru akan perkenalkan siswi baru, ayo Alissa silahkan masuk" ucap ibu guru, Alissa memasuki ruang kelas tersebut
"Waaahhh cantik banget" dan sekelas pun mengagumi kecantikan Alissa, Alissa tersenyum dan memperkenalkan diri kepada murid lainnya "salam kenal saya Alissa, saya pindah ke sekolah ini karena pekerjaan ayah saya" Alissa tersenyum lagi "hai Alissa salam kenal" sekelas pun menyambutnya dengan ramah, dan Alissa duduk di samping seseorang lelaki yang tampan dengan aura pangeran.
Bell istirahat pun berbunyi dan seisi kelas langsung berkenalan dengan Alissa, "aku Ajeng, salam kenal Alissa" senyum lebar dari seorang gadis berambut pendek itu, "aku Sekar salam kenal yaa" senyum seorang gadis manis itu, lalu Alissa pun mengangguk "salam kenal juga aku Alissa" senyumnya lebar dan mereka pun mengobrol, tetapi mata Alissa tak bisa teralihkan dari seorang lelaki yang duduk di sebelah nya.
sepulang sekolah Alissa pun diajak berkeliling dengan Ajeng dan Sekar, serta anak anak seisi sekolah yang melihat dan mengagumi kecantikan Alissa,
"nah ini adalah lapangan sekolah kita" kata Ajeng yang sangat antusias "waaah luas ya lapangan ini" ucap Alissa, lalu Sekar pun menarik tangan Alissa dan Ajeng ke ruang musik "ini adalah ruangan musik" senyum Sekar bangga, Alissa terkagum kagum karena luasnya ruangan musik ini "besar dan luas" ucap Alisa Sekar dan Ajeng pun sangat bahagia melihat teman baru nya sangat kagum karena keindahan sekolahnya, lalu Alissa melihat sebuah gitar di ruangan itu dan tanpa sadar dia duduk di sebuah kursi dan memainkan sebuah lagu dengan gitar itu, skill nya membuat kedua temannya kagum "WAAAA KEREN BANGET ALISSA" teriak mereka Alissa hanya bisa tersenyum "makasih guys" senyum manis yang terpancar dari muka nya "kamu hebat, udah cantik jago nyanyi dan main gitar lagi" seru Ajeng, "makasih ya Ajeng, ini cuma hobby ku kok" saut Alissa "tapi itu keren banget" lanjut Sekar dengan nada kagum "makasih ya Sekar" dia sangat bangga mempunyai teman seperti mereka berdua.
Seorang lelaki tampan, mempunyai rambut yang hitam nan lebat, dengan alis yang tebal, sangat pendiam.
"KRIIIINGGG" bunyi bell pulang pun berbunyi "Alissa kami pulang duluan ya, selamat tinggal" teriak Ajeng dan Sekar sembari melambaikan tangannya "iya selamat tinggal" Alissa juga melambaikan tangannya dan tersenyum ke arah mereka dia berjalan ke arah ruang musik di sekolah barunya, dia berhenti sejenak di depan pintu ruang musik itu
"Warna yang indah" ucap Alissa dengan nada yang sedikit pelan sembari melihat warna warna yang berasal dari piano yang di mainkan oleh sesosok lelaki, lelaki itu melihat Alissa, Alissa hanya bisa terdiam "hai" ucap Alissa singkat sembari melambaikan tangan ke lelaki itu lalu dia memasuki ruangan itu dan memainkan gitar yang biasa dia mainkan dengan rasa canggung "permainan yang cukup bagus" ucap lelaki yang memainkan piano tersebut, Alissa melihat warna biru laut dari suara lelaki itu "terima kasih" ucap Alissa singkat "apakah kau Alissa?" Tanya lelaki itu "iya, dan kamu yang duduk di sebelah ku?" "Laskara panggil saja aku kara" saut Laskara, Alissa mengangguk dan sambil tersenyum "baiklah" ucap Alissa, seketika Laskara pun pergi dari ruangan itu "lelaki yang aneh, warna suaranya membuat hati ku sejuk" gumam Alissa pelan.
Pertemuan yang singkat itu merupakan awalan kisah Alissa dengan Laskara di ruang musik.
keesokan harinya dia bersekolah seperti biasanya, sepulang sekolah dia berencana untuk menemui Laskara di ruang musik, ya, Alissa menunggu seorang lelaki yang baru saja dia kenal "Alissa" teriak kedua temannya yang berlari ke ruang musik "iya kenapa?" saut Alissa "kita ke mini market yuk" ajak Ajeng "iya nih laper tau" ucap Sekar "ayook" saut Alissa yang mengecek kantong di seragamnya "astaga uang ku, akan ku cari dikelas sebentar ya" ucap Alissa "okeeyy" kata kedua temannya, sesampainya di kelas dia melihat laskara yang belum pulang dan masih menulis sesuatu "hai kara, apakah kamu melihat uang ku?" tanya Alissa, kara tak menjawab dan masih menulis sesuatu Alissa yang sibuk mencari uang nya pun terkejut karena cecak yang ia lihat "AAAAAAAAA" ia pun hampir terjatuh yang mengejutkan kara dan kara pun menangkap Alissa dengan posisi Alissa yang dilindungi kepalanya oleh tangan kara agar tak terluka kepalanya "kara.." ucapnya, kara menatap mata Alissa "Alissa kamu kenapa" ucap Ajeng yang mendobrak pintu kelas "hey kara, jangan kau berani sentuh Alissa!!!" ucap Sekar, kara menolong Alissa untuk bangun dan mendiamkan Sekar "Sekar, tadi kara cuma mau ngelindungin aku kok" ucap Alissa, Sekar terdiam dan langsung pergi dari kelas itu "Sekar tunggu kita" teriak Alissa dan Ajeng.
keesokan harinya
"Alissa, Sekar, aku pulang dulu ya" ucap Ajeng "iya hati hati" saut Sekar "hati hati Ajeng" saut Alissa mereka berdua pun duduk di kursi kantin yang sepi itu "eee... Sekar kamu tau soal kara?" tanya Alissa "cieeee kamu suka ya sama dia" Sekar tersenyum "nggak ih, aku cuma mau tau aja tentang dia" ucap Alissa "jadi, dia itu anak dari seorang mafia kaya yang terkenal di sini sikap dingin dan ketampanan dia membuat semua perempuan luluh" ucap Sekar "apa!! mafia!!" teriak Alissa kaget "ih Alissa, jangan kenceng kenceng dong" saut Sekar "maaf aku kaget" ucap Alissa dengan malu "yaudah aku pulang dulu ya, dadah Alissa" ucap Sekar sembari berlari ke arah rumahnya.
"ayah kemana ya, lama banget sih" ucapnya, "dor" kara mengagetkan Alissa "AAAAAAA" teriak Alissa "jangan kenceng kenceng teriaknya" ucap kara, dengan tatapan bingung Alissa mengatakan "kok dikelas diem tapi pas udah sepi dia.." gumam nya pelan "lebih nyaman aja sama kamu, padahal baru kenal" kara pun tertawa dan menarik tangan Alissa "eh kara mau kemana ini" tanya Alissa "ayok jalan" saut kara, Alissa pun segera melepaskan tangannya dari genggaman tangan kara "aku gak akan mempercayai orang yang baru ku kenal" tatap tajam Alissa "titt" klakson motor berbunyi "udah ah aku mau pulang, bye" mengucapkan nya dengan tegas "haha bye" ucap kara, saat di perjalanan "mafia seperti dia? sangat lucu" mengejek kara dengan sebutan "mafia lucu".
keesokan harinya sepulang sekolah kara menemui Alissa yang belum dijemput, dia pun duduk di samping Alissa "belum dijemput?" dengan gaya sok akrab itu kara bertanya kepadanya "belum" ucap Alissa jutek "bareng yok" ajak kara "gamau takut" Alissa membayangkan dia akan dibunuh oleh keluarga mafia "kenapa?" tanya Alissa "takut dibunuh sama keluarga mafia mu" ucap Alissa "tau dari mana?" kara yang terkejut karena sebelumnya dia belum pernah memberi tahu pada Alissa kalau keluarganya adalah keluarga mafia pun terkejut, Alissa terdiam "nggak" dia pun menggeleng, lalu kara mengacak rambut Alissa "ih kan berantakan" tatap tajam dari seorang Alissa.
berbulan bulan mereka pun semakin dekat dengan sifat dingin yang kara tunjukan saat berada di sekolah tetapi saat bersama Alissa dia berubah layaknya lelaki biasa, dan sikap dinginnya keada seluruh warga sekolah pun telah meleleh layaknya es batu yang di cairkan dengan keadaan kara yang mulai cair karena teman temannya dan juga Alissa yang membuat sifat esbatu nya meleleh.
pada tanggal 06 bulan Juli mereka berpacaran dengan cara kara menembak Alissa di tengah lapangan seisi sekolah dibuat BAPER karena mereka berdua "ada rose dan Jack di sekolah ini" cetus Ajeng seisi sekolah pun tertawa, "kita akan terus bersama" bisik kara "sampai mau memisahkan kita" bisik Alissa, dan mereka pun diberi julukan "rose dan Jack sekolah".
dikamar kara yang sangat besar "perempuan yang menggemaskan" ucap kara.
sesampainya dirumah, kara pun langsung mandi dan beristirahat di kamarnya "mafia.. menggemaskan dan pertama kali aku melihat mafia seperti itu" ucap Alissa sembari memikirkan kara "sepertinya aku menyukainya" ucap Alissa.
dimalam hari, dan di kamar yang luas itu kara pun memikirkan Alissa "dia adalah tipe wanita yang aku inginkan" kara tersenyum "sepertinya aku menyukainya.." ucap kara.
"kara kita ada misi, pakailah pakaian khusus untukmu yang sudah ayah siapkan" ayah kara yang bernama Arthur Andersen itu pun menyuruh kara mengganti baju nya "baik ayah" terburu buru mengganti baju nya, ayah kara juga sudah menyiapkan beberapa anak buahnya dengan senjata api.
dirumah Alissa, mereka berkumpul di ruang tamu Alissa melihat ayahnya dengan muka gelisah "ayah kenapa?" tanya Alissa "tidak apa apa nak" ucap ayahnya, karena sudah terlalu malam Alissa pergi ke kamarnya untuk istirahat dan menatapi langit kamarnya "perasaan ku gak enak" ucapnya, dengan suara hujan yang berwarna biru Alissa mendengar suara di rumahnya, Alissa dengan tegang menghampiri suara itu dan mengecek nya "tak ada apa apa" ucapnya dan kembali ke kamarnya "JEDER JEDER" suara tembakan yang menembus kaca membuat Alissa terkejut "tolong jangan habisi anakku kumohon" suara ibunya, Alissa menghampiri ibunya yang sedang di eksekusi oleh sekelompok mafia
"i-ibu" ucapnya gagap "bunuh dia kara" ucap Arthur, seketika Alissa dan kara terdiam saat mengetahui mereka akan bertemu di misi kara ini "LARI ALISSA!!" teriak ibunya "JDOR" suara tembakan yang mengenai kepala ibunya "IBUU!!" dia menangis dan berlari sekencang kencangnya dari rumah itu "tangkap dia kara!!!" teriak Arthur, lalu kara pun mengejar Alissa, Alissa berlari ke arah hutan dekat rumahnya tanpa tujuan dia berlari sekencang kencangnya "AAAAAAAA" refleks berteriak karena terjatuh dari sebuah jurang membuat Alissa tak sadarkan diri.
"alissa" kara pun menghampiri Alissa yang sedang pingsan di tengah hutan yang lebat ditambah dengan hujan yang deras, lalu kara menggendong Alissa ke bawah pohon yang cukup lebat untuk berteduh "maafkan aku Alissa keluarga ku menyuruhku untuk membunuh keluarga mu" dia pun menangis "kara.." Alissa yang tersadar pun langsung memeluknya "apa yang terjadi kara?" tanya Alissa, belum sempat menjawabnya kara pun tertembak "anak yang tak berguna" ucap Arthur, itu membuat Alissa terkejut dan berlari meninggalkan kara yang terbaring lemas, "tuhan, aku ingin hidup" ucap Alissa dia pun berlari sekencang kencangnya sembari menangis "JDOR" tembakan mengenai kaki Alissa
"AAAAAAA" teriak Alissa kesakitan, Arthur menghampiri Alissa "ayahmu bekerja sebagai pembantu di rumah ku dan dia mencuri semua uang kami ayahmu kabut disaat kami akan membantai keluargamu dan keluarga ayahmu akan menjadi korban termasuk kamu Alissa hahaha" Arthur tertawa layaknya psikopat menodongkan pistol ke arah Alissa, Alissa terkejut dan hanya bisa pasrah dengan keadaan "BRUKKK" terlihat kara yang memukul ayah dan anak buah ayahnya yang membuat Arthur dan anak buahnya tak sadarkan diri "kara.." ucap Alissa, kara menggendong Alissa dan berlari keluar hutan, tetapi "JDER JDER" tembakan dari adik Arthur yang bernama Alex mengenai mereka berdua dan membuat mereka berdua terbaring lemas "kara.." Alissa yang tak berdaya menggenggam tangan kara "kita akan terus bersama" ucap kara dengan lemas tak berdaya "sampai maut memisahkan kita" sambung Alissa mereka mengucapkan janji mereka saat awal mereka pertama kali manjadi sepasang kekasih, mereka yang sudah pasrah pun tumbang bersama dengan warna suara yang berwarna biru tua yang terakhir kali Alissa lihat
•TAMAT•