Jika didunia nyata aku tidak bisa bersama mu, maka setidaknya izinkan aku untuk bersama mu kembali walau hanya didunia mimpi
...
Aku takut, apa yang harus kulakukan? Mereka tidak menyukaiku. Aku menyayanginya tapi bahkan untuk menatapku saja ia enggan. Sebegitu burukkah wajah ku ?
Berdiri di depan pintu kamar diam-diam. Mengintip dua pangeran kecil yang sedang tertidur pulas.
Wajahnya yang sebagian tertutupi oleh topeng tampak tersenyum. Namun sorot matanya memancarkan rasa sendu dan kasih sayang yang di sembunyikan. Berdiri lama di sana sebelum seseorang menghampirinya.
" Yang mulia " wajahnya sedikit terkejut tapi dengan cepat ia menetralkan ekspresinya.
" Jaga mereka berdua dengan baik " berbicara dengan dingin dan pergi.
" Huh... Sampai kapan anda harus berpura-pura membenci pangeran Ace dan pangeran Xavier yang mulia. Mereka membutuhkanmu " langkahnya terhenti.
" Anda datang setiap malam hanya untuk melihat wajah mereka "
" Felix Magath Aloysius " berkata dengan nada suara yang penuh penekanan.
" Maafkan kelancangan saya yang Mulia Ratu Drusilla " membungkukkan badannya.
" Kau tentu tau apa alasannya bukan. Jika aku mendekat dia akan bangkit. Itu akan berbahaya bagi mereka "
" Ace dan Xavier adalah hal paling berharga bagiku. Bahkan mereka berdua lebih berharga dari pada kerajaan ini "
" Yang mulia "
" Biarkan saja mereka membenciku. Asal mereka aman. Kutukan ini terlalu berbahaya bagi mereka. Hartaku yang paling berharga " kali ini tanpa menoleh lagi ia pergi.
Felix hanya bisa tersenyum sedih.
" Sampai kapan " lirihnya. Kemudian ia bersandar pada pintu kamar para pangeran.
Tanpa menyadari bahwa kedua pangeran telah terbangun dan mendengarkan semua perbincangan keduanya.
" Kak "
" Tenanglah Ace. Kita akan cari tau lagi, sekarang tidur ya " Xavier membawa adiknya Ace kembali ke tempat tidur, menyelimuti dan mengusap kepala sang adik sampai tertidur.
" Mama. Sampai kapan pun kita akan menunggu "
" Xavier dan Ace tidak akan pernah bisa membenci mama " Xavier membatin.
Dibandingkan dengan Ace, Xavier adalah yang paling mengerti apa alasannya Drusilla, ibu mereka menjadi seperti itu.
Tapi dia tetaplah seorang anak yang baru berumur 10 tahun. Ia dan adiknya tatap haus akan kasih sayang.
Setelah berpikir panjang, Xavier akhirnya memutuskan untuk mengakhiri ini semua. Ia mungkin sanggup tapi Ace tidak.
Ace terlalu rapuh. Ace masih terlalu naif. Ace masih belum bisa menerima. Ace masih belum mengerti.
Ia tidak mungkin mampu untuk selalu menyakinkan Ace agar tidak membenci sang ibunda.
Ini bukan pertama kalinya Xavier mendengar dan melihat pembicaraan yang seperti tadi.
Ia bahkan setiap malam mengetahui bahwa ibunya melihat mereka berdua diam-diam.
...
" Vincent, bagaimana kabarmu. Lihatlah aku semakin menjauh dari para pangeran kecilku "
" Hiks... hiks... hiks... Aku lelah. Sampai kapan? Aku ingin memeluk mereka, mengajari mereka berdua semua yang ku tau " Drusilla menatap langit yang penuh bintang sambil terus menangis. Ia merindukan seseorang.
Orang yang begitu tulus mencintai dan menyayanginya. Bahkan rela mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkannya.
Dia terus menangis mengingat waktunya semakin dekat.
" Besok adalah saatnya " menghapus air matanya, dan menatap langit yang penuh bintang dengan tersenyum.
...
Paginya erangan kesakitan memenuhi kamarnya. Ia berbaring di lantai sambil menggigit bibirnya sampai mengeluarkan darah.
Tubuhnya memancarkan cahaya merah dan hitam yang pekat.
Kulitnya yang seputih salju mulai muncul rune-rune aneh berwarna biru malam. Rune kuno yang menakjubkan.
Braak...
Pintu kamarnya dibuka dengan kasar.
" Pergi " ucapnya sembari memasang segel pelindung.
" Mama " Ace berteriak histeris. Ia takut. Sementara Xavier mematung.
" Menjauh " ucapnya sendu. Tapi bukannya menjauh Xavier dan Ace malah berjalan mendekat.
Sekali lagi pintu kamarnya terbuka dengan kasar.
Felix masuk bersama dengan 6 orang lagi yang dijuluki sebagai 7 jendral.
" YANG MULIA " mereka berteriak dengan serempak.
" Bawa... Xavier dan Ace... Pergi. Akh " Drusilla kembali mengigit bibirnya. Keraguan muncul di dalam hati mereka.
" Ini perintah " tegasnya. Tapi sebelum 7 jenderal bergerak, Xavier dan Ace telah memeluknya.
" Hiks... hiks... hiks... Mama " Ace menangis sementara Xavier mengeratkan pelukannya.
" Menjauh, kalian akan ik- "
" Tidak peduli. Xavier akan terus bersama mama "
Tersenyum manis. Sementara rune kuno itu sudah menyebar secara sempurna.
" Xavier, Ace sampai kalian harus saling melindungi "
" Sampai jumpa " lalu mendorong tubuh kedua pangeran kecil tersebut kembali ke dalam pelindung.
Sementara ia berubah menjadi partikel merah dan hilang.
Xavier dan Ace menangis meraung, 7 jenderal juga mengeluarkan bait mata mereka. Sama-sama terisak.
" Xavier dan Ace, tidak pernah membenci mama "
" Ace dan Xavier sayang mama "
Pada akhirnya keduanya harus sama-sama kehilangan. Mereka ditinggalkan tanpa pernah melihat dan merasakan apa itu kasih sayang yang sesungguhnya. Mereka berdua hanya tau cinta dan kasih sayang yang tulus tapi dalam diam.
...
THE END~~
Klik lambang Heart ❤️ nya ya
Komentar saran dan kritik juga✨
Adios🍷