“Ahhhhh………………………..”
Segar sekali rasanya bisa bangun pagi di pedesaan seperti ini. Buka jendela lihat sawah yang hijau, gunung yang diselimuti kabut tipis, bunga-bunga yang bermekaran. Aku sungguh suka itu, hal yang tak pernah bisa dirasakan di kota. Suara burung yang saling bersautan semakin menambah semarak pagiku. Aku Farah Anandita, gadis berumur 21 tahun yang sangat suka sekali berpetualang.
Libur semester ini aku manfaatkan untuk berlibur di kampung temanku, namanya Heni. Dia temanku sejak kami pertama kali menginjakkan kaki di kampus. Dia cerdas, pekerja keras, dan dia sangat baik anaknya.
Kali ini aku menginap di rumah Heni, orang tuanya pun juga sangat baik. Dia punya kakak laki-laki namanya Andi. Mas Andi juga sangat baik, dia sekarang mempunyai usaha di sekitar kampungnya. Dia termasuk orang yang sukses, dia sudah mempunyai beberapa karyawan yang membantunya.
“Sarapan dulu dik Farah..” Mas Andi memanggilku di teras rumah.
Aku sarapan dengan orang tua Heni dan juga mas Andi. Mereka tampak bahagia dengan suasana yang sangat hangat. Meskipun hidup di kampung tapi keluarga mereka sangat hangat. Beda dengan keluargaku. Mama dan papa jarang bertemu, sekalinya mereka bertemu pasti berantem. Mereka bahkan tidak peduli denganku, anak mereka sendiri karena kesibukan mereka. Jujur aku sangat merindukan kehangatan keluarga seperti ini.
Tiba-tiba aku menatap pada mas Andi yang ada di depanku. Mata kami saling bertemu, dan aku sedikit tersenyum dan mengangguk padanya. Tapi, kenapa pandangannya kali ini lain seperti biasanya. Aku pun berusaha menampiknya, menyelesaikan sarapanku seperti biasa. Membantu Heni mencuci piring yang kotor.
“Hen …. Seneng ya bisa berada di tengah-tengah keluarga kamu. Rasanya nyaman banget.” Kataku pada Heni.
Heni pun tersenyum mendengar curhatanku. Dia tahu apa yang kurasakan, bagaimana kondisi keluargaku.”Tinggallah lebih lama di sini, mas Andi pasti akan tambah seneng lagi.” Katanya.
“Kok mas Andi?” tanyaku.
“Masa kamu nggak peka sih Farah?” Tanya Heni kemudian dia menghadap padaku.”Baru 2 hari kamu di sini aja, mas Andi udah perhatian banget sama kamu. Dia sering nanyain kamu lewat wa ke aku, selalu pulang cepet. Padahal biasanya dia tuh nggak pernah pulang sebelum jam 9 malam. Sekarang jam 4 sore aja udah di rumah. Sini deh aku kasih tau.” Kata Heni sambil mengajakku duduk deket pintu belakang.
“Sebenernya mas Andi itu udah lama naksir sama kamu, tapi aku nggak berani bilang, orang kalian nggak pernah ketemu. Tau nggak, baru sekali dia liat foto kamu di story aku, dia langsung suka sama kamu.” Kata Heni begitu bersemangat tapi sedikit lirih karena takut terdengar mas Andi.
“Masa sih? Kamu mau ngeprank aku?” Tanyaku karena aku takut itu akan menjadi bumerang untuk persahabatanku dengan Heni.
“Aku serius Farah, dia ngomong sendiri sama aku. Cuma baru kali ini aku berani ngomong sama kamu.” Kata Heni serius.
Tiba-tiba mas Andi datang ke dapur dan membuatku gugup. Kenapa ini, kenapa tiba-tiba aku gugup dengan mas Andi. Menurutku mas Andi sangat rapi orangnya, tampan, cerdas, dan juga dia sangat berwibawa.
“Kalian ada rencana kemana hari ini?” Tanya Mas Andi.
“Farah pengen ke gunung, kenapa mas?” Tanya Heni.
“Enggak, 3 hari ke depan kayaknya mas nggak sibuk. Nanti biar mas antar kalian deh, nanti biar mas ngajak Beni, dia sangat tau soal gunung.” Kata mas Andi.
“Hah serius mas Andi mau ngajak mas Beny, ya udah kalau gitu hayuk, kita mau siap-siap secepatnya.” Kata Heni sangat bersemangat. Aku heran dengan tingkah Heni, sepertinya Beni adalah cowok yang sedang ditaksir Heni. Terlihat sekali wajahnya begitu berbunga-bunga ketika mas Andi mau ngajak mas Beni untuk ke gunung. Aku berjalan melewati mas Andi, tapi mas Andi memanggilku.
“Farah ….” Aku menoleh.
“Jangan lupa pakai jaket yang tebal, soalnya kalau sekalian bermalam di sana, cuacanya bakal dingin banget.” Kata mas Andi, dan aku pun mengangguk mengerti.
Saat di kamar aku melihat Heni yang sudah berkemas, padahal sebenarnya hari ini aku ingin sekali sungai dekat rumah, tapi sepertinya Heni sangat bersemangat untuk ke gunung. aku pun ingin membuat sahabatku bahagia. Lihat saja, dia sangat bersemangat sekali packing segala keperluan ke gunung nanti.
Aku menyenggolnya,”Semangat banget sih, mau ketemu gebetan ya?” aku menggoda Heni yang tersipu malu.
“Kamu inget mas Beni yang aku ceritain dulu, yang dulu aku bilang dia itu ganteng banget, dia pernah jadi asisten dosen di kampus kita.” Kata Heni bersemangat.
“Kalau kamu cerita aku inget, tapi kalau pernah liat di kampus aku nggak inget tuh.” Kataku sambil memasukkan barang-barang ke tas.
“Ihhhh … kamu mah, ehhhh iya… kamu waktu itu kan lagi bolos, makanya nggak ketemu.” Kata Heni.
“Ahhhh bodo amat, yang penting ntar kamu ketemu sama pujaan hati kamu deh, aku siap memantau …” kataku hingga membuat aku dan Heni tertawa.
Mas Andi sudah siap dengan mobilnya, dia membantuku mengangkat tas ke mobil. Pandangannya padaku memang berbeda, sama seperti sinar mata Heni yang lagi kasmaran. Heni memilih duduk di belakang, dan aku terpaksa duduk di depan. Aku tahu Heni melakukan itu untuk mendekatkanku dengan mas Andi. Mas Andi tersenyum ketika aku duduk di depan, “Bismillah” ucapnya sebelum berangkat.
Lima belas menit kemudian kita sampai di rumah Beni, teman mas Andi dan juga gebetan Heni. Apa jadinya nanti jika mereka bertemu, pasti lucu banget. Sepertinya yang baru keluar dari rumah itu adalah Beni, memakai topi dan tas ransel, tak terlalu terlihat olehku, tapi aku melihat Heni sangat senang. Jidatku pun terbentur pintu mobil ketika hendak mengambil ponselku yang jatuh. Mas Andi kemudian menolongku, dengan mengusap jidatku. Begitu perhatiannya dia padaku, membuatku salah tingkah dengan sikapnya.
Setelah Beni masuk mobil, dia duduk di belakang dan aku dikenalkan mas Andi pada Beni. Betapa kagetnya ketika melihatnya, takdir ataukah kebetulan saja ini. Dia Beni, laki-laki yang pernah dekat denganku waktu aku SMA. Aku dan Beni bertemu pertama kali ketika kami sama-sama mendaki gunung. Benar saja, makanya mas Andi bilang dia begitu paham tentang gunung. Aku dan Beni tak menampik itu, aku mengakui mengenalnya waktu pendakian juga. Setelah itu, kami tidak bertemu lagi. Dia adalah mantan gebetanku, orang yang dulu aku suka, tapi tiba-tiba dia menghilang.
Sesampainya di pendakian awal, Beni mendekatiku,”Farah … udah lama ya kita nggak ketemu.” Aku pun mengangguk, kemudian memanggil Heni. Heni pun dengan senang dekat dengan Beni. Aku pun berusaha menghindari Beni. Ya… dia dulu pernah ada di hatiku meski hanya sesaat, aku takut itu akan membuat Heni terluka.
“Farah …” Mas Andi mendatangiku memberiku segelas air mineral dan aku berterima kasih padanya. Setelah dilihat dari dekat, mas Andi sungguh menawan, sangat dewasa berbeda dengan Beni yang masih suka menggunakan egonya.
Akhirnya mereka berempat pun mendaki, mas Andi sangat perhatian padaku, sementara Beni ternyata juga bisa seakrab itu dengan Heni. Ya memori dulu sudah berakhir, aku tak mau mengungkitnya lagi bahkan mengulangnya lagi. Kami bahkan belum mulai mengukirnya, baru beranjak namun gagal. Aku baru menyadarinya, aku masih anak ingusan waktu itu, sedangkan Beni mahasiswa dengan segala prestasinya.
Akhirnya aku melihat sungai, aku senang sekali dengan air dan gunung, entah kenapa bisa seperti itu tapi aku benar-benar merasa damai jika berada di antaranya. Melihat mata air seperti melihat kehidupan yang sebenarnya. Ketika Mas Andi dan Heni sedang mengeluarkan bekal, Beni mendatangiku,”Kenapa kamu seperti menghindariku?”
“Aku biasa, kenapa kamu berpikir begitu?” Tanyaku pada Beni.
“Maafkan waktu itu, aku pergi begitu saja.”Beni menjelaskan.
“Aku aja udah lupa, lagian kenapa harus diingat-ingat sih, liat ke depan, ada yang nungguin kamu.” Kataku meminta Beni melihat ke depan, karena Heni sedang menunggunya di sana.
Beni pun akhirnya beranjak pergi menemui Heni, sedangkan mas Andi datang padaku. Dia membawakan aku secangkir kopi hangat. Aku tersenyum menyambutnya. Kami pun duduk di tepi sungai sambil ngobrol.
“Farah …boleh aku bertanya?” Kata mas Andi
“Ya ….” Kataku.
“Apa targetmu setelah lulus kuliah?” Tanyanya.
“Mmmmm … apa ya, aku nggak punya target khusus sih mas. Saat ini, aku punya usaha kecil-kecilan di deket kampus, aku mau ngembangin itu. Aku nggak mau kerja kantoran, bagiku itu cuma akan membuatku banyak menghabiskan waktu di luar, sementara aku ingin punya waktu lebih dengan keluarga kecilku, kalau sudah menikah nanti.” Kataku membuat mas Andi tersenyum.
“Memangnya kamu pengen menikah kapan?” Tanya mas Andi.
“Mmmmm … belum kepikiran juga sih mas, hahaha … aku orangnya nggak punya target sih. Tapi, kalau saat ini aku berpikir, kalau memang ada cowok yang bener-bener ingin serius denganku, langsung aja datang ke rumah, bilang sama mama papa, kalau mau pacaran doang aku nggak mau, capek disakitin mulu mas.” Kataku membuat mas Andi tersenyum.
“Memangnya kamu sering disakitin cowok?” Tanyanya lagi.
“Disakitin sih enggak, dicampakkan iya ….hahahaha.” Kataku.
“Kenapa perempuan sebaik kamu sering dicampakkan laki-laki?” tanyanya.
“Aku orangnya semau aku sendiri mas, suka tiba-tiba ngilang, sering tiba-tiba nggak ada kabar, ya aku kalau lagi suntuk suka gitu sih. Makanya banyak yang nggak betah sama aku, cuma Heni yang bisa sekuat ini berteman sama aku, yang lain mah dateng kalau ada maunya doang, ehhh … tapi maaf lho mas Andi, kalau Heni sering aku ajakin pergi-pergi, tapi nggak pernah aku ajakin bolos kuliah kok, sumpah” Ceritaku.
Mas Andi tertawa melihatku bercerita,”Enggak apa-apa, namanya juga masih muda. Keluarlah selagi ada kesempatan, gunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Aku tahu kalian bisa membedakan mana yang bener dan mana yang tidak.”
Sumpah baru kali ini aku ketemu cowok yang bener-bener sabar, bijaksana, dan dewasa banget kayak mas Andi ini. Apa tiba-tiba aku suka dengan mas Andi, sampai terpana dengan kata-katanya kayak gini ya.
“Ya udah yuk, keburu sore.” Katanya lalu membantuku untuk berdiri.
Kali ini aku dibuat kagum oleh mas Andi, dia laki-laki yang begitu ngemong, yang begitu membuatku merasa menjadi seorang perempuan seutuhnya.
Sesampainya di puncak kami pun mendirikan tenda, menyiapkan semua agar kami bisa bermalam di sini dan melihat sunrise besok. Tak sabar aku melihat kuasa Tuhan yang sangat indah.
Suasana malam di sini sangat cantik, banyak pendaki yang ramah meskipun kami tak saling kenal. Kami pun membuat api unggun, mas Andi memainkan gitarnya dan bernyanyi. Ternyata suaranya bagus banget.Sepertinya dia tipe pria yang romantis. Ahhh …. Rasanya aku sudah gila selalu memikirkan mas Andi. Apa kata Heni nanti kalau aku ….. ah sudahlah.
Saat Heni dan Beni sudah ada di tenda masing-masing. Aku dan mas Andi masih di api unggun. Aku sangat senang menikmati malam di gunung karena begitu menenangkan. Mas Andi mendekat padaku, memberikanku jaketnya. Aku pun menerimanya, karena memang udaranya sangat dingin.
“Farah … boleh aku ngomong sesuatu?” Tanyanya begitu sopan dan aku pun mengangguk.
“Kapan kamu akan kembali ke Jakarta?” Tanyanya yang membuatku agak kaget, apa mungkin aku di rumahnya merepotkan.
“Mungkin lusa mas, kenapa mas? Apa aku merepotkan ya selama tinggal di rumah mas Andi?” Kataku sangat lugu.
“Ohhh ….bukan Farah, eee … begini, aku ingin mengantarmu pulang nanti.” Katanya dengan senyum khasnya.
“Ohhh nggak usah, nanti aku malah ngrepotin mas Andi.” Kataku berusaha menolak.
“Enggak kok,… itu keinginanku. Farah, … aku menyukaimu, aku suka pribadimu. Dari awal tahu fotomu, aku yakin kamu perempuan baik-baik, kamu lucu, kamu periang, kamu cukup dewasa.”
Aku terdiam mendengar ucapan mas Andi, rasanya aku mendengar kata mutiara yang sangat sopan. Baru kali ini seorang cowok menyatakan perasaannya padaku dengan sangat sopan.
“Tapi Farah, aku tidak hanya ingin menjadikanmu pacar. Aku ingin menikahimu, menjadikanmu ratu dalam hidupku, itupun kalau kamu bersedia. Dan aku ingin bertemu dengan orang tuamu untuk menyampaikan niat baikku.” Katanya dengan tenang.
Ya Tuhan, apa saat ini dia melamarku. Aku begitu dibuat terpesona dengan kata-katanya, aku seperti tersihir oleh pesonanya. Apakah aku akan menerimanya, bagaimana jika dia tau bagimana keadaan keluargaku sekarang, aku terdiam tertunduk. Malu rasanya jika mas Andi tau semua tentang keluargaku yang begitu berantakan.
“Maaf Farah, kalau aku membuatmu sedih.” Katanya kemudian mendekatiku.
“Bukan begitu mas, mas Andi kenapa bisa seyakin itu sama aku? Mas Andi belum tau keluargaku seperti apa.” Kataku pada Mas Andi.
Mas Andi tersenyum,”Aku sudah tau semua Farah, aku ingin membuatmu bahagia.”
“Heni cerita semua sama mas Andi?” tanyaku. Dan mas Andi mengangguk, ternyata dia sudah mengenalku lebih dari yang kutahu, dia sangat penyayang, mungkin dia sosok yang aku tunggu, sosok pria yang bisa membimbingku lebih baik lagi.
“Kamu tidak harus menjawab sekarang Farah, aku tahu ini keputusan yang besar. Pikirkan matang-matang, jika memang tidak suka aku tak apa. Yang penting kamu bahagia.” Kata mas Andi,”Tidurlah, biar besok bisa melihat sunsrise.”
Aku pun mengangguk dan masuk ke tenda untuk tidur. Karena besok aku ingin melihat sunrise yang indah.
Pagi pun tiba, aku segera membangunkan Heni untuk segera bergegas melihat sunrise. Entah semalam apa yang kupikirkan tapi rasanya terlalu nyaman untukku. Aku melihat mas Andi sudah menunggu di depan bersama Beni, dia tersenyum padaku. Beni pun menggandeng tangan Heni, aku kaget melihatnya, mungkinkah mereka sudah jadian, tapi Heni tidak cerita padaku. Aku pun berjalan berdampingan bersama mas Andi untuk melihat sunrise, aku rasa ini sunrise terbaik yang pernah kulihat, begitu sempurna dan begitu sangat cantik.
Aku menatap mas Andi, dia laki-laki yang sempurna, mungkinkah dia yang memang ditakdirkan Tuhan untukku, membimbingku, keluar dari rasa kecewa dalam keluarga yang selama ini aku rasakan. Kemudian mas Andi menatapku dan tersenyum.Aku pun membalas senyumnya.
“Cantik ya sunrisenya …” katanya.
“Aku akan menunggu mas Andi di Jakarta.” Kataku sambil menatap sunsrise. Dia tampak menoleh padaku, aku pun juga, dan aku mengangguk. Aku yakin, dia adalah laki-laki baik yang tepat untukku. Laki-laki yang bisa bersamaku, menemaniku sampai ujung usiaku.