"Cieeee ... Yang lagi ngelamun, anteng banget kelihatannya!" terdengar suara seorang perempuan, tepat di belakang tubuhku. Kuputar tubuhku untuk menatap sumber suara.
Deg!
Tiba-tiba saja dada ini bergetar kuat, seketika aku tersenyum kikuk.
"Bikin kaget aja, sudah lama kamu di sana?" tanyaku, kembali memutar tubuh menatap lurus kedepan, menatap pemandangan yang tidak jauh lebih indah dari wajahnya, lebih tepatnya sengaja menghindari tatapannya yang masih sama.
"Eemmhh ... Lumayan, ternyata asyik juga lihatin orang yang lagi asyik ngelamun" dia terkekeh, berjalan mendekat, lalu duduk di sampingku dengan nyaman.
Deg!
Deg!
Deg!
Hati ini ... Masih bereaksi sama seperti hari-hari sebelumnya, berdebar kuat bahkan meski aku hanya melihatnya bernapas.
"Kalau kamu sudah lama berdiam diri disana, kenapa malah lihatin, bukannya ditanya dari tadi, atau ... Kalau gak mau nanya, nyolek dikit juga gak apa-apa, he" aku terkekeh geli, berusaha menghilangkan rasa kikuk yang melanda.
"Apaan sih? Sukanya di colek-colek, maaf yaaaa ... Aku gak doyan culak-colek, nanti pacar kamu marah lagi" dia merenggut lucu.
"Haha, ada-ada saja, tahu gak sih?? Ngatain punya pacar sama orang yang lagi jomblo itu, kedengarannya seperti sebuah hinaan" aku terbahak, bagaimana mungkin, aku membahas pacar, sementara orang yang aku cintai adalah kamu, iya kamu yang kini tengah duduk disampingku.
"Halah, jomblo dari hongkong?" dia terbahak. Lagi.
"Bukan dari hongkong, tapi dia ada disampingku" jawabku menghentikan tawaku, laju menatapnya dalam, seketika dia terdiam, tawanya terhenti, raut wajahnya menegang, aku yakin dia faham apa maksudku.
Dia mengedarkan pandangan kesekeliling, menggaruk tengkuk, lalu tersenyum kikuk.
"Mm maksudnya?" dia mengalihkan pandangan, tidak berani menatap mataku.
"Kamu tahu maksudku" ucapku datar.
"Hheee ... Bukan aku kan??" dia menunjuk wajahnya sendiri, lalu tersenyum seperti biasa, begitu ketara dia sedang berusaha menghilangkan kegugupannya. Dia masih saja sama, gadis lugu, polos, dan menggemaskan.
Sudah terlalu lama aku memendam rasa ini padanya, aku yakin dia juga memiliki perasaan yang sama, lewat ucapan, tingkah, bahasa tubuh, juga sikap yang selalu dia tunjukkan padaku, aku yakin dia juga mencintaiku, namun ... Kadang adakalanya cinta tidak semudah itu bagiku, aku tahu gadis polos pujaanku ini adalah gadis baik, dan penurut terhadap kedua orangtuanya, dia selalu manut atas perintah orangtuanya, aku paham itu. Dan selama ini, kedua orantuanya tidak pernah menyukaiku, entah apa alasannya. Jadilah, cinta kami terhalang restu.
"Eeemmhh, mau gak bantuin aku lagi??" terdengar dia memecah keheningan, setelah cukup lama kita saling terdiam.
"Tergantung" ku kedikkan kedua bahuku acuh.
"Ish! Anter ke mall yuk" ajaknya, sembari berdiri, menepuk bokongnya yang bekas duduk di atas rerumputan hijau ini.
"Enggak ah, ntar ada yang marah lagi" aku menolak secara terang-terangan.
"Ck! Kayak kita baru pertama kali aja pergi diem-diem, dah Ah, ayook!" dia meraih pergelangan tanganku kuat, menarikku dari duduk bersilaku, akhirnya aku mengalah, laju berdiri untuk mengikuti langkahnya.
"Kalau ketahuan Papahmu, bisa berabe" aku masih berusaha mengingatkan. Tapi dia terlihat acuh.
"Pake motormu! Aku males bawa mobilku" dengan gerakan cepat, dia segera menaiki motor vespa kesayanganku, sebelum aku menaikinya, meninggalkan mobil mewahnya, yang di parkir di samping motorku.
"Gak apa-apa kamu kepanasan??" tanyaku ragu.
"Ck! Apa sih? Kayak baru pertama aja" dia mendengus sebal.
Dia memang perempuan yang terlahir dari keluarga berada, namun dia tidak pernah sombong ataupun angkuh, selalu apa adanya dan rendah hati.
Motor melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota dengan cuaca adem sore ini, jalanan lumayan lenggang saat aku melewati jalan pusat menuju mall yang dituju.
Deg!
Rasa ini tidak pernah berubah sejak pertama, tangan ini kembali melingkar tepat di antara perutku, hatiku masih berdebar, sementara di detik berikutnya, kurasakan kepala gadis pujaanku menempel sempurna dipundakku, berusaha tenang aku masih fokus mengendarai motor kesayanganku.
"Bolehkah kita pergi saja?"
Samar, suaranya yang pelan hampir tak terdengar karena tersapu angin.
"Bukankah kita sedang dalam perjalanan bepergian?" tanyaku heran.
"Pergi ketempat yang jauh, dimana hanya ada kita saja, tanpa ada pertentangan yang harus kita terima" suaranya terdengar bergetar, aku menghela napas berat.
Menjalani hubungan backstreet itu tidak semudah yang dibayangkan, rasa takut selalu mendominasi, kala aku dan dia tengah jalan berdua.
"Jodoh gak akan kemana, begitu bukan??"
"Tapi, kalau kita gak jalan kemana-mana, apakah kita akan bertemu jodoh?"
"Jika Allah menghendaki, tak ada yang mustahil"
"Aku lelah ..."
"Kita sudah sampai, kamu mau sampai kapan nemplok dipunggungku?" aku terkekeh, mengelus tangannya yang masih setia memelukku. Masih belum ada pergerakan, aku masih setia menunggunya.
Lima menit kemudian, dia mulai terusik, turun dari motor, lalu melepas helmnya, memberikannya padaku, sementara aku menerimanya sambil tersenyum.
"Menurutmu, kenapa Papahku, dan Mamah kamu gak pernah mau merestui hubungan kita? Aku lelah di gantung terus kayak gini, please hati aku bukan jemuran" dia merengek seperti biasa. Aku tersenyum menanggapinya.
Terlalu lama kami saling memendam rasa, tanpa kata atau ungkapan saling cinta, cukup kami saling memahami hati masing-masing, sambil menunggu restu itu diberikan, tapi nahas selama apapun kami menunggu restu itu tak kunjung datang, aku termenung cukup lama, menelisik alasan 'kenapa orangtua kami tidak pernah mau memberikan restunya atas hubungan kami'.
"Kamu pinter, kamu ganteng, kamu orang berada, pekerjaan dan usiamu sudah mapan, tapi kenapa Papah tidak pernah menyukaimu?. Aku cantik, aku baik, aku lembut, aku pinter, Papahku pengusaha, aku juga punya pekerjaan, tapi kenapa Mamahmu tidak pernah menyukaiku?" dia mengerucutkan bibirnya sempurna.
Aku tersenyum, mengacak rambutnya dengan gemas. "Udah ah, yuk masuk, katanya mau belanja, atau mau beli ice cream dulu?" tanyaku merubah topik pembicaraan.
"Boleh" dia mengangguk, berjalan menggandeng tanganku dengan sedikit lesu.
Kami berjalan memutari mall, masuk kedalam setiap toko yang menarik perhatian, hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul delapan malam, akhirnya kami memutuskan untuk pulang.
Dalam perjalanan menuju pulang, aku sedikit ngebut, takut jika tiba di rumah calon Papah mertua sudah melintir kumisnya.
Hampir pukul sembilan, akhirnya kami tiba dirumah kekasihku, dan benar saja apa yang aku takutkan akhirnya terjadi, didepan teras rumah, Pak Hardi tengah berkacak pinggang menatap kami dengan tajam.
"Dari mana saja kalian?!" itu adalah pertanyaan pertama yang dia lontarkan.
Aku menunduk, sementara Indri segera berjalan mendekati sang Ayah.
"Pah, Indri habis jalan ke mall, tadi ada yang mau dibeli" Indri mengacungkan papperbag yang tengah di tentengnya.
"Cih! Alasan! Masuk rumah!" ucapnya sarkas, sejenak menatapku tajam, lalu tanpa basa-basi beliau masuk kedalam rumah, lalu membanting pintu dengan keras, aku sedikit terjingkat. Dengan segera, aku kembali memacu kendaraanku, untuk pulang kerumah.
"Dari mana saja kamu Za?" suara Mamah cukup melengking kala aku baru memasuki ruang tengah. Kuhentikan langkahku, memutar tubuh menatap Mamah yang tengah berkacak pinggang.
"Habis jalan-jalan Mah" jawabku menunduk takut.
"Sama Indri lagi?" tanyanya tajam, aku meneguk salivaku susah payah, mengangguk perlahan.
"Harus berapa kali Mamah katakan? Mamah tidak suka kamu berhubungan dengan Indri!!!" teriak Mamah kasar.
"Tapi Mah ..."
"Apa? Kamu mau lawan Mamah? Kamu mau buat Mamah sakit lagi? Iya?!"
"Alasannya apa Mah? Reza butuh alasan! Aku sangat mencintai Indri Mah!"
"Semua ini Mamah lakukan karena Mamah sayang kamu Za!"
"Udah Mbak, jangan marahin Reza lagi, Za kamu masuk kamar!" seperti biasa, Tanteku tersayang kini datang membela. Aku berjalan menuju kamar dengan langkah gontai, meninggalkan Mamah yang masih murka, kini Mamah sedang ditenangkan oleh Tanteku.
***
"Za, kamu gak apa-apa?" Tante memasuki kamarku, duduk disamping ranjang yang tengah aku tiduri.
"Gak apa-apa Tan, lagian udah biasa juga Mamah kayak gitu" ucapku malas.
"Sabar ya Za, cinta memang butuh pengorbanan" Tante tersenyum menatapku.
"Tan, kenapa sih? Mamah Reza, sama Papahnya Indri, kok kompak banget sih nentang hubungan kita, kalau ditanya alasan, mereka selalu saja tidak jelas" tanyaku akhirnya. Mungkin Tante tahu sesuatu.
"Sepertinya, sampai kapanpun, mereka tidak akan pernah merestui hubungan kalian Za" Tante berbicara dengan nada lembut.
"Loh? Kenapa?" aku terperanjat kaget, segera duduk bersila dihadapan Tante.
"Mereka tidak merestui kalian, bukan karena kekurangan fisik, atau materi, namun ..."
"Kenapa Tan?"
"Mereka terbawa rasa mereka yang dulu" Tante menghela napas panjang.
"Maksudnya??"
"Papahnya Indri dulu pernah pacaran sama Mamah kamu, tapi ... Mereka terpisahkan karena salah faham" mata Tante Mayang menerawang jauh pada sebutir kenangan masa lalu, sementara aku diam menyimak. Inikah alasannya?.
"Mereka saling menuduh, jika diantara mereka pernah mengkhianati satu sama lain, sampai saat ini, kesalah fahaman itu belum terselesaikan, hingga muncullah dendam diantara hati mereka masing-masing" lanjut Tante Mayang.
"Kalau cinta mereka yang kandas, kenapa hubungan kita yang jadi korban Tan?" aku termenung, memikirkan hubunganku dengan Indri selanjutnya.
"Cinta kadang selalu egois Za" Tante tersenyum, terkekeh geli.
"Egois?? Jadi ... Haruskah aku juga egois pada cintaku dan Indri?"
"Semuanya kalian yang menentukan"
Tante Mayang berdiri, lalu berjalan menuju pintu kamar, namun sebelumnya dia kembali menoleh.
"Za, kadang cinta memang seringkali egois, tapi ... Kali ini, cobalah untuk bijaksana dalam menyikapi cinta kalian"
Klek!
Tante Mayang menutup pintu kamarku, meninggalkan aku sendiri, yang masih termenung.
Lalu ... Keputusan mana yang harus aku ambil, bijaksana ... Sebijaksana apa aku bisa berbuat untuk cintaku, seegois apa aku bisa berjuang untuk cintaku?.
Oh ... Cinta bukan hanya tentang egois dan bijaksana, tapi juga tentang pengorbanan.