Kedua netra bulat itu mengamati dari balik kardus usang yang basah. Sejauh mata memandang hanya terlihat genangan air dan kendaraan berlalu menerobos rintik yang membasahi bumi.
Dibalik bulu-bulu abu-abu yang lusuh, ia masih tetap kedinginan. Ia lupa kapan terakhir kali memakan wortel segar, sejauh ini hanya mengais sisa sayuran dari pasar. Terkadang kalau ada anak yang berbaik hati memberikan makanan, terkadang juga banyak yang mengganggunya.
Kelinci itu mengamati kardus tempatnya selama ini. Sudah rusak, tidak lagi bisa ditempati. Pada akhirnya kaki mungil itu memilih melompat menjauh menerobos hujan untuk mencari tempat kering dan hangat.
Derai hujan benar-benar membuatnya kesusahan. Selain jalannya yang mengabur, ia tak lagi mampu menahan dinginnya air hujan. Tubuhnya basah kuyup. Mungkin ini akhirnya, kelinci itu tak lagi mampu melompat.
Di ambang kesadarannya, perlahan ia merasakan tubuhnya terangkat. Hujan tak lagi membasahinya sebab tertutup payung. Manusia berambut panjang, menatapnya iba.
"Namaku Mee, Apa kau tersesat?" Kedua netra bulat sang kelinci mengamati gadis yang tengah membawanya dalam dekapan. Tak peduli meskipun sweater rajut yang tengah gadis itu gunakan terbasahi oleh bulu basah sang kelinci.
Gadis itu memutar tubuh kelinci mencari sesuatu. "Kau tidak pakai kalung, kelinci manis apa kau tidak punya pemilik?" Kelinci itu masih senantiasa menatap presensi sang gadis yang tengah mengajaknya bicara. Menatap dengan manik berbinar, Jika ia bisa bicara seperti manusia mungkin itu sebuah jawaban 'Iya'
Gadis itu berfikir sejenak. "Apa kau merepotkan? Aku tidak suka sesuatu yang merepotkan."
"....."
Gadis itu menghela napas. "Kau pasti sangat kesepian seperti ku." Sejenak raut sendu terlihat dari gadis itu.
"Baiklah, karena aku yang menemukan mu mulai sekarang aku pemilik mu." Ucapnya dengan binar senang. Mengelus lembut bulu-bulu basah sang kelinci. Pun dalam benak sang kelinci tersenyum senang mendapatkan pemilik baru. Ia bahkan sedikit menggerakkan badannya tanda ia sangat menyukai gadis pemilik barunya ini.
"Siapa nama mu?" Tanya Mee sembari berjalan di tengah hujan dengan satu tangan memeluk sang kelinci.
Kelinci itu masih setia memandangi Mee. "Tidak punya ya?" Tanya Mee Kembali. Lagi-lagi tak ada sahutan, sejenak Mee merasa seperti orang gila. Untung saja sedang sepi. Baiklah, anggap saja Kelinci ini tak punya nama. Memang begitu sih, kelinci itu lupa siapa namanya.
"Mulai sekarang nama mu...." Mee menjeda Ucapnya guna memikirkan nama yang tepat untuk kelinci yang baru ia temukan.
"Gookie?" Secerah raut senang Mee, begitupun sang kelinci yang kini berubah nama menjadi Gookie. Ia menggeliat senang dalam pelukan Mee seolah mengatakan 'Iya, Gookie aku suka Gookie.'
"Aku akan merawatmu, tapi kau janji jangan merepotkan ya?" Tanya Mee. Ia mempererat rengkuhannya pada Gookie. Si kelinci abu-abu yang baru ia temukan di jalan saat hujan tadi.
Sementara Gookie menempel nyaman pada tubuh Mee.
'Gookie, namaku Gookie, aku suka Gookie, aku suka Mee.' Batinnya sebelum tertidur hangat dalam pelukan pemilik barunya.