Gedung kota menjulang tinggi. Lalu lalang kendaraan memenuhi jalanan dan orang-orang dengan beragam model penampilan mengisi setiap sudut kota. Hari tampak sangat ramai dengan fenomena itu. Inilah hidup dimasa yang terkenal akan kemoderenan dunia. Tempat dimana Yenji Oreta berada saat ini.
Sebuah pustaka penuh buku beragam jenis, dikunjungi oleh Yenji hari itu. Tampak pustaka didatangi beberapa orang didalamnya. Yenji masuk seorang diri dan melihat-lihat buku yang ada disana.
Lalu setelah mendapatkan buku bacaan, Yenji duduk ditempat yang telah disediakan. Membuka buku dan melakukan apa yang ingin dilakukannya. Ternyata lelaki itu tidak membaca buku, melainkan hanya memanfaatkan jaringan wifi gratis yang tersedia disana. Dibalik buku dia menyelipkan ponsel dan menonton tayangan online. Tak berapa lama seseorang menjatuhkan sebuah buku tanpa dia sadari dan buku itupun tertinggal begitu saja. Yenji mendengar suara buku jatuh dan melihatnya. Setelah itu Yenji mengambilnya. Entah kenapa ia melakukannya. Tetapi sebuah firasat muncul mengenai ketertarikan akan buku tersebut.
"Ini buku novel? paling hanya novel romantis biasa."
Membuka buku dilembar awal. Lembar pertama berupa sebuah gambar seseorang yang tidak menampakkan wajah sepenuhnya. Hal itu membuat Yenji merasa sedikit heran.
"Ini penulisnya ya? Kenapa hanya sebagian saja? sebaiknya jangan memasukkan gambarmu kedalam buku ini kalau begitu."
Lanjut lembar berikutnya. Kini Yenji memasuki awal cerita. Lembar berikutnya berganti, dan terus berlanjut hingga lelaki itu tidak sadar bahwa ia sudah menghabiskan hampir setengah cerita. Sekarang sudah waktunya Perpustakaan untuk tutup. Dan Yenji pun harus menyudahi aktivitasnya.
"Cepat sekali waktu berlalu. Perasaan baru aku baca ini buku."
Tiba-tiba muncul ide untuk meminjam buku tersebut. Bergegas Yenji meminta izin untuk pinjam buku itu. Akan tetapi buku itu tidak bisa dipinjam. Mengenai alasan, pegawai perpustakaan hanya berkata bahwa buku itu dilarang untuk dibawa keluar. Mendengar perkataan sang pegawai pustaka, membuat Yenji mengembalikan ke tempat asalnya. Tidak lupa ia menandai bagian laman yang terakhir ia baca.
"Aku akan membacanya lagi besok."
Keesokan harinya, Yenji datang dan berjalan menuju tempat dimana buku yang kemarin ia baca sebelumnya. Sesampainya disebuah rak buku, ia melihat bahwa buku tersebut tidak ada disana. Dan Yenji pun bergegas mencarinya. Satu persatu rak ditelusurinya. Namun tidak ditemukan olehnya.
"Sial! Kemana buku itu?"
Sesaat kemudian, Yenji melihat seseorang tengah membawa buku itu. Dengan sigap Yenji mengikuti pergerakan orang tersebut.
Buku tersebut dibaca oleh orang asing itu dan membuat Yenji harus menunggu sampai orang itu selesai. Setelah menunggu lama akhirnya Yenji dapat membaca buku itu kembali. Cerita berlanjut ke halaman berikutnya. Laki-laki itu menikmati waktu dan aktivitasnya itu. Sesampainya ditengah cerita, ia melihat sebuah gambar yang menjadi bagian dari cerita itu. Gambar seorang perempuan yang tengah memegang sebuah benda. Buku ini semakin menarik minat Yenji, dan ia pun melanjutkannya lagi.
Terdengar suara pertanda perpustakaan akan segera tutup. Yenji yang mengetahui hal itu menjadi kesal, sebab ia belum selesai dengan kegiatan membacanya. Yenji menandai halaman terakhir yang ia baca hari ini dan mengembalikkannya kedalam rak buku.
"Kenapa pustaka ini cepat sekali tutupnya? Aku belum selesai membaca buku itu."
gerutu Yenji dalam perjalanan pulangnya.
Keesokan harinya ia mendatangi perpustakaan. Akan tetapi pustaka itu tutup karena hari libur.
"Sial ! aku lupa bahwa hari ini tanggal merah!"
Yenji pun pergi dari sana.
Esok harinya, laki-laki itu pergi lebih cepat dari sebelumnya. Dia menunggu perpustakaan itu dibuka. Dan saat perpustakaan dibuka, Yenji pun masuk lebih dahulu dan langsung mengambil buku bacaannya.
Perpustakaan begitu sepi dan hanya dia seorang yang ada ditempat itu. Yenji merasa senang bahwa kenyamanan bisa dirasakan hingga membuatnya akan lebih fokus lagi dalam membaca.
Cerita berlanjut!
Memasuki setengah cerita, Yenji melihat gambaran baru terkait cerita yang ada didalamnya. Gambar sebuah bangunan masa lampau yang sekarang hanya bersisa kerangka saja.
"Ini bukannya bangunan yang itu kan? Apakah ini cerita fiksi atau nyata?"
Lanjut ke halaman berikutnya. Cerita sudah mulai berkembang menuju adegan baru. Yenji membaca dengan serius dan ikut merasakan suasana dari cerita tersebut.
Dan disaat halaman baru, tiba-tiba Yenji merasakan sesuatu. Seketika ia merasa ada tekanan dalam halaman yang baru ia buka. Tulisan yang ada dilembaran kertas itu bergerak dan membuat sebuah lingkaran.
"Apa ini?"
Sekejap mata Yenji merasa ditarik kedalam lingkaran kata. Daya tarik yang kuat membuat laki-laki tersebut sulit untuk melawannya. Yenji masuk dan berpindah ke lain tempat seiring jatuh ke tanah. Ia membuka mata dan melihat sekitar. Terasa berbeda dari apa yang biasa ia lihat. Kini dia berada dalam suasana berbeda.
"Aku...apakah aku ada dimasa lampau?!"
Yenji terkejut dengan apa yang dilihatnya. Pemandangan ini menggambarkan masa yang jauh ke belakang.
"Ini tahun berapa? Kenapa aku bisa dibawa kesini? Apa maksud ini semua?"
Disaat Yenji kebingungan, tiba-tiba seseorang datang menghampirinya. Orang itu adalah gadis yang tampak seusia dengan Yenji.
"Kamu tidak apa-apa?"
Yenji menatap perempuan itu tanpa berkedip.
"Dia...cantik."
gumamnya dalam hati.
Tak lama gadis itu menepuk sedikit pipi dari Yenji. Laki-laki itu sadar dan mengedipkan matanya. Mereka berdua pun berdiri dan saling berhadapan. Gadis itu pun lalu menyampaikan beberapa pertanyaan pada Yenji. Laki-laki itu menjawab pertanyaan dari si gadis. Dan beberapan pertanyaan tampaknya tidak dimengerti oleh si gadis itu.
"Kenapa?"
"Maaf aku tidak tahu beberapa jawaban yang kamu katakan."
Yenji menghela sedikit nafasnya. Kemudian sang gadis mengajaknya kesuatu tempat.
"Tapi aku bisa membantumu. Mari ikut aku."
Mereka berdua berjalan ditengah lalu lalang penduduk. Kereta kuda serta bangunan klasik terlihat disepanjang jalan. Yenji merasa ini benar-benar berada dimasa lampau yang mana belum diketahui tahun pastinya.
Gadis itu berhenti dan menunjuk ke suatu arah.
"Bukankah ini tempat yang kamu maksud?"
"Tempat apa ini?" Tanya Yenji.
"Huh? Katamu ini adalah rumahmu."
Gadis itu merasa heran.
"Aneh bukan rasanya kamu mengantarkan aku kerumahku sendiri?"
Tanya Yenji kembali.
"Aku pikir kamu ini tersesat atau semacamnya. Jadi aku antarkan saja."
"Tapi ini bukanlah rumahku."
Kata Yenji yang mengejutkan sang gadis.
"Lalu dimana rumahmu? Apakah kamu berbohong bahwa kamu ini sebenarnya bukan orang asli kota ini?"
Si gadis merasa curiga.
"Aku tidak bohong."
Balas Yenji.
Mereka berdua pun terdiam beberapa saat. Kemudian gadis itu meminta maaf.
"Maaf aku tidak bisa membantumu."
Ucap si gadis sambil membungkukkan badan.
Yenji pun berkata apa yang sebenarnya terjadi.
"Sebenarnya aku ini dari masa depan."
Yenji menjelaskan mengenai dirinya yang bisa sampai ke masa lampau ini.
"Karena sebuah lingkaran layaknya portal aku bisa tiba disini."
Mendengar perkataan itu membuat si gadis tertawa. Dia tidak mempercayai apa yang telah dikatakan oleh Yenji barusan.
"Jangan berkhayal haha! Mana mungkin bisa seperti itu."
"Jadi kamu tidak mempercayainya?"
Tanya Yenji.
"Tentu saja tidak. Kamu telah membuatku tertawa hari ini." Jawab si gadis.
Laki-laki itu mendengar tawaan dari si gadis yang tidak mempercayai ceritanya. Lalu Yenji teringat sesuatu. Kemudian ia menujukkannya pada gadis tersebut.
"Kamu bisa lihat ini."
Sebuah kartu identitas diperlihatkan pada si gadis. Dan dengan begitu akhirnya dia percaya.
"Jadi kamu benaran dari masa depan?!"
Yenji mengangguk. Kemudian gadis itu lanjut bertanya.
"Oh ya ini apa?"
Yenji lupa bahwa dizaman ini mereka tidak punya kartu identitas seperti miliknya.
Yenji pun menjelaskan benda tersebut kepada si gadis. Setelah itu gadis tersebut penasaran, dia pun bertanya mengenai masa depan.
"Bagaimana aku menjelaskannya ya..."
"Kita bisa membicarakan ini di tempatku. Jadi ayo kesana."
Ajak si gadis.
"Apa maksudmu rumahmu?"
"Benar. Sekalian aku perkenalkan kamu pada keluargaku."
Yenji berpikir lanjut mengenai ini. Bila dia membicarakan lebih jauh mengenai masa depan, maka bisa terjadi sesuatu dimasa ini. Yenji pun harus berhati-hati juga dengan ini.
"Baiklah. Kita akan kerumahmu. Tetapi jangan katakan pada mereka bahwa aku adalah orang dari masa depan."
"Aku mengerti. Namun kamu tetap akan dicurigai juga pada akhirnya."
"Kenapa?"
Tanya Yenji.
"Sebab pakaianmu itu. Disini tidak ada pakaian semacam itu." Jelas sang gadis.
Yenji baru sadar. Dan meminta tolong pada gadis didekatnya untuk membantunya dalam mencari pakaian yang sesuai. Mereka berdua pun bergerak menuju toko pakaian.
"Toko yang sangat tradisional sekali."
Setelah berganti pakaian, Mereka berdua lanjut pergi ke lokasi utama.
Dirumah sang gadis, Yenji berkenalan dengan orang tua dari gadis yang ditemuinya hari ini. Canggung dirasakan. Akan tetapi tetap harus dilawan dengan keberanian. Sampai pada akhirnya Yenji bisa melewati momen itu dan kini berduaan dengan si gadis di teras rumah tepian kolam.
"Huft macam mau lamaran saja tadi itu."
Gadis yang ada disebelahnya tertawa. Dan sebelum lanjut bercerita, mereka meminum teh yang telah disediakan.
"Sekarang lanjutkan ceritamu."
Gadis itu menarik helai pakaian dari Yenji.
"Seberapa inginnya kamu tahu mengenai ini?"
"Sebanyak-banyaknya."
Jawab si gadis.
"Baiklah, aku akan menceritakannya."
Yenji mulai bercerita mengenai gambaran masa depan pada si gadis. Diselingan cerita, gadis itu turut membayangkan apa yang dikatakan oleh Yenji tersebut.
Tak terasa waktu sudah malam, dan tiba masanya untuk tidur. Gadis itu pun menyuruh Yenji untuk menginap. Akan tetapi laki-laki itu ragu. Disisi lain ia berpikir cara untuk kembali ke masa seharusnya. Namun, setelah mendapat izin dari orang tua si gadis, pada akhirnya Yenji menerima kenyataan yang ada. Dirinya tidak tahu cara untuk kembali dan harus menginap disini untuk sementara waktu.
"Mereka tidur cepat sekali rasanya. Diwaktu seperti ini sepertinya aku masih aktif melakukan sesuatu."
Yenji memejamkan mata dan tidur.
Keesokan harinya Yenji bangun. Ia melihat wajah si gadis sudah berada didekatnya.
Sontak mereka berdua terkejut.
"Wah! Maaf telah mengejutkanmu."
gadis itu meminta maaf.
Mereka berdua pun makan bersama beserta orang tua si gadis. Terkesan tradisional dan Yenji menikmati hidangan yang telah disediakan. Setelah makan, gadis itu bersiap-siap pergi. Yenji bertanya mengenai arah pergi si gadis. Dan dia mengatakan bahwa dirinya harus pergi bekerja.
"Kamu bekerja? Padahal kamu masih sangat muda."
"Kalau tidak bekerja, hidupku akan semakin sulit. Aku harus pergi, kamu disini saja. Aku akan kembali secepatnya. Sampai jumpa nanti."
Gadis itu berangkat dan meninggalkan Yenji.
Laki-laki itu memutuskan untuk berjalan kaki menelusuri kawasan kota yang mana zamannya sangatlah berbeda. Beberapa tempat dikunjungi. Dan hanya sebagian kecil tempat masih terkesan sama dengan masa Yenji berada. Setelah berjalan cukup lama, lelaki itu kembali kerumah si gadis. Setibanya dirumah, gadis itu memarahinya.
"Kamu kemana saja? Aku mengkhawatirkanmu!"
"Maaf, aku hanya jalan-jalan tadi."
"Kamu ingin berkeliling kota? Aku akan menemanimu."
Gadis itu menarik tangan dari Yenji. Mereka berdua pun jalan bersama dalam berkeliling kota. Gadis dan Yenji menumpangi kereta kuda, mereka bergerak menelusuri jalanan kota. Disela perjalanan, gadis itu mendengarkan Yenji bercerita. Itu semua atas permintaan si gadis. Setelah menumpangi kereta kuda, si gadis dan Yenji lanjut berjalan dan menikmati waktu bersama. Berbagai hal mereka lakukan dan menampilkan luapan kebahagiaan.
Perjalanan cukup lama mereka jalani hingga akhirnya keduanya kembali kerumah.
Yenji duduk dan merehatkan badannya sejenak. Gadis itu tersenyum dan segera menyediakan teh hangat.
"Tidak pernah aku melakukan banyak kegiatan semacam ini. Tapi dia tampak sangat menikmatinya."
Teh hangat mereka minum secara bersamaan. Dan makan malam pun tiba.
Gadis itu bercerita mengenai kegiatannya bersama lelaki yang ada didekatnya itu. Orang tua dari si gadis terlihat senang dan mendengarkan cerita anak semata wayangnya itu. Setelah makan malam, gadis itu duduk diteras dekat tepian kolam bersama Yenji. Mereka berdua berbicara mengenai pribadi masing-masing. Sebab hal ini belum dibahas oleh keduanya. Pembahasan tentang masa depan telah mengabaikan topik pembicaraan satu ini. Sekarang mereka berdua saling bercerita mengenai pribadi masing-masing.
"Waktu untukmu bercerita aku rasa sudah cukup. Mari kita berbicara tentang pribadi masing-masing. Kali ini aku ikut bercerita juga." kata si gadis pada Yenji.
Pembicaraan mereka berlangsung ditengah sinaran bulan yang indah. Kini Yenji tahu mengenai gadis itu. Begitu juga sebaliknya.
Gadis bernama Sachan itu mengucapkan terima kasih pada Yenji. Lalu ia pun pamit untuk segera tidur karena malam sudah dirasa larut.
Keesokan harinya Yenji mendengar sebuah buku terjatuh ke lantai. Dan hal itu membuatnya terbangun dari tidur.
Dilihatnya buku itu dan terasa tidak asing baginya. Ternyata benar, buku itu sangat dikenali olehnya. Buku yang pernah dibaca sebelumnya di perpustakaan. Yenji membuka buku itu dan kalimat dalam selembar halaman berubah membentuk lingkaran.
"Oh tidak. Apakah aku akan kembali disaat seperti ini?"
Yenji bergegas menuju tempat Sachan berada. Gadis itu belum bangun dari tidurnya.
Laki-laki itu pun memanfatkan waktu sesempat mungkin untuk melakukan perpisahan.
"Aku tidak punya waktu lagi. Ini kali terakhirku. Daya tarik ini sudah terasa sekali padaku."
Kedua tangan menyentuh telapak tangan dari Sachan. Sentuhan itu adalah kali terakhir yang bisa dilakukan oleh Yenji. Pegangan tangan adalah momen terakhirnya.
"Maaf aku harus meninggalkanmu secara tiba-tiba. Sampai jumpa, Sachan."
Yenji pun mulai tertarik kedalam portal buku. Ia berusaha menahan, akan tetapi itu tidak bisa dilakukannya. Buku tertutup dan menghilang setelahnya.
Gadis bernama Sachan itu bangun. Lalu keluar dari kamarnya dan mendatangi tempat Yenji tidur.
Namun, Yenji sudah tidak ada lagi disana.
"Yenji..."
Sachan seketika menangis ditempat Yenji berbaring sebelumnya.
Di lain masa, Yenji kembali ke perpustakaan. Tempat itu sepi. Laki-laki itu melihat buku bacaannya terbuka. Akan tetapi kalimatnya tidak membentuk lingkaran seperti sebelumnya. Semua sudah normal. Yenji menuju pintu masuk pustaka, ternyata saat ini ia sedang terkurung didalam.
Kembali ke posisi awal. Yenji melihat lembar halaman buku didepannya.
"Bagaimana caranya aku bisa kembali kesana?"
Melihat tulisan yang tertera. Dalam sekejap Yenji tersadar. Tulisan-tulisan itu menceritakan tentang perjalanan yang pernah dia lakukan bersama gadis bernama Sachan tersebut. Lanjut membaca, ternyata benar adanya. Ini semua sesuai dengan apa yang pernah dialami oleh Yenji.
"Buku ini memiliki keterkaitan dengan apa yang telah aku alami."
Menyadari itu Yenji lanjut membaca buku tersebut. Cerita yang masih setengah jalan itu terus berjalan seiring bergantinya lembar halaman. Lamanya ia membaca buku, sampai tak menyangka bahwa perpustakaan akan segera buka. Yenji berpindah tempat agar tidak ketahuan. Kemudian ia lanjut membaca. Cerita itu makin relevan dengan apa yang dialami oleh Yenji. Saat memasuki bagian paling akhir. Yenji tak kuasa menahan air matanya. Ia pun menangis saat itu juga.
Akhir cerita yang membuatnya menangis serta gemetar. Bagian akhir membuat dirinya ingin sekali rasanya bertemu dengan Sachan.
Halaman terakhir menyisakan tulisan beserta gambar dari seseorang. Ya, orang itu adalah Sachan yang dikenal oleh Yenji.
"Aku mampu menahan hasrat berceritaku yang bahkan memiliki dampak besar untuk orang lain dalam waktu yang lama. Tetapi aku sulit menahan perasaanku terhadap dirinya yang dampaknya hanya untuk diriku sendiri hingga kini."
Kalimat akhir yang menjadi penutup dari buku cerita bacaan Yenji. Terlihat gambar Sachan yang duduk seorang diri dengan senyum kala ia sudah menua.
Yenji melihat tulisan dibelakang sampul buku tertulis nama sang penulis. Dan diketahui terdapat perbedaan dalam rentang 150 tahun.
"Aku merindukanmu Sachan."
Perpustakaan dibuka. Yenji keluar dari tempat itu. Namun, ia sempat ditahan sejenak. Sebab masih memegang buku yang dilarang dibawa keluar.
Yenji menyerahkannya pada si pegawai pustaka. Pegawai pustaka merasa penasaran, dan ia pun menanyakan apa yang terjadi padanya. Yenji tidak menjawabnya. Lalu keluar dari gedung perpustakaan.
Pegawai perpustakaan itu meletakkan kembali buku itu ke sebuah rak.
"Aku meletakkannya disini atas permintaanmu. Sekarang zaman sudah sesuai dengan apa yang kau katakan. Jadi semua orang bisa membacanya tanpa perlu kamu sembunyikan lagi. Aku penasaran dengan orang yang kamu sukai sewaktu dulu. Walau dia bukanlah suamimu, tetapi kamu tetap tidak bisa melupakannya. Huft.. aku tetap menghargai apa yang dirimu kenang wahai pendahuluku."
-----SELESAI-----