Jangan kira gampang untuk menjalani hari seperti aku! Setiap hari harus menahan emosi karena mendapatkan intimidasi dan perlakuan kurang mengenakkan dari teman sekelas yang seharusnya menjadi contoh dan suri tauladan.
Sama seperti hari ini, baru saja aku masuk ke kelas sosok menyebalkan ini sudah berdiri di hadapanku dengan sikap sombongnya.
"Hai pecundang, masih butuh juga lu ke sekolah?."
Sosok itu namanya Dallas. Ia merupakan ketua kelas sekaligus juara kelas, prestasi yang seharusnya membuat murid itu rendah hati. Namun yang ada tingkahnya malah membuat seisi kelas antipati terhadapnya karena ia sangat suka menindas, dan aku adalah salah korban penindasan favoritnya.
"Ada apa lagi, Dallas?." Tanyaku dengan nada merendah.
"Gak usah banyak tingkah lu!, gue kan udah bilang kalau lu harus jalan jongkok melewati kedua kakiku kalau mau masuk ke kelas."
Wajahku sedikit memanas, walaupun peristiwa seperti ini bukan yang pertama, namun sepertinya aku tidak akan pernah bisa terbiasa dengannya.
"Apakah itu tidak berlebihan, Dallas?."
Tangan Dallas tiba-tiba menarik topiku lalu melemparkannya menjauh dari posisi kami berdua.
"Jangan banyak bacot! Lakukan sekarang!."
Aku sekarang berada dalam posisi dilema, jika aku menuruti perintah itu berarti harga diriku sudah benar-benar tak ada artinya lagi, tapi kalau aku menolak maka aku harus siap menerima konsekuensi yang lebih besar. Aku masih harus mempertimbangkan kemungkinan lain.
"Lu mau ngelakuinnya atau tidak?." Suara Dallas terdengar semakin mengancam.
Sepertinya keadaan ini akan semakin tidak baik jika aku terus diam tak berbuat apa-apa. Sudah cukup hari-hari kemarin aku bersembunyi di balik jubah tak berdaya, namun hari ini semuanya akan berubah.
"Sepertinya kau tak mengerti arti kata KETERLALUAN, Dallas!."
Suara kerasku cukup membuat Dallas terkejut, ia tak menyangka aku bisa bereaksi sedemikian mengancam.
Tanpa menunggu balasan kata dari Dallas, kulayangkan satu pukulan keras tepat mengarah ke ulu hati Dallas. Sang juara kelas sekaligus penindas itu hanya mengerang tertahan memegang tempat yang aku pukul, lalu perlahan-lahan jatuh terduduk tak berdaya dengan tatapan tak percaya ke arahku.
"Jangan kau pikir bisa menindasku selamanya!."
Baru saja aku hendak melayangkan pukulan ke arah wajah Dallas, tiba-tiba.
"Coulter, apa yang kamu lakukan?."
Suara wali kelas membuat gerakanku terhenti, melihat wajah sang wali kelas yang pucat aku paham jika semua yang aku lakukan membawa efek yang tidak mengenakkan.
Namun semuanya sudah tidak penting, karena hari ini sang penindas yang kini duduk bersimpuh dihadapanku telah aku taklukkan dalam sekali pukul.
Aku sendiri masih tidak percaya!.