Dunia hewan
Plak!
Kepala kecil itu dipukul dengan sebatang kayu kecil. Hanya karena lancang mengambil sepotong ikan goreng.
Pukulan atau tendangan ia dapatkan tanpa ampun. Tubuh kecil itu mengaduh kesakitan tak terdengar.
Tubuh ringkih nya terbalut tulang dan berbulu kusam tak terurus.
"Pergi sana!" hardik pria bertubuh gemuk itu. Seraya menatap tajam.
Namun, si kecil oren tak kunjung pergi ia terus saja mengeong di bawah kaki laki-laki tersebut.
Satu tendangan mendarat tanpa ampun.
Meong!
Tubuhnya terlempar beneran meter dan terbentur dinding.
"Kau masih di sini? Akan aku buang jika berulah lagi," katanya lagi. Ia menutup ikan goreng dengan tudung saji.
Pria itu hendak makan dibukanya tudung saji. Lalu, mengambil sepotong ikan dan diletakkan di atas piring. Sadar, ia belum mencuci tangan. Ia pun meninggalkan ikan di atas piring, kemudian sikecil oren tak lagi bisa menahan laparnya. Maka ia melahap ikan itu.
"Kau!" Pria itu marah besar. Ia menghampiri dengan meraih gagang sapu.
Si kecil oren lari tunggang-langgang sambil menggigit ikan goreng itu.
Pluk!
Gagang sapu mendarat mengenai tubuh kurusnya. Dengan sekuat tenaga mempertahankan ikan yang menjadi santapannya.
Marahnya pria itu bak singa mendapatkan mangsa. Pria itu mengambil satu buah karung. Lalu, mencari si kecil oren di setiap tempat.
Dapat!
Diambil tubuhnya di dalam genggaman tangan kekar milik pria garang itu.
Meong!
Meong!
Sikecil oren meronta-ronta meminta tolong.
Pria itu membawanya pergi ia menghidupkan starter kuda besi kesayangannya. Dan membawa karung itu entah ke mana.
Meong!
Meong!
Andai sikecil oren itu bisa berbicara mungkin ia akan berkata, "Lepaskan, aku. Aku hanya ingin makan. Kasihanilah, aku."
Setengah jam kemudian ....
Pria gemuk tak berbelas kasih itu melempar karung yang ia bawa ke semak-semak.
Bruk!
Meong ... Meong ...
Deru mesin motor meninggalkan sikecil oren yang meronta meminta pertolongan.
Hingga seseorang menemukan sikecil oren.
"Hai, tenanglah. Aku akan menyelamatkan mu," kata gadis kecil itu.
Karung yang terlilit tali dibuka.
Meong ... Meong ...
"Kasihan sekali." Tubuh kurus itu digendong. Sambil mengelus-elus bulu kumalnya.
"Aku Luna. Kau ikut denganku."
Luna begitu nama yang ia sebutkan dari bibir mungilnya.
"Siapa namamu?" Ia bertanya pada teman barunya. Ya, sikecil oren.
"Aku akan memberimu nama Pupuy. Suka 'kan?"
Meong ....
Luna membelainya penuh kasih sayang. Sikecil oren ia beri sepiring nasi dicampur minyak jelantah dan sepotong ikan asin.
"Aku hanya punya ini." Dielusnya kepala kecil itu.
"Makanlah yang banyak. Agar kau sehat," ucap Luna.
Setelah melahap makanan yang disajikan majikan baru. Sikecil oren digendong oleh Luna. Luna akan memandikannya dan membersihkannya.
Lambat laun sikecil oren tumbuh menjadi kucing yang lincah. Gemuk, sehat dan ceria.
Suatu hari ayah Luna membeli racun tikus untuk ia taruh di kebun semangka miliknya.
Sikecil oren sangat lah aktif dan pandai berburu. Hingga ia tak sadar berburu tikus yang telah memakan jebakan berisi racun.
"Puy. Kau terlihat sakit," ucap Luna sedih.
Pupuy tergeletak lemas dengan napas tersengal-sengal. Matanya mendelik dan berair.
"Puy. Kamu kenapa?"
Luna memberinya minum dan makanan. Sayangnya, Pupuy tak menyentuh sama sekali.
Satu Minggu keadaan sikecil oren itu kian memburuk. Tubuhnya kembali kurus.
Luna gadis kecil itu tak tahu bahwa Pupuy sakit akibat keracunan.
"Kenapa menangis?" tanya ayah Luna.
"Pupuy sakit." Luna memeluk Pupuy.
"Sudah diberi makan?" tanyanya lagi. Ayah Luna mendekati putrinya. Ia terenyuh melihat pemandangan pilu itu.
"Ia tak mau makan dan minum." Luna menyeka air matanya.
"Mungkin sakit parah," sahut ayah Luna.
Esok paginya ....
"Pupuy!" Luna histeris. Ia membekap mulutnya merasa tak percaya bahwa Pupuy telah tiada. Ia tergeletak di belakang rumah. Padahal, Pupuy ia letakkan di tempat tidur yang ia buatkan.
Luna menangis dengan memeluk tubuh Pupuy.
"Maafkan, aku." Ucapan Luna putus asa.
Tubuh Pupuy ia kuburkan di bawah batang bunga mawar.
Selesai