Malam ini sangat dingin. Aku menyalakan sebatang rokok dan ku selipkan di sela mulutku. Bukan karena dingin aku merokok. Aku tidak bisa terlelap. Waktu sudah menunjukan jam 00.21 wib.
Sudah larut tengah malam. tapi aku tidak bisa memejamkan mataku. selama ini aku lebih memilih duduk dan menikmati sebatang rokok yang baru saja aku nyalakan.
Aku merasakan gagal malam ini. Aku merasakan tidak ingin tersenyum untuk esok dan seterusnya. Fikiranku buntu. Aku frustasi.
"Kenapa tidak tidur? Sudah larut malam" tanya seorang lelaki yang berada di sampingku
"Aku belum ngantuk.. " jawabku pendek
Lelaki itu masih fokus dengan layar ponselnya. Ia sedang asik memainkan game. dia hanya mengangguk sejenak mendengar jawaban aku.
Iya begitulah.. Dia suamiku. Lelaki yang menikahiku belum ada 4 bulan ini. Dia sangat sayang kepada ponselnya. Dari pagi sampai pagi lagi selalu menghabiskan waktunya dengan ponsel itu.
Mulai dari lihat tiktok, youtube, Facebook dan bermain game. Ponsel tidak lepas dari tangannya. Bahkan saat makan sekalipun di tangan kirinya memegang ponsel dan melihat video video entah apalah itu.
Aku sebenarnya ingin tidur dan di peluk oleh lelaki itu. tapi dia terasa sangan beku. dia seperti mati. mungkin rasa terhadapku yang sudah mati.
Aku wanita, aku punya rasa cemburu kepada ponsel itu. Terkadang aku ingin berganti menjadi ponselnya bukan menjadi diriku saat ini.
Dan seperti malam ini. Aku lebih suka menghisap rokok ku daripada harus menangisi keadaanku. Aku sudah lelah jika harus selalu menangisi keadaan ini.
Aku menghabiskan sebatang rokok ku di ruangan luar. Tidak di kamar. Sampai agak lama dan lelaki itu tetap tidak memperdulikan ku. Dia membiarkan ku.aku sedikit berharap, lelaki itu akan menyusulku di luar dan mengajakku untuk segera tidur. namun aku salah. lelaki itu tidak memperdulikan apa yang aku lakukan. dia tidak menghampiriku.tidak sama sekali.
Dan saat aku kembali ke kamar, dia sudah meletakkan ponselnya dan menyelimuti dirinya.
Aku tahu dia belum benar-benar tidur. Sesekali tubuhnya bergerak membenarkan selimutnya yang sudah rapi. Entah apa yang sedang di fikirkan olehnya.
Aku masa bodo. Bodoamat itu kata lelaki itu. Dia terlalu cuek kepadaku. Entah karena dia tidak mencintaiku atau karena dia punya alasan sendiri yang tidak pernah dia ungkapkan kepadaku.
Aku menguatkan hatiku untuk bersabar, tegar menghadapi sikap lelaki yang di sebut suami itu. Tapi malam ini, aku merasa gagal. aku gagal untuk bisa di hargai oleh suamiku sendiri. Aku merasa tidak lagi bisa merubah ia untuk sedikit menunjukkan perhatiannya kepadaku, untuk bisa bersikap selayakNya seorang suami kepada istrinya. Aku benar benar ingin menyerah malam ini.
Aku hanya ingin menjadi wanita biasa yang disayangi oleh suaminya. Namun aku miskin kasih sayang. Aku miskin segalanya..
Dalam seminggu pun ia jarang menciumku,kalaupun menciumku harus aku yang memintanya. memelukku pun tidak pernah. aku yang selalu memeluknya saat aku akan tertidur. aku seperti memeluk patung karena dia tidak merespon pelukanku. miris..
Apalagi mengajakku bercinta. Memadu kasih yang katanya setiap yang berkeluarga itulah kunci keharmonisan keluarga. Lewat bercinta itulah ikatan dua insan bisa semakin erat. namun aku hanya selalu kesepian setiap malam. merintih setiap malam. namun kali ini tidak. aku tidak ingin menangis dan lain segalanya.
Ya mungkin, memang lelaki itu tidak mencintaiku. Dia hanya menikahiku untuk menjadi pembantu nya. Yang menyiapkan keperluannya, menyiapkan makan, mencucikan baju baju kotornya dan membersihkan rumah. mungkin seperti itu.
Aku capek, capek sekali. Kalau capek kerjaan aku akan tidur dan hilanglah rasa capek itu. Namun kini hatiku yang capek. fikiranKu sudah tidak lagi berfikir jernih. aku memang merasakan benar benar kecewa malam ini.
Aku sendiri tidak tahu apakah aku akan tetap bertahan dengan rasa sakitku. Ataukah aku akan melepaskan semua ini. Aku tidak mempunyai jawaban untuk saat ini. Aku butuh pemikiran yang jernih untuk menyelesaikannya. Untuk mengambil keputusan ini.
Aku menoleh kearah bocah kecil yang sudah tertidur sejak sore tadi. Dialah anakku, aku hamil duluan sebelum aku menikah. Baru setelah aku melahirkan, aku menikah dengan lelaki ayah dari anak ku.
Sempat aku berfikir kalau lelaki itu hanya mencintai dan menyayangi anak ini bukan diriku. Dia tidak pernah mencintaiku.
Aku tidak bisa menumbuhkan cinta lelaki itu. meskipun aku telah berusaha menjadi istri yang baik untuknya. namun semuanya sia sia. hanya angan angan ku semata.
Aku lelah, akuh capek dengan semua ini. Aku ingin tertidur dan aku berharap esok akan ada sinar cerah untukku. Yang akan memberikan jawaban bahagia untuk hidupku. Itu harapan hidup yang selalu aku pintakan kepada sang Khaliq.
Aku ingin semua baik baik saja dan aku percaya jika Tuhan yang mampu membolak balikan hati manusia. dan aku terlelap sekitar pukul 01.452ib menjelang pagi.