Aku Esmeralda dellisa. Orang-orang menyebutku gila hanya karena aku bisa melihat 'mereka', mereka yang tak kasat mata. Aku juga tidak mengerti dengan semua ini. Aku juga ingin hidup 'Normal' seperti mereka.
Sampai akhirnya, aku bertemu dengannya. Dia mengajarkanku apa artinya hidup dan betapa berharganya hidup. Dia sempurna menurutku, dengan rambut hitam pekat, kulit putih, mata biru dengan tubuh tinggi… oh, dia benar-benar 'sempurna' di mataku. sayangnya, dia bukan lagi seorang manusia.
Hari-hari ku yg dulu hanya berhias hitam putih, sekarang menjadi lebih berwarna karenanya. Sayangnya, perasaan itu lagi-lagi harus ku patahkan karena kita tak mungkin bersatu.
Sakit rasanya kalau mengingat dia adalah mantan manusia. Sifatnya yang lembut dan pengertian membuatku semakin dalam terjatuh ke jurang gelap yg bernama jatuh cinta. Kenapa dia harus ada kalau hanya membuat luka? Jujur aku tersiksa dengan perasaan yg aku buat-buat sendiri.
Dan akhirnya aku hanya bisa berandai-andai setiap malam, kalau dia adalah seorang manusia, yg bisa ku sentuh. Bukan seperti hologram yang semu.
Pertemuan tak sengaja itu telah menumbuhkan setitik rasa yang hanya berbuah harapan semata. Menurutku, dialah warna terindah di dalam hidupku. Dia berhasil mengubah diriku yg sebelumnya hitam dan putih, kini menjadi penuh warna.
Entahlah, aku tak mengerti mengapa aku bisa jatuh cinta dengan sebuah bayangan yang semu. Ini semua bermula ketika aku pertama kali melihatnya di sebuah lorong dekat kelasku. Selama 2 tahun aku bersekolah disini, aku belum pernah melihat dia sebelumnya.
Cahaya senja menembus sosoknya, sosok berbaju putih abu lusuh dilengkapi dengan bercak darah yg sudah mengering di baju dan sudut bibirnya. Ingin sekali aku menyekanya. Aaaahhhh perasaan gila apa ini?
Semakin lama aku memendam perasaan ini, semakin besar pula rasa suka ku terhadap nya. Sampai aku memberanikan diri untuk menyapanya. 'hai' sapaku. Dia tampak terkejut tidak percaya. 'iya, aku bisa melihatmu' lanjutku. Dia tersenyum sumringah.
'kau benar-benar bisa melihatku?' tanyanya. Dan aku .mengangguk sebagai jawabannya. 'akhirnya ada juga seseorang yang bisa ku ajak berbicara, kau tahu? Menjadi hantu itu tidaklah menyenangkan. Hanya bergentayangan setiap waktu tak tentu arah' terusnya kemudian.
Aku hanya tersenyum mendengarkan semua ceritanya. Sampai pada saat dia menceritakan kejadian yg membuatnya menjadi seperti ini. Ia mengambil nafas panjang yg semu dan mulai menceritakan semuanya.
'aku sedang menyebrang jalan hendak pulang ketika sebuah truk melaju kencang kearah ku. aku terpental beberapa meter. Saat itu mataku terasa sangat berat.' ceritanya berhenti. Wajahnya mulai menunduk sendu.
'aku terbangun dan berpikir kalau aku tidak apa-apa. Tapi semuanya runtuh setelah aku melihat tubuh bersimbah darah di sebelahku. Tubuh dengan wajah yg begitu mirip denganku. Saat itulah aku mulai menyadari kalau telah menjadi hantu'
'terus apa yang terjadi dengan supir truk itu? Dan orang-orang? Apakah ada yang membantumu?' Tanyaku dengan hati-hati. 'supir truk itu kabur setelah menabraku. Dan orang-orang hanya mengerumuni tubuhku yang bersimbah darah.'
Aku mengangguk. Sebuah gambaran muncul dikepalaku. Gambaran tentang seorang laki-laki. Anak laki-laki yang menjadi korban keegoisan dari orangtuanya.
*Dia Bara, anak tunggal dari pasangan Hana dan Toro. Saat bara baru memasuki SMP, orangtuanya bercerai karena Toro selingkuh dengan teman sekantornya. Sedangkan bara dibawa oleh ayahnya. Dari situlah bara mulai menjadi seorang anak yang pembangkang.
Dia sangat membenci ayahnya. Terlebih lagi ibu tirinya. Ayahnya selalu melarangnya bertemu dengan ibunya. Tanpa aku jelaskan panjang lebar pun Kau pasti tahu rasanya bagaimana. Bara sangat menyayangi ibunya. Jika ada orang yang paling disayanginya di dunia ini, itu pasti ibunya.
Saat ini, bara menginjak kelas 12. Dan menjadi ketua geng dari geng pembully di sekolah. Yang pekerjaannya hanya mengusili murid yang lemah dan merampas uangnya. Begitulah bara. Dia melampiaskan rasa benci terhadap ayahnya ke orang lain. Aku cukup mengerti dan cukup memahaminya sekarang.
Sampai saat senja di hari itu, waktu jam-jam pulang. Jalanan cukup ramai dipenuhi oleh para pekerja yang hendak pulang. Saat itu, bara hendak menyeberang jalan untuk pulang. sebuah truk dari arah kanan melaju dengan kecepatan tinggi. Tubuh bara terpental tertabrak truk itu. Kepalanya terhantam cukup keras hingga semburat darah mengucur dengan deras Mengotori baju seragam putih abunya. Lembar kehidupannya di tutup saat itu juga karena dia kehilangan banyak sekali darah*
Aku kembali tersadar dari gambaran itu. Memandang sosok di depanku dengan pandangan kosong. Tak terasa setitik air mata jatuh ke atas pipiku. 'eh, kau kenapa?' tanyanya. Aku hanya menggeleng sebagai jawaban.