Hewan memang tidak pandai merangkai kata, namun mereka mampu mendeskripsikan perasaan melalui sepucuk harapan.
.
.
.
.
.
.
Sebut saja namaku Embul, si kucing pengembara yang suka menyusuri jalan hingga ke hutan, pedesaan bahkan perkotaan.
Semua hewan di seluruh pelosok negeri adalah sahabatku, teman berbagi kisah susah dan senang.
Ada begitu banyak peristiwa yang kutemukan setiap harinya.
Dan tujuan utamaku melakukan perjalanan yang tiada hentinya ini adalah, untuk mengetahui dan mengamati segala seluk beluk kehidupan hewani di dunia.
Hutan merupakan tempat tinggal para binatang liar seperti harimau, singa, rubah, serigala dan beruang.
Bukannya merasa aman, nyawa mereka malah terancam akibat keegoisan dan keserakahan manusia.
Di pedesaan dan perkotaan, aku melihat ada begitu banyak sahabat-sahabat yang mati kelaparan, bahkan di siksa habis-habisan oleh manusia.
Mengapa ini terjadi?
Apa karena kami di ciptakan tidak sesempurna kalian manusia?
Lihatlah, apa salahnya jika kami para hewan memiliki bulu lembut dan bercorak?
Kenapa kalian begitu menginginkan gading, tanduk dan taring kami yang kokoh, hanya untuk sekedar pajangan dan koleksi?
Tidakkah kalian kasihan bila kami kelaparan dan tidak punya tempat tinggal?
Kami hanya makan dari sisa makanan kalian. Kenapa kalian malah menindas kami?
Lalu apa untungnya jika ketika marah, kalian malah memukuli kami?
Memang tidak semua manusia bertindak seperti demikian, tapi adakalanya untuk menyampaikan aspirasi sebagai wujud bahwa kami nyata adanya di dunia, karena kami bukan boneka.
Kami tidak meminta apa-apa dari kalian para manusia. Hanya saja tolong berikan kami sedikit kebebasan untuk menikmati indahnya dunia, tempat kita tinggal.
Jangan buru kami lagi!
Kami hanya ingin hidup damai!
Tolong, jangan sakiti kami!
Sungguh, kami hanya berharap untuk mari saling mengerti satu sama lain.
By: Meong Embul~
***